AKTA Perceraian

AKTA Perceraian
Pemakaman


__ADS_3

Hampir 4 jam operasinya Berlangsung, tapi lampu tanda selesai belum juga padam. Kami terus saja menanti dengan was-was di balik pintu.


Mas aditya sejak tadi sudah hilang dari kursinya. Mungkin ingin menenangkan pikiran. Sedangkan Samuel, mama, Inara dan juga Zayyen menunggu di kantin.


Aku tidak akan kemana-mana. Lana akan baik-baik saja. Dia tidak akan meninggalkan anak-anaknya. Aku tidak akan menjadi ibu pengganti.


Beberapa saat setelah itu, lampu operasi padam. Aku reflek berdiri. Dokter keluarga dengan wajah yang membuat aku takut.


"Bagaimana dokter?"


Dia terdiam. Aku mulai was-was dengan apa yang akan dokter ini sampaikan.


"Alhamdulillah bayi perempuan dengan berat 2,1 kg telah lahir dengan selamat"


Aku menutup mulutku. Aku tersenyum, bayi Lana selamat.


"Lalu ibunya? Dia selamat kan dokter?"


"Mohon maaf Bu, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tuhan berkehendak lain. Ibu Lana meninggal pada pukul 18.23 wib, 5 menit setelah bayinya berhasil kami angkat"


Aku luruh ke lantai. Kakiku lemah. Tidak. Perempuan itu benar-benar jahat, kenapa dia harus meninggalkan anak-anaknya. Dia bahkan belum menamai putrinya.


"Tidak dokter..... bagaimana bisa?"


Mas aditya dan yang lainnya bergegas menghampiri ku. Menatap ke arahku dengan wajah ketakutan.


"Permisi"


Dokter itu meninggalkan kami. Meninggalkan aku yang belum siap menjelaskan apa yang telah terjadi ke pada Lana. Wanita malang itu telah meninggal kita hari ini.


"Ada apa Karin? Kenapa?"


"Bayi Lana lahir dengan selamat,"


"Alhamdulillah"


Semuanya bersujud syukur. Tapi tidak dengan mas aditya yang tampaknya sudah tahu apa yang terjadi dari sorot mataku.


Dia mendekat.


"Katakan, apa yang terjadi kepada Lana? Katakan Karin!"


Mas aditya mengguncang tubuhku. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan nya. Lihatlah dirinya. Mas aditya memukul kepalanya. Tangisnya bahkan tidak terdengar. Aku juga hancur.


(Bagian 2 bab 23)


Pemakaman Lana berjalan lancar. Dia akan dimakamkan di kampung halamannya. Hujan rintik-rintik mengantarkan Lana ke peristirahatan terakhirnya. Meninggalkan kami yang masih belum percaya dengan apa yang terjadi.


Zayyen. Anak itu terus saja menangis saat melihat tubuh kaku ibunya. Lelah menangis, dia akhirnya tertidur.


Sedangkan mas aditya masih setia di samping makam Lana. Dia tidak berpindah. Apakah mas aditya sangat mencintai ku? Apakah lebih dari rasa cintanya kepadaku? Apa Lana benar?

__ADS_1


Samuel berdiri di sampingku. Pria itu merangkul ku erat. Memayungi kami dari hujan yang semakin lebat.


"Ayo Rin."


Aku harus pergi. Semuanya telah usai. Lana sudah berbahagia, dan aku akan berpisah dengan mas aditya.


"Ma....Karin akan pulang, mas aditya masih di makam Lana."


Mertuaku hanya mengangguk. Aku menatap wajah Zayyen yang terlelap. Anak ini terlalu kecil untuk merasakan kehilangan seberat ini.


"Karin......."


"Iyaa ma?"


"Mama harap kamu bisa memikirkan semuanya dengan baik-baik"


Aku mengangguk pelan. Soal perceraian lagi ya? Aku juga masih bingung dengan apa yang akan terjadi kepada ku.


"Karin....ayo"


Samuel sudah menantiku. Kami akan segera pulang ke kota.


Di depan pintu, mas aditya menatapku. Pria itu baru saja kembali dari makam. Bajunya basah kuyup. Kalau saja kami baik-baik saja, mungkin aku sudah mengomelinya karena basah oleh hujan. Nanti kamu pilek kataku. Tapi sekarang semuanya terasa berat.


