AKTA Perceraian

AKTA Perceraian
I love you momy


__ADS_3

Lihatlah bayi mungil di dalam kotak penghangat itu. Pipinya merah merekah. Kami bertiga menatap Anindia dari balik dinding kaca. Zayyen sejak tadi tidak mau diam, dia terus menunjuk ke arah adik kecilnya.


Mas Aditya masuk ke dalam sana. Dia mengendong nindi. Mas Aditya lalu membawanya mendekat ke arah dinding kaca. Sekarang kami bisa dengan jelas melihat wajah bayi itu.


Aku terpana. Benar-benar cantik. Perpaduan yang indah. Bibir yang mirip dengan lana, dan hidung yang persis seperti mas Aditya.


Tapi ketika aku menatap matanya. Aku merasa mata itu sangat mirip dengan mataku. Aku menyentuh dinding kaca, ingin sekali merasakan lembutnya kulit bayi itu.


Mas Aditya sepertinya tahu dengan apa yang aku inginkan. Dia berbicara, memberi isyarat agar aku bisa memomong Nindi.


"Mau coba"


Kira-kira begitu lah, walaupun aku tidak bisa mendengar suaranya. Ruangan itu kedap suara.


Aku ragu-ragu untuk masuk ke sana. Aku belum pernah menggendong bayi. Ini adalah kali pertama bagiku. Tapi sepertinya keinginan ku lebih kuat, aku memberanikan diri untuk masuk ke sana. Meninggalkan Zayyen yang hanya bisa menatap dari kaca. Anak kecil tidak bisa masuk. Begitulah tulisan di dinding rumah sakit.


"Ayo, coba lah"


Mas Aditya meletakkan bayi itu di pelukanku.


"Jangan di lepas, aku takut jatuh"


"Tidak akan"


Aku berhasil. Aku mengendong seorang bayi. Mas Aditya masih membantuku memegangnya dari arah belakang. Jarak kami cukup dekat, tapi aku tidak peduli. Aku terlalu fokus dengan bayi ini. Takut dia akan jatuh.


"Kamu sangat cocok jadi ibu Karin?"


Mas Aditya berbisik di telingaku. Membuat aku merasa geli. Tapi kata-kata yang baru ia sampaikan itu membuat aku merasa sedikit tersanjung. Memang inilah yang aku impikan. Merasakan menjadi seorang ibu.


"Apa dia sudah minum susu?"


"Sepertinya sudah, dia masih harus minum dengan alat bantu"


Aku mengangguk. Memang ada selang yang masuk dari hidungnya.


"Kapan dia akan pulang?"


Mas Aditya mengelus wajah Nindi. Lalu menatapku.


"Mungkin 1-2 minggu lagi"


Aku mengangguk. Dia memang masih perlu kontrol dokter.


"Aku ke luar dulu ya"


Mas Aditya meninggalkan aku yang masih asik mengendong nindi. Menggoyang tubuhku perlahan, agar dia bisa merasa sedang di atas ayunan.


Sesekali aku membelai pipinya yang merah. Kulitnya sangat lembut. Aku jadi gemas.


Aku membawa bayi itu ke sisi dinding. Ternyata sejak tadi Zayyen sudah berteriak-teriak untuk memanggil Ku. Tapi aku tidak peka akan itu.


Mas aditya ternyata sedang menelpon seseorang. Aku terus bermain dengan Zayyen dan juga Anindia. Zayyen tampak sangat senang.


Mas Aditya yang sudah selesai mendekat ke arah kami. Lalu menyuruh kami untuk tersenyum. Dia akan mengambil beberapa foto kami. Zayyen dan aku menunjukkan berbagai pose kami.


Sekilas mas Aditya tampak tersenyum.


( Bagian 2 bab 25)


"Besok ada acara di sekolah Zayyen, kalau kamu tidak sibuk, kamu bisa datang"


Aku menjelaskan ke pada mas Aditya. Sesuai dengan apa yang aku dapatkan dari mamanya Felicia tadi pagi.


"Acara orang tua itu ya?"


Aku mengangguk. Kembali menyantap makanan di depanku. Setelah dari rumah sakit, Zayyen mengeluh lapar dan ingin makan. Jadi kami menyempatkan untuk makan siang bersama. Ini aku lakukan karena Zayyen memaksa ku untuk ikut.


