Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Enam Belas


__ADS_3

Seperti sudah jadi kebiasaan, ritual ngopi-ngopiku dengan Arfian selalu berakhir di dalam mobil. Dengan berhias cahaya kekuning-kuningan dari lampu mobil Arfian, kami bisa menghabiskan berjam-jam waktu tidur yang kami miliki. Melepas kerinduan dengan bicara banyak hal. Saling berbagi cerita. Berbagi rahasia. Berbagi pertanyaan dan memberi jawaban.


Meski hanya sebuah mobil sedan tua, ada begitu banyak kenangan yang tidak bisa kulupakan di dalamnya. Di dalam mobil sedan itulah, kami punya kesempatan nonton Kung Fu Panda bersama, makan nasi goreng satu piring berdua. Sampai-sampai mencicipi jajanan yang Arfian beli di luar kota, juga kami lakukan di dalam mobil sedan tuanya. Bahkan tidak jarang kami nonton drama komedi hingga tertawa terpingkal-pingkal.


Aku tidak tahu, ini kali ke berapa kami nonton bersama di dalam mobilnya. Bukan film animasi atau drama komedi, tetapi siaran ulang pertandingan Arfian saat pegelaran Australia Open 2017.


Meski tidak berkecimpung di dunia bulutangkis, ada banyak gerakan familiar di mataku. Semisal dropshot, backhand, drive, dan jumping smash. Komentator yang meliput jalan pertandingan menjadi sumber pengetahuanku untuk gerakan-gerakan itu.


Dari diri Afian, ada beberapa ciri khas yang dia miliki ketika bermain di lapangan. Pemuda itu tenang dan menenangkan. Tidak banyak senyum dan jarang meminta challenge. Kata Arfian, bermain sendiri itu perlu lebih banyak konsentrasi. Jangan terlalu banyak mengeluh saat service dikatakan fault atau bola kita dinyatakan out. Jangan berlebihan saat match point terlebih dulu didapatkan. Lakukan celebracy layaknya sedang latihan. Jika tidak dalam situasi genting, tetap lanjutkan permainan dengan yakin. Apabila gegabah, lawan akan dengan mudah menemukan celah.


Satu yang kusuka dari pemuda itu saat bermain, adalah ketika dia menempatkan shuttlecock di bibir raket. Ibu jari dan telunjuknya memegang bulu-bulu halus itu dengan sentuhan tipis.


“Kamu punya teknik dari mana megang shuttlecock kayak gitu?”


“Atlet-atlet lain juga gitu, kok, Al.” sahutnya ringan.


Sementara aku tidak menghiraukan apa yang dia katakan. Pandanganku mengarah pada shuttlecock yang melambung. Bergulir perlahan dan jatuh di luar lapangan. Memastikan perjuangan Arfian yang melaju ke babak perempat final.


“Al.” tegur Arfian.


“Hm?” sahutku ringan tanpa mengalihkan pandangan. Menunggu apa yang ingin Arfian katakan.


Namun, dia hanya diam membisu. Bolamatanya tidak bergerak. Membeku sesaat setelah pandangan kami bertemu. Aku tersenyum tipis. Kuraih wajahnya dengan kedua tanganku. Kuhalau anak rambut yang meriap di dahinya. Kurapikan jaket tebal yang dia kenakan. Kutatap dia selekat dia menatapku.


Hingga tubuhku melemah. Terlebih saat pemuda itu mendekat perlahan. Menarikku dalam pelukannya yang hangat. Mengisyaratkan rindu yang tertahan. Berakhir dengan kecupan singkat di dahiku. Setelah itu dia menempatkan dagunya di atas pundak kananku. Kubiarkan dia mencium rambutku. Membaui aroma vanilla yang sudah begitu familiar untuknya. Salah satu aroma yang dia suka.


“Fian.” tegurku lirih saat Arfian mengeratkan pelukannya.


“Bentar aja, Al. Bentar aja.” sahut Arfian parau.


Kulihat angin malam berhembus kencang. Menerbangkan daun-daun kering. Menjatuhkan ranting-ranting yang berayun genting. Menjadikan mereka puing-puing renta yang malang. Menjatuhkan airmataku yang sedari tadi sudah kutahan.


Meskipun bersama Arfian membuatku bahagia, tapi aku tidak ingin berdusta. Aku tidak ingin menyimpan rahasia. Bahwa karenanya juga aku pernah terluka.


Tapi, apa mungkin bisa? Hubungan cacat seperti ini kembali sempurna?

__ADS_1


*****


Aku nyaris aku menelpon ibu dan bapak untuk meminta mereka datang. Tapi, Mas Rudi melarang. Dia bilang, dia akan cepat pulang. Meskipun aku sedikit meragukan ucapannya yang bilang hanya berlibur selama dua hari. Apalagi bulan madu mereka kali ini di Bali. Mustahil jika dia bisa menepati janji.


“Saya nggak bisa nambahin naskah itu hari ini. Saya lagi sibuk.”


Aku menghela napas panjang begitu membaca pesan Satya. Pemuda itu memang tidak bisa dipercaya. Padahal dia sudah berjanji untuk mengirim hasil tulisannya siang ini juga.