Samuel menjemput ku dengan payung. Pria itu meraih jemariku dan membawaku ke pelukannya. Tubuhku tenggelam di dalam mobil. Namun, aku masih terus menatap ke arah mas aditya. Kini pria itu telah hilang dari mataku.


"Ayo"


Mobil kami berjalan meninggalkan rumah keluarga Lana. Meninggalkan semua yang lambat laun juga akan aku lupakan.


"Pagi Karin"


Aku membalas senyuman om Anton. Ayahnya Samuel. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja kembali di firma hukum miliknya. Kantor ini sudah banyak berubah. Banyak fasilitas yang di ganti.


"Om senang sekali kamu mau bergabung kembali"


"Karin juga seneng om. Ini sebuah hal yang luar biasa untuk karir Karin"


"Kamu ini bisa saja, firma ini butuh pengacara seperti kamu. Disiplin, ambisius dan taat. Itu yang dibutuhkan"


Aku tersenyum mendengarkan pujian yang diberikan oleh om Anton. Dia yang mengajakku berkeliling kantor. Kami banyak bercerita terkait beberapa kasus yang aku tangani, lalu bernostalgia masa-masa magang ku dulu.


"Samuel walaupun sudah kuliah ke Amerika, tapi belum bisa mengalahkan kamu Karin"


"Anak itu tetap saja bekerja sesuka hatinya. Kalau saja beberapa kasus itu tidak berhubungan dengan mu, dia tidak ingin mengambilnya."


Aku terdiam. Berarti semua kasus yang Samuel tangani belakangan ini karena aku juga terlibat?


"Karin gak tahu soal itu om. Dia bilang itu kasus pertama dia setelah balik dari Amerika."


"Anak itu suka ngeles. Banyak akal. Om saja pusing menghadapinya. Seharusnya dia bisa menangani kasus besar, tapi ini malah memilih kasus perceraian. Tidak nyambung dengan kuliah yang ia dalami"

__ADS_1


"Apalagi jika sudah kembali dari bertemu kamu, anak itu seperti orang gila. Tertawa sendiri"


Apa perempuan yang Samuel bicarakan di tempat umi adalah aku? Apa selama ini dia memiliki perasaan terhadap ku?


"Pasti lagi ngomongin aku kan?"


Samuel datang menghampiri kami. Pria itu tersenyum ke arahku.


"Kan, panjang umur sekali."


"Papa, jangan berusaha menjelekkan ku di depan Karin."


"Siapa juga yang menjelekkan ku, dasar anak ingusan"


"Anak ingusan ini, anak papa juga"


Mereka tertawa. Aku juga ikut. Tapi semua yang dikatakan om Anton barusan membuat aku kepikiran. Samuel memang sangat baik. Dia bahkan melakukan semuanya yang seharusnya mas aditya lakukan. Dia mengetahui semua yang tidak mas aditya tahu.


"Ya sudah, papa ingin bertemu klien"


Kini hanya kami yang tersisa. Om Anton akan menemui kliennya.


"Papa bilang apa saja?"


"Tidak ada"


"Tua bangka itu benar-benar menyebalkan. Seharusnya dia sudah pensiun, tapi masih saja gila kerja."


"Semua orang yang mencintai pekerjaannya, pasti juga begitu"


"Aku tidak akan seperti dia"


"Oh yaa?"


"Untuk apa? Aku bisa menghabiskan masa tuaku dengan liburan sepanjang hari. Menghabiskan harta. Jalan-jalan dengan istriku"


"Bagaimana caranya? Kau bahkan belum memiliki calon"


Samuel terdiam.


"Aku masih menunggunya. Aku harus sabar sampai dia juga merasakan apa yang aku rasakan."


Aku berusaha mencernanya. Apa itu? Apa benar Samuel mencintaiku? Seharusnya pria se mapan dia sudah memiliki banyak wanita. Dia bahkan bisa memilih sesuka hatinya. Tapi bahkan sampai sekarang, Samuel tidak pernah terdengar dekat dengan wanita.


"Aku berharap wanita itu akan menyadari perasaannya kepada mu"


"Aku juga berharap!"


"Sudah, jangan malah membicarakan percintaanku! Ada banyak pekerjaan yang harus kamu lakukan, anak baru!"


Aku tertawa. Pria ini benar-benar luar biasa. Selalu bisa membuat ku kembali tertawa.

__ADS_1


"Awas kau yaaa"


Samuel berlari keluar ruangan. Aku akan mengejarnya, akan aku pukul dia karena berani-beraninya mengejek ku.


__ADS_2