
"Karin"
Aku dan Samuel berjalan menuju parkiran mobil. Rasanya sangat puas bisa mencicipi makanan jepang yang begitu lezat.
"Iyaa?"
"Apa kamu senang?"
"Tentu saja, makanannya enak"
"Bukan itu"
Aku menatap ke arah Samuel. Pria itu menghentikan langkahnya.
"Lalu?"
"Apa kamu senang berada di sisi ku?"
"Kalau aku tidak senang, kenapa aku berada di sini sekarang bersama mu?"
Samuel tersenyum ke arahku. Aku yakin bukan jawaban seperti itu yang ia ingin dengar.
"Apa....aku bisa terus berada di sisi mu?"
Aku memukul tangannya sambil tertawa. Tapi Samuel terlihat serius kali ini.
"Kamu bicara apa sih Sam"
Pria itu meraih kedua tanganku. Sekarang dia berhasil membuat aku merasa deg degan.
"Aku mencintai kamu Rin"
Aku menatap matanya. Jujur saja aku kaget. Samuel tidak penting menyatakan perasaannya ke padaku.
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku tidak ingin menunda lagi Rin"
"Aku tidak ingin kehilangan kamu untuk kedua kalinya, apa aku bisa berada di sisimu untuk selama-lamanya?"
Aku melepaskan genggaman Samuel. Takut ada yang mengenali kami di sini. Lagian aku ini masih istri sah mas Aditya, tidak pantas rasanya melakukan ini di depan publik.
"Terserah kamu mau bagaimana Rin, yang terpenting aku sudah mengatakan apa yang aku rasakan. Kalau boleh jujur, aku kuliha ke Amerika hanya untuk bisa melupakan kamu. Tapi ternyata..... ternyata aku tidak bisa"
Aku menutup mulutku. Bagaimana bisa Samuel melakukan itu semua. Pria itu tidak pernah menyinggung hal ini sebelumnya.
"Aditya pernah berjanji jika dia akan menjaga mu dengan baik, tapi dia membohongi ku. Dia hanya melukai mu."
"Sam......"
"Andai saja sejak dulu aku mengakui nya, mungkin kamu tidak perlu harus menghadapi masa seperti sekarang Rin."
__ADS_1
"Aku juga tidak perlu harus kabur, aku pengecut. Dibandingkan Aditya yang datang tiba-tiba lalu melamar mu."
"Hari itu, aku kira adalah hari di mana aku bisa jujur dengan mu. Tapi ternyata, kamu malah datang dan mengatakan jika Aditya telah melamar mu."
Pria itu membuang nafasnya berat. Aku masih tidak percaya jika aku telah menyakiti seseorang di masa lalu. Aku tidak mengetahui nya Samuel.
Tiba-tiba hujan turun membasahi kami. Samuel masih memejamkan matanya menatap ke langit. Aku tudak bisa menahan air mataku. Aku telah menyakitinya.
"Aku hanya tidak ingin kamu tersakiti lagi Rin. Tapi, jika keputusan bercerai itu hanya akan membuat kamu terluka. Aku harap kamu jangan melakukannya"
"Awalnya aku seneng, kamu akhirnya akan berpisah dari Aditya. Tapi, jujur saja, aku tidak tega melihat mu terus saja bersedih."
"Beberapa hari ini aku melihat cinta di matamu, cinta yang begitu besar untuk Aditya"
"Lebih besar dari saat pertama kamu jatuh cinta dengan pria itu Rin. Saat itu aku akhirnya paham, jika aku memang bukan ditakdirkan untuk kamu."
Bibirku kalu. Sulit sekali untuk membalas perkataan Samuel.
"Zayyen membutuhkan kamu."
"Maafkan aku Sam, aku tidak tahu"
Pria itu menatapku. Matanya menyoroti ketulusan di dalam bola mataku.
"Aku akan mengundurkan diri menjadi pengacara mu mulai hari ini"
"Apapun yang akan kamu lakukan, itu terserah dirimu Karin."
Pria itu tetap berdiri di sana. Aku tidak bisa bertahan seperti ini.
"Pergilah Karin"
Nada pria itu sekarang mulai terdengar berat. Aku berlari menjauhinya. Aku tidak bisa mengatakan apa yang tengah terjadi.
