
Setelah kejadian tadi pagi, mas aditya belum terlihat keluar dari kamar. Aku dan Zayyen sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Panas anak itu sudah turun, dia juga sudah lincah lagi.
"Sayang, kamu harus makan xnag banyak yaa.....biar kuat"
Zayyen menyuap nasi goreng ke mulutnya. Tadi aku mencoba untuk menelfon mama, menanyakan resep nasi goreng yang biasa ia masak untukku. Dan ini menjadi nasi goreng pertama yang berhasil. Aku tersenyum ketika menyicipi nasi goreng ini, merasa puas dengan pencapaianku.
"Enak tidak sayang?"
Zayyen mengangguk dengan mulutnya yang penuh makanan. Dia sangat menikmati sarapannya pagi ini.
"Mau sambil menonton TV?"
"Kata momy, kalau makan tidak boleh onty"
Aku mengangguk. Lana benar-benar mengajarkan disiplin ke pada anak-anaknya.
Aku terus menunggu mas Aditya, tapi dia belum juga turun ke bawah. Biasanya kalau hari kerja seperti ini, dia yang paling awal bangun pagi.
"Onty panggil Dady dulu ya, biar bisa sarapan sama kita"
"Oke onty"
Aku harus memastikan keadaannya. Walaupun masih canggung dengan apa yang terjadi tadi pagi. Tapi, kalau aku tidak membangunkankan, dia bisa telat ke kantor.
Aku membuka pintu perlahan. Mas Aditya masih dengan posisi yang sama.
"Mas......mas Aditya, bangun mas sudah pagi"
Tapi pria itu tidak bergeming. Aku semakin mendekat ke arahnya. Menekan tubuhnya yang tertutupi selimut.
"Mas......"
Lagi-lagi dia tidak merespon. Aku mulai panik waktu itu. Takut dia pingsan.
"Mas Aditya...."
Aku membuka selimut yang ia kenakan. Lalu memukul pelan bahunya. Berharap dengan itu dia bisa bangun.
"Astaga"
Badan mas Aditya panas sekali. Aku menepuk-nepuk kedua pipinya. Mas Aditya membuka matanya perlahan. Bibirnya pucat. Aku tidak tahu jika kondisinya separah ini.
"Mas.....sadar..."
"Dingin......"
Aku kembali menyelimuti mas Aditya. Lalu berlari untuk mengambil kain kompres ke dapur. Zayyen masih duduk menyantap sarapannya sambil membaca buku.
Aku langsung mengompres dahinya. Mas Aditya itu jarnag sekali sakit. Tapi kalau sudah sakit, itu sangat parah.
"Mas mau apa? mau aku panggilkan dokter ya? apa kita ke rumah sakit aja?"
Mas Aditya menggeleng.
"Mas mau istirahat aja"
"Kalau sudab begini harus segera di obati, kalau gak gini deh, minum paracetamol aja dulu ya?"
Mas Aditya mengangguk. Aku mencari-cari obat yang biasanya aku konsumsi.
"Mas mau aku buatkan sup?"
__ADS_1
"Aku gak nafsu makan"
"Mas harus makan, tunggu di sini biar aku bikinin dulu"
Aku berlari lagi ke dapur. Mulai memasak bubur instan seperti yang aku buatkan untuk Zayyen tadi malam. Tapi kali ini aku tambah satu dengan satu buah telur setengah matang, agar tega mas Aditya cepat pulih.
"Ayo buka mulutnya"
Mas Aditya membernarkan posisi duduknya. Dia masih enggan untuk membuka mulut.
"Mas....."
"Aku takut muntah Rin"
"Coba dulu, nanti kalau muntah, kan ada aku"
Mas Aditya akhirnya membuka mulut. Aku tahu jika dia terpaksa untuk menelannya, tapi apa mau dibuat, kalau tidak makan obat yang masuk ke tubuh akan percuma saja.
Mas Aditya menatap mataku. Dia memperhatikan gerakan ku saat menyuapinya. Aku bisa salting kalau begini caranya.
"Satu suapan lagi mas"
"Udah Rin, mas udah kenyang"
"Satu lagi kok"
Dia melahapnya. Aku memberikan gelas air kepada mas Aditya. Dia meminumnya.
"Rin....."
Aku menoleh. Pria itu masih pucat. Sebenarnya aku sangat khawatir, tapi mas Aditya sendiri yang tidak ingin ke dokter.
"Bisakah hari ini kamu menemani aku?"
