
Ku berlari menuju ruangan perawatan mas Aditiya. Aku tidak ingin sesuatu terjadi ke padanya.
"Mbak"
Inara dan mama duduk di depan ruang operasi. Wajah mereka kalut dan menatapku saat berlari ke arah mereka.
"Bagaimana Ina?"
Gadis itu memeluk tubuhku erat. Tangisnya makin menjadi. Aku tidak bisa seperti ini.
"Mas aditya sedang di operasi, ada beberapa pecahan kaca mobil yang masuk ke kakinya. Kepalanya juga terbentur mbak"
Tangis Inara pecah. Mama juga tidak bis menyembunyikan perasaannya saat ini. Anak laki-laki satu-satunya saat ini harus berjuang untuk bertahan hidup.
"Zayyen?"
Aku tidak melihat keberadaan Zayyen sejak datang tadi. Biasanya anak itu akan berlarian ke arahku.
"Zayyen tadi di jemput oleh neneknya mba, ibunya mbak Lana. Saat-saat seperti ini, Zayyen harus di jauhkan dari kecemasan kita semua."
Aku mengangguk. Rasanya baru kemarin aku bertemu dengan ams aditya. Pria itu masih sempat mengerjaiku.
Beberapa saat kemudian lampu ruang operasi padam. Dokter keluar dan langsung menyampaikan bagaimana kondisi mas Aditya.
"Pasien sudah selesai kami berikan tindakan, setelah ini pak Aditya akan dipindahkan ke ruang perawatan."
"Apakah semua baik-baik saja dok?"
Mama terlihat tidak sabaran. Wajahnya begitu khawatir menatap ke arah dokter.
"Ibu tenang saja, pasien akan segera sadar"
Aku ingin sekali bersujud syukur. Mas Aditya sekarang telah melewati masa-masa kritisnya. Dokter telah berhasil memberikan pertolongan ke pada mas Aditya.
Mas Aditya keluar dengan tubuh yang penuh dengan alat medis. Kaki dan kepalanya juga di perban. Aku tidak bisa menyaksikan ini semua. Pria itu di bawa oleh beberapa suster.
"Maaf mbak, untuk saat ini belum bisa masuk ya"
Salah satu perawat menghentikan kami. Dia segera menutup pintu. Kami hanya bisa menyaksikan mas Aditya dari dinding kaca. Pria itu tidak bergerak.
"Aditya....."
Mama Yuni dan Inara begitu terpukul. Mereka terus saja menangis menatap mas Aditya dari balik dinding kaca. Aku berkecamuk.
__ADS_1
Kenapa hal seperti ini bisa terjadi ke pada mas Aditya. Kenapa pria itu malah tidak fokus membawa kendaraannya.
Malam ini aku dan Inara yang akan mengawasi mas Aditya. Mama Yuni memiliki riwayat hipertensi dan terjaga cukup lama di malam hari tentunya sangat beresiko.
"Mbak....."
Inara terlihat sangat kelelahan.
"Kamu lebih baik ke mushola rumah sakit aja na, kamu bisa istirahat di situ. Biar mbak yang jaga mas Aditya. Semoga saja dia cepat siuman."
Gadis itu menatap ke arahku. Mungkin saja tidak tega hanya meninggalkan aku sendirian.
"Apa mbak gak kenapa-kenapa?"
Aku menggeleng dengan cepat. Aku akan baik-baik saja, lagian aku tidak merasa ngantuk. Besok pagi Inara bisa menggantikan aku.
"Ya udah mbak, kalau terjadi apa-apa kabarin Inara ya mbak"
Aku mengangguk. Gadis itu berjalan meninggalkan aku. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi mas Aditya belum sadarkan diri.
Aku masih bisa mendengarkan bunyi alat-alat medis di rumah sakit. Lorong ini terasa sangat sunyi. Mataku tidak lepas dari tubuh mas Aditiya. Pria itu membuat rasa sakutku hilang.
"Maaf buk"
Aku kaget. Karena memikirkan rumah sakit yang sepi, aku sampai berfikir yang tidak-tidak. Aku menatap ke arah datangnya suara itu. Salah satu perawat.
Aku segera mengangguk. Rasanya masih sangat syok untuk mengeluarkan kata-kata. Aku berjalan masuk ke ruangan mas Aditya.
