
Musim apa yang paling kamu suka?
Waktu kecil aku bilang pada ibu, aku suka musim salju. Padahal seumur-umur aku tidak pernah merasakan seperti apa salju itu. Selepas masuk sekolah dan menimba ilmu, aku baru tahu bahwa musim salju itu palsu. Tidak ada musim salju di dunia ini.
Tinggal di Indonesia membuatku terbiasa dengan dua musim saja. Hidup dengan dua siklus tahunan yang bergantian, yaitu kemarau dan hujan.
Seseorang pernah bertanya padaku, musim apa yang kusuka. Alih-alih menjawab musim salju seperti yang kubilang dulu, kukatakan padanya aku suka musim kemarau.
Meskipun musim kemarau itu panas, membuat banyak orang jadi gerah dan tidak betah, aku tetap suka kemarau. Aku suka hangat mataharinya di jam-jam pagi setiap hari. Aku suka langit siangnya yang cerah dan awan-awannya yang bergerak tanpa harus dijamah. Suka langit sorenya ketika burung-burung bebas terbang dan anak-anak kecil dapat main layang-layang. Suka langit malamnya yang berhambur ratusan juta bintang dan bulan jadi terang menderang. Langit di musim kemarau tidak pernah suram. Tidak pernah muram.
Kendati demikian, bukan berarti aku benci musim hujan. Aku hanya tidak suka dingin berkepanjangan. Apalagi di rumahku tidak ada penghangat ruangan. Jadi, setiap musim hujan datang aku hanya bisa bermalas-malasan. Membungkus tubuhku dengan selimut tebal dan bersemedi tenang di kamar.
Ini baru awal musim hujan. Baru hari pertama ketika Jakarta sedikit kebasahan. Tapi, aku sudah mengeluh tidak karuan. Angin kencang meniupkan aura kehidupan yang berbeda padaku. Meski sebagian orang merasa nyaman dengan musim hujan, nyatanya mereka tidak merasakan apa yang kini kurasakan.
Ke-di-ngi-nan.
“Argh!” gerutuku sambil menggerakan kedua kaki; berupaya untuk tidak membuat mereka mati rasa.
Sibuk menahan rasa dingin, getaran handphone di dalam ransel membuatku tersadar.
“Hallo, Mas? Udah di mana?” kataku kesal begitu mengangkat panggilan Mas Rudi.
Kudengar suara Mas Rudi bergemuruh, berpadu dengan bunyi hujan. “Ini si bemo ngambek. Kamu tungguin aja dulu, kata Mas Surya sepuluh menit lagi selesai.”
“Iya, iya.” sahutku singkat.
Beberapa pegawai ada yang sibuk menyeberang, ada juga yang bertahan menunggu jemputan. Sebagian dari mereka yang bertahan, lambat laun meninggalkanku sendirian.
Lelah berdiri, akhirnya aku memilih duduk di tangga pintu masuk. Kuluruskan kakiku, sekedar memberinya ruang agar tidak benar-benar mati fungsi. Kubiarkan tempias hujan menghujam mereka yang telanjang. Maklum, hanya beralas sandal rumahan.
__ADS_1
Dingin membuatku ngilu. Gigiku menggeretak dan bibirku kelu.
Mataku terpejam mencoba merangkai sugesti ringan. “Ini tidak dingin. Jangan berlebihan!”
Kuulang kalimat itu puluhan kali. Hingga gemuruh mesin mobil merambat di udara, menggetarkan saraf pendengaranku detik itu juga.
“Bemo!” pekikku dalam hati.
Begitu membuka mata, kulihat tirai hujan menyambut kedatangan Arfian yang berlari ke arahku. Sesekali dia berjingkat, melompati genangan air, menabrak beberapa kubangan air. Percikan tanah dari guyuran hujan turut mengotori celana dan sandal jepitnya. Dia mengenakan kemeja polos berwarna biru malam. Kedua tangannya sibuk memegang paper cup minuman. Dari kejauhan, kulihat rambut hitamnnya dibiarkan basah begitu saja, sementara dia menghampiriku tertawa ringan.
Pemuda itu tiba di depanku dengan napas ngos-ngosan. Dia berdiri tepat di depan kakiku yang telanjang. Tubuhnya yang tinggi menghalau tempias hujan, menutupi pandanganku dari keramaian jalan.
“Makanya kalo kerja itu pakai sepatu.” ujar Arfian tersenyum mengejek. Bolamatanya menangkap jari-jari kakiku yang mulai memucat. Dia mendorong-dorong kakiku yang nyaris membeku. Menjahilinya dengan sengaja.
Aku menatapnya tidak senang. “Kayak kamu lagi make sepatu aja.”
“Saya, kan nggak kerja.” dia balas menatapku dengan wajah kemenangan.
“Nih.” ujarnya seraya menyodorkan satu paper cup di depan wajahku.
