
"Tumben kamu ke sini?"
Setelah sarapan bersama aku dan Samuel bergegas menuju pengadilan. Mengajukan gugatan.
"Yaaa ingin saja"
"Alasan saja!"
"Memang benar.....kamu saja yang aneh-aneh"
"Nyenyenye"
Aku menirukan sura bebek yang manyun. Mengejek Samuel. Pria itu hanya tertawa melihat tingkahku.
"Kamu mau ke rumah sakit?"
"Tidak tahu....."
"Aku kira masih bersimpati besar. Menurut aku kamu jangan ke sana. Lagian mereka punya keluarga kan, kenapa harus repot-repot."
"Iyaaa"
"Mau berkunjung ke univ kita tidak?"
Aku menoleh ke arah Samuel. Kenapa tiba-tiba akan ke universitas. Perasaan aku tidak ada satupun permasalahan yang menyangkut tentang itu.
"Untuk apa?"
"Ada beberapa mahasiswa yang ingin bantu kita menjalankan taman baca. Mereka mau jadi volunteer ngajar anak-anak setiap weekend. Jadi nanti kita diskusi bareng-bareng sama mereka"
Mendengar itu aku merasa sangat kaget sekaligus senang. Aku menatap tidak percaya ke pada Samuel.
"Kamu beneran? Gilaaaa"
"Aku kan sudah janji, janji harus ditepati kan?"
"Kamu emang terbaik Sam. Aku gak nyangka kamu bakal sejauh ini"
"Aku pengen kamu gak stres mikirin perceraian kamu. Kamu juga harus tetap waras Rin. Menyalurkan impian kamu selama ini. Tumbuh dewasa bukan berarti kamu bisa rela aja untuk kehilangan mimpi-mimpi mu pas masih muda. Selagi ada waktu, kita pasti bisa"
Aku tersenyum. Samuel benar juga. Masa-masa sulit seperti ini aku memang butuh tujuan yang kuat kembali. Agar bisa bangkit dan terus tersenyum.
Mama juga pernah bilang jika aku harus tetap jadi wanita yang bisa menyebarkan kebaikan. Dan menghidupkan kembali taman baca adalah salah satu langkah tepat saat ini. Akan ada banyak anak-anak yang terbantu dengan itu.
(Bagian 2 bab 22)
"Padahal sudah 6 tahun yang lalu aku terkahir ke sini. Tapi masih sama saja ya. Gak ada yang berubah. Tetap bikin nyaman."
Itulah kalimat yang bisa aku utarakan saat kembali memasuki gerbang fakultas hukum. Walau sudah lama wisuda di universitas ini, tempat ini berubah. Aku masih bisa mengingat semua kenangan di sitiap sudutnya.
"Itu mereka"
Samuel menunjuk ke arah beberapa mahasiswa yang datang ke arah kami. Almamater yang mereka kenakan membuat aku mengingat masa-masa kuliah dulu. Karena almamater itu, aku bisa sukses sampai sekarang ini.
"Pagi kak"
Aku mengangguk. Kami saling berjabat tangan. Ada 2 pria dan 1 wanita. Mereka terlihat sangat berwibawa dan pintar.
Kami banyak bercerita dan berdiskusi tentang bagaimana taman baca harus berjalan. Targetnya siapa dan dimana akan dilakukan. Aku menyarankan berbagai tempat, itu juga harus kami diskusikan, agar sesuai dengan kesiapan para volunteer.
"Kira-kira begitu lah".
"Baik kak, nanti kita atur saja waktu openingnya. Kami juga akan riset tempat yang cocok. Agar kita bisa menjangkau semua kelas target yang kita inginkan"
Aku mengangguk. Diskusi kami hari ini selesai sudah. Beberapa hari ke depan mereka akan melakukan riset ke lapangan. Aku dan Aditya akan mencari sponsor dan tentunya juga akan menjadi sponsor untuk program kami ini.
Aku sangat berharap jika taman baca yang kami garap bisa segera terealisasikan. Aku ingin segera membantu banyak anak-anak di luar sana.
"Kamu mau aku antar ke rumah langsung?"
__ADS_1
Aku masih bingung. Aku sangat penasaran dengan kondisi Lana. Aku tidak ingin menjadi seorang munafik. Tapi pesan yang dikirimkan mas aditya semalam berhasil membuat aku terus saja kepikiran tentang Zayyen.
