
Hampir 1 minggu aku sibuk dengan banyak pekerjaanku. Weekend juga harus ikut mengajar anak-anak di danau. Karena kesibukan belakang ini aku jarang bertemu dengan Zayyen. Anak itu hanya menelfon ku sesekali. Itupun kalau dia sedang menangis dan mas Aditya tidak bisa menenangkannya.
Malam ini mas Aditya menelfonku lagi, tapi tidak sempat aku angkat. Aku juga merasa segan untuk menelfonya, mungkin saja Zayyen sudah berhenti menangis.
Aku bersiap-siap untuk tidur. Lagian sudah pukul 11 malam. Seharian ini ada banyak sekali pekerjaan, besok juga ada meeting dengan beberapa klienku.
Namun tiba-tiba ponselku berdering. Kali ini Inara yang menelfon.
"Halo na, ada apa?"
"Mbak, Zayyen demam. Sejak tadi mas Aditya sudah menelfon mbak, tapi gak mbak angkat. Mas Aditya kira mbak gak mau angkat telfon dari dia, makanya mas Aditya nyuruh aku untuk nelfon mbak"
"Zayyen demam? Sejak kapan?"
"Sejak tadi sore mbak, tapi sudah ke dibawa ke dokter kok mbak. Cuman Zayyennya nangis terus, mungkin mbak bisa bantu Zayyen"
"Zayyen di rumah mama sekarang?"
"Nggak mbak, Zayyen di rumah mbak sama mas Aditya sekarang. Aku barusan dari sana nganter makanan buat mas Aditya."
"Yaa sudah, mbak ke sana ya"
Aku benar-benar cemas mendengar kabar itu. Zayyen juga punya riwayat asma, menangis terlalu lama bisa membuat asmanya kambuh.
Aku langsung berpamitan dengan mama, mungkin akan terlambat pulang malam ini. Aku harus memastikan demam Zayyen turun dulu.
Jarak dari rumahku ke ke tempat mas Aditya hanya sekitar 20 menit. Kalau pagi hari biasanya akan lebih macet. Untung saja malam ini jalanan lengang, jadi aku bisa sampai lebih cepat.
"Mas Aditya"
Aku mengetuk pintu utama. Mas Aditya buru-buru membuka pintu. Aku samar-samar mendengar tangis Zayyen. Saat pintu di buka benar saja, Zayyen sedang menangis di gendongan mas Aditya. Matanya sangat sembab dan sudah mulai susah untuk bernafas.
"Zayyen....kenapa nak?"
Aku mengambil anak itu dari pelukan mas Aditya. Membawanya masuk ke kamar.
"Ontyy....."
Aku memegang jidatnya. Anak itu panas sekali.
"Zayyen ingin apa? Tarik nafasnya dulu, sabar-sabar"
Aku menepuk-nepuk dadanya lembut. Setelah berada di gendonganku, Zayyen akhirnya bisa tenang.
"Hausss onty"
Mas Aditya yang mendengar itu langsung mengambil gelas dan memberikannya ke padaku. Aku membantu Zayyen untuk minum.
"Apakah Zayyen sudah makan mas?"
"Belum, dia tidak mau makan. Tadi Inara juga sudah menyuapinya, tapi dia muntah lagi"
Aku mengangguk. Lalu berjalan menuju dapur. Aku ingin melihat makanan apa yang mas Aditya berikan untuk anaknya.
"Apa ini mas? Mana mungkin kamu memberikan makanan ini untuk Zayyen?"
Mie instan. Pria itu menatapku dengan wajah yang menyesal.
__ADS_1
"Mas bingung, maafkan mas"
Aku tidak akan memarahinya berlebihan malam ini. Zayyen masih memelukku dengan erat. Aku harus membuat kan sup yang hangat, agar dia bisa mudah menelannya.
Sepertinya mas Aditya tidak tahu jika selama ini aku menyimpan beberapa bahan makanan di lemari. Aku membukanya dan langsung mencari-cari bubuk bubur instan yang sehat. Saat maag ku kambuh, aku memang suka mengonsumsinya. Rasanya enak dan mudah untuk ditelan.
"Ayo Zayyen, buka mulutnya"
Anak itu membuka mulutnya, dia benar-benar lapar. Mas Aditya menatapku dengan wajah yang bersyukur.
"Terimakasih banyak ya Rin"
Mas Aditya tidak berani mengangkat wajahnya. Aku menghembuskan nafas berat.
"Sudahlah mas, tidak papa"
"Aku memang ayah yang buruk, juga suami yang buruk"
Aku menatapnya.
"Kamu kan lagi mencoba, hanya sampai terbiasa mengurus Zayyen"
"Aku takut Rin, beberapa hari lagi putri ku akan pulang ke rumah. Mengurus Zayyen saja aku tidak becus, apalagi jika harus merawat bayi kecil. Aku takut"
Aku menatap mas Aditya. Lihatlah penampilannya sekarang ini, tubuh yang tidak terawat dan badan yang kurus. Jujur ini sangat menyedihkan.
