
Siapa pujangga yang paling kamu suka?
Jika tidak punya kegiatan, aku iseng membuka buku-buku sastra koleksi Mas Rudi. Penasaran saja, mengapa dia punya hobi bacaan seperti itu. Begitu sudah melihat isinya, aku hanya bisa menggaruk-garuk kepala. Selain berat untuk diucap, tidak semua kata bisa kumengerti. Bahkan ada satu paragraf yang sama sekali tidak kupahami.
Bagiku, yang namanya pujangga tentu punya jutaan kata di level high class. Tulisan mereka pun selalu berkelas. Tapi, ada satu pesan yang selalu kuingat dari Mas Rudi. Dia bilang, setiap tulisan selalu punya arti, yang perlu kita lakukan hanyalah meresapi maknanya yang tersembunyi.
Serupa dengan tulisan yang ada di ruangan Mas Panji. Dengan memanfaatkan seni tipografi, tulisan-tulisan itu terpatri rapi. Sengaja dibuat oleh seorang desainer interior untuk para atlet Pelatnas PBSI ketika mereka masuk ruang fisioterapi.
“*Cedera itu bagian dari cerita. Setidaknya dengan cedera kamu akan tahu bahwa lemah adalah bagian dari diri kamu yang akan selalu ada.”
“Tempat terapi memang yang teburuk. Tapi, mimpi kamu tidak boleh membusuk.”
“Ingat, ketika kamu berdiri, kamu berdiri bukan atas nama kamu sendiri. Tapi, kamu berdiri atas nama negeri yang kamu cintai*.”
Aku sempat berpikir apakah Arfian juga pernah masuk ruang fisioterapi? Apakah lutut kanannya selama ini baik-baik saja? Aku tahu, saat cedera semua mimpi atlet berada di ujung jurang. Hanya tinggal menunggu keputusan, antara pulih atau gagal berjuang.
Tidak akan hilang dari ingatanku bagaimana Arfian menghadapi masa-masa sulitnya dulu. Seleksi tahap akhir beasiswa PB Djarum Kudus nyaris membuat mimpi-mimpinya pupus. Lutut kanan yang cedera harus memaksanya mundur. Dia ambruk dan merintih lirih di lapangan. Kakiknya tertatih-tatih saat dibopong untuk mendapat perawatan. Dia berteriak kesakitan saat fisioterapis meluruskan kaki kanannya yang sulit digerakkan. Tidak ada yang bisa Arfian lakukan kala itu, selain terisak menahan kecewa dipelukan ibunya.
Arfian gagal meski telah memaksa lawannya bermain rubber game. Saat itu banyak orang bilang dia kalah dengan terhormat. Tapi, bagi Arfian kalah itu bukan pilihan. Hanya ada “Harus menang” atau “Tidak boleh kalah” dalam setiap pertandingan.
Aku larut mengingat masa lalu. Namun, getaran handphone tiba-tiba menyadarkanku.
“Al, kita bisa ngopi, bentar?”
__ADS_1
*****
Beruntung malam ini langit hanya mendung. Tanpa gerimis ringan atau guyuran hujan. Namun, anginnya yang nampak berlebihan memaksaku mengenakan jaket tebal saat bertemu Arfian. Membuat badanku sedikit lebar dan agak kebesaran.
Sepanjang jalan kami dirundung kesunyian. Dia fokus mengemudi. Aku sibuk berdiam diri. Pandangannya tertuju ke depan selagi aku menatap berbagai arah tanpa tujuan.
Arfian menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia bilang dia akan memesan dan setelah itu akan langsung mengantarku pulang. Aku mengangguk ringan, mengiyakan apa yang dia katakan.
Begitu Arfian berjalan menuju coffee shop, aku mengamati sosoknya dari kejauhan. Kami persis seperti ini dua tahun silam.
*Saat itu dia bolos latihan karena aku minta untuk bertemu. Tanpa ada percakapan, dia meninggalkanku di mobil sendirian. Pergi ke coffee shop untuk membeli Ristretto kesukaanku dan Espresso Macchiato favoritnya. Dalam kurun waktu menunggu Arfian kembali, otakku sibuk berperang dengan hati. Pikiranku tidak bisa menyusun kata-kata. Bahkan mulutku membisu tanpa mampu bersuara. Bagaimana bisa aku mengakhiri semua ini dengannya? Bagaimana bisa aku mengakhiri hubungan dengan seseorang yang selama ini terus kuperjuangkan? Hatiku ingin tetap bertahan, tapi otakku tidak mau sejalan.