"Kamu turunkan saja aku di toko bunga dekat rumah sakit"
Samuel menoleh ke arahku. Mungkin dia tidak percaya dengan perkataanku barusan.
"Kau akan ke rumah sakit?"
"Kalau iya, biar aku temani. Aku tidak ingin jika bajingan itu mendekati mu lagi"
"Aku hanya ingin bertemu Zayyen. Anak itu seharusnya tidak ikut-ikutan menginap di rumah sakit"
"Kanapa pria itu tidak membawa anaknya ke rumah orang tuanya saja sih? Aditya punya adik kan?"
"Iyaa, Inara"
"Lagian keluarganya juga sudah mengetahui perbuatan Aditya. Seharusnya mereka mengerti"
"Aku tidak tahu harus bagaimana Sam."
"Kau itu seharusnya tidak ikut campur, mereka yang sudah membuatmu hancur seperti ini. Kamu juga harus memikirkan perasaanmu Rin."
"Aku tahu, tapi aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Terus saja bersimpati"
"Kamu itu seharusnya tidak terlalu memikirkan mereka. Mereka belum tentu memikirkan perasaan mu."
"Hanya sekali ini saja Sam. Aku hanya ingin memastikan kondisi Zayyen saja."
"Baiklah. Aku akan menemanimu"
Mobil Samuel melesat menembus kepadatan jalanan. Aku ingin sekali segera sampai di rumah sakit. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya ada seseorang yang menunggu kedatanganku.
Sebelum ke sana, kami mampir dulu untuk membeli bunga dan beberapa buah-buahan. Buah tangan. Ini bentuk rasa simpati yang masih aku punya untuk Lana dan anaknya.
Saat sampai di depan ruang perawatan Lana, aku melihat sudah ada Inara dan mama di sana. Aku kaget sekaligus bersyukur. Dengan itu, Zayyen ada yang mengurus.
Bocah itu duduk di pangkuan Inara. Dia membelai puncak kepala Zayyen. Anak itu seperti ketakutan.
Zayyen berlari ke arahku. Memeluk erat kedua kakiku. Matanya bengkak. Puncak hidupnya juga memerah. Aku bahkan bisa mendengar suara seraknya.
"Hai....... apakah Zayyen habis menangis?"
Bocah itu menatap kedua mataku dengan tatapan yang sendu.
"Momy....... Zayyen atut onty...."
Aku meraih tubuhnya. Dia pasti sangat takut dan cemas. Inara berjalan mendekat ke arah kami.
"Mbak...."
"Apa semuanya baik-baik saja?"
Mama kini memelukku. Dia menangis. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya di sini. Samuel mengambil alih Zayyen. Pria itu membawa Zayyen ke sisi taman.
"Maafkan mama nak, seharusnya kamu yang paling menderita sekarang, tapi kamu tetap peduli dengan mereka."
"Maa.....Lana dan anaknya juga tidak tahu apa-apa. Mereka juga korban. Aku, kita semua adalah manusia. Sudah sepatutnya kita saling menolong"
"Apa yang sebenarnya terjadi Inara? Kenapa?"
"Mas aditya kemana?"
Sejak kedatanganku tadi, mas aditya tidak terlihat. Inara terdiam. Mama melepaskan pelukannya.
"Mas aditya sedang mencari stok darah untuk operasi mbak Lana."
"Operasi? Maksudnya?"
"Mbak Lana bersikeras untuk tetap mempertahankan anak yang ia kandung. Dokter sudah menjelaskan semua resiko yang akan terjadi. Tapi mbak Lana terus saja memohon agar bayinya tetap hidup."
__ADS_1
"Dia akan di operasi sebentar lagi, hanya menunggu stok darah yang sedang mas aditya cari. Mbak Lana sejak tadi mencari mbak Karin. Kalau mbak Karin siap, mbak Karin bisa bertemu dengan mbak Lana."
Aku menatap sorot mata Inara. Apa yang dipikirkan oleh Lana. Aku bergegas berjalan menuju kamar perawatannya. Dia sedang membaca Alquran.
"Mbak Karin....."
Senyumnya merekah ketika melihat kedatanganku.
"Apa maksudmu kau akan memaksa melahirkan anak ini? Kau sudah gila Lana?"
"Mbak tenang dulu.....aku insyaallah sudah ikhlas."
"Lalu Zayyen bagaimana? Mas aditya? Apa kamu tidak berfikir sampai ke situ?"
