
Author POV
(kembali ke hari saat Samuel menjelaskan isi hatinya)
Setelah menyatakan perasaannya ke pada Karin, Samuel terdiam duduk di tepi danau. Pria itu kalut. Takut jika Karin pada akhirnya tetap memilih untuk mempertahankan pernikahannya.
Jujur saja pria itu tidak pernah ingin berniat jahat. Samuel masih ingat saat pertama kali memperkenalkan Aditya ke pada Karin. Aditya sahabat karibnya semenjak di bangku SMA. Ketua osis yang tentu saja bisa memikat hati wanita mana pun.
Tapi hari itu adalah hari yang seharusnya Samuel sesali. Aditya jatuh cinta dengan Karin. Begitu pun wanita itu yang menjatuhkan hatinya kepada Aditya. Samuel kalah. Kalah cepat.
Sejak awal masa perkuliahan, Karin telah membuat dia merasakan rasanya jatuh cinta untuk pertama kali. Tapi, saat itu rasa ragu membuat dia mengulur waktu.
Tepat beberapa hari sebelum wisuda. Karin datang dengan wajah ceria. Katanya Aditya sudah melamarnya. Padahal hari itu Samuel sudah menyiapkan hadiah untuk menyatakan cinta ke pada Karin.
Flashback
"Sam........Sam..."
Karin berlari ke arah Samuel yang sedang bersiap-siap untuk menyatakan perasaannya. Wajah pria itu gugup. Deg degan untuk mengatakan yang sebenarnya ke pada Karin.
"Ada apa?"
"Aku ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama kamu"
Samuel tersenyum. Pria itu juga ingin mengatakan sesuatu.
"Aku juga"
"Oh yaa?"
"Kamu duluan deh"
Samuel menyuruh Karin untuk mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan. Sedikit berharap jika apa yang ingin ia sampaikan juga sama dengan apa yang ingin Karin katakan.
"Aku.........aku di lamar Aditya"
Wanita itu menunjukkan cincin di jari manisnya. Samuel pucat pasi. Pria itu menatap ke arah cincin dengan wajah yang menyedihkan.
"Wah..... selamat"
__ADS_1
Bahkan untuk mengucapkan kata itu ia harus berusaha dengan keras. Perih.
"Trus, kalau kamu mau bilang apa?"
Sekarang giliran gadis itu menuntut ke pada Samuel. Pria. Itu terdiam. Bukannya akan sia-sia jika ia menyampaikannya? Karin sudah milik orang lain. Tidak pantas untuk mengatakan ini semua. Karin justru akan membencinya.
"Ahhh......gak jadi"
"Ihhh....apaann sih"
Setelah Karin pergi, Samuel duduk di tepi pantai. Pria itu duduk di tengah lampu-lampu yang bertuliskan ungkapan cinta. Khusus ia siapkan untuk hari ini. Tapi Ternyata semua gagal. Patah.
Samuel berteriak. Kali pertama baginya mencintai perempuan. Kali pertama juga baginya dipatahkan oleh perempuan. Semua kacau. Semua berakhir.
3 bulan setelah wisuda, Karin menikah dengan Aditya. Samuel menolak hadir dengan berbagai alasan yang ia katakan.
"Aku tidak bisa hadir, aku ada urusan"
Begitulah kalimat yang ia sampaikan saat Karin memaksanya untuk datang. Pria itu hanya mengurung diri di apartemennya. 3 bulan waktu yang terasa menyakitkan.
Karin hanya tahu jika Samuel melanjutkan kuliahnya ke luar negeri, tapi Karin tidak pernah tahu jika itu adalah tiket bebas untuk Samuel. Tiket bebas dari rasa patah hati yang menghancurkannya.
6 tahun berkelana mengelilingi dunia tetap saja tidak mampu membuat Samuel benar-benar lepas dari cinta pertamanya. Dia memilih pulang ke rumah, bertemu Karin dan berusaha untuk ikhlas.
Pria itu belajar ikhlas dari bagaimana Karin bisa memaafkan kesalahan Aditya dan Lana. Perlakuan dan perhatian Karin merawat Zayyen. Itu semua membuat Samuel merasa malu. Malu tidak pernah bisa mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.