"Tidak perlu kamu pikirkan, banyak yang akan menolongmu"
"Bisakah kita tetap bersama Rin? Apakah aku benar-benar tidak bisa lagi kembali?"
"Aku tahu, maafkan aku"
Jujur saja, aku juga belum bisa menentukan bagaimana nasib perceraian kami. Di satu sisi aku masih sangat kecewa, tapi di satu sisi lainnya ada perasaan iba terhadap mas Aditya dan juga anak-anak. Mereka tidak bisa terus hidup begini.
"Ontyyy, Zayyen mau tidur ditemani onty"
Aku menoleh ke arah Zayyen. Setelah menghabiskan buburnya, anak itu terlihat mengantuk. Aku mengangguk dan mengendong Zayyen ke kamar.
"Dady.....ayo! aku juga mau bobo dengan Dady"
Aku terdiam. Bagaimana ini? Aku belum siap tidur satu ranjang lagi dengan mas Aditya, tapi tidak mungkin menolak kemauan Zayyen sekarang.
"Zayyen tidur dengan onty saja yaa"
Mas Aditya sepertinya tahu dengan aku yang tidak nyaman dengan suasana ini.
"Tidak mau.......Dady harus ikut"
Zayyen kembali merengek. Aku tidak ingin jika bubur yang baru ia santap kembali keluar.
"Dady, ayo"
Aku mengajak mas Aditya. Pria itu menoleh ke arahku mungkin saja kaget jika aku mengizinkan nya untuk tidur bersamaku dan Zayyen malam ini.
Zayyen berada ditengah kami. Dia memengang jemari kami berdua dan menyatukannya di atas perutnya. Anak itu tertidur setelah mendengar nyanyian ku.
Aku menatap keduanya. Ams Aditya juga ikut pulas. Sangat mirip dengan Zayyen. Aku berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Tapi saat berusaha melepaskan jariku, Zayyen sepertinya terusik dan semakin menguatkan pegangannya.
__ADS_1
Aku kembali ke posisiku. Menunggu saat yang tepat. Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Setidaknya aku bisa pindah ke kamar tamu. Tapi sepertinya Zayyen tidak ingin melepaskan pegangannya.
(Bagian 2 bab 27)
Aku terbangun. Ada benda panas yang melilit pinggang ku. Aku mengerjap perlahan. Menunggu kedatanganku benar-benar kembali.
Aku merabanya. Ini adalah sebuah tangan yang kekar. Ketika kesadaran ku kembali, aku akhirnya tahu jika tangan itu adalah milik mas Aditya. Pria itu memelukku dengan erat. Tubuhnya meratu dengan punggungku.
Aku ingin segera bangkit. Walau ini sah-sah saja untuk kami, tapi di masa-masa perpisahan bagiku ini tidak pantas.
Aku berusaha meloloskan diri, tapi mas Aditya tambah mengeratkan pelukannya.
"Biar seperti ini dulu, aku rindu"
Dia berbisik di telingaku. Membuat aku geli saja. Aku terus berusaha untuk membuka simpulnya, tapi mas Aditya sangat kuat.
"Sebentar saja...."
Aku mengalah. Lagian aku akan tetap kalah jika dibandingkan dengan tenaganya. Namun aku mulai sadar akan beradaan Zayyen, bukannya semalam dia ada ditengah kami bedua? Lalu sekarang anak itu kemana? Apa dia jatuh?
"Zayyen...."
"Dia di kamar tamu, semalam aku pindahkan"
Apa dia bilang? Semalam dia pindahkan? Berarti Ini semua adalah akal-akalan mas Aditya? Aku membuang nafasku kesal. Dia mempermainkan ku.
"Aku rindu sayang, mas sangat rindu"
Pria itu terus saja mengatakan hal-hal semacam itu di telingaku.
"Mas minta maaf, bisakah kita berbaikan Rin?"
Aku bisa merasakan tubuh mas Aditya bergetar saat mengucapkannya. Lalu beberapa detik setelah itu, dia mulai menangis. Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Mas menyesal, bisakah kamu memberi mas satu kali lagi kesempatan sayang?"
Mataku memanas. Aku tidak bisa di posisi ini. Rasanya benar-benar hancur harus melihat mas Aditya menangis karena diriku. Tapi akan lebih sedih lagi jika mengingat apa yang sudah ia lakukan.
"Mas.... bisakah kamu lepaskan?"
"Jawab aku dulu Rin?"
"Apa lagi sih mas?"
"Apa kamu tidak mencintai mas lagi?"
Andai saja kamu tahu mas, aku masih sangat mencintai mu, sangat.
"Aku sudah tidak mencintai kamu lagi, aku di sini hanya karena rasa saynagku dengan anak-anak mu, rasa kasihan."
"Kalau begitu, ayo kita tetap bersama demi mereka Rin?"
"Aku tidak bisa...."
Perlahan pelukan mas Aditya melonggar. Dia berpalik badan dan menyembunyikan wajahnya dibalik bantal. Tubuhnya bergetar hebat, menangis.
Aku tidak tahan, aku berjalan menuju kamar tamu. Aku hanya ingin tenang saat ini.
__ADS_1