
"Karin....tolong dengarkan mas dulu"
Sesampainya di rumah, aku langsung berjalan menuju kamar. Aku sudah muak. Aku akan pulang ke rumah mama. Aku butuh menenangkan pikiranku saat ini. Jauh dari mas Aditya dan juga segalanya.
"Karin, dengankan mas dulu"
Pria itu tampak mencoba menghalangi ku untuk membereskan beberapa baju ke koper.
"Mas gak mau pisah dari kamu Rin, mas sangat cinta dengan kamu"
Aku muak. Aku lempar semua barang-barang di atas meja rias.
"Sayang? Cinta? Brengsek kamu mas"
"Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan bermain seperti ini"
"Dengarkan mas dulu Rin, mas melakukan ini karena terpaksa "
"Terpaksa katamu? Kalau terpaksa tidak mungkin jika anakmu akan menjadi dua sebentar lagi mas? Itu bukan terpaksa, tapi kau sadar dan kau memang mencintainya"
"Aku bodoh, aku bodoh selama ini tidak mengetahui kebejatan mu. Kenapa kau bisa setega ini mas? Apa ini karena anak? Iyaaaa? Kalau begitu lebih baik kita pisah saja, sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa memberikan mu anak"
"Mas tidak akan pernah menceraikan Kamu Rin, ini bukan soal anak"
"Lalu soal apa? Soal nafsumu yang tidak cukup dengan satu wanita? Huh?"
"Dengarkan penjelasan mas Karin, aku ingin menjelaskan semuanya kepadamu "
"Aku tidak akan pernah percaya denganmu lagi ams, sampai kapanpun, kata-kata yang keluar dari mulutmu itu hanyalah sebuah kebohongan"
Aku menarik koperku turun. Mama mertuaku sudah berdiri di ambang pintu.
"Ada apa ini Karin? Kenapa kalian ribut-ribut?"
Aku menatap mama. Apakah kali ini dia akan mendukung ku atau malah membela anaknya. Bukannya dia akan bahagia jika tahu mas Aditya telah memiliki anak.
"Selamat ya ma, semua kemauan mama akan segera terwujud."
"Apa maksudmu Karin?"
"Pria itu! Anak mama! Dia telah mengkhianati ku, mama sebentar lagi akan menjadi seorang nenek. Bahkan akan memiliki dua orang cucu sekaligus. Anaknya mas Aditya ma"
"Karin, kamu bicara apa? Adit?"
Mama Yuni seperti kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru aku sampaikan.
"Aku akan bercerai dengan anak mama, jadi Amma tidak akan sibuk lagi untuk memaksa mas Aditya menceraikan aku. Aku lah yang akan mengajukan gugatan ke pengadilan, secepatnya ma"
"Adit! Mama memang pengen cucu, tapi bukan berarti kamu bisa menyelingkuhi Karin seperti itu. Mama tidak pernah mengajarkan kamu nak........"
__ADS_1
"Apa dosa mama punya anak yang seperti ini? Apa nakk?"
Mama mertuaku berjalan dan langsung memukuli mas Aditya. Tangisnya pecah. Dia juga kecewa dengan apa yang anaknya perbuat.
"Ma......pukul saja Adit ma, Adit berhak di pukul. Adit telah mengecewakan mama, karin dan semuanya. Adit minta maaf ma"
Aku muak dengan semua ini. Aku meninggalkan mereka. Memasukan semuanya ke dalam mobil. Mas Aditya berjalan tergesa-gesa dari arah belakang Ku.
"Aku mohon Karin, jangan tinggalkan aku"
"Semua sudah cukup mas, seperti awal perjanjian kita. Jika ada yang berkhianat, tidak ada maaf untuknya. Lebih baik kamu fokus dengan keluarga kecil kamu"
Aku memacu mobil meninggalkan rumah itu. Rumah yang aku tempati lebih dari 6 tahun bersama mas Aditya. Pria itu jauh-jauh hari sudah membeli rumah untuk kami tempati setelah menikah. Tapi kini rumah itu hanya akan jadi bukti dan saksi, betapa hancurnya hatiku.
(Bagian 2 bab 16)
"Aku mau kamu jadi kuasa hukum aku Sam"
Pria itu terlihat kaget.