(Kembali ke Samuel yang di danau)
Sebuah mobil berhenti tepat di depan mobil Samuel. Pria itu menoleh. Aditya ke luar dari mobilnya.
"Ada apa?"
Samuel menatap ke arah Aditya. Pria itu sudah cukup bosan bertengkar dengan Aditya. Mulai hari ini Samuel mengaku kalah.
"Aku minta maaf"
Aditya jatuh bersujud di kaki Samuel. Pria itu menangis. Menyesal.
"Andai saja aku tahu kau menyukai Karin, mungkin aku tidak akan mendekatinya. Mungkin saja sekarang Karin bahagia bersama mu"
__ADS_1
Ternyata Aditya mendengar semua pembicaraan Karin dan Samuel tadi. Pria itu juga syok dengan apa yang Samuel katakan.
"Berdiri"
"Aku tidak akan berdiri sebelum kau mau memaafkan ku"
"Aku bilang berdiri, sialan"
Samuel melayangkan pukulannya ke arah Aditya. Tapi pria itu tidak bergeming.
"Pukul saja sesuka mu, bukannya pria seperti ku ini memang pantas mendapatkannya? Aku telah menyakiti hati banyak orang. Aku juga bosan dengan diriku ini Sam, pukul aku, pukul!"
Samuel terdiam. Tubuhnya sekarang runtuh. Pria itu memukul pelan tubuh Aditya.
"Kalau kau tahu kesalahan mu, kau harus cepat memperbaiki nya. Jangan sampai Karin benar-benar pergi dari mu"
"Apa aku pantas?"
"Sekali lagi kau bicara seperti itu, akan aku pukul kau"
Samuel memeluk Aditya. Dua sahabat itu sekarang sudah berdamai. Perselisihan di masa lalu sepertinya sudah berakhir. Maaf dan maaf.
"Jaga dia, kalau sampai aku dengar kau menyakitinya lagi. Aku akan benar-benar merebutnya dari mu"
"Terimakasih banyak sobat, terimakasih"
Setelah berbincang-bincang dengan Samuel, Aditya bergegas pergi untuk menjemput Zayyen. Besok dia dan putranya akan datang menemui Karin. Meminta maaf dan akan berusaha membujuknya untuk kembali bersama.
Kondisi jalanan malam itu sangat sepi. Aditya benar-benar dalam keadaan bahagia. Pria itu masih sempat mengangkat telfon dari kantornya. Mau meminta izin cuti untuk bisa pergi berlibur dengan karin dan Zayyen. Apalagi Minggu dengan putri kecilnya resmi keluar dari rumah sakit. Sungguh memuncak kala itu kebahagiaannya.
Handphone pria itu jatuh ke bawah. Padahal sedang ingin membicarakan sesuatu yang penting. Aditya berusaha meraih hpnya di lantai mobil. Naas, dari arah yang berlawanan datang mobil truk yang tidak sempat mengerem lajunya. Apalagi sopir dalam keadaan syok melihat mobil Aditya yang tiba-tiba keluar jalur.
(Brakkkkk)
Mobil Aditya terguling. Hampir setengah dari badan mobil hancur. Kaca-kaca nya juga pecah berserakan. Supir truk lekas keluar dan langsung melihat kondisi Aditya.
Syukurlah saat itu pengalaman di kemudi mobil berfungsi, jadi luka pada kepala Aditya tidak terlalu parah. Tapi, akibat bagian depan mobil hancur, kaki Aditya saat itu terjepit bagian mobil yang hancur.
"Karin....."
__ADS_1
Nama Karin terus saja Aditya ucapkan sampai tenaga medis datang. Yang dia pikirkan adalah kebahagiaan bersama Karin.
Saat di bawa ke rumah sakit, Aditya sudah tidak sadarkan diri. Syok pada kepalanya membuat pria itu pingsan. Untung saja saat itu supir truk tidak kabur meninggalkan Aditya sendirian. Apalagi kondisi jalanan yang sepi, pasti Aditya akan lama mendapatkan perawatan.