"Apa kamu bisa ikut juga Rin?"


Aku menatap ke arah mas Aditya. Bingung mau jawab apa.


"Kalau kamu tidak sibuk juga, tapi kalau tidak bisa juga kami tidak akan memaksa."


"Akan aku usahakan datang, kasihan jika hanya kamu yang datang besok, yang lain kan bawa orang tua lengkap."


"Zayyen, ayo di suap lagi makanannya, agar besok bisa bertemu Felicia lagi"


Zayyen menatap ku dengan malu-malu. Lebih tepatnya malu karena aku membicarakan Felicia di depan Dady nya.


"Felicia? Anak ganteng dady ini sudah punya pacar yaa?"


"Tidakkk dady......"


Menggemaskan wajah Zayyen.

__ADS_1


"Cuma teman saja....."


(Bagian 3 bab 25)


Mas Aditya mengirimkan beberapa foto di rumah sakit tadi. Aku tersenyum memperhatikan fotoku dan kedua anak Lana. Mereka benar-benar sangat menggemaskan.


"Ketawa Mulu, ntar gila"


Samuel datang sambil membawakan belanjaan mama. Aku menatapnya sebal.


"Kok mama bisa sama anak ini sih?"


"Mulai hari ini, aku akan kerja di toko ini"


"Gila kamu?"


"Nggak lah, aku capek jadi pengacara"


Aku terkekeh. Lalu melemparkan tepung ke badannya.


"Banyak gaya"


Samuel tidak terima. Dia langsung membalas lemparanku. Kami tidak mau saling kalah. Tepung berhamburan di dapur toko.


"Aduhhhhh"


Kami serentak berhenti. Mama sepertinya sangat kesal dengan tingkah kami. Aku menyinggung tangan Samuel. Tidak tahan rasanya untuk tertawa.


"Mama ngak mau tahu, kalian bersihin lagi"


"Iyaa ma"


"Hahahaha, sumpah deh kamu ini Samuel"


"Kamu yang mulai duluan"


"Jangan ribut lagi!"


Kata terakhir mama itu membuat kami terdiam. Kemudian sibuk membersihkan lantai toko yang putih oleh tepung.


Aku menatap wajah Samuel, pria itu penuh dengan tepung. Aku mengambil ponsel dan dnegan cepat memotret wajahnya.


"Ahhhh, Karin, jangan!"


"Aku akan post di sosial media, jadi orang-orang bisa liat wajah kamu ini"


"Ehhh jangan"


(Bagian 4 bab 25)


Pagi ini aku segera bergegas menuju sekolah Zayyen. Tadi malam dia menginap di rumah papanya. Sebelum ke sekolah, aku harus mengantarkan pesanan om Anton terlebih dahulu. 150 kotak kue.


Mama sampai harus begadang tadi malam. Samuel juga turut membantu membuatnya.


"Ini udah semua kan ma?"


"Kayaknya sih udah"


"Ya udah, Karin berangkat dulu ya"


"Kamu hati-hati ya nak"


Aku langsung bergegas menuju kantor. Di sana Samuel sudah menunggu ku. Dia yang akan menolong untuk membongkar semua pesanan dari mobilku.


"Lama amat neng"


Itulah responnya saat aku baru memarkirkan mobilku. Ingin sekali aku menjitak jidatnya itu.


"Ayo buruan Sam, aku haru ke sekolah Zayyen"


"Iyaa mbok, ini juga aye buru-buru. Tangan cuma 2 mbok"


"Kamu ini..... menyebalkan sekali"


Sekitar 10 menit untuk menurun semua kotak itu dari dalam mobilku. Aku segera berangkat menuju sekolah Zayyen, tapi aku harus mampir dulu untuk membeli bunga. Mas Aditya pasti lupa jika Zayyen harus memiliki bunga dalam acara hari ini.


Setelah membeli beberapa tangkai bunga, aku segera menuju sekolah. Untung saja tidak telat.


Mas Aditya tengah merapikan pakaian Zayyen. Anak itu sepertinya menangis lagi pagi ini.


"Ontyy....."


Aku mengambil alih anak itu. Mas Aditya salah memasangkan bajunya. Pria itu menggaruk-garuk kepala. Mungkin saja dia bingung harus bagaimana.


