
(Lana)
"Bagaimana kondisi mu mbak?"
(Me)
"Lumayan sudah agak mendingan"
(Lana)
"Zayyen sejak tadi terus meminta bertemu denganmu, katanya onty Karin berjanji akan pergi dengannya jalan-jalan"
Aku tersenyum membaca pesan yang dikirimkan Lana kepadaku. Bocah itu sangat lucu.
(Me)
"Bagaimana kalau besok siang, sehabis jam pulang sekolah, kita bertemu?"
(Lana)
"Boleh mbak, mau bertemu di mana?"
(Me)
"GI aja gimana? Aku sudah janji ingin mengajak Zayyen jalan-jalan"
(Lana)
"Boleh mbak, pasti Zayyen akan senang mendengarnya"
(Me)
"Btw Lan, aku ingin meminta saran dari mu"
(Lana)
"Apa itu mbak?"
(Me)
"Aku punya klien, dia curiga jika suaminya memiliki selingkuhan. Seperti menemukan bukti belanjaan yang bukan untuknya, bau parfum wanita, dan gosip rekan kerjanya. Menurut kamu, apa yang harus dia lakukan?"
(Lana)
"Kalau dari bentukkannya, kayaknya bisa jadi saja suaminya selingkuh mbak. Apalagi buktinya kayak kuat gitu. Aku saranin agar dia bisa cari bukti yang lebih kuat."
Setelah membaca pesan itu, tubuhku menjadi lemas. Apa benar jika mas Aditya menyelingkuhi ku?
(Lana)
"Tapi itu belum pasti sih mbak, ada baiknya jika istrinya itu mendatangi kembali rekan kerja suaminya, menggali informasi gitu mbak"
Aku menutup mataku. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Apalagi jika gosip dan pikiran jahatku ini benar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana diriku jika itu terjadi.
(Me)
"Begitu ya lan, ya sudah terimakasih yaa. Sampai jumpa besok"
Aku menutup kolom chat kami. Mas Aditya sudah tertidur di sampingku. Sepertinya dia benar-benar sangat lelah.
(Pagi)
__ADS_1
"Mas, ayo sarapan"
Pria itu baru turun dari lantai atas. Dia masih sibuk mengancingkan bajunya.
"Wahhhh, kayaknya enak nih"
Aku tersenyum. Mas Aditya sangat suka nasi goreng sayuran seperti ini. Dia bisa nambah kalau makan. Aku menyendokkan beberapa nasi ke piring mas Aditya. Lalu dia mengisyaratkan bahwa sarapannya tidak perlu banyak pagi ini.
"Kamu akan pergi bekerja?"
Aku mengangguk. Pagi ini ada sidang.
"Iya mas, bosan juga kalau lama-lama di rumah. Sepi"
"Ya sudah, kalau itu keinginan kamu, mas gak bisa maksa"
"Mas nanti malam lembur lagi?"
Mas Aditya menatapku.
"Iyaa, tapi lusa kayaknya gak."
Aku mengangguk. Sudah seperti memiliki dua istri saja. Hari ini di rumahku, besok malam di rumah istrinya yang lain.
"Kamu berangkat sama siapa? Mau bareng sama mas?"
"Gak usah mas, nanti aku mau pergi juga."
Mas Aditya mengangguk dan mencium keningku. Pria itu akan pergi bekerja. Aku juga harus segera bersiap-siap pergi.
(Bagian 2 bab 14)
Samuel berjalan di sampingku. Pria itu terus saja mengekor.
"Ke GI"
"Widihhh, ikut dong"
"Gak, aku mau ketemu temen"
"Pelit banget, ya udah, hati-hati ya"
Aku melayangkan jempolku ke langit. Tanda mengiyakan perkataan Samuel.
Aku mengemudi meninggalkan kantor pengadilan pusat. Mungkin akan menelan waktu 25 menit untuk sampai ke GI.
"Kamu di mana kan?"
Aku menelfon Lana ketika baru saja memarkirkan mobilku.
"Di lantai dua mbak, Zayyen katanya pengen beli sesuatu"
"Yaa udah, tunggu aku di situ ya"
Aku bergegas masuk ke dalam mall besar itu. Sangat ramai. Banyak yang menghabiskan harinya bersama keluarga. Aku mencoba mencari-cari keberadaan Lana dan Zayyen. Dari kejauhan aku bisa melihat lambaian tangan wanita hamil itu.
