
Alih-alih bisa tidur nyenyak, memejamkan mata saja sulitnya setengah mati. Sejak tadi aku hanya sibuk berguling ke sana-ke mari. Mengacaukan seprai tidur dan membuat keributan seperti ini di jam tiga pagi.
Terlalu naif jika aku tidak mengerti dengan apa yang Satya maksudkan. Aku tidak ingin memungkiri perasaannya dan mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi di antara kami berdua. Montase foto dan ciuman pemuda itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
Hanya saja aku tidak bisa. Aku tidak bisa bersama Satya.
Mungkin sedikit berlebihan bahwa sampai detik ini aku masih mengharapkan Arfian. Aku masih menginginkannya. Masih sering menunggu kedatangannya lewat kaca jendela. Masih menantinya telpon darinya. Masih menyimpan jawaban yang hanya akan kuberikan padanya. Sampai detik ini aku masih sama. Semua rasa yang sejak dulu kuberikan untuknya tetap ada. Tetap utuh, tidak pernah tersentuh.
Dan aku tidak pernah ingin membagi rasa ini pada siapa pun. Bahkan Satya sekalipun.
*********************
Apa menunggu hanya tentang perihal waktu?
Selagi menanti kedatangan Mas Rudi, aku menyempatkan diri menikmati secangkir Ristretto. Meski harus sendirian, aku sama sekali tidak merasa kesepian. Banyak mobil di depanku yang berlalu-lalang. Banyak orang di sekitarku yang memadati trotoar jalan. Hanya saja tidak banyak pengunjung yang tertarik duduk di teras coffe shop seperti yang tengah kulakukan.
Bukan tanpa alasan, aku sengaja duduk di sini agar bisa menyaksikan cakrawala saat petang tiba. Sudah lama aku tidak melihat jingga kemerahan yang menawan. Dihias semburat keungu-unguan dengan guratannya yang memanjang. Menyisakan kehangatan pertanda perpisahan. Memberi isyarat agar matahari segera kembali ke peraduan. Menebar jejak kasih sayang Tuhan untuk burung-burung pulang ke sarang.
Kendati Ristrettoku sudah habis tidak tersisa, aku masih betah duduk berlama-lama. Masih menikmati apa yang kini ada di depan mata. Masih mengamati kehadiran cahaya senja yang bisa membuat beragam warna.
Dan masih menunggu Arfian yang sebentar lagi akan tiba.
Sebenarnya aku mengerti mengapa belakangan ini dia sangat sulit dihubungi. Keberangkatannya ke Glasgow hanya tinggal menghitung hari. Membuat semua waktu pemberian Tuhan hanya dihabiskan di tempat latihan. Memaksa Arfian untuk fokus pada turnamen pertandingan. Menyita beberapa kebiasaannya yang sering menghubungiku di jam-jam malam.
Aku tidak pernah meminta Arfian untuk meluangkan waktu agar kami dapat bertemu. Karena aku tahu, dia tidak akan bisa melakukan hal itu. Bukan karena dia tidak mau, tapi izin meninggalkan latihan sama seperti melakukan sebuah pelanggaran. Dianggap sebagai suatu tindakan yang sulit dimaafkan.
Namun, permintaannya barusan membuatku terkesan.
Entah rencana apa yang sudah dia lakukan hingga bisa bolos latihan. Aku juga tidak tahu alasan macam apa yang Arfian berikan sampai pelatihnya memberi waktu luang hingga kami daapat bertemu. Yang pasti aku sangat mensyukuri hal itu.
“Kamu udah minum Ristretto?” tanya Arfian kecewa. Pemuda itu berdiri beberapa langkah dari tempatku duduk. Tatapannya mengarah pada demitasse kosong di atas meja.
“Saya ke sini, kan emang buat minum kopi.” sahutku tertawa kecil.
Arfian menarik kursi di depanku. Kemudian melemaskan punggung di sandarannya.
“Ketemu saya itu bonusnya, kan?” candanya ringan seraya melipat tangan di dada.
Aku memberi penolakan atas apa yang dia katakan. “Kamu yang mau ketemu saya.”
“Jadi, kamu nggak mau ketemu saya?” tanyanya membuat tawaku pecah di udara.
Pemuda itu membiarkanku menyelesaikan tawaku. Dia seperti menunggu untuk mengatakan sesuatu.