Di ruangan itu ada satu sofa panjang dan satu kursi di dekat kasur mas Aditya. Aku berjalan menuju sofa. Sepertinya berbaring sebentar tidaklah masalah.
(Tinnnnnn......tin....)
Aku terbangun ketika mendengar suara yang nyaring. Ternyata sudah banyak dokter dan perawat yang memeriksa mas Aditya. Aku kaget. Berfikir mungkin saja terjadi sesuatu ke pada mas Aditya.
"Ada apa dok"
Suara ku panik meminta dokter menjelaskan sesuatu ke padaku. Dokter itu hanya diam dan fokus memeriksa kondisi mas Aditya. Tapi salah satu perawat menghampiri ku dan membawaku ke luar ruangan.
"Mbak tenang saja, dokter sedang memeriksa kondisi pasien. Tekanan darahnya berkurang cukup banyak. Jadi dokter harus fokus untuk memberikan yang terbaik"
Aku menatap kembali ke arah mas Aditya. Kondisi pria itu mulai tidak stabil.
"Apakah akan baik-baik saja sus?"
__ADS_1
Wanita itu mengangguk dan membawaku untuk duduk di kursi rumah sakit. Aku hanya bisa menatap ke arah kamar rawat mas Aditya. Ini sudah jam 7 pagi. Aku tidak sadar jika sejak tadi bunyi mesin itu telah lama berdesing. Dokter yang lewat di depan kamar mas Aditya langsung masuk dan memastikan suara itu. Terjaga tekanan darah mas Aditya mengalami penurunan. Dan itu cukup bahaya.
"Mbak Karin....."
Inara berlari setelah melihat ku di lorong rumah sakit.
"Ada apa mbak?"
"Mas Aditya tekanan nya menurun, dokter sedang memeriksanya"
"Astaghfirullah....."
Gadis itu juga terlihat sangat khawatir. Dia menggenggam jemariku dan kami saling menguatkan satu sama lain.
"Kak Rabecca akan pulang ke Indonesia kak, aku sudah memberi tahu kondisi mas Aditya, dan syukurnya dia mau mengalah dan mengerti untuk pulang segera"
Aku mengangguk. Rabecca itu adalah anak ke dua mama Yuni. Lanjut studinya di luar negeri. Selama menikah dengan mas Aditya aku jarang sekali memiliki kesempatan mengobrol dengannya, jarang mau pulang ke rumah. Bahkan sudah 3 tahun dia tidak pernah pulang ke Indonesia. Alasannya karena sudah nyaman di luar negeri, atau sedang sibuk. Kadang-kadang sering beralasan ke pada mas Aditya, kalau malas bertemu mama yang terus memaksanya untuk segera menikah.
Perempuan mandiri dan independen seperti Rabecca tidak mudah untuk di atur-atur. Tapi dibandingkan dengan Inara, Rabecca memiliki ke dekatan yang jauh lebih dekat dengan mas Aditya. Mungkin karena usia mereka tidak jauh berbeda. Hanya berjarak 2 tahun.
"Mungkin nanti malam dia sudah mendarat di Indonesia mbak"
"Syukurlah"
Kami sangat berharap Rabecca bisa datang, mas Aditya mungkin saja butuh support dari adik-adiknya. Apalagi sudah jarang berjumpa, pasti kedatangan Rabecca akan memberikan kemajuan ke pada kesehatan mas Aditya.
Dokter dan para suster keluar dari kamar rawat. Mereka berhenti dan menemui kami.
"Bagaimana kondisi nya dokter?"
Pria itu tersenyum dan membaca hasil pemeriksaan.
"Semuanya sudah kembali stabil. Kemungkinan tekanan darah pasien menurun karena pasien sempat sadar."
Aku dan Inara merasa bersyukur. Akhirnya mas Aditya berhasil melewati masa kritisnya.
"Tapi karena pasien sekarang sedang mencoba untuk benar-benar sadar, kami mohon untuk terus mengajak pasien berkomunikasi. Itu bisa merangsang kesadaran pasien"
"Terimakasih banyak dokter"
"Sama-sama Bu, kami permisi"
"Alhamdulillah Inara"
__ADS_1
Aku menatap ke arah adik mas Aditya. Gadis itu juga tersenyum ke arahku. Kami berpelukan. Semua sudah mulai membaik.
"Alhamdulillah mbak"