
"umi, saya pamit dulu ya"
Samuel berpamitan dengan umi. Ini sudah sangat sore. Aku juga harus segera pulang. Takut mas Aditya khawatir seperti kemarin.
"Besok jangan sampai telat, kayaknya besok aku bakal jadi lawan kamu lagi"
Aku tersenyum. Lagi dan lagi. Akhir-akhir ini Samuel terus saja menjadi lawanku di persidangan. Bahkan di kasus pencemaran nama baik ini, aku tetap akan bertemu dengan dirinya.
"Yaaaaa"
Kami berpisah. Arah kami memang berlawanan. Jalanan sudah mulai ramai. Jam pulang kantor. Aku melirik ke layar handphone ku, berharap malam ini mas Aditya akan pulang. Aku harus meminta maaf kepadanya, walau seharusnya dialah yang harus meminta maaf telah menamparku tempo hari.
20 menit berkendara, mobilku berhenti di garasi rumah. Mobil mas Aditya tidak terparkir. Ah sudah lah. Mungkin dia memang tidak akan pulang lagi malam ini. Entah masih sibuk lembur atau memang belum siap bertemu denganku.
Aku masuk ke dalam rumah. Rumah ini cukup besar untuk kami bedua. Aku kadang masih sering kewalahan hanya untuk membersihkan setiap sudutnya.
"Assalamualaikum, mbak Karin"
Itu suara Inara. Gadis itu berdiri di depan pintu utama. Dia melambai ke arahku.
"Masuk Na"
Dia berjalan dengan beberapa paper bag di tangannya. Dari kejauhan saja aku sudah bisa menebak jika itu adalah kue buatannya. Harum dan menggoda selera.
"Ini untuk mbak Karin, mbak harus coba"
Aku membuka paper bag itu, berusaha mengintip.
"Apa ini Na? Buatan mu?"
Gadis itu mengangguk sambil mengeluarkan beberapa box kue. Cantik-cantik rupanya.
"Wahh, wangi banget na"
"Iyaa mbak, ini semua resep baru aku. Belum launching sih di toko, aku mau mbak nilai dulu rasanya"
Aku mengangguk. Lalu membuka salah satu box. Bau kayu manis yang kuat. Aku bisa merasakan kenikmatannya hanya dengan mencium aromanya.
"Enak banget na, lembut. Trus aroma kayu manisnya juga pas"
"Coba yang ini juga mbak, ini ada selai kacangnya di dalam"
Aku meraihnya dan mencoba. Memang benar-benar enak. Inara tidak pernah gagal hanya untuk membuat kue-kue ini.
"Enak semua, mbak jadi bingung gimana menilainya"
"Itu berarti kuenya berhasil mbak, Inara jadi senang"
__ADS_1
"Kamu itu memang paling pintar masak kue, mbak aja iri sama kamu. Boro-boro bisa masak kue kayak gini, masak makanan kesukaan mas Aditya aja masih sering keasinan"
Kami tertawa. Itu memang benar-benar terjadi. Aku tidak punya waktu untuk belajar memasak. Mas Aditya juga tidak menuntut ku untuk bisa segalanya. Katanya yang terpenting aku bahagia saja. Itu sudah cukup untuk menguatnya ikut bahagia.
"Kalau belajar pasti bisa kok mbak, ini semua juga berkat belajar di Paris."
"Inara"
"Iyaa mbak?"
"Menurut kamu kalau mbak mengadopsi anak, mas Aditya bakal setuju atau gak yaa?"
"Hmmmmm, menurut Inara, mas Aditya pasti setuju aja kalau mbak juga suka, lagian kan.... maksudnya Inara pasti mas Aditya setuju kok mbak"
"Begitu yaa, aku ada kepikiran mau mengadopsi anak, tapi gak sekarang juga. Mungkin 1 atau 2 tahun lagi. Butuh research panjang dulu"
Gadis itu mengangguk.
"Mbak gak perlu harus mikirin perkataan mama, kan mbak tahu sendiri mama orangnya gimana. Egois"
Gadis itu tahu betul watak ibunya. Dia juga pernah di posisi yang memperhatikan. Dilarang kuliah ke Paris dan dipaksa untuk melakukan hal yang ia tidak suka.
