AKTA Perceraian

AKTA Perceraian
Sadar


__ADS_3

Aku mendengar kabar jika Rebecca sudah sampai dan sekarang sedang berada di rumah sakit. Setelah beberapa urusanku beres, aku akan segera menuju rumah sakit. Dokter bilang ada kemajuan dari mas Aditya.


Inara sejak tadi siang sudah berusaha menghubungiku, menyuruh agar aku segera berangkat. Tapi hari ini ada jadwal pertemuan ku dengan beberapa klien. Aku juga harus mampir ke kantor untuk mengambil beberapa berkas penting. Tidak ada Samuel, pria itu benar-benar hilang setelah kejadian kemarin.


Aku merasa sangat kecewa kepada diriku, pria itu bahkan rela mengorbankan perasaannya hanya agar melihat aku bahagia bersama Aditya.


Pintu kamar mas Aditya terlihat terbuka. Pasti sedang banyak tamu di dalam sana. Aku berjalan perlahan dari koridor rumah sakit. Ada suara banyak orang yang ricuh. Gelak tawa.


Aku berdiri diambang pintu, kaget. Mas Aditya sudah sadar dari masa kritisnya. Ada banyak rekan kerjanya yang ikut menjenguk.


Pria itu menatap ke arahku. Tidak seperti sebelumnya, dia seperti acuh dengan kehadiranku. Inara yang menyadari kedatanganku langsung menghampiri.


"Mbak, mas aditya sudah sadar"


Aku mengangguk. Perempuan itu begitu antusias. Rabecca juga berjalan mendekat ke arahku. Wanita itu berusaha untuk memeluk tubuhku.


"Mbak Karin"


Aku bahagia. Mas Aditya akhirnya bisa kembali sadar. Entah apa yang akan terjadi setelah hari ini. Aku merasa sedikit takut melihat ekspresi datar mas Aditya menatap ke arahku. Sorot mata yang tidak pernah aku lihat seumur pernikahan kami.


"Kalau gitu, kami pamit dulu ya Dit. Cepat sembuh kamu"


Salah seorang rekan kerja mas Aditya berpamitan. Mereka sepertinya akan pulang. Aku mengangguk saat salah satu dari mereka mengisyaratkan perpisahan. Kini hanya keluarga inti yang ada di kamar mas Aditya.


"Inara, Mas mau istirahat"


Pria itu bahkan tidak melirik ke arahku. Kami seperti dua orang yang asing. Mama Yuni menatapku dengan tatapan sendu. Entah ia tahu apa yang tengah terjadi atau malah juga merasa aneh degan sikap anaknya.


"Mas...mbak Karin baru datang loh, kok udah istirahat aja"


Rabecca menimpali. Wanita it memang sangat berani jika berbicara dengan kakaknya itu. Mas Aditya melirik ke arahku. Bukannya menyapa, pria itu malah memutar posisi tidurnya. Membelakangi ku.


"Ihhh mas Aditya ini"


"Udah, nggak papa kok"


Aku tidak ingin suasana menjadi hancur. Rabecca jelas-jelas merasa kesal dengan sikap kakaknya kepadaku. Tapi apa boleh buat, pria itu baru saja sadar dari koma. Mungkin saja ada banyak hal yang belum pulih akibat obat bius pasca operasi.

__ADS_1


"Mbak, duduk dulu"


Inara membawaku duduk di dekat mama Yuni. Wanita tua itu langsung menepuk-nepuk lenganku, tanda prihatin.


"Ma, kalau gitu kita pulang aja dulu yuk, bersih-bersih"


Rabecca menatap ke arah mamanya dengan wajah yang terlihat begitu lelah.


"Trus Mas kamu ini nanti sama siapa?"


"Biar karin saja yang di sini ma, mama sama adek-adek pulang saja dulu"


Mama menatapku tidak enakan. Apalagi setelah melihat perlakuan mas Aditya kepadaku, mama Yuni seperti berat meninggalkan aku sendirian di sini.


"Apa kamu yakin?"


"Lagian mas Aditya juga lagi tidur kok ma, jadi kayaknya kalau sendirian pun aku sanggup kok"


"Bener kata mbak Karin Ma, kita pulang saja dulu, Nanti malam kita balik lagi"


Mama Yuni akhirnya mengangguk. Mereka berjalan meninggalkan ruangan. Rabecca keluar terakhir. Dia menatap ke arahku lalu tersenyum, dia mendekat ke arah Aditya.


Setelah mengatakan itu Rabecca keluar dengan wajah sumringah. Berhasil mengisengi kakaknya. Sedangkan aku merasa begitu canggung. Mas Aditya tidak merespon apapun.


Aku kembali ke sofa. Mungkin beristirahat juga sebentar. Hari ini cukup melelahkan, apalagi semalam aku merasa kurang tidur.


(break...)


Aku terbangun ketika suara gelas jatuh di sisi kasur mas Aditya. Pria itu sudah duduk dengan tangan yang sepertinya berusaha menggapai gelas di sisi kasur.


"Mas Aditya, kamu gak papa?"


Aku menghampiri pria itu. Air sudah menggenangi lantai. Tapi mas Aditya hanya terdiam.


"Kamu mau minum, aku ambilkan lagi ya?"


"Gak usah, sudah tidak lagi"

__ADS_1


Dia menjawabnya dengan nada berat dan dingin. Aku hanya bisa diam. Tidak mungkin harus memulai pertengkaran hanya karena sikapnya kepadaku.


Lebih penting untuk membersihkan sisa air yang masih berada di lantai. Takut nanti akan membuat seseorang menjadi tergelincir.


"Pulang saja"


Aku menatap ke arah mas Aditya. Mencoba meminta penjelasan dari apa yang ia katakan barusan.


"Kamu tidak perlu mengurus aku, kamu sendiri kan yang minta untuk berpisah. Lebih baik kita tidak saling bertemu saja sampai pengadilan selesai"


Aku tidak menyangka jika mas Aditya mengatakan hal itu kepadaku.


"Kamu masih suamiku, masih kewajibanku merawat mu"


Aku berusaha untuk terlihat biasa saja. Pura-pura fokus membersihkan air di lantai.


"Terserah kamu saja, nanti akan ada temanku yang datang"


"Iyaaa"


"Tapi dia PEREMPUAN!"


Aku menoleh lagi ke arah mas Aditya. Kenapa dia harus menekan intonasinya di kalimat perempuan? Memangnya kenapa?


"Iyaaa"


"Kamu tidak cemburu?"


Jadi? Dia sedang mengerjaiku? Aku tertawa ke arahnya.


"Menurut kamu mas?"


"Yaaa tidak tahu, aku tidak ahli membaca pikiran mu"


"Aku juga tidak bisa membaca pikiran mu mas, jadi kita impas, sama-sama tidak bisa membaca pikiran satu sama lain"


"Kamu istirahatlah, katanya tadi ingin tidur"

__ADS_1


Mas Aditya menatapku. Pria itu hanya diam melihat reaksiku menjawab pertanyaannya. Entah dia merasa tersinggung dengan perkataanku, atau dia menyesali perbuatannya.


__ADS_2