Sekembalinya Arfian dari coffee shop, dia mendapatiku diam dengan suara tangis yang ditahan. Dia menenangkanku, merengkuhku dalam pelukan. Lalu bertanya apa yang terjadi, apa yang kualami. Tidak sanggup bicara, aku hanya bisa menatapnya. Berkali-kali jemarinya menyapu airmata yang membasahi pipiku. Isak tangis mengalahkan mulutku yang sejak tadi tertutup rapat. Aku menatapnya lekat. Diiringi gerimis hujan saat itu, aku menyentuh wajahnya. Jemariku menghalau anak rambut yang meriap di dahinya. Dengan terbata-bata aku meminta maaf dan mengatakan aku tidak lagi bisa bertahan untuknya. Sedetik setelah itu dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya menjelaskan raut tidak terima. Dia bertanya aku bicara apa. Kami berdebat panjang. Saling bersahutan. Saling menjelaskan dan mempertanyakan.
Aku balas menatapnya nanar. “Saya nggak pernah ninggalin kamu, Fian. Kamu yang lari dari saya.”
“Alya, saya nggak lari. Saya cuman minta kamu untuk mengerti.” tutur Arfian. Membuat airmataku terus berjatuhan.
Isak tangisku semakin menjadi-jadi. Tapi, Arfian tidak menenangkanku lagi, dia tidak lagi perduli.
“Saya nggak tahu, mengerti yang kayak gimana lagi yang kamu mau. Selama ini saya selalu mencoba mengerti kamu, mengerti semuanya. Tapi, apa yang saya terima? Bahkan setelah ini pun kamu bakal lari dari saya dalam waktu yang lama, kan?” aku mempertanyakan keputusannya untuk latihan di berbagai negara selama dua tahun.
Setelah itu hanya ada keheningan berbalut kesunyian. Arfian tidak menjawab apa yang tadi kupertanyakan. Dia diam seribu bahasa. Dia seperti kehilangan kata-kata.
__ADS_1
“Saya pikir kamu butuh saya seperti saya butuh kamu.” ujar pemuda itu lirih.
Aku menatapnya yang saat itu menatapku. Kudapati pertahanannya runtuh. Airmatanya luluh. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya. Saat itu airmataku pun tidak bisa berhenti. Sementara Arfian juga tidak berbuat apa-apa selain mendiamkanku saja. Karena kami tahu, kami bukan siapa-siapa. Lagi*.
*****
Apa kamu merasa malu mengatakan rindu?
Arfian memang mengantarku pulang. Tapi, dia minta kami sejenak untuk bertahan. Aku menunggunya mengatakan sesuatu. Namun, dia hanya diam membisu. Aku menatapnya yang menyesap Espresso Macchiato, bersamaan dengan itu dia balas menatapku yang menyesap Ristretto. Pandangan kami bertemu, membuat kami tertawa tanpa alasan tertentu. Seolah ada yang lucu. Seakan ini saat yang tepat untukku mengatakan, “Saya rindu kamu.”
Detik itu juga aku mengutuk rindu yang tidak tahu malu. Rindu yang membuat wajahku tersipu saat Arfian ingin bicara tapi terlihat mengulur-ulur waktu. Membuat jantungku berdegup tidak menentu.
“Saya antar kamu masuk, ya.”
Aku menelan pilu. Ternyata hanya itu yang dikatakan Arfian padaku.
“Al.” tegur Arfian karena aku hanya menatapnya diam. Otakku berputar ke sana ke mari, mencari topik pembicaraan. Berharap ada banyak hal yang bisa kami perbincangkan. Memanfaatkan pertemuan ini selagi kami punya kesempatan.
“Kita ngopi lagi kapan-kapan, hm? Besok pagi saya ada latihan.” ujar Arfian seraya menghalau anak rambut yang meriap di dahiku. Jemarinya mengelus pipiku. Menjalarkan rasa hangat yang terlampau sulit untukku tolak.
Meski aku merindukannya dengan teramat sangat, dan tidak rela pertemuan kami menjadi begitu singkat, tapi aku tahu jadwal latihan Arfian adalah keputusan yang bernilai tetap. Tidak bisa diganggu gugat. Mau bagaimanapun juga aku harus menghargainya kali ini. Paling tidak dia sudah meluangkan waktu untuk bertemu. Denganku.
Aku mengangguk, mengiyakan. Tapi, tubuhku masih tetap membeku. Arfian membuatku diam membisu. Pemuda itu sibuk menyelipkan helaian rambutku di sela-sela jemarinya. Memperbaiki letaknya yang memang sedikit berantakan. Mengacak-acaknya ringan. Lalu bergumam pelan, “Saya malu untuk bilang saya rindu kamu. Tapi, saya yakin, kamu juga pasti tahu itu.”
__ADS_1