"Dulu, waktu papa masih hidup, mama pasti gak bisa macam-macam. Soalnya ada papa yang suka marahin mama kalau udah keterlaluan. Sekarang, papa udah gak bisa bantu kita lagi, mbak"
"Iyaaa, mbak paham kok na"
Aku tersenyum. Aku bersyukur jika adik iparku sangat mengerti kondisi ku. Dia tidak pernah berada di pihak siapapun. Aku memeluknya.
"Terimakasih ya na"
"Inara yang mesti berterimakasih ke mbak, mbak Karin udah mau jadi kakak Inara, itu sudah cukup Ina mbak"
Kami tertawa bersama. Lalu tiba-tiba suara mobil mas Aditya masuk ke dalam garasi rumah. Aku Kira dia tidak akan pulang malam ini. Tapi ternyata dia datang.
"Ehh mas Aditya udah pulang, sini mas! Ina bawa kue nih"
Gadis itu memanggil abangnya. Mas Aditya tampak sangat lelah.
Aku hanya menatapnya. Dia pun juga menatapku. Tapi dia sepertinya belum berani untuk memulai pembicaraan. Mungkin masih merasa bersalah.
"Mas mau bersih-bersih, kalian lanjut saja"
Mas Aditya berjalan menuju kamar kami. Ia menolak ajakan Inara.
"Ya udah deh mbak, Inara titip aja ini untuk ams Aditya. Inara mau pulang, takut mama cariin. Nanti heboh lagi"
Setelah kepergian Inara, aku bergegas menyusul mas Aditya ke kamar. Dia tengah berada di kamar mandi. Aku langsung mengambil stelan pakaian di lemari. Lalu menaruhnya di tempat tidur.
__ADS_1
Walaupun dalam kondisi yang sedang tidak akur, tugasku tetaplah harus melayani suamiku. Aku tidak boleh lalai.
Sambil menunggu mas Aditya, aku memeriksa beberapa laporan dan berkas untuk persidangan besom pagi. Aku harus mengecek lagi, agar tidak ada yang keliru.
Mas Aditya keluar kamar mandi. Dia melirik sekilas ke arahku. Lalu pandangannya beralih ke pakaian di atas tempat tidur. Dia meraihnya dan mengenakan itu.
"Rin....."
Aku menoleh. Mas Aditya sudah berada di sampingku.
"Mas minta maaf ya, mas hilang kendali hari itu"
Aku menatapnya. Mencari-cari ketulusan dari sorot mata pria itu.
"Karin juga minta maaf, seharusnya aku berterus terang."
"Mas tahu belakang ini mas jarang ada waktu bersama kamu, mas minta maaf ya"
Dia memelukku. Aku luluh. Mas Aditya selalu saja bisa membuat aku mudah untuk memaafkannya.
"Karin mengerti kok dengan kondisi mas, seharusnya Karin gak marah-marah soal itu. Karin hanya kaget dengan perkataan mama kemarin, jadi terbawa emosi"
"Jadi, kemarin kamu kemana saja sayang? Mas khawatir sekali dengan kondisi kamu"
"Jadi, Karin kemarin ketemu mama kandung Karin."
Mas Aditya langsung syok mendengar itu. Selama ini dia hanya tahu jika aku menghabiskan hidupku di panti, aku juga tidak pernah mengatakan jika mama ku masih hidup.
"Maksudnya sayang?"
"Mas tenang dulu, Karin juga kaget tahu jika mama masih hidup"
"Karin berdoa telah menolak kenyataan tentang dia"
"Mas mengerti, kamu tidak perlu harus merasa bersalah seperti itu sayang"
"Kalau begitu, bagaimana keadaan mama mu? Apa dia sehat?"
Aku mengangguk. Mama pasti sangat senang jika bisa bertemu dengan menantunya.
"Jadi, kapan mas bisa bertemu dengan mama?"
Pria itu menatapku. Aku menunggu dia berbicara dan mengatur jadwalnya sendiri.
"Secepatnya sayang, tapi tunggu mas ada cuti panjang yaaa. Agar kita bisa sekalian berlibur di sana"
Aku mengangguk. Aku sudah menduga jika mas Aditya akan memberikan jawaban seperti itu.
__ADS_1