
Apa anak-anak memang suka duduk di pangkuan laki-laki hangat?
Aku memalingkan badan begitu mobil Rayhan keluar dari kompleks perumahan. Pemuda itu memang menawarkan jasa tumpangan karena Mas Rudi masih lembur.
Langkah kakiku melambat saat mendapati sebuah mobil sedan tua terparkir di pekarangan rumah. Nomor flatnya membuatku tersenyum cerah.
Begitu mengetuk daun pintu, mereka yang duduk di ruang tamu langsung menyambutku. Kulihat senyum lebar terukir di bibir tipis Arfian. Pemuda itu menggerakan bolamatanya, mengarah pada Hanif dan Alif yang duduk dipangkuannya. Dua keponakanku nampaknya punya hadiah baru. Sepasang kapal pesiar bertuliskan Uni Emirat Arab hidup dalam dunia imajinasi lautan yang sedang mereka ciptakan.
Mbak Aina bangkit, menghampiriku yang melepas sepatu di dekat pintu. “Mau kolak? Mbak bikin banyak.” tawar Mbak Aina yang kusambut dengan anggukan setuju.
“Al, kalian balikan?” bisik Mbak Aina penasaran. Membuatku langsung menggeleng cepat, menolak pertanyaan yang baru saja dia ajukan.
“Bohong.” gumamnya dengan senyum yang disembunyikan.
Aku tidak menghiraukan candaan Mbak Aina. Begitu dia berlalu ke dapur untuk kolak yang tadi dia tawarkan, aku segera menghampiri Arfian. Duduk di depan pemuda itu.
“Tut-tut-tut-tut-tut.” suara Alif seirama dengan kapal pesiar yang bergerak di udara.
“Itu suara kereta api, kali.” bantah Hanif.
Seketika Alif menatap Arfian dengan wajah tidak berdosa. Matanya mengerjap dan mulutnya terbuka begitu saja. Membuat Arfian tidak dapat menahan tawa.
Namun, Alif kembali mengulang bunyi yang sama. Membuat Hanif menggelengkan kepala melihat tingkah saudara kembarnya. Memaksa tawa Arfian pecah di udara.
Mereka bertiga memang akrab sejak dulu. Bukan hanya karena Hanif dan Alif yang mudah bergaul, tapi Arfian memang selalu hangat pada siapa pun. Pemuda itu tidak sungkan untuk memangku anak-anak. Bahkan tidak jarang dia berfoto ria bersama Hanif dan Alif. Mengajak mereka jalan-jalan keliling kota, membelikan mainan yang mereka suka, bahkan membawakan oleh-oleh khas anak-anak jika pergi ke luar kota.
Dengan Hanif yang duduk di pangkuan kanan dan Alif yang duduk di pangkuan kiri, Arfian menempatkan wajahnya di antara pundak mereka berdua. Pemuda itu kemudian menatapku dengan tersenyum bangga. “Gimana? Udah cocok belum?”
“Cocok apaan, Om?” pertanyaan Hanif membuat Arfian kikuk. “Uhm, bukan Hanif, sayang. Tapi, Bi Alya.”
“Emang Bi Alya kenapa?” kini giliran Alif yang membuat Arfian membisu. Pemuda itu menahan senyum dan menggaruk sisi hidungnya. Dia benar-benar terperangkap dalam pertanyaan yang dia buat.
Arfian memutar matanya. Menatapku sambil tersenyum pasrah. Wajahnya dipalingkan ke sembarang arah. Tidak punya jawaban atas pertanyaan Hanif dan Alif yang terkesan asal-asalan.
Aku memandangnya dengan mulut tertutup rapat. Berusaha menyembunyikan tawa yang sedari tadi kudera.
*****
Kenapa anak-anak selalu bisa ceria dan terlihat bahagia?
Jawabannya sederhana. Mereka tidak pernah mengeluh dengan apa yang mereka terima dan senantiasa bersyukur dengan apa yang mereka punya.
Untuk kesekian kalinya aku dan Arfian menonton film yang sama. Kali ini tanpa didampingi Ristretto kesukaanku maupun Espresso Macchiato favoritnya. Kami hanya sibuk menyaksikan perjalanan hidup Carl dan Ellie saja. Larut dalam alur kisah mereka.
Perlu kuakui, aku memang suka film animasi. Terlebih jika temanya sangat dekat dengan kehidupan nyata. Dan Up membuktikan padaku bahwa bahagia tidak harus dengan kata-kata. Carl dan Ellie pun tidak saling bicara. Tapi, mereka bisa bertahan dan terus bersama. Meski di tengah cerita Carl harus sendiri, berkabung sepi. Karena kehilangan akan membuat beberapa bagian dalam hidup seseorang menjadi berantakan.