“Jangan hubungin saya lagi kalo kamu nggak mau mati.” balasku menggebu-gebu.


Selang beberapa detik setelah itu handphoneku kembali bergetar. “Oke.”


Kesal. Aku hanya bisa meremas handphoneku sendiri. Malas meladeni isi pesan Satya, aku mengalihkan perhatian dengan memanggil Hanif dan Alif. Meminta mereka segera mandi dan menikmati sarapan pagi.


Dan yang tersisa sekarang adalah bagaimana menghadapi mereka saat jam makan siang tiba. Entah menu apa yang nantinya akan kuhidangkan di atas meja. Yang pasti aku tidak akan memesan makanan dari luar. Takut insiden keracunan tahun lalu kembali terulang.


*****


Meskipun tidak selihai ibu ataupun Mbak Aina, kari ayam buatanku tidak boleh dipandang sebelah mata. Kata bapak, aku bisa membuka usaha cattering jika suatu saat aku bosan bekerja. Hanya saja terkadang aku malas berkutik di pantry dapur. Enggan mengenakan celemek masak.


Tapi, demi Hanif dan Alif, apapun rela kulakukan. Tidak kuhiraukan lagi celemek masak yang sejak tadi kukenakan. Rambutku yang diikat asal-asalan, menyisakan helai-helainya jatuh sembarangan. Membuat penampilanku siang ini nampak sangat berantakan.


“Bi Alya, bikin gado-gado?”


Suara Alif membuatku menghela napas. Bocah itu duduk di anak tangga sembari menatapku dengan tanda tanya.


“Mana ada bikin gado-gado pakai kompor.” sahutku seadanya.


“Tapi, kata bapak, celemek itu punya tukang gado-gado.” jawab Alif asal.


Aku melirik sekilas ke arahnya. “Bukan cuman tukang gado-gado yang pakai celemek.”


Dari luar dapur, derap langkah kaki orang berlari membuatku mengarah ke ruang TV.


“Bibi, ada tamu bapak di depan.” ujar Hanif sambil menghampiri saudara kembarnya.

__ADS_1


Selagi Hanif dan Alif sibuk bermain di meja makan, aku mengecilkan api kompor. Dengan sedikit tergesa-gesa aku berjalan ke teras depan. Menemui tamu Mas Rudi yang dimaksud Hanif tadi.


*****


Waktu punya cara sendiri untuk mempertemukan siapa saja yang dia inginkan.


Perlu beberapa detik lamanya untuk menyadari siapa tamu Mas Rudi yang dikatakan Hanif tadi. Kupikir bukan hanya aku saja yang tercengang, pemuda yang berdiri di depanku pun juga nampak tidak percaya. Dia menatapku dengan dua alis terangkat tinggi.


“Kamu-“


“Saya ke sini bukan buat ketemu kamu.” sela Satya terburu-buru.


“Saya juga malas kalo ketemu kamu.” sahutku kesal sembari menarik gagang pintu. Berniat menghindai pertikaian dengannya. Berupaya supaya kami tidak kembali berjumpa.


“Eh! Eh!” kedua tangan Satya langsung menahan daun pintu yang hendak kututup.


“Saya ini tamu.” sambungnya, menatapku dengan wajah tidak terima.


Aku nyaris mengutuk pertemuan kami kali ini. Apalagi mengetahui ternyata Satya adalah desainer interior yang selama ini diceritakan Mas Rudi. Tanpa mengurangi rasa hormatku pada pemuda itu, akhirnya kuperkenankan dia masuk. Kupersilahkan dia duduk. Kusuguhkan es teh yang sengaja kubuat dalam teko besar.


“Saya ditinggalin aja, gitu?” seru Satya sesaat setelah meneguk es teh buatanku. Dia nampak keberatan saat melihatku beranjak pergi ke dapur.


“Terus kamu mau apa?” tanyaku tidak sabaran.


Sejak tadi langkahku tertahan, padahal Hanif sudah memanggil namaku berkali-kali.


Satya tersenyum sumringah. Matanya berbinar cerah. “Ponakan kamu ngajakin saya makan bareng, kan?”


Aku menghela napas panjang. Bolamataku menatap Satya tajam. Dia terlihat mengamati sesuatu. Dan aku tidak ragu untuk mengatakan bahwa dia tengah mengamatiku.


Merasa tidak nyaman karena diperhatikan, aku menatap pemuda itu semakin tajam. “Kenapa?” tanyaku ketus.


Seulas senyum manis terukir di balik bibirnya yang tipis. “Nggak apa-apa.”


“Bi Alya! Ini udah boleh makan apa belum?”

__ADS_1


Beruntung teriakan Alif membuat langkahku segera berlalu. Meninggalkan Satya yang duduk seorang diri. Entah apa yang dilakukannya di sana. Yang pasti aku memang tidak mengajaknya makan bersama. Enggan saja.


Begitu Satya berjalan mengitari ruang TV dan aku menyiapkan kari ayam di meja makan, pandangan kami bertemu. Hanya sekedar itu. Tanpa ada satu pun kata yang kami ucapkan. Tanpa maksud dari tatapan matanya yang bisa kuartikan.


__ADS_2