(Bagian 2 bab 29)
Aku menatap foto-foto saat masih kuliah. Beberapa gambar yang diambil saat acara di fakultas kami. Aku dan Samuel memang sedekat itu. Hanya dia yang dari awal mau menerima ku. Anak dari panti yang berkuliah dengan beasiswa penuh.
"Samuel itu anaknya baik"
Mama datang dan duduk di samping ku. Aku menatapnya dan membalas dengan senyuman.
"Mama sudah dari awal tahu jika dia menyukai kamu"
Mama membelai rambutku.
"Perceraian atau pun tidak, itu semua ada di tangan kamu. Semua tentang masa depan kamu Karin, mama percaya dengan kamu."
"Apapun yang bisa membuat kamu bahagia, lakukan lah"
__ADS_1
Aku tidak bisa membendung air mataku. Banyak sekali simpang di ujung permasalahan hidupku. Antara terus bersama dengan mas Aditya, atau malah berpisah dengannya. Apalagi sekarang aku sudha tahu jika Samuel sangat mencintai ku dengan tulus. Aku berdoa pernah menyakitinya.
"Karin harus apa ma? Karin bingung"
"Semua ada di dalam hati mu, berdoa lah kepada Allah. Dialah yang maha penolong, semoga Allah
memberikan jalan yang terbaik untukmu."
Mama benar. Minggu depan adalah sidang ke dua dari proses perceraian ku dan ams Aditya. Aku belum pernah melibatkan tuhan di setiap langkah yang aku ambil.
"Tuhan, jika keputusan ku adalah yang paling tepat untukku, maka berikan lah kemudahan untukku. Tapi jika memang bertahan adalah jalan yang terbaik, muliakan lah jalan itu tuhan"
Malam ini aku tumpahkan semuanya ke pada tuhan. Setelah berdoa rasanya hatiku benar-benar tenang. Aku merasa pundakku tidak seberat tadi siang. Bagaikan air yang akhirnya menguap ke angkasa.
Titik terendah dalam hidupku bukan lah sekarang, tapi rasanya aku kehilangan arah. Kalau bukan karena mama memberikan aku saran, mungkin saja malam ini aku masih kepikiran. Bisa-bisa sel kanker di rahimku tumbuh lagi.
Aku menatap foto kami di rumah sakit. Aku, Zayyen dan adik bayi. Mereka sangat butuh sosok seorang ibu. Selama ini aku selalu saja mendahulukan egoku, sampai lupa orang-orang lain juga membutuhkan diriku.
Lana benar. Aku tidak perlu melahirkan untuk menjadi seorang ibu. Zayyen membutuhkan diriku. Tuhan telah mengirimkan mereka agar aku bisa merasakan rasanya menjadi seorang ibu.
Ini sudah jalan tuhan dan takdir yang harus aku jalani. Setiap ada sesuatu yang diambil dari ku, maka tuhan akTuhan akan menggantinya dengan hak yang lebih baik dari itu semua.
Aku akan mencabut gugatan ku. Aku akan mencoba untuk memberikan maaf untuk mas Aditya. Pria itu akan mencoba memperbaiki semua yang telah terjadi. Kami akan membesarkan Zayyen dan adiknya bersama. Membesarkan anak-anak mas Aditya, anak-anak ku, anak-anak kami.
(Kring.......)
Telfonku berdering. Ada telfon dari Inara. Aku lekas mengangkatnya.
"Mbakkk.......mas Aditya.."
"Kenapa mas Aditya na? Bicaralah yang jelas"
"Mas Aditya kecelakaan"
Aku syok. Tidak mungkin. Kenapa ini terjadi. Aku baru saja mencoba membuka hatiku untuknya, tapi kenapa dia malah mengalami kecelakaan seperti ini.
"Bagaimana keadaannya Ina?"
Samar-samar aku mendengar suara tangisan Zayyen. Anak itu terdengar histeris.
"Mas Aditya sekarang kritis mbak"
"Zayyen? Apa dia juga terluka?"
"Zayyen baik-baik saja mbak, mas Aditya kecelakaan saat ingin menjemput Zayyen dari rumah mama"
"Mobilnya menabrak truk di jalanan"
"Sekarang dia di mana?"
__ADS_1
"Di rumah sakit pelita mbak"
"Aku akan segera ke sana"