“Idih, Alya nangis.” ejek Arfian saat melirikku yang mengusap airmata.
__ADS_1
Aku menatapnya tidak senang. “Ngeselin banget sih, Fian.”
“Kita udah nonton film ini berkali-kali. Dan kamu tetap nangis kayak gini? Yang bener aja, Al.” gumam Arfian sambil memberikan secarik tisu untukku.
“Udah, deh. Hapus aja filmnya. Biar kita nggak bakal nonton lagi.” ujarku parau.
“Ya jangan, lah. Nggak ada lagi film animasi seromantis ini, tau.” balas Arfian ringan.
Aku tidak berniat menanggapi apa yang dia katakan. Pemuda itu pun membiarkanku menarik napas panjang. Dia mendiamkanku yang masih mencoba menenangkan diri.
“Al.” Arfian membuatku memalingkan wajah, menatapnya penuh tanda tanya. Sedetik setelah itu, sebuah kotak kecil berwarna merah putih di tangan pemuda itu.
“Hadiah buat kamu.” ujarnya sambil meraih kedua tanganku.
Jemariku perlahan membuka kotak berwarna merah putih itu. Dan aku hanya membisu begitu melihat isinya. Ini kemenangan yang Arfian perjuangkan sampai-sampai membuat lututnya cedera. Ini kemenenangan yang jauh-jauh dia bawa dari Dubai sana.
Aku membeku saat Arfian menggalungkan medali emas itu di leherku.
“Kamu juaranya, Al.” ujar Arfian sambil merapikan rambutku yang berantakan.
Dia memajukan tubuhnya, mengecup dahiku. Saat itu setetes airmata begulir. Jatuh mengenai pipi kananku. Tapi itu bukan tangisku, melainkan tangis pemuda itu.
Dengan suara bergetar, Arfian bergumam pelan. “Tolong jangan buat saya menunggu terlalu lama.”
Aku tidak tahu jawaban apa yang harus kuberikan. Yang bisa kulakukan hanyalah membisu. Membiarkan tangisku dan tangisnya beradu.
“Saya mau kamu selalu ceria, selalu bahagia. Dan saya mau saya jadi alasan di balik itu semua.” ujar Arfian dengan suara bergetar, seraya mengusap airmataku.
Kemudian semuanya terjadi di luar kendali. Aku benar-benar membeku saat Arfian menarik wajahku. Meniadakan jarak yang sempat kami buat. Menghilangkan sekat yang justru membuat kami semakin dekat. Pemuda itu menekan ciumannya. Menekannya berkali-kali, penuh emosi. Aku tahu, aku mengerti apa yang dia mau. Dia menuntutku buka suara, dia menantiku agar bicara. Tapi, aku masih belum bisa memberi jawaban seperti yang dia minta. Aku masih butuh waktu sedikit lebih lama lagi.
*****
Tanaman apa yang paling kamu suka?
Dikarenakan wadah diorama milik keponakan kembarku yang terlalu besar dan tidak bisa dijejalkan di dekat kaca jendela, akhirnya aku membuat spot khusus di kamarku. Di dekat tumpukan buku zaman kuliah, aku memberi sedikit ruang untuk diorama buatan Satya.
Hasilnya ternyata menarik. Cantik. Membuat hatiku senang meski hanya dengan memandang. Apalagi diorama itu sekarang semakin ramai. Anak-anak kaktusnya mulai bertunas. Menambahkan kesan rindang dengan duri-duri kecilnya yang belum begitu tajam.
Quiet milik Jason Mraz mengalun merdu. Menemaniku yang sibuk memilih surat suara untuk siaran Abas besok lusa. Meski sudah larut, aku berniat untuk menyelesaikannya malam ini juga. Sebab besok hari sudah ada puluhan naskah yang menantiku di meja kerja.
Terlebih besok Mbak Aina dan keponakan kembarku akan pulang ke Yogya. Akan ada kesibukan mendadak di pagi buta. Rencana berlibur di rumah ibu dan bapak menjadi kesempatan di balik rencana renovasi rumah Mas Rudi yang akan dimulai sebentar lagi.
“Mas Abas, kasih tips dong biar bisa selalu bahagia.” tulis Gina, wanita asal Jakarta.
Pengirim berikutnya Tiara. Dari kota Makasaar untuk seseorang di Jakarta.
