Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )

Aksara Rasa ( Untuk Rasa Yang Tidak Akan Sempurna )
BAB Empat


__ADS_3

Apa rindu itu sebuah beban?


Pemuda itu bangkit dari poof saat melihatku berdiri di teras coffee shop.Dia tersenyum tipis menyambut kedatanganku yang melangkah ragu menghampirinya. Ragu, apakah ini adalah saat yang tepat untuk kami kembali bertemu? Ragu, apakah keputusanku sudah benar untuk menemuinya dan melepas rindu?


Baru berjalan setengah langkah, otakku berhenti memerintah. Kakiku seolah dijatuhi jutaan beban berat yang membuatnya tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhku seakan kehilangan tenaga dalam waktu sekejap.


Kupikir aku sudah merasa cukup meski hanya melihatnya dari kejauhan. Nyaris menyerah dan melangkah mundur, aku hampir membalikkan badan. Tapi, pemuda itu terlebih dulu berlari dan menahan lenganku. Mengunci langkah kakiku.


“Kita harus bicara.” ujarnya memohon seraya mencengkeram pergelangan tanganku.


Aku menutup penglihatanku untuk sesaat, lalu memandang jauh ke dalam matanya. Kudapati kecemasan terpancar jelas di sana. Dia seakan-akan tengah mencari sesuatu yang selama ini selalu kusembunyikan. “Kita bicarain ini nanti.”


“Al, tolong.” pintanya sambil mencengkeram pergelangan tanganku semakin erat.


Kulihat rahang pemuda itu mengeras, bibirnya terkatup rapat, dan sorot matanya mentapku tajam.


Aku mendekatinya, menatap matanya selekat yang aku bisa. Kuperhatikan dengan seksama wajahnya yang amat sangat kurindukan. Aku bohong jika mengatakan pertemuan bisa menyelesaikan kerinduan.


Bukankah sekarang kami telah bertemu? Harusnya rindu ini sudah selesai. Tapi, entah apa yang baru saja kualami. Kurasa rindu yang kumiliki semakin menjadi-jadi.


“Kita bicarain ini lain kali. Hm?” kataku lirih.


Perlu banyak detik berlalu hingga Arfian melepaskan pergelangan tanganku. Pemuda itu melunak meski aku tahu dia masih menolak.

__ADS_1


Dua tahun itu waktu yang singkat. Tapi bisa merubah banyak hal dan membuat hal-hal yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Termasuk di antaranya perihal perasaan yang ingin ditiadakan. Aku tahu, hubungan kami tidak akan serumit ini jika aku bisa mengerti dirinya seperti yang dia mau. Jika saja aku bisa memahami kehendaknya dan memaklumi semua itu, kupikir kami tidak harus bersikap seperti ini.


***


Apa kamu punya benda kesayangan?


Seseorang pernah bilang padaku bahwa benda kesayangan bisa menjadi media katarsis. Semua masalah yang kita hadapi terasa bukan lagi suatu masalah saat kita berkeluh kesah dengan benda kesayangan. Seperti ada kelegaan dan beban yang berkurang ketika kita berinteraksi dengannya.


Aku tidak tahu apa definisi benda kesayangan itu sebenarnya.


Hanif punya satu benda kesayangan, yaitu mainan kapal tongkang yang selalu dibawa ke manapun dia pergi. Bocah itu sering membuat suara menyerupai bunyi kapal tongkang dari pita suaranya sendiri.


Tidak hanya Hanif saja, Alif juga punya benda kesayangan, yaitu guling. Dia tidak bisa tidur dengan tenang jika tidak memeluk guling bermotif animasi dari film Cars yang sejak kecil sudah menemaninya. Alif bilang, meskipun guling miliknya itu dekil, kadang bau, dan juga sudah jelek, guling itulah yang menjadi saksi hidupnya selama ini.


Lantas, apa menyimpan suatu benda juga dapat membuatnya jadi benda kesayangan?


Di bawah loker meja kerja di sudut kamarku, terdapat kotak kecil berwarna merah putih. Di dalamnya ada satu benda usang yang sudah berumur hampir lima tahun. Sebuah medali emas yang ukirannya belum memudar. Masih bisa dibaca dengan jelas.


“1st Winner of Badminton Asian Junior Championship 2010 in Bangkok.”


Medali itu bukan milikku. Tapi, milik seseorang yang memberikan padaku secara cuma-cuma. Dia hanya memintaku untuk menjaga medali itu baik-baik, jangan dijual, apalagi diberikan kepada orang lain. Dia bilang akan menghabisiku jika aku sampai menghilangkan benda kesayangannya itu.