"Kamu akan tetap hidup, bagaimana pun itu. Bisa tidak sih, kamu tidak egois seperti ini!"
"Mbak.......aku minta maaf telah menghancurkan rumah tangga mbak. Aku benar-benar tidak tahu. Mungkin ini adalah balasan dari kebodohan aku mbak"
Air matanya luruh. Aku menghembuskan nafasku kasar.
"Mbak.....Lana ingin meminta satu hal dari mbak Karin. Tolong jangan tinggalkan mas aditya. Lana tahu persis jika mas aditya sangat mencintai mbak Karin. Lebih dari cinta yang dia berikan kepada Lana."
"Aku tidak perduli, aku tidak sudi. Kamu bisa menjadi miliknya Lana. Untuk itu kau harus hidup!"
"Lana ingin mbak bisa membantu mas aditya untuk merawat anak-anak kami. Bukan, mereka akan jadi anak-anak mbak juga."
Aku tidak kuat. Kenapa perempuan ini harus pasrah dengan kondisinya.
"Ketika menjadi seorang ibu, apapun rintangan akan dia hadapi untuk keselamatan anak-anaknya. Begitu juga dengan nyawa. Mereka akan siap mempertaruhkan nya. Lana hanya ingin putri kecil Lana bisa melihat dunia mbak."
"Dan itu akan terjadi dengan bantuan mbak Karin. Lana tidak akan memaksa mbak Karin, karena ini semua terjadi begitu berat untuk mbak. Tapi, lana berharap besar kepada mbak."
"Kenapa harus aku lan?"
"Karena mbak Lana adalah ibu yang baik untuk anak-anak Lana. Mbak, adalah wanita sempurna dengan hati lembut. Lana merasa tenang jika mereka dididik oleh ibu sepertimu mbak."
Aku menatap kedua matanya. Apa ini yang sebut sebagai pengorbanan seorang ibu? Bahkan dia rela bertukar nyawa dengan anak yang akan dia lahirnya. Aku memang tidak akan pernah merasakan rasa sakit melahirkan, tapi aku bisa melihat dari besarnya rasa kasih sayang seorang ibu. Dan itu aku rasakan dari Lana. Maduku.
"Permisi ibu, saya akan memeriksa kondisi ibu Lana."
Beberapa orang perawat masuk ke dalam ruangan. Sebelum operasi, beberapa hal harus dicek terlebih dahulu.
Aku berjalan lunglai menuju pintu. Meninggalkan Lana yang akan mengucapkan salam perpisahan untuk kami semua.
Di luar, mas aditya sedang memohon kepada dokter. Aku menatap ke arahnya. Zayyen dan Samuel juga ada di situ. Inara dan mama Yuni. Pikiran ku mati. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Semua begitu cepat berjalan.
"Saya mohon dokter. Selamatkan bayi dan ibunya. Jangan buat kami kehilangan mereka dokter."
Suaranya mas aditya memohon. Dia menangis. Hatiku campur aduk, antara sedih, kalut dan marah. Semuanya menjadi satu sekarang.
"Selamatkan bayinya dokter"
Semua menoleh ke arahku. Begitu juga mas aditya yang kaget dengan perkataanku.
"Karin..."
Samuel mendekat ke arahku. Tangisku pecah. Pria itu membawaku duduk ke kursi rumah sakit.
"Kita tidak bisa egois Sam, Lana ingin anaknya selamat. Aku juga tidak bisa egois. Aku tidak tahu harus bagaimana......"
Semuanya pecah. Dokter mengatakan akan berusaha semaksimal mungkin. Dia akan mengusahakan keselamatan kedua nyawa tersebut.
"Apa kamu kuat? Apa kita harus pergi?"
Samuel menatapku.
"Aku tidak bisa melihat mu seperti ini Karin. Kamu tidak harus terlibat seperti ini"
"Aku harus apa Sam.....aku juga seorang wanita. Lana tidak sepenuhnya salah. Semua berjalan karena takdir tuhan. Kita tidak bisa menolak ini terjadi"
__ADS_1
Di sebrang sana, mas aditya hanya bisa tertunduk. Dia juga mungkin merasa hal yang sama dengan ku. Kalut dan tidak tahu harus bagaimana.
Andai saja sejak awal dia jujur akan semua yang terjadi. Mungkin Lana tidak harus seperti ini. Mungkin aku tidak harus membencinya sedalam ini. Zayyen tidak harus melihat semua yang terjadi hari ini. Anak itu masih sangat kecil.