
"selamat datang Tante"
Itu adalah Samuel m orai itu sangat antusias menyambut kedatangan Samuel.
"Saya Samuel Tante, teman kuliah nya Karin. Aturannya sih jadi bantu ya Tan, tapi keduluan Aditya"
Mama hanya tertawa melihat tingkah laku Samuel. Sedangkan aku mulai kesal dengan guyonannya.
"Gak usah di dengerin ma, dia kalo ngomong emang suka ngelantur, suka gak jelas"
"Gak jelas-jelas gini, tapi ganteng seantero Depok Tante"
"Iyaa nak Samuel, ganteng sekali. Terimakasih ya sudah mau bantu Tante dan juga Karin"
"Sudah tugas saya Tante"
"Ayoo masuk, biar aku yang bawa barang-barang nya"
Samuel berjalan membuka jok mobil. Dia sangat cekatan menurunkan semua koper.
"Wahhhh, lumayan besar juga ya Sam. Aku kira cuma rumah biasa"
Pria itu menaruh koper di ruang tamu. Lalu berkacak pinggang dan menatap seisi rumah.
"Kan kamu sukanya rumah yang gak menor-menor banget Rin. Dari luar sih emang kayak biasa, tapi di dalamnya bagus. Rumah bekas artis katanya. Gak tahu juga bener apa gak"
Aku mengangguk. Tidak peduli ini rumah bekas siapa. Yang penting aku dan mama bisa tinggal dengan nyaman di sini.
"Rumah ini ada 3 tiga kamar, kamar utama di atas, trus ada satu kamar di sini dan satu lagi di area dapur. Jaga-jaga kalau kamu mau pakai tenaga pembantu Rin"
"Di sana dapur kotor, dan itu dapor bersihnya"
"Oooo iya sampai lupa, itu yang di dekat kaca ada ruangan buta kamu nge-gym atau yoga. Biar makin sehat bentak aku di persidangan"
"Ada-ada aja kamu Sam"
Kami tertawa bersama. Menertawakan hidup yang sama sekali tidak pernah terlihat habisnya.
"Yaa udah, Tante ayo Sam antar ke kamar"
Mama ikut dengan Samuel ke kamar. Dia membawa semua barang mama. Sekalian menjelaskan kepada mama semua kerja fasilitas rumah.
Aku menatap ke arah kolam berenang. Banyak tanaman di sana. Apalagi dari sini aku bisa melihat langit. Anginnya sepoi-sepoi.
"Aku sudah mengurus semua berkas yang di perlukan"
"Besok atau lusa, sudah bisa di ajukan"
Samuel duduk di sampingku. Sama-sama merendam kakinya ke air.
"Kamu yakin Rin? Apa tidak sebaiknya kalian bertemu dulu?"
"Untuk apa lagi sih Sam? Aku gak mau semakin lama menjadi penghalang"
"Apa kamu memikirkan anak-anak nya?"
"Aku gak mau masa kecil mereka harus hancur hanya karena keegoisan aku. Lagian Lana itu sedang sakit, dia butuh support mas aditya, semakin cepat perceraian, semakin bagus"
"Aku harap kamu juga bisa bahagia setelah ini Rin."
"Aku gak bakal sampai ke titik ini, tanpa bantuan kamu Sam. Terimakasih sudah mau bantu aku"
"Kamu gak usah mikir itu Rin, teman kan harus saling bantu"
Aku tersenyum. Mengayunkan kakiku di dalam air. Dingin. Tapi ini berhasil membuat aku merasa sedikit relax.
"Papa tadi sudah menghubungiku, katanya kamu bisa mengantarkan surat lamaran sesegera mungkin. Yang pasti kamu harus selesai kan semua administrasi di kantor lama"
"Wahhhh, terimakasih banyak yaa. Ini lebih dari sekadar cukup bagiku."
(Bagian 2 dari bab 19)
"Mama, Karin berangkat dulu ya"
"Iyaa, hati-hati ya nak"
Aku melajukan mobilku ke kantor. Ada beberapa hal yang harus aku urus. Termasuk surat pengunduran diri.
"Kalau begitu, apa boleh buat. Semoga kamu bisa meraih karir yang lebih cemerlang yaa"
Begitulah kata atasan ku di kantor. Dia memang terkenal sebagai seseorang yang open minded. Aku sangat bersyukur telah menghabiskan 6 tahun karirku di firma hukum ini. Banyak yang aku pelajari dari para senior yang lebih dulu bekerja sebagai pengacara.
Setelah berpamitan dengan beberapa rekan kerja. Aku harus segera mendatangi kantor Samuel. Ingin segera mengajukan gugatan ke pengadilan.