Kadang saat rinduku sudah keterlaluan, aku menatap medali itu dalam waktu yang lama. Menyentuh ukirannya, membolak-balik medali itu sampai puluhan kali. Mengulang kegiatan monoton itu hingga rinduku mereda. Sampai aku bisa bernapas lega.

__ADS_1


Namun, belakangan terakhir aku hanya bisa menatap medali emas itu dari kejauhan. Berusaha menghilangkan kerinduan pada pemiliknya. Mencoba menghapus semua ingatan yang berkaitan dengan kami berdua. Menghancurkan segala hal tentang dirinya.


Tapi, aku sadar, aku tidak bisa mengabaikan perasaan ini begitu saja.


***


Arfian, nama lengkapnya Arfian Rahardian. Lahir di Yogya dua belas hari sebelum hari lahirku. Dia menjadi satu di antara banyak anak laki-laki yang sering direkomendasikan untuk mengikuti kejuaraan olahraga bulutangkis tingkat Provinsi.


Jika ditanya apa yang Arfian lakukan di masa sekolah. Jawabannya sederhana saja. Pemuda itu punya kesibukan di atas rata-rata, melebihi kesibukan artis ibu kota. Jadwal latihan yang super padat dan keikutsertaan dalam berbagai turnamen nasional menjadi cerita masa sekolah Arfian yang paling berkesan. Namanya terkenal di barisan pemain bulutangkis muda Kota Yogya. Dia juga salah satu aset berharga milik Ace Yogya –club tempatnya bernaung– yang ditargetkan bisa mengejar karir di tingkat dunia bersama PBSI.


Ketika masih tinggal di Yogya, dan Arfian masih berstatus atlet daerah, aku dan dirinya sempat menjalin hubungan. Katakanlah itu sebuah hubungan istimewa yang berjalan selama tiga tahun lamanya. Tiga tahun kami pada saat itu sebenarnya berjalan baik-baik saja. Aku menerima kesibukannya yang latihan empat belas kali dalam seminggu; setiap pagi dan sore. Dia juga menerima kesibukanku untuk fokus belajar dan kuliah. Aku memaklumi keterlambatannya saat kami ada janji untuk bertemu. Dia juga memaklumi keterlambatanku untuk menonton setiap event pertandingannya di luar Yogya.


Kami menikmati semua yang kami jalani. Kupikir kesibukan adalah cara terbaik untuk mendefinisikan arti rindu yang sebenarnya. Pertemuan singkat karena latihan Arfian yang padat, membuat kami selalu menghargai setiap pertemuan yang kami buat. Tidak banyak hal yang bisa kami bahas karena waktu istirahat Arfian sangat terbatas. Kami hanya menikmati Ristretto kesukaanku dan Espresso Macchiato favoritnya. Menunggu hingga kepulan asap dua minuman itu lenyap di udara. Sembari berbagi cerita tentang hasil ujianku dan hasil turnamennya. Setelah minuman kami habis, Arfian akan pulang terlebih dulu. Meninggalkanku seraya meminta maaf karena tidak bisa mengantarku pulang. Dan semua kegiatan monoton itu terjadi berulang-ulang.


Tapi, aku tetap menikmati hubungan itu.


Bahkan ketika Pelatnas PBSI memanggil namanya dan dia angkat kaki dari tanah Yogya, kami menghadapi hal itu tanpa banyak ba-bi-bu. Meskipun hatiku sempat menolak untuk bertahan, aku tetap percaya, aku bisa melakukan itu untuknya.


Namun, bukan perjuangan jika tidak menyisakan korban, bukan?


Aku tahu di mana Arfian menempatkanku dalam daftar prioritasnya. Namaku tepat ada di bawah mimpinya. Aku tidak cemburu akan hal itu. Tapi, aku tahu diri. Aku mengerti bahwa ambisi dan kerja keras yang dia miliki selama ini tidak boleh sia-sia. Semua ketekunan yang telah Arfian bangun, tidak boleh bernilai percuma hanya karena hubungan kami berdua.


Jadi, dengan berat hati kubiarkan pemuda itu berlari. Kubiarkan dia berlari sejauh yang dia mau. Berlari ke berbagai negara di dunia untuk belajar bagaimana bertanding yang benar. Kubiarkan dia memilih mana yang lebih penting baginya saat itu. Kuputuskan untuk mengalah dan membiarkan hatiku menyudahi sesuatu yang tidak sepantasnya berakhir.

__ADS_1


__ADS_2