"Satu hari ini saja, aku takut sendirian"
"Nanti akan aku beritahu mama atau Inara mas"
Mas Aditya hanya diam. Dia tidak membalas perkataanku. Aku membereskan semua peralatan makan. Zayyen juga sudah selesai dengan sarapannya.
"Onty....."
"Iyaaa sayang, kenapa?"
"Hari ini Zayyen tidak mau sekolah"
Aku jongkok. Sekarang tinggi kami sama.
"Iyaa, hari ini Zayyen libur dulu sekolah. Nanti kalau sudah sembuh, baru deh kita ke sekolah lagi yaaa"
"Kalau begitu, boleh gak Zayyen main bareng papa?"
"Papanya lagi sakit sayang, gimana kalau Zayyen main sama onty aja? Atau mau onty hidupkan tv?"
Anak itu mengangguk meskipun wajahnya terlihat kecewa.
Aku tidak tega meninggalkan mas Aditya sekarang ini. Pria itu juga meminta ku untuk tetap di rumah.
Setelah beberapa saat bermain dengan Zayyen, mas Aditya keluar dari kamar. Pria itu sudah memakai jas lengkap. Aku kaget bukan main. Dia itu lagi sakit, kenapa masih memikirkan pekerjaannya.
"Mas mau kemana?"
__ADS_1
Pria itu tidak menjawab. Dia terus saja melangkah menuju pintu utama. Aku berusaha menghadangnya.
"Kamu itu lagi sakit, mau kemana sih?"
Mas Aditya berusaha melepaskan peganganku dari tangannya. Tapi aku semakin mengeratkan genggaman ku.
"Kamu sendiri yang bilang kalau tidak mau di sini bersama ku kan? Aku bisa mati kalau sendirian, lebih baik aku pergi bekerja saja"
"Kamu sudah gila ya? Kan tadi aku bilang akan menelpon mama atau Inara, itu berarti kamu tidak sendirian."
"Aku hanya butuh kamu Karin."
"Mas.....kamu ini, ah"
"Aku titip Zayyen, kalau kamu sibuk, biar nanti aku suruh Inara jemput dia"
Mas Aditya mencoba melepaskan tanganku.
"Oke fine. Aku akan di sini, aku akan stay sama kamu hari ini. Cukup, udah. Sekarang kamu ganti baju kamu ini. Gak usah mikir yang enggak-enggak lagi"
Entah ini hany akal-akalan nya saja atau bagaimana. Tapi rencana mas Aditya berhasil. Pria itu menang hari ini.
"Muach"
Pria itu tiba-tiba mendaratkan ciuman di pipiku. Lalu berjalan menuju ruang tv. Dia melepaskan jasnya. Bodoh. Dia benar-benar hanya mengujiku. Dibalik jas itu hanya ada piyama tidur yang tadi ia kenakan.
"Zayyen, mau main mobil-mobil tidak?"
Anak itu mengangguk. Mas Aditya mengeluarkan PS nya dari lemari tv. Aku menepuk jidat ku. Kedua laki-laki di depanku ini sedang sakit, tapi mereka tidak tahu akan kondisi mereka. Lebih-lebih lagi yang sudah besar, malah mengajak yang kecil untuk melakukannya.
"Kamu mau mobil warna apa?"
"Blue Dady"
Mas Aditya menatapku dengan tawa yang puas. Puas Telang mengerjaiku.
"Onty, kami mau cemilan"
Lihatlah. Sebentar lagi akan aku matikan tv ini. Bukannya istirahat mereka malah bermain mobil-mobilan.
"Ini sudah lama, sekarang ayo istirahat Zayyen"
"Baru juga satu kali pertandingan, kenapa sudah selesai saja?"
Mas Aditya ini kenapa banyak ulah sih.
"Ayooo Dady, ayo Dady, yeeeee win, win, kita win"
Zayyen melompat ke sana kemari. Balapan berhasil dimenangkan. Anak dan ayah itu saling bertos. Tanda tim mereka unggul saat ini.
"Zayyen capek, udah dulu ya Dady"
Anak itu sepertinya paham jika aku tidak suka dengan apa yang dia lakukan. Mas Aditya menatapku. Lalu menyusul kembali ps yang dia punya.
"Onty..... Zayyen janji tidak akan nakal lagi"
"Tidak sayang, Zayyen boleh main mobil-mobilan, tapi tunggu Zayyen sudah sembuh dulu ya...."
"Iyaaa ontyyy"
"Sekarang Zayyen mau bobo siang?"
__ADS_1
"Iyaa, Zayyen mengantuk, mau bobo"
Mereka bermain sampai lupa waktu. 3 jam hanya duduk di depan layar.