"Mbak Karin"
Aku menoleh. Suara itu adalah suara Lana. Wanita itu datang dengan Zayyen.
__ADS_1
"Ontyyyy"
Bocah itu langsung berlari ke arahku. Aku bisa melihat jika Lana berusaha menahan anaknya. Tapi Zayyen tidak ingin berhenti. Dia berlari dengan cepat ke arahku. Aku hanya bisa diam. Berusaha tidak membalas pelukannya.
"Zayyen, sini nak"
"Gak mau, aku mau sama onty alin"
"Ontyyy, onty kenapa kita tidak jalan-jalan lagi?"
Aku hanya diam. Aku tidak tahan untuk membalas perkataannya. Tapi rasa benciku keapda mas aditya masih membara.
"Kok onty diam aja sih"
"Zayyen, ayo sama mama"
Bocah itu kembali berjalan dengan lunglai ke arah ibunya. Mungkin merasa sedih karena aku tidak bersikap seperti biasanya.
"Aku ingin bicara dengan mbak"
"Bicara apa?"
"Aku tahu mungkin mbak masih marah, aku paham"
"Tapi tolong kali ini mbak dengarkan aku dulu, aku mohon"
"Bicaralah"
Lana melirik ke sekeliling kami. Di sini banyak orang, mungkin dia berfikir untuk menjadi tempat yang lebih sepi.
"Bisakah kita berbicara di sana mbak?"
Aku berjalan terlebih dahulu. Aku tidak ingin banyak basa basi. Lana berjalan dengan perut buncitnya yang terlihat sangat berat. Wanita itu juga harus menggendong Zayyen yang sejak aku acuhkan tadi hanya bisa cemberut.
"Mbak, maaf sebelumnya kalau kehadiran ku dan anak-anak ku hanya membuat kamu terluka"
"Jujur mbak, aku juga tidak tahu jika mas Aditya memiliki istri"
"Kalau aku tahu, mungkin aku tidak akan menikah dengannya. Mungkin saja aku akan memilih untuk membesarkan Zayyen sendiri"
"Apa maksudmu? Bukannya Zayyen lahir saat kalian sudah menikah?"
"Tidak mbak, kami menikah karena kehadiran Zayyen dalam hidup kami"
Aku mencoba mencerna perkataan Lana barusan. Berarti Zayyen tercipta dari hubungan di luar nikah?
"Aku dulu bekerja sebagai sekretaris mas aditya, aku mengenal nya sebagai mas Bagas, tidak ada satupun orang di kantor yang tahu jika mas aditya sudah menikah."
"Stop... Aku tidak ingin mendengar nya"
"Mas aditya sangat mencintai kamu mbak, aku minta maaf"
"Apapun yang kamu katakan, aku tidak akan merubah keputusan ku. Pengkhianatan tetap akan jadi pengkhianatan."
"Lagian, untuk apa kamu memohon seperti ini. Bukannya kamu harusnya berbahagia? Kamu akan mendazmas Aditya seutuhnya lan"
Wanita itu menangis. Dia menggigit bibirnya.
"Mbak, kamu pasti tahu dengan kondisiku. Umurku tidak akan lama lagi mbak. Aku berharap jika mbak dan mas aditya kembali rujuk, aku bisa pergi dengan tenang. Karena aku tahu jika anak-anak ku kelak akan memiliki ibu sepertimu mbak"
Aku terdiam. Apa-apaan ini. Aku akan menjadi ibu bagi anak-anaknya nya? Aku tidak bisa berkata-kata, ini benar-benar aneh.
"Kamu pikir aku mau menjadi ibu mereka? Apa kamu tidak takut jika aku akan menjadi ibu tiri yang jahat?"
"Aku tahu dirimu mbak, hatimu lembut. Mana mungkin kamu akan menjadi ibu yang jahat? Ibu yang jahat bukan seperti kamu mbak"
Aku menatap Zayyen. Anak itu bersembunyi di belakang ibunya. Dia terlihat kaget dengan berdebatan kami. Aku tidak bisa seperti ini. Wajah polosnya membuat aku luluh.
"Sekarang kamu pergi, aku tidak akan pernah menjadi ibu untuk anak-anak kamu. Kamu sendiri lah yang harus menjaga mereka lan! Untuk itu tetaplah hidup"
Aku berbalik badan setelah mengatakan itu. Beberapa langkah, aku mendengar suara tangisan Zayyen.
"Momyyyy.........ontyyyyyy.....huhuhuhu"
Aku menoleh ke belakang, Lana jatuh pingsan. Aku tidak bisa egois sekarang ini. Perempuan itu juga seorang manusia. Dia juga tidak tahu akan keberadaan ku selama ini. Dia hanya korban.