“Lusa saya berangkat, Al.” ujarnya tenang.
Aku mengangguk ringan. “Tolong jangan sampai cedera lagi.”
Permintaanku disambut dengan dengusan kecil Arfian. Pemuda itu menatapku setengah tidak percaya. Diiringi sorot matanya yang penuh rahasia “Itu aja?”
Aku menatapnya dengan tanda tanya besar. Itu kata-kata yang sering kuutarkan sebelum Arfian memulai pertandingan. “Y-ya? Terus saya harus ngomong apa?”
__ADS_1
Arfian mengatupkan bibirnya rapat. Tangannya mengepal kuat. Dia menatapku lekat. Tapi, tatapan itu sama sekali tidak bersahabat.
“Jadi, selama ini kamu masih anggap saya main-main?” Arfian memandangku sinis.
Aku tersentak. Mendadak otakku menolak apa yang pemuda itu katakan. Butuh banyak detik berlalu untuk menangkap tujuan pembicaraannya barusan.
Dengan susah payah aku menelan ludah. “Fian-“
“Saya udah nunggu kamu lebih dari batas yang saya mampu.”
Aku menggeleng cepat. “Saya-“
“Ada banyak hal yang tidak harus saya katakan, tapi kamu harus tahu.”
Aku memandang jauh ke dalam mata Arfian. Meminta pemuda itu memberiku kesempatan untuk bicara. Namun, belum sempat aku buka suara, dia terlebih dulu menyela.
“Seperti saya butuh kamu, misalnya.”
Mendengar itu, lidahku tidak bisa mengucapkan apapun. Aku tidak mengerti mengapa pertemuan kami kali ini memusnahkan semua pikiran rasional di otakku.
“Saya pikir kamu tahu itu. Dari dulu.” gumamnya susah payah.
Pemuda itu tersenyum getir. “Saya selalu percaya kalau kamu juga butuh saya. Tapi, ternyata saya salah. Sekarang saya yakin, selama ini kamu cuman anggap perasaan saya main-main.” ucapnya pelan.
Aku meradang mendengar tuduhannya barusan. Semua yang diucapkannya sama sekali tidak beralasan.
“Kamu bicara apa, Fian?” tanyaku, mencoba tidak memperkeruh keadaan.
Sedetik setelah itu aku merasa sedang berada di ruang semesta yang gelap, pengap, senyap. Seperti berada di sebuah lingkaran yang perlahan membuatku kehilangan kesadaran. Rasanya aku baru saja ditampar oleh perkataan yang selama ini paling takut untukku dengar.
Hingga akhinya Arfian bangkit. Pemuda itu tidak lagi mengatakan sesuatu ketika dia berjalan pergi meninggalkanku. Langkah kakinya melaju menuju parkiran mobil di depanku.
Sekilas kulihat dua paper cup besar dilemparkan pemuda itu ke tong sampah begitu dia duduk di kursi kemudi. Perlahan sedan tuanya hilang ditelan kejauhan. Mengingatkanku, bahwa sekarang aku benar-benar sendirian.
************
Seperti musim kemarau di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini juga ada kiriman paket yang datang dari Yogya.
Mungkin sudah jadi kebiasaan, jika musim kemarau datang, ibu selalu mengirimkan satu toples besar kayu manis yang sudah kering. Beliau bilang, Paman Zainal dan Bi Hanum sengaja menyisihkan hasil panen mereka untuk kami di Jakarta. Anggap saja kayu manis itu sebagai jembatan silaturahmi, kata mereka.
Dalam kiriman yang dibungkus lakban kuning itu, tidak lupa bapak menyisipkan tiga pucuk surat berisi nasehat. Masing-masing untukku, Mas Rudi, dan Mbak Aina. Dulu aku sempat heran, mengapa bapak tidak menelpon saja. Begitu kutanya, ternyata bapak punya alasan. Beliau bilang, ada banyak hal yang tidak bisa dikatakan, tapi masih bisa diungkapkan dalam bentuk tulisan.
*Dari bapak, untuk Alya
Bapak tahu kamu sudah dewasa. Tapi, kamu akan tetap jadi putri kecil bapak untuk selamanya.
