
Aku terbangun ketika mendengar suara riuh dari arah luar ruangan mas Aditya. Ada pasien lain yang baru saja dipindahkan ke ruangan di sebelah kami. Aku bangkit dari tidurku, mencoba merapikan kembali pakaian ku yang terlihat kusut karena terlipat saat tidur tadi.
Aku menatap ke arah mas Aditya. Pria itu masih terlelap dengan tenang. Sudah hampir magrib, seharusnya Inara datang atau Rabecca. Aku harus segera pulang, ada pekerjaan yang harus segera aku lakukan.
Hati ku terasa bergetar ketika membayangkan bagaimana kedepannya kehidupanku. Apa aku ini akan menjadi orang pertama yang berhasil meruntuhkan ambisi dan pedomanku. Dulu aku yang paling sering bilang jika wanita juga bisa memilih. Banyak klien yang berhasil lepas dari pasangan mereka yang sudah bertahun-tahun hanya membuat hati mereka koyak.
Kembali aku tatap telapak tanganku. Apakah aku kini malah menjilati ludah ku sendiri? Aku memang bodoh. Aku bahkan tidak tahu caranya untuk bida memilih dengan benar. Setiap kali aku mencoba untuk mencari jalan keluar, ada saja perasaan yang membuat aku menggagalkan semua itu.
Apalagi jika melihat wajah polos Zayyen, anak hasil perselingkuhan mas aditya, seharusnya aku malah membenci anak itu, tapi aku tidak. Dia malah datang dan menghangatkan perasaanku yang sedang remuk redam. Air mataku bahkan tidak bisa tertahan ketika membelai pipi putri kecil mereka, bayi itu berhasil membuat aku bergetar.
Alana benar-benar jahat. Dia membuat aku sulit untuk membuat keputusan. Kembali kepada mas aditya yang sudah menyakiti ku bukan lah perkara yang mudah. Aku akui aku mencintainya, tapi juga ada rasa patah yang masih terus saja menginfeksi hatiku.
"Mbak...."
Itu Rabecca. Gadis muda itu masuk dan langsung duduk di samping tumbuh ku. Dia tersenyum. Ada perasaan yang bahkan sulit aku katakan. Sorot matanya seakan sudah tahu tentang permasalahanku dan saudaranya.
"Beca udah tahu apa saja yang terjadi di sini."
__ADS_1
Aku menatapnya. Gadis itu kembali tersenyum hangat.
"Terkadang kita perlu memukul ego kita agar bisa merasa bahagia. Tapi jika itu terasa sangat berat, jangan lakukan! Aku tahu apa yang mbak rasakan saat ini, pasti itu semua sulit."
"Aku minta maaf jika Mas Aditya telah melukai mbak dengan sedalam ini. Dia memang pantas menanggung semua kesalahannya. Mbak Karin tidak perlu merasa bertanggung jawab."
"Masa depan mbak masih sangat luas. Apa yang terjadi bukan berarti mbak harus melakukan itu semua. Aku tidak akan memaksa mbak untuk tetap bertahan, ini bukan yang aku inginkan."
Tangisku pecah. Saat-saat seperti ini aku memang sangat butuh seseorang untuk mendengarkan ceritaku. Ada banyak persiapan jalan, dan aku bingung untuk memilih jalan yang tepat. Aku butuh bantuan.
"Mbak tidak perlu memikirkan terlalu jauh masalah anak-anak mas Aditya, mereka masih ada aku dan keluarga yang lain. Mbak adalah wanita kuat, yang harus tetap bisa menebar kebaikan dan wawasan mbak. Bukan aku memiliki maksud yang lain, mbak tentu saja akan menjadi ibu yang sangat baik, tapi....tentu bukan untuk anak-anak mas aditya mbak."
"Apalagi dengan kondisi mas aditya sekarang ini mbak, dia akan sangat terjatuh dan tentunya akan merepotkan kamu jika mbak memilih bertahan. Dan aku tidak ingin itu terjadi. Mbak harus menjemput kebahagiaan mbak sendiri."
"Aku tidak pernah berfikir tentang itu Beca"
Bagaimana bisa aku berfikir seperti itu. Aku hanya berusaha tulus membantu mas aditya dan juga anak-anaknya. Walaupun tentu saja perasaanku tidak akan sama lagi seperti dahulu. Aku butuh waktu untuk itu.
__ADS_1
"Aku tahu mbak, tapi aku mohon, kali ini jangan bodoh. Biarkan semua ini menjadi hukuman untuk Aditya, mbak tidak perlu bertahan."
"Berpisah dulu mbak, sembuhkan semua luka mu dulu. Jangan pedulikan dia atau anak-anak nya dalam waktu dekat ini. Biarkan dirimu berproses untuk sembuh"
"Mana mungkin aku bisa...."
Tidak. Apa aku bisa melihat mas aditya seperti ini. Apalagi anak-anak nya yang mungkin masih memiliki ketergantungan denganku. Tapi Rabecca benar, aku hanya butuh waktu untuk sembuh.
"Aku mohon mbak, jangan tarik gugatan cerai itu. Mas aditya juga sudah bicara padaku, dia ingin bercerai denganmu"
Tubuhku terasa lunglai. Apakah mas aditya benar-benar merubah keputusan nya? Baru kemarin rasanya ia dengan tegas meminta kami untuk tidak berpisah, tapi apa yang aku dengar dari bibir Rabecca dan Mas Aditya hari ini benar-benar mengejutkan ku. Dia memang ingin kami berpisah.
"Sekarang mbak pulang saja, tenangkan pikiran dan fokuslah untuk dirimu sendiri mbak."
Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku langsung mengambil tasku dan berjalan ke luar ruangan. Mataku menatap mas Aditya. tidak mungkin jika ia tidak mendengar pembicaraan kami di ruangannya. Dia pasti sudah mendengar itu semua. Kalau memang dia ingin kami terus bersama, pastilah ia menghentakkan perkataan adiknya dan menyangkal itu semua. Tapi lihatlah, sampai detik terakhir aku di sana, ia tidak bergeming.
Aku melangkah dengan hati yang hancur. Ternyata semua memang tidak akan bisa diperbaiki. Niat baikku malah dengan lantang di tolak. Kenapa rasanya begitu banyak cabang. Aku mencoba untuk lurus ke pilihan ku, tapi ada saja lubang yang membuat aku kembali terjatuh dan sulit memilih jalan yang lurus.
__ADS_1
Apalagi jika mengingat bagaimana Samuel tempo hari menyatakan perasaannya, persimpangan yang paling sulit aku lewati. Pria itu begitu baik untuk membuat aku nyaman, tapi secara jelas aku patahkan hatinya. Ini mungkin saja karma dari apa yang aku lakukan. Aku yang dulu tanpa sengaja melukai perasaan suci Samuel.