Arfian menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum yang sampai saat ini masih sangat kusuka.
“Yakin, nggak mau? Ristretto, tau. Masih hangat pula.”
Mendengar itu, aku langsung tersenyum lebar.
Lewat sedotan yang sebelumnya telah Arfian berikan, aku menarik Ristretto itu perlahan. Mengantisipasi panas yang kemungkinan akan membuat lidahku terbakar.
Baru satu tegukan, minuman itu nyaris kumuntahkan. Tapi, kerongkonganku sudah terlanjur menelannya. Mataku mengerjap-ngerjap dan suaraku lirih seketika.
__ADS_1
“Fian!” aku mendengus kesal.
Rasa pahit Espresso Macchiato meninggalkan jejak-jejaknya di papila lidahku.
Wajah Arfian diselimuti kebahagiaan. Dia menatapku tanpa ada sedikit pun rasa penyesalan. Bunyi hujan bahkan tidak bisa menyembunyikan tawanya yang pecah di udara.
Begitu bemo tiba, Arfian menyuruhku segera pulang. Sebelum langkahku benar-benar memisahkan kami berdua, aku kembali menatap pemuda itu lewat punggung belakangnya. Kulihat titik-titik air berjatuhan dari kemeja biru malam yang dia kenakan. Rupanya Arfian tadi berdiri di depanku untuk menahan tempias hujan.
Dan aku menyadari, itulah kebiasaan yang selalu dia lakukan. Tidak ada satu pun yang berubah dari diri Arfian. Dia tetap orang yang dulu. Persis dengan sikapnya seperti itu.
***
Kapan pertama kali kamu jatuh cinta?
Aku melanjutkan naskah Cinnamon setelah menyesap Ristretto hangat pemberian Mas Zifran. Dia menyogokku untuk segera merampungkan naskah itu. Sebab bulan ini dia akan memberiku tugas tambahan di luar jam pekerjaan.
“Waktu bicara tentang segala sesuatu yang tidak pernah kita duga. Siapa sangka bahwa ternyata aku juga bisa jatuh cinta.”
Aku terbawa suasana. Hanyut oleh rentetan kata yang ditulis Cinnamon untuk menggambarkan bagaimana seorang Ardy bisa jatuh cinta. Untuk pertama kalinya, pada seorang pemain biola bernama Selma.
Selma Sayzaira. Wanita heteregon; Indonesia-Libanon. Tubuhnya langsing, cenderung kurus, kulitnya kuning langsat, wajahnya pucat, dan mata cantiknya berwarna coklat. Rambutnya hitam, tidak terlalu legam, terurai bebas meriap di dahi dan pundaknya.
Mereka bertemu di rumah sakit. Sama-sama menjalani terapi Osteokloris, hanya berbeda giliran antre saja. Selma terlebih dulu, kemudian Ardy setelahnya.
Serupa dengan Ardy yang menggunakan alat bantu dengar dan harus menjalani perawatan, Selma juga rutin terapi setiap tiga hari sekali. Namun intensitas terapi Selma semakin besar saat Otosklerosisnya diimbangi dengan gejala pseudovertigo.
Cinnamon membuat pertemuan mereka tanpa suara. Hanya melalui senyum ringan dan kontak mata sederhana. Meyakini bahwa penderita Otosklerosis tidak bisa bercengkrama, Ardy memilih bungkam. Dia tahu, keterbatasannya benar-benar sudah di ambang atas. Alat bantu dengar yang dimiliki Ardy tidak mampu sepenuhnya menerjemahkan setiap gelombang suara yang masuk. Selalu tercipta kesalahan. Terlebih ketika kata-kata itu punya kemiripan. Semisal buram, suram. Hampa, tanpa. Sunyi, bunyi. Jejak, letak. Jurang, curang.
Bahkan dalam dunia Ardy, di indera pendengarannya selama ini, nama Selma tertulis Salma. Dia meresapi nama itu ketika perawat mengajak Selma bicara. Meski tidak bisa menangkap apa yang mereka bicarakan, tapi Ardy percaya wanita yang selalu dilihatnya di pusat terapi itu bernama Salma. Salma Sayira.
__ADS_1
“Kita tidak perlu kejelasan akan siapa nama orang yang kita suka. Karena di dunia ini ada banyak orang dengan nama yang sama. Kita tidak butuh namanya. Kita butuh dirinya. Dan untuk pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang wanita seperti Salma. Meskipun ribuan kali kukatakan padanya aku cinta dia, kupikir dia juga tidak akan tahu. Namun, kuharap dia mengerti. Karena aku percaya, ada banyak indera dalam dirinya yang masih bisa berfungsi, terlebih mata dan juga hati.”
Aku menutup naskah Cinnamon perlahan. Pikiranku melayang, mengingat kapan pertama kali aku jatuh cinta. Mengingat pada siapa aku pernah jatuh cinta.