
Setelah mendengarkan saran dari Lana kemarin, hari ini aku memutuskan untuk mendatangi kantor mas Aditya. Pria itu memang tidak ada di kantor sekarang, aku sudah mengkonfirmasi nya. Ada rapat di luar kantor.
Kesempatan ini tentu akan menjadi waktu emas. Aku akan leluasa untuk mengulik informasi dari rekan kerjanya.
Saat sampai di kantornya, aku langsung berjalan menuju meja resepsionis. Untunglah salah satu wanita kemarin masih ada di sana.
Dia cukup kaget ketika melihat wajahku lagi. Mungkin merasa mulai curiga dengan kedatanganku.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin berbicara denganmu, bisakah ikut denganku sebentar "
Dia melirik sekilas. Mungkin bingung dengan ajakan ku yang tiba-tiba meminta nya untuk ikut.
"Mohon maaf mbak, tapi saya tidak bisa meninggalkan tempat ini"
Aku paham. Wanita sepertinya harus di beri umpan dulu, kalau tidak pasti akan sulit. Aku mengeluarkan amplop dari balik tasku. Ini sebenarnya hanya jaga-jaga saja, dulu waktu berurusan dengan segelintir aparat, tradisi ini memang banyak di gunakan. Biar lancar.
"Kalau ini bagaimana mbak?"
Wanita itu melihat ke arah amplop yang aku taruh tepat di depannya. Dia melirik ku.
"Memangnya ada apa ya mbak"
Rencanaku berhasil. Dia akhirnya luluh juga.
"Ayo kita bicara di taman kantor ini, ada yang pengen saya tanya"
Kami berjalan ke arah taman kantor mas Aditya. Hanya beberapa meter di samping pintu utama.
"Mbak mau bicara apa?"
"Saya pengen tanya masalah mas Aditya, apa saja yang kamu tahu tentang dia?"
Perempuan itu diam sejenak, wajahnya seakan berfikir.
"Yang saya tahu, pak Aditya itu baru dipindahkan ke sini beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya juga baru di terima bekerja di sini."
"Lalu...."
"Lalu, kalau tidak salah, pak Aditya menikah dengan mantan sekretarisnya di sini, beberapa Minggu kemarin mereka datang ke sini, maksud saya sitri dan putra pertama pak Aditya. Dari informasi yang saya dengar, istrinya sekarang sedang mengandung anak ke dua mereka, mbak"
Tubuhku langsung lemas. Apa yang aku takutkan ternyata benar, mas Aditya mengkhianatiku. Apa yang wanita ini bilang tadi? Semenjak mas Aditya pindah ke sini? Itu sudah hampir 5 tahun yang lalu. Itu berarti dia sudah mengkhianati ku sepanjang pernikahan kami.
__ADS_1
Tubuhku lemas. Bibirku sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Wanita di sampingku langsung khawatir. Dia melihat ku sempoyongan.
"Mbak, mbak gak kenapa-kenapa? mau saya panggilkan taxi?"
Aku menggeleng. Kembali aku stabilkan emosiku. Seperti layaknya di meja persidangan, aku harus profesional.
"Tidakk, terimakasih banyak. Saya harap, pertemuan kita ini tidak di ketahui oleh siapapun"
"Baik mbak, saya mengerti"
Wanita itu berjalan kembali ke dalam gedung, meninggalkan aku yang berusaha mencerna semuanya.
"Jahat kamu mas, jahat"
Bagaimana bisa dia selama ini berlagak semua baik-baik saja. Bagaimana bisa dia berakting tidak akan mengkhianati aku? Apa yang sebenarnya dia cari? Apa ini tentang anak? Kenapa sejak awal dia tidak membantah aku?
(Me)
"Lana, mari kita bertemu, aku ingin bercerita"
Aku mengirimi Lana pesan singkat. Sekarang ini aku hanya butuh teman untuk bercerita. Buntu sayanya pikiran aku sekarang. Semua terjadi di luar prediksi ku sendiri.
(Lana)
Membaca pesan itu, aku langsung tancap gas menuju lokasi. Tidak sabar rasanya bercerita.
(Bagian 2 bab 15)
"Astaghfirullah, ternyata itu cerita mbak sendiri?"
Begitulah ekspresi Lana ketika mendengar ceritaku barusan. Dia seperti tidak percaya. Aku juga tidak percaya Lana, semua terjadi begitu saja.
