
"kamu gak mau tidur juga?"
Aku bertanya kepada mas Aditya yang masih sibuk membereskan peralatan mainnya tadi. Pria itu menggeleng pelan.
"Biar aku aja yang beresin nanti, kami istirahat saja"
"Gak usah, ini udah mau selesai"
Pria itu meletakkan bagian terakhir ke dalam kotak. Lalu menaruhnya kembali ke dalam lemari.
"Kamu pindah kantor ya?"
Mas Aditya berjalan mendekat ke arahku. Pria itu hendak mengambil air minum di galon.
"Iya, ada tawaran yang lebih bagus"
Dia meneguk minumannya hingga habis. Mas Aditya menarik kursi lalu duduk di depanku.
"Kamu dekat dengan samuel?"
Kenapa tiba-tiba mas Aditya bertanya tentang Samuel ya? Apa mas Aditya cemburu?
"Lumayan, sebagai teman. Bukannya Samuel juga temen mas Aditya waktu jaman kuliah dulu?"
Benar. Samuel lah yang sudah memperkenalkan mas Aditya ke padaku. Mereka ini satu SMA. Satu tongkrongan. Mas Aditya ini dulu ketua OSIS saat SMA, lalu bisa masuk ke fakultas ekonomi dengan universitas yang sama dengan aku dan Samuel.
"Iyaa, dulu. Sekarang sudah bukan"
Tapi anehnya, semenjak pernikahanku dengan mas Aditya, hubungan mereka berdua juga kandas. Aku tidak pernah melihat mereka akur lagi. Aku juga tidak pernah mencoba untuk mencari tahu alasannya.
"Dia pria baik, bukan seperti aku"
Aku menatap ke arah mas Aditya. Kenapa dia tiba-tiba berbicara seperti itu?
"Aku ingin istirahat dulu, kamu kalau mau pulang, pulang saja. Terimakasih sudah mau membantu aku dan juga Zayyen."
Mas Aditya berdiri dari duduknya. Pria itu tidak menatapku. Dia langsung saja berjalan menaiki tangga menuju kamar.
Bukannya tadi dia menyuruhku untuk stay di sini? Kok sekarang dia menyuruhku untuk pulang. Benar-benar aneh.
Aku tidak ingin ambil pusing dengan tingkah laku mas Aditiya. Sebentar lagi jam makan siang, setidaknya aku ingin memasak makanan yang enak untuk Zayyen. Biar nafsu makannya meningkat.
Aku meraih ponsel di saku bajuku. Mama pasti bisa membantu. Aku butuh guru yang jago memasak sepertinya.
__ADS_1
"Halo ma, Karin mau nanya"
"Apa nak?"
"Resep masak ayam bakar apa ya? Karin mau masak makan siang untuk Zayyen"
Mama menjelaskan semuanya dengan rinci. Dia juga membantuku untuk menakar bumbu yang di gunakan. Kalau salah perhitungan, ayamnya bisa tidak enak. Jadi sia-sia aku memasak siang ini kalau sampai rasa makanannya tidak enak.
"Terus apa lagi ma?"
"Oooo ini di olesin aja kan ya?"
Aroma ikan bakar memenuhi seisi rumah. Setelah 2 jam berkutat dengan dapur, akhirnya ayam bakar ku sudah matang. Lihatlah, semua bumbunya menutupi dagingnya. Apalagi saat di potong daging masak dengan sempurna.
Aku buru-buru menata semua menu makan siang hari ini di meja makan. Sudah pukul 1 siang. Zayyen harus aku bangunkan.
Tapi seketika hendak untuk pergi ke kamarnya, Zayyen sudah lebih dulu berjalan ke arahku. Wajah bantalnya masih sangat pekat. Dia berjalan dengan mengucek-ngucek matanya.
"Ontyy...."
"Hei ganteng, sudah bangun ya?"
"Ayo sini, kita makan siang dulu"
Aku membantu Zayyen untuk naik ke kursi makan. Anak itu langsung meminum air di atas meja. Sepertinya sangat haus setelah bangun tidur.
"Wangi banget"
Aku yang menyadari kedatangannya langsung mengambilkan piring. Mengisi piring itu dengan beberapa sendok nasi dan satu paha ayam.