"Ontyy alinn....."
Zayyen menghampiri ku dan memelukku erat
"Hallo anaknya onty yang ganteng ini"
__ADS_1
"Ayooo kita jalan-jalan "
Lana mengajak kami menuju tempat makan. Ini sudah masuk jam makan siang. Zayyen pasti sudah lapar.
"Aku mau duduk dekat ontyy"
Aku menatap tingkat lucu Zayyen. Dia tidak ingin duduk di dekat mamanya.
"Yaa udah, siniii sama onty"
"Kayaknya aura keibuan kamu kuat banget deh mbak, Zayyen itu tipe anak yang sulit banget deket sama orang. Tapi pas sama kamu, dia bucin banget"
Aku terkekeh mendengar perkataan Lana. Baru kali ini aku diperlakukan seperti seolah-olah menjadi seorang ibu.
"Sebentar lagi kamu juga harus melahirkan yaa? Harus jaga kesehatan lan"
Tiba-tiba wanita itu tertegun. Matanya terlihat agak berair.
"Kenapa? Apa ada sesuatu?"
"Aku sebenarnya takut mbak, saat awal kehamilan, dokter sudah vonis aku terkena gangguan kehamilan. Aku sebenarnya udah lama di suruh untuk gugurin janin aku, tapi aku selalu nolak. Katanya kalau aku tetap melahirkan anak ini, aku bakal kehilangan nyawa aku. Aku takut gak bisa lihat dia tumbuh."
Aku kaget. Wanita yang aku kira sangat beruntung ini tetap saja mendapatkan musibah. Dia juga sedang terluka.
Aku menggenggam jemarinya.
"Suamimu tahu?"
Lana menggeleng.
"Kalau aku beri tahu, mas Bagas pasti paksa aku untuk gugurin bayi ku mbak, aku gak mau"
"Aku hanya ingin melihat Zayyen dan adiknya tumbuh bersama. Saling menyayangi. Tapi semakin dekat dnegan waktu kelahiran, aku jadi semakin takut mbak"
"Kamu harus percaya dengan tuhan, aku yakin kamu pasti akan selamat Lana, aku percaya itu"
"Semoga yaa mbak"
Aku menatap Zayyen. Anak kecil itu bajak tidak tahu apa yang terjadi kepada ibunya. Yang ia tahu hanyalah kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang.
Setelah menghabiskan hari bersama mereka, aku memutuskan untuk pulang kembali ke rumah. Rasanya luar biasa bisa bermain dan bertukar cerita dengan Lana. Aku sudah terlalu lama sibuk sendiri dengan pekerjaanku, lupa untuk menjadi waras.
Sebelum pulang, aku menyempatkan untuk membeli seikat bunga. Dulu saat baru masuk kuliah, aku bekerja di toko bunga. Setiap pulang, pasti selalu diberi setangkai mawar.
Hidup sejatinya seperti setangkai bunga. Ketika masih kuntup, tidak banyak orang yang mau melirik, tapi ketika sudah mekar, puluhan lemah dengan cepat mendatangi. Begitu juga dengan kita, orang tidak akan mau tahu dengan badai yang menimpa kita, mereka hanya fokus menilai dan melirik ketika melihat pencapaian yang kita miliki.
(Author)
Haloo para pembaca semua!!!
Perkenalkan aku Galileo, seorang wanita yang akan menceritakan kisah Karin ke pada anda semua.
Cerita ini adalah gabungan pemikiran tentang bagaimana wanita seharusnya. Apakah mereka harus memiki anak atau bisa memilih untuk menjadi seorang child free.
Di sini akan diperlihatkan tentang bagaimana wanita seharusnya mendapatkan haknya. Setiap wanita yang memilih untuk tidak memiliki seorang anak, bukan berarti dia tidak ingin. Tapi karena ada sesuatu yang mungkin ia takuti juga akan terjadi kepada anaknya.
Jika saudara saudari ku yang membaca cerita ini merasa ingin membagikan pandangannya tentang masalah ini, aku mohon untuk memberikan opini kalian di kolom komentar. Opini dan argumentasi saudara saudari sekalian adalah hal yang penting dalam membangun cerita ini.
Opini-opini itu sangat dibutuhkan untuk membentuk alur cerita dan tujuan cerita ini.
Terimakasih semua....
__ADS_1