
Anindia Lana Bagaskara. Itu adalah nama yang cantik. Putri kecil Lana yang sekarang masih harus dirawat intensif di rumah sakit. Dia lahir dalam keadaan prematur dan beberapa gangguan pada tubuh mungilnya.
Aku dengar dari Inara, Zayyen belum mau masuk sekolah. Setiap hari masih sering menangis hanya untuk bertemu mamanya. Jujur aku sangat sedih ketika mendengar berita itu.
Hari ini tanggal 28 mei, hari dimana sidang perceraianku dan mas Aditya berlangsung. Hampir 2 minggu setelah gugatan yang aku layangkan ke meja hijau. Ini memang bukan keputusan yang paling tepat, tapi aku harus mengambil langkah ini.
Lana. Aku benar-benar minta maaf. Aku bukannya egois, tapi inilah pilihanku. Aku akan tetap menjadi ibu bagi anak-anakmu, meski bukan lagi menjadi istri mas Aditya. Aku akan merawat anak-anakmu, karena pertemanan kita. Tanpa iming-iming hubungan mu dan mas Aditya.
"Aku harap, kamu masih mau memaafkan aku Rin"
Itulah perkataan mas Aditya saat kami bertemu di pengadilan. Wajahnya lusuh, matanya merah. Akan sangat sulit baginya untuk merawat kedua anaknya sendirian.
"Untuk malam ini, biar Zayyen ikut aku saja, kamu bisa fokus untuk istirahat"
Mas Aditya menatapku.
"Kalau kita bisa merawat nya bersama, kenapa harus bergantian Rin?"
"Aku sedang tidak mau berdebat mas"
"Aku tidak berdebat, mas tidak ingin ada perpisahan di antara kita. Mas tahu mas salah tidak jujur Rin, tapi mas janji mas tidak akan melakukan kebodohan ini lagi"
"Nanti biar Samuel yang jemput Zayyen"
"Kenapa harus dia sih Rin? Apa kamu ada hubungan sama dia? Karena itu kamu pengen banget kita cerai?"
Aku menoleh ke arah mas Aditya dan tidak percaya dengan perkataannya. Apa maksudnya aku ini juga berselingkuh? Aku tidak sebajingan itu.
"Terserah kamu mau bilang apa, Samuel itu gak kayak kamu mas, jadi jangan kamu samain."
"Mas harus apa sih Rin, harus apa agar kamu mau maafin mas?"
"Mas fokus aja buat kerja dan rawat anak-anak mas, aku akan bantu sebisaku, sesuai janjiku dengan Lana."
Aku pergi meninggalkan dia. Mas Aditya bisa macam-macam jika aku meladeninya lebih lama.
Hari ini juga adalah hari pertama mama berjualan. Samuel sudah berada di sana sejak tadi. Buru-buru meninggalkan aku setelah persidangan. Katanya Superman harus segera menolong mamaku membereskan toko. Dasar pria aneh.
Saat sampai di sana, Inara dan mama Yuni juga berada di sana. Ada Zayyen juga. Baguslah, Samuel tidak perlu repot-repot untuk menjemput Zayyen ke rumah mas Aditya.
"Ontyy alin...."
"Hai ganteng, apa kabar?"
"Zayyen kangen banget sama onty"
"Onty juga kangenn....."
"Zayyen sejak tadi bantuin mama masak kue, pinter sekali"
Aku menatap Zayyen. Benar. Pipinya penuh dengan tepung kue. Aku mencubit lembut hidungnya.
"Kue buatan nenek enak bangetttt loh onty"
__ADS_1
"Enak karena dibantuin cucu nenek yang ganteng"
Mama dan Zayyen sama-sama melempar pujian satu sama lain. Aku hanya bisa tersenyum.
"Karin.....mama mau bicara"
Mama Yuni menarik tanganku menjauh dari kerumunan. Suaranya kini sangat lembut, tidak seperti biasanya.
"Ada apa ma?"
"Mama....mau minta maaf, mungkin keputusan kamu sudah benar-benar bulan Rin. Mama dan juga keluarga besar akan menerimanya. Tapi satu yang harus kamu tahu, semenjak Aditya menerima surat gugatan darimu, dia benar-benar hancur. Pulang kantor langsung mengurung diri di kamar."
