AKTA Perceraian

AKTA Perceraian
Taman Baca


__ADS_3

"hei anak ganteng, bagaimana tadi di sekolah?"


Samuel kini duduk di sampingku. Mendekat ke arah Zayyen yang sedang sibuk memakan donat buatan mama.


"Seruuuu sekali uncle....."


"Wahhh....apa ada cewek cantik Zayyen?"


"Ada....... Felicia pretty"


Aku tertawa bersama Samuel. Anak ini sungguh sangat polos.


"Hahahaha, sudah besar juga kamu ya bos kecil, sudah tahu cewek cantik"


"Tapi Dady bilang, onty alin paling cantik"


Aku terdiam langsung ketika mendengar itu. Samuel menatap ke arahku. Mas Aditya di sebrang sana hanya menyunggingkan senyum, aku menatap mnya tak terima.


"Apa?"


Pria itu berlagak seperti tidak tahu apa-apa.


"Dady bilang itu tadi pagi, tapi onty alin memang cantik, aku suka onty"


Zayyen membuat aku mengalihkan tatapan ku ke arah mas Aditya. Bocah itu langsung memelukku erat.


"Wah, benar sekali, onty Karin itu adalah wanita paling cantik sedunia"


Kini Samuel lah yang berulah. Aku menatapnya.


"Memangnya onty tidak mau di bilang cantik yaa?"


"Terimakasih banyak uncle Sam,"


Semua laki-laki sama saja, pandai bermain kata-kata.


"Nak Aditya, silahkan di makan cemilannya"


Mama tangan dengan beberapa gelas teh di nampan. Mas Aditya mengangguk dan meraih donat di meja.


"Mama senang sekali bisa bertemu dengan kamu"


Mama memulai obrolan dengan Aditya. Menantu yang sebentar lagi akan menjadi mantan menantu.


"Iya ma, maafkan Aditya baru hari ini bisa berkunjung"


"Mama maklum kok, santai saja"


"Tante, ini resep baru ya?"


Samuel ikut nimbrung meski dengan topik yang berlawanan. Mama terlihat bingung.

__ADS_1


"Tidak, itu donat yang sama kok"


"Tapi kok beda ya Tan?"


"Beda kenapa Sam? Gak enak ya?"


"Bukan Tan, ini jauh lebih enak. Enak markotop deh"


Aku menyikut Samuel. Lalu mama tertawa.


"Kayak lelucon bapak-bapak komplek kamu Sam"


Aku menertawakan kelakuannya barusan. Pria itu menatapku dengan penuh kemenangan. Berhasil membuat obrolan tidak terdengar serius.


"Memang sudah seharusnya jadi bapak-bapak"


Dia membalas ejekanku.


"Tapi calonnya belum ada, masih belum siap"


Aku terdiam. Pria itu terus saja menatap ke arahku jika membicarakan masalah calon pendampingnya. Membuat aku salah tingkah. Aku jadi merasa jika dia membicarakan aku.


"Udah ah, ngapain juga bicarain jodoh. Biar tuhan saja yang atur"


Pria itu kembali fokus dengan makanan di depannya. Tahu jika aku tidak nyaman saat membicarakan masalah itu.


Setelah berbincang, mas Aditya dan Zayyen berpamitan. Mereka akan pulang. Katanya sih ingin menginap di rumah mama Yuni, Zayyen kangen dengan Inara.


Tadi di sekolah, aku juga bisa merasakan menjadi orang tua sungguhan. Zayyen memanggil ku dengan sebutan momy. Walau hanya formalitas, tapi aku merasakan rasa senang yang luar biasa.


Aku kembali berfikir, apakah keputusan untuk berpisah dengan ams Aditya adalah yang tepat atau bukan. Bagaimana nanti aku bisa maksimal untuk merawat anak-anak mas Aditya? Tapi, aku belum siap untuk kembali tinggal bersamanya. Lukanya masih basah. Belum kering dan siap untuk memulai.


"Bagian 2 Bab 26)


"Rin, pagi ini kita akan ke tempat anak-anak?"