Kebiasaan sebelum masalah ini terjadi masih terbawa-bawa oleh ku. Melayani mas Aditya di meja makan adalah rutinitas yang paling aku sukai. Pria itu hampir tidak pernah mengkritik masakanku. Padahal rasanya tidak pernah enak.
Mas Aditya menatap piringnya. Mungkin saja dia ragu kalau masakanku kali ini cukup bisa di terima oleh lidah.
"Tenang saja mas, tidak asin kok"
Pria itu menatapku. Lalu mulai menyantap makanan di hadapannya. Aku hanya bisa tersenyum di dalam hati. Ini kali pertama aku berhasil memasak ayam bakar yang lezat. Bisanya kalau sedang ingin makan ayam bakar, aku dan mas Aditya hanya memesan lewat gofood. Aku tidak berani membuatnya. Akan memakan waktu yang cukup lama.
"Enak sekali onty"
Zayyen melemparkan pujian ke arahku. Aku snagat tersanjung dengan perkataannya barusan.
"Kamu belajar masak ya?"
__ADS_1
Mas Aditya masih lahap menyantap makan siangnya.
"Itu resep mama, dia yang bantu tadi masak"
Mas Aditya hanya ber o ria. Setelah bertanya pria itu langsung fokus kembali dengan piringnya. Aku menatap mereka berdua dengan perasaan puas. Tidak sia-sia bergulad dengan dapur hampir 2 Jamaan. Kalau dibandingkan dengan bekerja, 2 jam mungkin bisa bertemu dengan 2 klien sekaligus. Itupun kami bertemu dan hanya santai di cafe. Berbincang sambil meminum kopi.
(Bagian 2 bab 28)
"Onty pulang dulu ya sayang"
Matahari sudah mulai tenggelam. Panas tubuh Zayyen dan mas Aditya sudah turun. Aku tidak perlu menunggui mereka lebih lama lagi, toh ada mas Aditya yang sudah dewasa dan sehat. Dia bisa membantu Zayyen jika panas anak itu kembali tinggi.
Aku melambaikan tanganku ke luar jendela. Siang tadi hujan berhasil membasahi jalanan. Udara langsung berubah drastis. Pagi hingga siang cuaca sangat panas, tapi dengan cepat juga menjadi dingin.
Kalau kata orang tua, cuaca seperti ini bisa dengan mudah merusak metabolisme tubuh. Paling utama untuk anak-anak seusia Zayyen.
"Kenapa Sam?"
Sejak tadi pagi Samuel memang sudah mencoba menghubungi ku. Tapi karena harus sibuk mengurus 2 orang yang sedang sakit, aku sampai mengabaikannya.
"Kamu di mana sih Rin? Libur kerja tapi tidak bilang-bilang"
"Iyaa maaf, tadi malam Zayyen panas tinggi. Aku jadi harus menginap."
"Anak itu sakit? Apa sekarang dia baik-baik saja?"
"Iya, dengannya sudah turun*
"Syukurlah"
"Besok kamu datang pagi kan Rin? Ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan untuk kasus Sabtu depan"
"Iyaa bisa kok"
"Ya sudah, hati-hati menyetirnya"
"Iyaa, daaa"
Aku memutuskan sambungan telfon. Jalanan malam ini cukup macet. Mungkin karena hujan tadi mengakibatkan banjir yang akhirnya menutup akses jalan. Ada juga beberapa pengemudi yang harus menunggu hujan reda untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Itu menjadi salah satu penyebab macet di ibu kota.
Aku menyetel musik. Lagu hindi dan beberapa musik jazz lainnya benar-benar bisa membuat aku merasa bahagia. Apalagi di tengah suasana macet. Pikiran yang awalnya mumet bisa menjadi baik kembali.
"Halo ma, mau Karin belikan sesuatu? Karin mau balik nih ke rumah"
__ADS_1
"Gak usah, mama juga udah masak kok. Kamu hati-hati aja yaa"
Rencananya jika mama mau menitip batang, aku akan dengan senang hati berhenti di supermarket. Dari pada besok pagi mama repot-repot membelinya di toko dekat rumah. Lebih untung juga kalau beli di toko besar seperti supermarket.