"Lana, bangun"
Tapi dia tidak merespon. Aku langsung memanggil orang-orang di sana. Meminta tolong agar mereka mau menolong membopong Lana ke mobilku.
"Zayyen sayang, jangan menangis yaa. Momy akan baik-baik saja"
Aku berusaha untuk membuat Zayyen merasa aman. Anak itu sangat syok melihat ibunya terkapar. Dia masih menahan tangisnya sambil memeluk ibunya selama perjalanan ke rumah sakit.
"Suster, tolong...."
Lana di bawa ke ruangan pemeriksaan. Wajahnya sangat pucat. Aku takut sekali sesuatu terjadi kepadanya dan bayi yang ia kandung.
__ADS_1
"Zayyen, sekarang momy sudah di tolong dokter. Kita berdoa sama-sama yaa"
Bocah itu memelukku dengan erat. Aku menyesal telah mengacuhkan nya tadi.
Dalam kondisi kritis ini, mas aditya harus tahu kondisi Lana. Apapun yang terjadi ini semua akan berdampak pada bayinya.
Aku mencari-cari nomor mas aditya yang sempat aku blokir.
"Halo sayang, akhirnya kamu menghubungi mas. Kamu dimana Rin?"
"Sekarang tolong ke rumah sakit harapan ibu mas, Lana jatuh pingsan dan sekarang sedang kritis"
"Aku mohon kamu datang segera, aku muak lama-lama di sini"
Aku menutup telfon. Aku belum siap jika harus bertemu dengan mas aditya lagi.
"Zayyen, kita tunggu mama di sana ya"
Aku menunjuk ke arah kursi di depan ruang pemeriksaan Lana. Zayyen mengangguk lemah.
Aku segera menghubungi Samuel, dalam kondisi ini aku tidak ingin jika hanya bedua dengan mas aditya. Aku tidak akan sanggup.
"Aku akan segera ke sana, tunggu aku"
Pria itu akan segera sampai ke rumah sakit. Aku berharap jika dia lebih dulu sampai ke rumah sakit.
Cukup lama aku menunggu proses pemeriksaan Lana, tapi dokter tidak kunjung keluar dari ruangan. Aku mulai was-was dengan kondisi wanita itu. Apalagi jika tahu dia sedang mengidap menyakit dang dapat merenggut nyawanya.
"Dadyyyyy"
Zayyen melepaskan dirinya dari pelukanku. Dia berlari ke arah mad Aditya yang baru sampai. Pria itu menatapku. Aku langsung mengalihkan pandanganku. Tidak sanggup.
"Anak Dady"
"Momy, Dady"
"Iyaaa, momy akan baik-baik saja"
Hatiku campu aduk. Melihat kehangatan mas aditya kepada Zayyen membuat aku merasa bersalah ke adanya. Pria itu sepertinya benar-benar menginginkan seorang anak.
"Sayang.."
Mas aditya hendak menyentuh pundak ku, tapi langsung di jegat oleh Samuel. Pria itu telah sampai.
"Jangan sentuh Karin"
Amas aditya yang tidak terima langsung merasa marah.
"Karin itu istriku, terserah ku dong"
"Istri yang akan segera menjadi mantan istri, jadi tolong jaga tingkah laku anda terhadap klien saya ini"
"Sam...udah"
Aku mengisyaratkan ke pada Samuel untuk tidak meladeni mas aditya.
"Karin, apa kamu sudah makan? ayo ke kantin. Lagian anak itu sudah ada bapaknya. Kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab."
Samuel menarikku pergi. Ada benarnya Samuel, aku juga belum makan.
"Aku heran kenapa kamu bisa ketemu sama perempuan itu?"
Samuel berbicara dengan mulut yang penuh dengan mie.
"Dia datang ke kantor"
"Hah? Ngajak ribut?"
"Bukan, maksa aku memaafkan mas aditya"
"Lucu sekali, aku kira dia sama dengan kebanyakan kasus klien mu, pelakor yang lebih suka kalau istrinya sahnya bercerai"
"Huk huk"
Samuel tersedak. Aku menuangkan air ke gelas dan segera memberikannya kepada Samuel.
*Makanya kalau makan itu jangan banyak bicara, sudah kayak ibu-ibu komplek saja. Suka menggosip"
"Iyaa maaf-maaf"
"Terus rencana kamu sekarang gimana? Tetap mau di ajukan?"
Aku terdiam dan melahap mie instan di depanku.
"Aku mau tetap di teruskan, lagian aku mau Lana itu tetap hidup, tidak pesimis akan mati"
"Apa mau aku undur saja?"
__ADS_1
"Tidak usah, besok kita sudah bisa mengajukannya"
" Yaa sudah"