AKTA Perceraian

AKTA Perceraian
Sekolah Jalanan


__ADS_3

"Aku kira kamu gak suka anak kecil Sam"


Pria itu menoleh ke arahku. Lalu mulai tersenyum.


"Ahhh mana ada, semakin dewasa aku semakin paham jika tawa anak kecil itu bisa mengurangi stres pekerjaan"


Aku mengangguk. Itu benar. Apalagi sejak pertemuan ku dengan Zayyen tadi siang, rasanya stres ku semakin berkurang.


"iyaaa, kau benar."


"Tapi kau tenang saja Rin, menjadi orang tua tidak harus melahirkan, kau masih bisa mengadopsi anak-anak yang kurang beruntung seperti mereka"


Aku paham. Benar kata mama, menjadi ibu tidak perlu harus melahirkan. Masih banyak anak-anak yang butuh orang tua, masih banyak di antara mereka yang butuh kasih sayang.


"Begitu yaaa"


"Aku masih ingat waktu kamu sering bantu anak-anak jalanan belajar baca buku Rin, kenapa tidak kamu lanjutkan saja program itu?"


Dulu waktu masih berstatus mahasiswa, aku dan beberapa rekanku memiliki ambisi untuk bisa membuka sekolah gratis. Kami sadar banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. Faktor ekonomi. Sebagian dari mereka harus banting tulang untuk membantu perekonomian keluarga. Tidak ada waktu dan uang untuk pergi bersekolah.


Masa-masa itu membuat aku merasa lebih bersyukur hidup dan tinggal di panti. Kami masih bisa pergi bersekolah seperti anak-anak lainnya. Setiap pagi kami bahu membahu menyiapkan diri, dan malamnya belajar bersama di panti.


Namun di jalanan sana, banyak anak-anak yang tidak seberuntung kami walaupun mereka memiliki keluarga yang lengkap.


Aku menatap anak-anak di halaman panti. Ada benar juga kata Samuel.


"Aku mau sih, tapi akhir-akhir ini aku sudah sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Mana ada waktu sih Sam"


"Ada Rin, setiap weekend kita bisa mengajar mereka. Kita bisa membuka organisasi kecil dan bekerja dengan orang-orang yang mau menjadi volunteer, bekerja terlalu keras itu tidak baik, kita butuh kewarasan juga Rin"


"Aku akan bantu kamu untuk mendirikan sekolah itu kembali, aku janji"


Samuel. Pria ini memang tetap menjadi baik semenjak kuliah dulu. Sekarang pun dia tetap bisa menjadi salah satu pendukung mimpi-mimpiku.


"Aku gak mau kamu kehilangan salah satu mimpi kamu hanya karena kamu berasalan sibuk bekerja, Karin yang dulu aku kenal tidak seperti itu"


"Karin yang dulu sudah lelah hidup saja Sam"

__ADS_1


Aku menghembuskan nafas berat. Aku juga lelah dengan Karin yang sekarang. Berambisi kerja, tapi tidak pernah bahagia.


"Kalau duduk dan mengobrol seperti ini, aku jadi suka bernostalgia Rin. Jadi ingat saat pertama kali magang di kantor papaku. Kamu yang sangat rajin datang pagi, sedangkan aku selalu saja datang terlambat. Papa sampai membanding-bandingkan aku dengan mu."


Kami tertawa. Benar. Aku masih ingat persis saat pertama kali magang di firma hukum milik keluarga Samuel. Papanya suka orang yang disiplin dan gesit. Setiap hari aku selalu saja mendengar papanya memarahi Samuel. "Ayo dong, masa kamu kalah sama Karin".


"Papa kemarin nanyain kamu Rin, katanya kenapa kamu tidak lanjut saja kerja di firma kami. Kamu berbakat dan berpotensi"


"Hmmmm, aku merasa betah di kantor yang sekarang"


"Apa karena masalah waktu itu yaa? aku gak nyangka jika wanita itu juga kerja di kantor papa"


Yaaa benar. Siska, mantan kekasih mas Aditya saat SMA. Mereka sangat dekat dan mama mertuaku selalu saja memujinya. Cantik lah, anggun, anak orang kaya. Kalau dibandingkan dengan diriku, aku ini hanya remahannya saja.


"Gak gitu Sam, aku..."


"Aku paham kok, namanya juga masa-masa bucin kan? Aku kalau jadi kamu juga pasti akan melakukan itu."