“Mas Abas, semua yang dipendam itu nggak baik, kan? Terus kalo yang dipendam perasaan, gimana? Nggak baik juga? Atau baik-baik aja?”
__ADS_1
Selanjutnya dari Rio di Bandung.
“Bro, ada saran nggak buat yang lagi TTPS. Teman tapi peluk sana peluk sini.”
Dua surat terakhir. Dari pengirim yang sama. Sama-sama tanpa nama.
“*Percayalah bahwa cinta akan selalu tahu jalan pulang. Jangan khawatir dia tersesat apalagi salah orang. Sebab cinta sudah menentukan pilihan, cinta sudah punya ketentuan. Dengan demikian, kamu bebas berkeliling dunia ke manapun kamu mau. Kamu bisa mendatangi semua negara yang ingin kamu tuju tanpa harus merasa ragu. Kamu juga dapat menyinggahi tempat-tempat menarik meski mereka bukan destinasi terbaik. Kendati nanti bumi berhenti berputar, ataupun saat waktu tidak punya hak untuk terus bergerak, kamu harus percaya bahwa saya adalah satu-satunya akhir dari ujung perjalanan kamu selama ini. Karena ke manapun langkah kaki membawamu pergi, jalan pulang akan selalu membuntutimu dari belakang.”
“Semuanya benar-benar dekat. Sangat teramat dekat. Tapi, justru semakin sulit untuk bisa didapat. Semakin berat. Kendati saya sudah tahu apa makna yang tersembunyi di balik semua itu, saya masih akan tetap menunggu. Karena saya masih tetap percaya, bahwa pada akhirnya akan ada satu kata yang bisa merubah semuanya. Dan saya harap, kata itu bisa membuka kesempatan bagi kita untuk kembali bersama*.”
Bolamataku menelusuri setiap rangkaian tulisan di layar komputer. Mengapa aku seolah mengalami semua yang dimaksudkan dalam surat itu? Apakah dua surat terakhir ini milik Arfian? Apa bulan ini dia juga mengirim surat itu ke meja siaran?
Niatku untuk menghubungi pemuda itu urung saat menyadari handphoneku bergetar terlebih dulu. Barisan nama Satya membuatku terpaksa mengangkatnya.
“Udah nyampe mana revisi kamu?” cerocosku tanpa terlebih dulu menyapa.
“Saya bahkan lupa buat ngerjain naskah itu.”
Aku berdecak kesal. “Terus ngapain kamu nelpon saya?”
Kudengar Satya menghembuskan napas beratnya. “Kamu mau apa?”
Sedetik kemudian dia kembali bertanya. “Bukan itu, tapi kamu mau pesan apa?”
Lalu memperbaiki isi pertanyaannya “Maksud saya kamu suka apa?”
Apa yang sebenarnya ingin Satya bicarakan?
“Kamu ngomong apa, sih, Satya?”
“Saya lagi nggak di Indonesia.”
“Terus? Apa hubungannya sama saya? Eh, tunggu-tunggu! Jadi yang renovasi rumah Mas Rudi dari kemarin-kemarin siapa?”
“Temen saya, Mbak Gita. Udah, deh, kamu mau apa?”
Aku mengangguk-angguk ringan. Pantas saja aku tidak melihat batang hidungnya akhir-akhir ini. Apa mungkin dia di Jerman? Mengunjungi Ardy? Atau justru ke Amerika menemui ibunya? Entah mana yang benar. Aku tidak ingin terlalu memikirkan.
“Saya nggak mau apa-apa. Kamu balik aja. Jangan lama-lama di sana, biar bisa selesain naskah itu secepatnya.”
“Saya? Yang bener aja?” protes Satya.
Aku tertawa tidak percaya. “Terus siapa?”
“Ya, kita lah.”
Detik itu juga aku memutus panggilan Satya. Saking kesalnya, aku tidak sanggup membalas ucapan yang dia katakan. Ubun-ubunku mendidih. Terasa pedih. Mulutku tertutup rapat. Berusaha menahan umpatan yang mungkin akan membuat amarahku meledak.
__ADS_1
Bagaimana bisa Satya mengikutsertakanku dalam pekerjaan yang sudah dia sanggupi seorang diri? Lagipula apa yang sebenarnya dia lakukan selama ini hingga naskah itu belum juga sempat diperbaiki?
Sesaat handphoneku kembali bergetar. Sebaris pesan singkat dari Satya rupanya. “Saya bawa sesuatu yang kamu suka. Sampai ketemu besok lusa."