"Emangnya kamu kena kasus apa? Lucu sekali tiba-tiba meminta ku untuk jadi kuasa hukummu"
Samuel masih menanggapi ku dengan tawa. Mungkin merasa aku hanya sedang bergurau.
"Aku akan bercerai dan menggugat mas Aditya"
Samuel tersedak. Kaget bukan main.
"Dia menyelingkuhi ku"
"Bajingan, berani sekali dia seperti itu"
Rahang Samuel terdengar mengeras. Penuh emosi.
"Biar aku temui dia, akan aku kasih pelajaran dia"
"Jangan sok gitu, aku gak mau nambah masalah "
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan Rin?"
"Pertama-tama aku tidak ingin datang saat pengadilan, aku ingin semua terlaksana secara cepat"
"Aku tidak akan menuntut harta gono-gini"
"Kenapa? Kamu berhak untuk itu"
"Perempuan itu memiliki anak, dia sebentar lagi akan melahirkan juga. Anak-anak nya lebih membutuhkan harta itu ketimbang aku Sam"
Pria di samping ku hanya bisa terdiam.
__ADS_1
"Kenapasih kamu masih bisa baik sama mereka Rin? Kamu bahkan masih memikirkan anak-anak nya"
"Anak-anak itu tidak tahu apa yang terjadi, bukans alah mereka. Mereka tidak perlu harus menanggung apa yang terjadi "
"Dannn.... Apa tawaran papamu masih berlaku Sam?"
"Tawaran?"
"Apakah aku bisa bekerja kembali di kantor papamu?"
"Tentu saja, papaku akan sangat senang menerima mu Rin. Akan aku sampaikan kepadanya "
Aku tidak ingin ams Aditya datang menemui ku ke kantor. Melihat wajahnya saja sudah membuat aku sakit hati. Menjauh dan menghindar aku rasa adalah pilihan yang tepat. Semakin cepat proses perceraian, semakin jelas juga hubungan Lana dan mas Aditya.
Wanita itu juga akan segera melahirkan, apalagi kondisi nya yang buruk. Aku tidak akan egois mempertahankan mas Aditya. Lana lebih membutuhkan nya.
Kalau boleh dibilang, aku sangat menyayangi Zayyen. Entah kenapa aku merasa ada ikatan antara aku dan dirinya. Meminta bertahan dengan mas Aditya, itu akan membuat Zayyen akhirnya juga akan terluka.
"Setelah ini, kamu akan kembali Rin?"
"Pulang..."
"Pulang kemana?"
"Ke rumah mama"
"Mama?"
Samuel hanya tahu jika aku adalah anak yatim piatu. Seorang diri. Tidak ada rumah selain panti. Tidak ada keluarga selain umi.
"Mama kandung ku, aku akan tinggal bersamanya"
"Wahhh.....banyak sekali hal-hal yang membuat aku kaget hari ini Rin"
"Suamimu yang menyelingkuhi mu, keputusan mu, dan yang terakhir adalah keluarga mu. Kamu selalu bisa membuat aku penasaran "
"Ada banyak hal yang terjadi di luar pemikiran kita Sam, hari ini mungkin akan menjadi hari terburuk bagiku, tapi besok belum tentu akan tetap buruk"
"Mungkin Ini semua ada hikmahnya, aku bisa lebih dekat dengan mamaku. Menghabiskan hari-hari bersama dengannya. Walaupun aku sedikit takut untuk mengatakan apa yang terjadi kepada ku Sam."
"Roda kehidupan selalu saja berputar, selama 6 tahun ini aku merasa kehidupan yang menyenangkan. Suami yang perhatian, karir yang cemerlang. Tapi ternyata semua yang aku miliki mungkin satu persatu akan lenyap. Dan aku harus siap untuk menerimanya."
"Iyaaa, kamu benar."
"Ada satu yang ingin aku sampaikan Rin. Dari dulu aku sangat mengagumi mu, saat wisuda, aku kira aku akan kehilangan sosok mu, tapi tuhan kembali mempertemukan kita kembali. Itu sangat luar biasa"
Aku hanya tersenyum.
"Aku harus pergi, takut kemalaman sampai di rumah mama"
__ADS_1
"Okeeyy, hati-hati dan titip salam yaa. Bilang ke mamamu, kalau ada salam dari pria terganteng SE Depok raya"
Aku tertawa. Pria ini selalu saja bisa membuat aku tersenyum kembali.