AKTA Perceraian

AKTA Perceraian
Mama Yuni


__ADS_3

"nak, apakah kamu baik-baik saja?"


Mama menyapaku. Mungkin dia melihat wajahku yang lesu. Aku tersenyum ke arahnya.


"Gak papa kok ma, tadi banyak kerjaan aja"


"Kalau gitu ayo kita makan, mama sudah masak makanan kesukaan kamu"


"Mama kok repot-repot sihh"


Aku berjalan menuju meja makan. Baunya sangat lezat. Ada tumis kangkung dan semur daging. Aku tersenyum. Dulu jarang sekali bisa makan seperti ini. Tapi sekarang aku merasa bersyukur, tuhan memberikan aku kesempatan makan bersama mama lagi.


"Sini mama ambilkan"


"Makasih mama"


"Iyaaa nak"


Aku menyuapnya. Enak sekali. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana aku bisa sangat menikmati makanan ini.


"Ruko nya udah ketemu ma, Karin sih terserah mama aja kapan mama mau jualan"


"Alhamdulillah"


"Tapi kayaknya mama mau belajar dulu deh nak, trus nanti mama bagiin ke tetangga. Kalau responnya baik, kita bisa mulai jualan"


"Iyaa ma, yang penting mama merasa happy"


"Mama selalu senang kalau dekat dengan kamu rin"


"Mama bisa saja"


"Kalau gitu nanti Karin temani beli bahan-bahan untuk bikin kuenya yaa"


"Iyaaa Rin"


Setelah makan malam dengan mama, aku dan beliau pergi ke salah satu supermarket besar di kota. Mama akan membuat kue, pasti banyak bahan dan alat-alat yang harus kami siapkan.


"Wahhhh besar banget Rin"


"Ini namanya supermarket ma, semuanya ada di dalam. Nanti kita cari semuanya yaa"


Hari ini supermarket agak ramai. Aku dan mama langsung menuju stand bahan makanan. Lebih tepatnya bahan kue.


"Kalau bikin kue bolu itu pakai tepung apa ma? Kalau kita pake tepung instan ini aja gimana?"


"Mama gak biasa masak kue pakai tepung itu Rin, biasanya pakai terigu aja"


"Ooooo, Karin gak tahu ma. Gak pernah masak kue"


"Makanya besok kita bikin bareng, biar kamu juga bisa"


"Iyaaa ma, Karin jadi pengen bikin kue bolu lapis deh. Kemarin itu Karin pernah coba, waktu ada temen bawa ke kantor"


"Itu mah gampang Rin. Nanti mama bikin ya"


Kami sibuk mencari beberapa tepung yang di butuhkan. Mama sangat paham betul dengan semua jenis tepung. Kalau aku hanya bisa ikut saja, tidak paham soalnya. Masak nasi goreng saja kadang masih keasinan, apalagi masak kue begini.


"Mbak Karin"


Aku menoleh ke sumber suara. Inara dan mama berada tepat di samping kami. Sepertinya mereka juga sedang berbelanja.


"Mbak Karin kemana aja sihhhh, Inara kangen banget tahu"


Gadis itu langsung memelukku. Sedangkan mama mertuaku masih berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja na?"


Gadis itu mengangguk. Aku menatap ke arah mama mertuaku.


"Mama kabarnya gimana?"


"Mama yang seharusnya tanya ke kamu, kamu kenapa gak balik sih? seharusnya kita bicarakan baik-baik loh nak. Mama juga kecewa sama si Aditya, enak saja dia begitu."


"Mama emang pengen cucu, tapi gak kayak gini juga caranya."


Omelan mama mertua yang beberapa hari ini membuat aku sedikit rindu. Aku mendekat ke arahnya. Lalu memeluk erat mama mertuaku.


"Maafkan Karin ya ma, ini bukan sepenuhnya salah mas aditya, sudah takdir"


Mama hanya diam. Mungkin tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Nak, kayaknya ini sudah cukup deh"


Mamaku berjalan keluar dari rak tepung. Inara dan mama mas aditya sedikit kaget. Mungkin tidak familiar dengan wajah mama.


"Wah, ada orang ternyata"


Mama berjalan mendekat ke arahku. Aku langsung merangkulnya.


"Mama, Ina, ini ibu kandung aku"


Mereka berdua langsung menatapku tidak percaya.


"Bukannya....."


"Nggak ma, Alhamdulillah aku bisa berkumpul lagi dengan ibu kandung ku"


"Mama, ini mamanya mas aditya, dan ini adiknya"


"Tak kira siapa, ternyata besan"


Mama tersenyum. Mama Yuni juga agak tersenyum meski masih kaget.