Samuel datang dengan wajah yang cerah. Dia kali ini tidak memakai jas, hanya mengenakan baju kaos. Aku cukup heran dengannya hari ini, pergi ke kantor dengan stelan begini hanya akan mengundang kemarahan om Anton. Tapi apa boleh buat, dia adalah pewaris firma hukum ini.


"Sekarang? Bukannya harus menunggu hasil survei mereka?"


Ini masalah program rumah baca yang kami garam bersama. Aku kira mereka butuh waktu lama untuk menentukan lokasi dan target yang di tuju. Tapi ini terlalu gesit.


"Mereka sudah selesai, makanya kita harus datang ke tempatnya hari ini. Biar bisa lihat bagaimana antusias anak-anak itu. Kalau kurang, kita bisa memperbaikinya di Minggu depan"


Aku mengangguk dan segera membereskan barang-barang ku.


"Tapi......izinnya gimana? Kan ini bukan weekend?"


"Itu gampang, nanti biar aku yang bilang ke papa"


Setelah mendengarkan penjelasan dari Samuel, aku sedikit merasa siap. Jadi aku tidak perlu sibuk memikirkan izin kantor. Ada anak bos yang pergi bersama ku.

__ADS_1


"Tempatnya jauh ya?"


"Kan kamu sendiri yang bilang kalau tempatnya lebih bagus di tepi danau. Biar bernostalgia dengan program kamu waktu kuliah dulu"


"Iyaa sih"


"Tapi aku kira mereka gak setuju, kan lumayan jauh dari fakultas mereka Sam"


"Kalau udah berdedikasi dan punya tujuan konkrit, mereka gak peduli Rin. Dulu kamu juga gitu kok"


Samuel memang benar. Dulu aku dan teman-teman kuliahku sibuk sekali mengajar anak-anak di tepi danau. Bahkan kami tidak pernah punya waktu weekend untuk mengajar, alasannya karena anak-anak akan lebih sibuk saat weekend.


Jadinya setiap pulang kuliah kami harus naik angkutan umum agar bisa sampai tepat waktu. Kalau ketinggalan bus, iya harus naik angkot.


kami sampai di tepi danau. Sudah banyak anak-anak kecil yang duduk di bawah pohon rindang. ada 5 orang mahasiswa yang sedang sibuk menjelaskan cara membaca. Anak-anak terlihat antusias memperhatikan papan tulis di depan mereka.


Kami berjalan mendekat. Salah satu mahasiswa itu mendatangi kami.


"Semua berjalan lancar, ini diluar prediksi kami. Ternyata mereka sangat antusias"


Aku mengangguk puas. Aku juga tidak pernah berfikir mereka akan begitu terbuka dengan program ini. Jika dibandingkan dengan masa ku dulu, hari pertama mengajar hanya ada 3 anak saja yang ikut. Hari kedua lebih tragis, hanya ada 1 anak. .


"Semoga saja ini bertahan, jadi tidak hanya hari ini saja"


Samuel menambahkan. Dia pasti juga paham dengan kekhawatiranku sekarang ini. Takut jumlah anak-anak akan berkurang di pertemuan selanjutnya


"Kami sudah mengantisipasinya dengan beberapa cara kak, seperti pemberian hadiah yang akan membuat mereka betah belajar di sini"


"Kami juga sudah berkoordinasi dengan beberapa orang tua, mereka setuju saja asalkan tidak terlalu lama dan tidak setiap hari."


"Bagus, nanti untuk biaya ynag diperlukan, nanti kami minta rinciannya ya"


"Baik kak, nanti akan kami rekap dan kami kirimkan"


"Bagaimana Rin?"


Aku tersenyum. Lalu menoleh ke arah Samuel.


"Terimakasih banyak ya Sam. Aku merasa hidup kembali. Kamu banyka membantunya"


"Ini juga cita-cita kita semua. Semoga saja akan tetap serame ini"


"Iyaa, aku juga berharap seperti itu"


"Apa kamu mau bergabung? Aku ingin kamu ikut mengajar mereka."


Aku langsung mengangguk ke arah Sam. Pria itu tahu persis keinginan ku sekarang. Aku tidak menundanya, segera aku berjalan menuju mereka.


"Halo, nama kakak, kak Karin. Ayo kita belajar membaca".


Aku kembali merasa waras.

__ADS_1


__ADS_2