"Begitulah...."


"Tapi kalau boleh aku jujur, kamu lebih dari saskia Rin. Wanita itu cuma banyak omongannya saja, beberapa kasus malah gagal. Merusak reputasi kantor saja"


"Kamu ingat kasus artis yang waktu itu viral? artis yang saling lapor itu loh"


Aku mengangguk. Dulu kasus itu emmang sangat vrial sampai masuk berita di tv lokal. Namanya juga artis. Pasti akan di liput.


"Dia yang menangani kasusnya, tapi pada akhirnya hanya membuat malu saja. Tidak profesional"


"Sekarang dia sudah tidak kerja di kantor lagi, katanya mau fokus berumah tangga. Gak tahu deh suaminya orang mana, gak pernah kenal"


"Kalau kamu berubah pikiran, aku yakin papa akan senang hati untuk menyambut kedatangan kamu Rin."


Aku menatap Samuel. Bekerja di firma hukum milik keluarga Samuel adalah mimpi banyak orang. Firma terkenal dan bermitra dengan banyak pengacara handal dan sukses. Siapa sih yang bisa menolak untuk bergabung?


"Nanti akan aku pikirkan dulu ya Sam. Lagian firma yang sekarang sudah 6 tahun bersama ku, gak enak juga kalau pindah tanpa sebab."


Pria itu mengangguk tanda paham dengan perkataan ku barusan.

__ADS_1


Samuel berdiri. Berjalan menuju halaman panti. Mendekati sekelompok anak cowok yang sibuk bermain bola. Samuel bergabung. Dia bermain dan berbaur seperti tidak ada batasan. Aku menatapnya dengan perasaan senang. Teman masa kuliah yang walaupun sudah sukses tidak pernah sombong akan pencapaiannya.


"Rin, gimana kabar ibumu?"


Itu suara umi. Dia datang membawa sepiring pisang goreng kesukaan ku. Aku menatap umi. Lalu duduk mendekat.


"Kemarin Karin sudah bertemu umi, Karin dengar semuanya dari mama. Karin merasa berdosa telah berfikir buruk tentangnya. Karin juga minta maaf ya umi, andai saja Karin tidak egois waktu itu, mungkin Karin tidak akan sedurhaka ini"


Umi mengelus rambutku. Ia tersenyum dan menyuapiku. Aku membuka mulut. Ini adalah makanan yang sejak dulu menjadi favorit ku. Pisang goreng buatan umi.


"Alhamdulillah. Ini bukan salah mu nak, tapi sudah menjadi takdir dari Allah. Yang penting kamu sudah bertemu dengan ibumu, memperbaiki hubungan kalian."


"Iyaa umi."


"Suamimu sudah tahu? Kapan kalian akan kesana bersama?"


Aku terdiam sejenak. Bagaimana cara memberi tahu mas Aditya. Kondisi kami bahkan sedang tidak baik-baik saja sekarang ini. Dia jarang berada di rumah, kalau pun ada pasti sibuk bekerja juga.


"Karin belum sempat umi, tapi insyaallah dalam waktu dekat Karin akan berkunjung lagi"


Umi mengangguk.


"Nak Samuel, ayo kesini. Umi sudah memasaknya goreng pisang"


Samuel menoleh dan tersenyum. Pria itu sekarang sudah basah oleh keringat. Lelah melawan para pemain handal panti ini. Anak-anak itu tertawa, Samuel berhasil menjadi teman mereka.


"Wahhhh baunya harus sekali umi"


Dia menggigitnya dengan ekspresi kenikmatan. Aku yakin jika Samuel akan menambah pisang ini. Rasanya memang seenak itu.


"Baru kali ini saya menemukan pisang goreng seenak ini umi"


Perempuan paruh baya itu tersenyum saat Samuel menghujaninya dengan pujian. Pandai sekali pria ini merayu.


"Memangnya kamu pernah makan goreng pisang? Bukannya makanan kamu itu steak dan kentang koreng?"


Samuel menatapku dengan tatapan kesal. Aku baru saja membuka rahasianya.

__ADS_1


"Sok tahu kamu Karin, orang aku sering makan kok. Tapi yang ini yang paling enak"


Lihatlah, dia bahkan berekting sekarang ini. Samuel membuat umi tertawa. Aku hanya menepuk jidatku.


__ADS_2