"Menjadi ibu dari anak-anak Lana bukanlah tanggung jawab kamu Rin, tapi mama benar-benar berterima kasih karena kamu sudah mau membantu Aditya dan mau mengalah demi Zayyen dan Anindia."
"Karin dengan sadar melakukannya. Anak-anak itu butuh kasih sayang dari kita semua untuk melewati masa-masa sulit ini."
"Mama paham"
Mama Yuni memeluk ku dengan erat. Baru kali ini dia berbicara dengan suara yang begitu pelan dan lembut. Mungkin masalah yang terjadi diantara kami benar-benar membuatnya berubah.
(Bagian 2 bab 24)
"Ontyyy, bintangnya bagus banget yaa"
"Iyaaaa"
Zayyen menunjuk ke arah langit. Ada banyak bintang di sana. Kami bermain-main di dekat kolam berenang. Anak itu baru saja selesai menangis. Minta bertemu mamanya. Setelah aku bujuk, anak itu baru bisa tenang.
Aku menahan tangisku. Zayyen benar-benar kuat.
"Iyaaa, makanya Zayyen kalau kangen sama momy, Zayyen liat langit aja yaa"
Zayyen mengangguk dengan cepat. Lalu kembali melambaikan tangannya ke langit.
"Ontyyy...."
"Iyaa?"
"Zayyen mau ketemu Dady"
Aku terdiam. Apa aku harus mengantarkan Zayyen ke rumah mas Aditya? Atau harus bagaimana?
"Hmmmm.... kayaknya Dady lagi sibuk deh sayang"
"Yahhh..... Zayyen mau vidio call ontyy. Biasanya Dady gak sibuk kalau di vidio call"
Wajah Zayyen kembali mengerut. Anak itu akan menangis lagi jika aku tidak menuruti kemauannya.
Aku mengeluarkan ponselku. Membuka blokiran nomor hp mas Aditya. Sudah lama sekali aku tidak menghubunginya lewat nomor ini.
(My husband.......)
Lihatlah. Nama kontaknya masih sama seperti 6 tahun lalu. Aku belum sempat menghapusnya.
__ADS_1
Beberapa saat setelah aku menelfon, mas Aditya mengangkatnya. Aku langsung menyerahkan handphone ku ke Zayyen.
"Halooo dadyyyyy....."
"Hai gantengnya Dady, sedang apa nak?"
"Zayyen sedang melihat momy bersama onty alin"
"Melihat momy?"
"Iyaaa, ituuuu di langit Dady"
Mas Aditya tampaknya diam sebentar. Dia mencoba mencerna perkataan Zayyen barusan.
"Ohhh iyaa, Dady juga bisa lihat"
"Hihihihi.....Dady, kenapa Dady tidak ke sini?"
"Hmmm.....coba tanya ke onty alin, apa boleh Dady ke sana?"
Apa-apaan mas Aditya itu. Kenapa juga dia harus menggunakan Zayyen untuk kepentingannya sendiri.
"Ontyyy alin, apa boleh Dady ke sini?"
Aku hanya tersenyum. Apa yang harus aku katakan ke pada Zayyen.
"Hmm....gak boleh sayang, kan rumah Tante ini kecil. Dady kan tinggi, jadinya gak muat di pintu masuk."
Aku masih bisa mendengar mas Aditya menertawakan penjelasanku di sebrang sana.
"Tapi, om Superman bisa kok....."
"Iyaaaa itu karena Om Superman punya kekuatan"
"Dady......"
"Iya nak?"
"Apa Dady bisa beli kekuatan dulu? Biar bisa seperti om Superman. Nanti baru bisa masuk ke rumah onty alin"
Sumpah. Sepertinya aku salah menerangkannya ke pada Zayyen. Bocah ini benar-benar masih polos.
"Nanti Dady beli dulu yaa, kalau sudah, nanti Dady ke rumah onty alin"
"Zayyen, udah malam nih, waktunya bobo yaa"
Aku ingin sekali mengakhiri vidio call ini. Muak dengan mas Aditya.
"Dady udah dulu yaaa, i love you Dady"
"I love you to Zayyen, I love you Karin"
Aku langsung mematikan panggilan vidio. Apa-apaan sih dia. Aku bukannya salting, tapi tidak ingin saja mas Aditya memperlakukan aku seperti itu. Persidangan kedua kami masih lama, aku tidak ingin berubah pikiran hanya karena sikap manisnya itu. Tidak ingin.
__ADS_1