Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Tiga


__ADS_3

Warna apa yang paling kamu suka?


Dulu aku sering bilang langit itu warnanya biru. Tapi, kata dosenku warna langit yang sebenarnya itu Lazuardi.


Saat kuliah, aku sempat menggali pengetahuan pada seorang dosen seni rupa tentang warna-warna di dunia. Beliau menanyakan padaku warna apa saja yang selama ini kutahu. Tanpa ragu, aku menyebutkan dua belas warna pada barisan crayon saat sekolah dulu.


“*Pernah dengar Khaki?”


Aku mengangkat alis, menatap beliau sambil menggeleng pelan.


“Seperti seragam pegawai negeri sipil kita.” tutur beliau ramah.


“Itu, kan warnanya coklat, Bu.” sanggahku secara halus.


“Bukan, Khaki itu satu keluarga dengan cream.”


Aku mengerjapkan mata. Warna cream dalam pikiranku selama ini adalah seperti warna susu kental manis. Apa retinaku mulai bermasalah? Atau jangan-jangan aku buta warna?


“Heliotrope? Pernah dengar?”


Aku tersentak. Helicopter?


“He-li-ot-rope.”lafal beliau suku per suku.


Lagi-lagi aku menggeleng pelan. Bahkan ini kali pertama aku mendengar kata heliotrope.


“Warna keungu-unguan.” ujar beliau tanpa kutanya.


Aku mengangguk-angguk ringan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dari dinding, plafon, lemari kerja, rak buku, dan sofa semuanya berwarna sama.


“Ibu suka warna biru langit?” tanyaku sedikit penasaran.


“Namanya Lazuardi.”


Aku tersenyum tipis. Langit punya warna sendiri rupanya.


“Kalo kamu suka warna apa*?”


Aku suka warna langit malam. Kupikir namanya indigo. Tapi, saat dibandingkan, warna langit


malam yang kusuka sedikit berbeda dengan warna indigo. Indigo yang berarti biru gelap, sama sekali tidak menyerupai warna langit malam yang sering kulihat.


Bagiku, warna langit malam itu khusus. Berbeda. Terkesan istimewa. Dia bisu. Tidak bersuara meski punya banyak rahasia. Tapi, itulah yang justru membuat banyak orang suka memandangnya.


Dan aku adalah satu dari sekian banyak orang itu. Bosan menunggu kedatangan Mas Rudi, aku memilih menyapu pandangan ke atas langit malam. Menerawang jagat raya yang membentangkan cahayanya pada sayap-sayap semesta. Menghitung jutaan keindahan Tuhan yang tidak ada habis-habisnya.


“Alya!” aku menoleh ke arah parkiran mobil. Memastikan siapa yang sudah meneriakkan namaku dari jarak sejauh itu.


Dan siapa lagi yang bisa melakukan hal itu selain kakakku?


“Kenapa nggak sekalian pake toak aja, Mas?” gerutuku sambil mengenakan sabuk pengaman.


Mas Rudi menatapku dengan wajah tidak terima. “Kamu tuh ya, udah nebeng juga. Pake acara ngeluh segala.”

__ADS_1


“Emang kemana aja, sih? Keliling Jakarta dulu?” tanyaku kesal.


“Mas tadi ketemu sama Panji.” ujar Mas Rudi membela diri.


Aku sempat memicingkan mata, mengingat nama itu.


Panji? Sahabat karibnya sewaktu di Yogya?


“Panji Sunardi? Fisioterapis itu?” tanyaku ragu-ragu.


Mas Rudi langsung berseru. “Iyap!”


“Al, kamu tau nggak Mas juga ketemu siapa?” tanyanya dengan senyum sumringah.


Aku menatap Mas Rudi penasaran. Namun, karena dia tipikal orang yang suka bercanda, jadi kali ini aku hanya menanggapi seadanya.


“Siapa?” tanyaku datar.


“Arfian.”


Sambil memaksa saraf-saraf pendengaranku untuk tidak mati fungsi, aku berusaha mengambil napas dengan tenang. Sesekali berdeham ringan. Membasahi tenggorokan yang langsung kering tanpa alasan.


“Tau nggak, waktu pertama kali ketemu dia nanya apa?”sambung Mas Rudi. Masih dengan senyum sumringahnya.


Aku mendekap mulutku sendiri. Mencoba bersikap senormal mungkin meskipun semua pikiran rasional dalam otakku musnah begitu mendengar namanya.


“Dia nanya coffe shop mana yang paling sering kamu datangin.”


“Dia juga nanya kamu udah punya pacar apa belum.”


“Dia nanya apa lagi, ya? Pokoknya banyak, deh. Topiknya cuman satu, kamu. Tapi bahasannya panjang lebar sampi akar-akar.”


“Tapi, tenang aja, Al. Mas nggak cerita apa-apa, kok. Mas cuman bilang kalau kamu sehat. Dan kabar kamu sekarang baik-baik aja.”


“Oh, ya, mulai tahun ini Arfian nggak bakal ke mana-mana lagi. Dia bakal stay di Indonesia.”


“Dia-“


Sebelum Mas Rudi melanjutkan perkataannya, aku terlebih dulu menaikkan volume radio mobil. Mengabaikan ceritanya tentang sosok Arfian yang tidak berkesudahan.


Membuat Mas Rudi menghela napas panjang. “Iya, deh, maaf, maaf.”


****


Pernah dengar istilah Pseudonim?


Dulu aku sempat dibuat bingung saat membaca sebuah buku terjemahan berjudul Life on the Mississippi. Di bagian cover-nya tertulis nama Samuel Langhorne Clemens. Sementara dalam kepalaku telah melekat doktrin bahwa Life on the Mississippi itu dikarang oleh Mark Twain, seorang novelis terkenal berkebangsaan Amerika.