"Kalau begitu kami duluan ya ma, Ina"


Aku tidak ingin lama-lama bertemu dengan mereka. Aku tidak ingin kepikiran terus masalah mas Aditya, besok gugatan tetap akan aku layangkan. Tidak ada yang bisa menggagalkannya.


"Kamu baik-baik saja kan dengan keluarga suami kamu Rin?"


"Baik kok ma, hanya saja Karin belum siap untuk membahas masalah mas aditya"


"Yaa sudah"


"Ini kita ke tempat alat-alat bikin kue aja ya ma, kan di rumah gak ada"


(Bagian 2 bab 21)


"Karin, maaf kalau mas lancang. Mas hanya mau minta tolong. Zayyen menangis sejak tadi, dia terus panggil nama kamu. Lana juga gak bisa tenangin dia. Mas mohon agar kamu bisa bantuin mas dan Lana."


Membaca pesan ini saja sudah membuat aku merasa sakit.


(Me)


"Maaf mas, Karin sibuk"


Aku langsung memblokir nomor mas aditya. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Tidak mungkin jika Zayyen tidak bisa tenang dibawah kendali ibunya. Anak itu sangat penurut dan pengertian. Aku yakin ini hanya akal-akalan mas aditya saja.


Aku melirik ke arah layar handphone. Pukul 1 dini hari. Aku uring-uringan. Apa benar Zayyen tidak mau berhenti menangis? Tapi rasanya tidak mungkin. Lagian anak itu pasti sudah tertidur jam segini.


"Ahhhhhh, aku gak bisa gini. Ayooo dong Karin, jangan bodoh kayak gini. Zayyen itu bukan tanggung jawab kamu"

__ADS_1


Aku menutup mataku dengan bantal. Berusaha untuk memejamkan mata. Walaupun sulit akhirnya aku terlelap.


"Mata kamu kok kayak capek gitu sih Rin, kurang tidur semalam?"


Pagi ini mama memasak nasi goreng yang enak. Dia bertanya seperti itu ketika melihat mataku merah dan terlihat kurang tidur.


"Iyaa ma, gak bisa tidur tadi malam"


"Ada yang kamu pikirkan?"


"Cuma kerjaan ma"


Mama mengangguk pelan. Lalu dengan cekatan menuangkan nasi goreng ke piringku.


"Ma, Karin hari ini agak telat pulangnya. Jadi mama gak usah masak makan siang yang banyak"


"Iyaaa, tapi kamu jangan lupa makan ya. Jangan sibuk kerja saja, sampai lupa makan. Obat kamu jangan lupa juga di bawa."


"Iyaaa ibu bos, Karin gak akan lupa"


"Yaa udah, lanjutkan sarapan kamu, mau nambah gak?"


Kau menggeleng. Masakan mama tidak pernah gagal. Selalu saja membuat aku makan dengan lahap. Sudah beberapa bulan ini aku makan seperti orang diet. Sedikit dan jarang. Benar kata mama, karena sibuk bekerja aku sampai lupa untuk sekedar menghabiskan makananku. Lupa bagaimana caranya untuk memanjakan diri.


"Assalamualaikum"


Ada seseorang yang datang. Mama berjalan menuju pintu. Aku sudah bisa menebaknya. Itu Samuel.


"Pagi Tante"


"Pagi nak, ayoo masuk. Tante masak nasi goreng. Ayo sarapan"


"Wahh kebetulan sekali Tante, Sam juga belum sarapan"


Pria itu berjalan ke arah meja makan. Duduk dan menanti mama mengambilkan porsi makanan untuknya.


Aku menatap Samuel. Anak ini benar-benar saja.


"Kenapa? Makan saja makanan mu"


Idih. Lihatlah dia. Sangat menyebalkan.


Mama yang melihat tingkah kami langsung menyudahi perselisihan di antara kami berdua.


"Sudah, ayo makan. Nak Samuel mau telur apa?"


"Dadar aja Tante."


"Wahhh enak sekali. Aku gak bisa berkata-kata. Mau meninggal rasanya"


"Lebay bangett...."


"Sirik aja sih kamu Rin, emang seenak itu tau. Tante hebat masaknya."


"Terimakasih nak Sam. Besok-besok kamu datang saja. Akan Tante buatkan makanan kesukaan nak Sam."


"Emang mama tahu dia suka apa?"


"Iyaaa kan bisa mama tanya"


"Hahahaha, kalau gitu setiap hari saja saya datang Tante. Lumayan makan enak terus"


"Dasar, tukang gratisan"


"Sirik aja sih Karin, wleeeeee"

__ADS_1


__ADS_2