Hidup itu bukan semata-mata tentang perjalanan saja, Alya. Harus ada nilai perjuangannya juga. Bapak mungkin nggak tahu kamu sekarang lagi mikirin apa, karena kamu emang nggak pernah mau cerita. Tapi, bapak percaya, anak bapak pasti bisa menyelesaikan semua masalahnya. Bapak yakin, kamu sudah belajar arti bahagia itu seperti apa. Hanya saja, kalau kamu perlu sesuatu, jangan pernah sungkan untuk memberi tahu. Beritahu bapak dan ibu. Atau, kamu bisa beri tahu Mas Rudi dan Mbak Aina. Tanya mereka berdua, apa yang harus kamu lakukan supaya bahagia*.
Semenjak pindah ke Jakarta, ini adalah surat pertama dari bapak yang membuat mataku berkaca-kaca. Aku kehilangan kata-kata dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Nasehat itu seakan menyudutkanku. Seolah menghakimiku sebagai tersangka utama yang selama ini tidak pernah berbagi cerita pada anggota keluarga.
Dari luar kudengar suara Mbak Aina yang beradu dengan ketukan pintu.
__ADS_1
“Al? udah tidur?”
Aku buru-buru mengusap airmataku, lalu bangkit dan segera membuka pintu.
“Kenapa, Mbak?” tanyaku sambil tersenyum.
“Itu si Zifran nelpon Mas Rudi. Katanya nomor kamu nggak bisa dihubungin.” ujar Mbak Aina, membuatku langsung menepuk jidat detik itu juga. “Oh, Iya. Handphonenya mati, Mbak.” sahutku terkekeh.
Sambil menuruni anak tangga, Mbak Aina mengingatkanku supaya tidak usah menanggapi omongan Mas Zifran. Dia bilang, sahabat baik suaminya itu terdengar kesal setengah mati karena nomorku yang tidak bisa dihubungi.
“Hallo?” sapaku dengan nada tanya. Membuka percakapan dengan Mas Zifran sambil duduk di ruang makan.
“Hallo, Alya? Kamu ini gimana? Punya handphoneku, kok nggak bisa dihubungin?!”
Aku langsung menjauhkan handphone dari telinga kanan saat mendengar teriakan Mas Zifran.
“Iya, Mas, maaf, maaf.” ujarku setelah menghela napas panjang.
Perlu sekian menit berlalu untuk Mas Zifran mengomeliku. Hingga akhirnya dia lelah, dan menyampaikan tujuannya menghubungiku malam-malam begini.
“Besok jam tujuh pagi kamu udah harus ada di kantor.”
“Besok, kan libur, Mas?”
“Aduh! Maksud saya lusa. Lusa nanti kamu udah harus ada di kantor jam tujuh pagi.”
“Tujuh pa-“
“Oh, ya, sekalian bawa kamera juga.” sela Mas Zifran sebelum aku sempat protes.
“Dalam rangka?” tanyaku penasaran.
“Lusa pagi kontingen Indonesia, kan berangkat ke Glasgow buat BWC. Nah, Mas Panji ngasih izin redaksi kita buat ngeliput keberangkatan mereka sebelum ke bandara.”
Aku menelan ludah berkali-kali. Berita macam apa ini?
Dengan susah payah aku berkata, “Tapi, kan, saya harus nyelesain nas-“
“Soal naskah itu kasih aja dulu ke Rayhan. Saya perlu kamu buat ngambil pho-“
“Gimana kalo Rayhan aja yang ikut, Mas? Biar saya yang nanganin-“
“Sekalian aja kamu suruh si Abas ikut juga. Biar berantakan liputannya.”
Aku tidak lagi menyela. Terlebih setelah itu Mas Zifran langsung mengakhiri panggilannya.
Sebenarnya atas dasar apa Mas Zifran memintaku ikut meliput keberangkatan Arfian? Bukan hanya Arfian sebenarnya, tapi sejak tadi pikiranku hanya dipenuhi oleh nama pemuda itu saja. Sampai-sampai aku kehilangan kata kontingen untuk menyebut kumpulan pemain yang akan bertanding.
“Biasanya nggak suntuk gini? Udah, deh. Kamu, kan tahu, Zifran emang kayak gitu.” ujar Mas Rudi menghiburku.
Aku tersenyum lebar. Berusaha menyembunyikan apa yang sedang kurasakan. Kuharap aku punya keberaninan untuk berbagi cerita dengan Mas Rudi ataupun Mbak Aina. Nanti. Jika saatnya tiba.
__ADS_1