Begitu mengetahui siapa Samuel Langhorne Clemens sebenarnya, aku langsung tertawa tidak percaya. Saat itu kupikir aku adalah manusia paling terkebelakang di dunia. Aku merasa gagal menjadi seorang mahasiswa.


Dengan status pendidikan yang telah kuenyam selama lebih dari dua belas tahun lamanya, aku baru tahu bahwa dia adalah dia. Nama Samuel Langhorne Clemens yang tertulis pada cover buku terjemahan itu adalah Mark Twain yang selama ini kukenal.


Aku tidak mengerti mengapa Mark Twain memilih menggunakan nama pena dalam karya-karya besarnya selama ini. Dan mengapa ada banyak penulis zaman sekarang yang juga mengikuti langkahnya itu.

__ADS_1


Di depan mataku, sebuah naskah hardcopy setebal lima puluh halaman hanya mencantumkan nama samaran dan sebaris nomor handphone. Tidak ada alamat rumah, alamat email, atau identitas lainnya yang bisa dihubungi.


Naskah itu berjudul Rentang Rasa. Ditulis oleh pseudonim berinisial Cinnamon.


Sambil memasang kacamata, aku memperbaiki posisi duduk dan mengumpulkan konsentrasi. Mengesampingkan semua persoalan di luar pekerjaan dan mempertajam nalarku untuk mendalami isi tulisannya.


“Teruntuk saudara yang sangat kucinta dan wanita cantik milik Tuhan yang sudah tenang di sana.”


Aku mulai membaca. Perlahan berkenalan dengan sosok seorang pianis muda bernama Ardyathama Harianja. Tokoh laki-laki itu dikisahkan memiliki masalah dengan indera pendengarannya. Dia mengidap Otosklerosis. Suatu penyakit dimana tulang-tulang di sekitar telinga tengah dan telinga dalam tumbuh secara berlebihan. Mengakibatkan tulang stapes tidak dapat menghantarkan suara ke labirin-labirin telinga sebagaimana mestinya. Singkatnya, dia menjadi tuli sensorineural.


Kehidupan Ardyathama Harianja sebagai seorang pianis tetap berjalan, walaupun dia tidak bisa mendengar semua melodi yang sudah dia ciptakan. Terkadang alat bantu dengar yang dia gunakan tidak bisa menerjemahkan setiap nada dari dentingan piano yang dia tekan. Mengharuskan Ardy untuk beradaptasi dengan perasaan agar mampu mengenali berbagai suara yang ada di sekitarnya.


“Al!” aku tersentak saat Rayhan menempatkan wajahnya di depan meja kerjaku.


“Kenapa?” tanyaku seraya menutup naskah Cinnamon.


“Saya mau pergi.” ujarnya berbisik pelan.


Aku melihat jam dinding di sudut kanan ruangan, lalu menghela napas panjang panjang. “Masih satu jam lagi.” ujarku mengingatkan.


“Please, Al, please. Kali ini aja. Kalo Mas Zifran nyariin naskah yang judulnya Opini Hati, bilang aja kamu nggak tau.”


Aku melepas kacamata. Sedikit terusik karenya. “Naskah itu, kan udah dari bulan kemarin, Ray. Masa belum selesai juga. Lagian kamu mau ke mana?” tanyaku penasaran.


“Tinggal bab terakhir, Al. Saya harus pergi sekarang. Teman saya lagi di rumah sakit dan saya belum sempat jenguk dari kemarin.” tuturnya dengan memasang wajah memohon, membuatku tidak enak hati. Tapi, aku juga tidak berani ikut campur dalam perkara seperti ini.


“Al, please banget. Saya bener-bener harus pergi.” Rayhan memohon belas kasih. Membuatku menatapnya penuh iba.


“Al?”


“Al?”


“Al?”


“Iya, deh.” jawabku setengah hati. Agak berat memang membiarkan Rayhan pergi. Tapi, jika tidak diiyakan, aku tidak akan punya waktu untuk melanjutkan pekerjaan. Jadi, dengan terpaksa kuizinkan Rayhan pergi, meskipun izin dariku itu bukan sebuah izin resmi.


Begitu ingin membuka kembali naskah Cinnamon, bunyi getaran handphone di dekat tumpukan naskah membuatku memalingkan wajah.


Kulihat digit-digit nomor tanpa nama. Kudiamkan panggilan itu sejenak sebelum akhirnya kuangkat.


“Hallo?” sapaku singkat.


“Saya di coffee shop seberang kantor kamu. Kita bisa ketemu?”


Untuk sekian detik yang berlalu sia-sia, aku hanya membisu tanpa mengeluarkan suara. Bibirku kelu untuk mengucapkan sesuatu. Tidak ada jawaban yang bisa kuberikan. Hingga kubiarkan dengung suara handphone mengisi kesunyian yang kami ciptakan.


“Alya?” sapanya hangat, membuat otakku berputar-putar tidak karuan. Kudengar suaranya memburu, membuat nafasku tertahan di ujung tenggorokan.


“Alya?” dia mengulang kata yang sama untuk kedua kalinya. Memaksaku menggigit bibir, menahan suara. Aku mencoba berdamai dengan kenyataan yang kuhadapi sekarang. Kenyataan bahwa perpisahan membuat rentang rindu yang begitu dalam.


Meskipun khawatir Mas Zifran akan marah besar saat melihat tidak ada satu pun copyeditor di dalam ruangan, aku tetap melanjutkan langkah menemui Arfian.


Bagaimana pun juga rindu ini harus segera diselesaikan.

__ADS_1


__ADS_2