"Aku gak tahu harus bagaimana Lana, aku gak ngerti kenapa mas Aditya bisa setega ini sama aku"
Air mataku tidak bisa dibendung. Semuanya luruh ke pelukan Lana. Dia berusaha menenangkan aku.
"Mbak, aku tahu ini berat, tapi mbak juga harus berani untuk bicara semuanya ke suami mbak"
"Aku takut dengan kenyataan ini lan, aku sangat mencintai mas Aditya, aku tidak ingin bercerai"
"Tapi aku juga tidak ingin menerima wanita itu menjadi madu ku, aku tidak ingin"
"Lana paham dengan perasaan mbak, tapi jika pernikahan itu hanya akan membuat mbak tersakiti, Lana lebih setuju jika mbak bisa mendapatkan pria yang lebih tulus mencintai mbak"
__ADS_1
Aku mengerti maksud perkataan Lana. Sama halnya dengan mama, dia berani untuk mengambil resiko malam itu hanya untuk melindungi ku. Lepas dari siksaan papa yang mungkin saja akan bertambah buruk jika kami tetap hidup bersama dengannya.
"Tapi pasti mbak lebih tahu prosedurnya, mbak harus punya bukti yang kuat, jika mbak mau menuntut suami dan selingkuhannya ke meja Hijau"
Ahh, apakah aku setega itu? Menuntut mereka? Wanita itu bahkan tengah hamil sekarang ini. Walaupun berakhir damai, pasti mas Aditya akan lebih memihaknya. Aku benar-benar frustasi.
"Lana dan Zayyen akan selalu ada di samping mbak Karin, kapan pun mbak butuh kami, kami akan selalu ada di dekat mbak"
Sebenarnya hanya kata-kata seperti ini yang aku tunggu. Penguatan dan validasi dari emosiku.
Aku menghapus air mataku ketika Zayyen tiba-tiba berlari ke arah kami. Dia di antarkan oleh gurunya.
"Haiiiii ontyyy alin"
Bocah lucu nan menggemaskan. Zayyen langsung melompat ke pelukan ku. Dia menatap wajahku yang merah.
"Onty kenapa menangis? Siapa yang jahat sama onty?"
"Tidak sayang, onty tidak menangis "
"Telussss onty kenapa? Bilang saja, biar Zayyen pukun mereka semuanya"
Aku terkekeh. Begitu pun dengan Lana. Zayyen tumbuh menjadi anak yang peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
"Ontu menangis karena sangat rindu dengan zayyennn"
Dia tersipu malu. Lalu berlari ke pelukan ibunya.
"Zayyen jadi malu momyyy"
Sekarang bocah itu malu-malu kucing. Mungkin saja salting mendengar kan perkataan ku barusan.
"Hahahaha.....Zayyen salting yaa sama onty?"
"Katanya kemarin, Zayyen juga rindu sama onty, kok sekarang malu-malu gitu sih, anak momy ini"
Menggemaskan. Pikiran tentang mas Aditya bahkan lenyap begitu saja. Zayyen berhasil mengembalikan moodku.
Hampir satu jam semenjak Zayyen pulang sekolah kami berbicara panjang lebar di taman. Ibu dan anak itu akhirnya berpamitan, Lana mengatakan jika mereka akan datang mengunjungi suaminya di kantor. Aku hanya mengiyakan, lagian aku terlalu lelah hari ini. Ingin sekali rasanya melompat ke atas tempat tidur. Melupakan semua masalah yang aku miliki saat ini.
Saat sampai di rumah, aku mulai kembali kepikiran. Baru saja beberapa Minggu yang lalu kami merayakan anniversary pernikahan yang ke enam, sekarang aku harus mendapatkan kabar yang akan menghancurkan pernikahanku.
Aku tidak ingin egois. Tapi rasanya akulah yang menjadi korban sekarang. Kenapa mas Aditya tidak pernah jujur saja. Jujur kalau dia memang sudah tidak mencintaiku, aku bisa paham itu. Kita tidak akan sama-sama tersakiti.
__ADS_1
Aku perlahan berfikir. Mas Aditya sepertinya tidak lembur selama ini, tapi dia berusaha membagi waktu dengan aku dan selingkuhannya. Apa jangan-jangan wanita itu juga tidak tahu jika ams Aditya sudah menikah?