"Oke, udah ganteng"

__ADS_1


"Zayyen, ingat yaa, nanti panggil mama, mama Karin"


Aku yang mendengar itu langsung membulatkan mataku ke arah mas Aditya. Meminta dia untuk menjelaskan apa yang barusan dia katakan


"Kamu tenang dulu, kan tidak lucu kalau di acara nanti Zayyen memanggil mu dengan onty"


Ada benarnya juga perkataan mas Aditya. Aku memilih diam. Pura-pura tidak peduli saja.


Kami bertiga berjalan menuju ruangan kelas Zayyen. Sudah banyak orang tua yang hadir.


Kami duduk bertiga di salah satu kursi yang di siapkan oleh pihak sekolah. Kursi mini, yang lebih cocok untuk anak kecil.


Di sampingku adalah keluarga Felicia. Ada papa dan mamanya juga. Zayyen mencuri-curi pandang ke arah anak perempuan itu. Aku menyikut mas Aditya. Menyuruhnya untuk memperhatikan tingkah Zayyen.


Kami tertawa. Anak ini benar-benar malu kucing saat ketahuan melihat ke arah Felicia. Wajahnya memerah, lalu dengan cepat bersembunyi di balik tubuh dadynya.


"Oke mom and dad. Today we are celebrating the parents day."


Acara sudah dimulai. Anak-anak ada yang bernyanyi dan menari. Ada juga yang malu-malu saat tampil di depan kelas. Sangat lucu.


Tiba saatnya untuk saling mengucapkan terimakasih ke pada orang tua. Begitu juga Zayyen. Anak itu berdiri di depan kami berdua. Sambil memegang bunga dia mulai berbicara ke pada kami.


"Dady and momy, I love you. Thank you"


Aku ingin sekali menangis. Anak ini sangat manis. Aku benar-benar merasa seperti menjadi seorang ibu sungguhan.


Kami kemudian saling berpelukan. Pecah juga akhirnya tangisku. Bukannya aku cengeng, tapi mayoritas orang tua di sana juga menangis saat momentum itu.


Mas Aditya memberikan ku sapu tangan. Aku menerimanya. Lalu aku perhatikan kembali sapu tanga itu, ini adalah pemberian ku saat ulang tahun pernikahan kami yang ke 2. Dia masih menyimpannya.


"Good job sayang"


Itulah yang dikatakan mas Aditya kepada Zayyen. Acara selesai tepat sebelum jam makan siang.


"Aku ingin makan donat buatan nenek Dady"


"Nenek?"


Mungkin mas Aditya masih bingung. Dia tidak tahu jika Zayyen dekat dengan mamaku.


"Mamaku mas"


"Ooooo, mama buka toko kue ya?"


"Iya"


"Kalau begitu kita ke sana saja"


"Apa kamu yakin?"


"Kenapa tidak? Aku belum pernah bertemu dengannya"


"Itu karena kamu terlalu sibuk"


"Iyaa, aku menyesal"


Mobil melaju ke arah toko mama. Mama bilang dia akan buka agak telat hari ini. Banyak bahan yang habis karena harus menyiapkan pesanan om Anton.


Mobil mas Aditya berhenti di halaman toko. Ada mobil Samuel juga di sana. Zayyen langsung berlari menuju toko.


"Om Superman......"


"Hai anak ganteng"


Samuel lagi-lagi sibuk membantu mamaku berjualan. Zayyen melompat ke pelukan Samuel. Mama yang mendengar suara Zayyen langsung bergegas keluar dari arah dapur.


"Hei cucu nenek"


"Nenekkk....."


"Aduh, aduh, wangi sekali"


Aku menatap ke arah Samuel. Pria itu memperhatikan kedatangan mas Aditya. Samuel memang tidak menyukai mas Aditya.


"Mama..."


Mama ku menoleh. Mas Aditya ingin menyalaminya. Mama melirikku untuk meminta penjelasan. Tapi mas Aditya sudah lebih dahulu memperkenalkan dirinya.


"Saya Aditya ma"


Mama langsung diam. Beberapa detik mengabaikan juluran tangan mas Aditya. Namun setelah itu mama mulai sadar dan kembali menjadi sangat ramah.


"Nak Aditya, ayo duduk. Biar mama siapkan cemilan"


Aku tahu jika mama menghindari Aditya. Ibu mana yang tidak akan terlalu melihat anaknya dipermainkan oleh laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2