
"Mbak Karin, ini ada titipan"
Salah satu pegawai membawakan satu buket bunga ke meja ku. Aku kaget, perasaan tidak pernah memesan bunga.
"Dari siapa lau?"
"Gak tahu mbak, tapi kayaknya ada surat deh"
Aku menerima bunganya. Lalu segera mencek surat yang terselip di tengah bunga.
"Makasih ya lau"
"Iyaa mbak, sama-sama. Permisi yaa"
Aku memerhatikan bunga itu. Mawar merah yang di gabungkan dengan beberapa bunga kering. Aku sangat suka bunga ini. Perpaduan yang indah.
Aku membuka surat yang terselip.
"Semoga harimu bahagia ya"
Hanya sepenggal kalimat pendek yang aku terima. Tidak ada penjelasan dari siapa bunga ini berasal. Aku meletakkannya kembali. Tidak ingin menduga-duga siapa dalangnya. Yang pasti bunga ini sangat indah.
"Karin, ayo"
Samuel berjalan masuk ke ruangan. Hari ini kami ada meeting dengan klien. Aku dan Samuel yang akan mengurus kasusnya.
Kami akan berjumpa di salah satu cafe. Kasus kali ini sedikit lebih rumit. Kasus penculikan anak. Aku tidak habis pikir setelah membaca pengaduan yang di berikan oleh klienku. Dia menuntut keluarga pacar anaknya atas tuduhan penculikan anak. Aku cukup heran dengan apa yang terjadi di tengah masalah mereka.
Anak klienku ini memiliki hubungan dengan pacarnya hingga melahirkan seorang anak. Namun kedua keluarga tidak ingin menikahkan mereka, tapi mereka semua saling menuntut hak asuh anak.
Karena bayi itu tinggal bersama ibunya, dan kondisi semakin memanas, bayi itu akhirnya di culik oleh keluarga ayahnya. Aku juga heran, apa pantas seorang ayah di sebut sebagai seorang penculik.
Kami sampai ke sebuah kafe. Itu adalah klien kami. Dia datang dengan putrinya. Ibu dari bayi itu. Wajahnya seperti sangat menderita, menahan rindu.
"Seharusnya mama tidak perlu melarang kami untuk menikah"
Wanita itu tidak terima dengan apa yang terjadi ke padanya. Dia tidak membela ataupun memperkuat tuduhan ibunya.
"Kami bedua saling mencintai, dia ayah anak ku, ini tidak akan terjadi kalau kalian tidak egois"
"Kamu itu masih kecil, gak usah sok tahu apa yang benar untuk kamu"
Mereka beradu argumen. Aku menatap ke arah Samuel yang juga melemparkan tatapan tidak percaya ke padaku.
__ADS_1
"Kita akan berusaha membantu sebisa mungkin, bagaimana dengan upaya mediasi?"
Dalam melihat kasus ini, ada baiknya untuk tidak terlalu memihak klien. Kami hanya perlu memberikan saran yang nantinya bisa mereka putuskan sendiri.
Gugatan sudah di ajukan ke pengadilan. Para penyidik meminta masalah ini untuk lebih dulu melalui proses mediasi antar keluarga. Tapi klien kami menolak hal itu. Mereka hanya ingin ayah dari bayi menjadi tersangka dan bayi itu bisa kembali ke keluarga mereka.
"Dalam kasus seperti ini, kami sarankan agar kita bisa berbicara dengan pihak lawan secara kekeluargaan"
Wanita tua itu menatap tidak percaya. Mungkin saja mereka berharap kami merekomendasikan mereka untuk melewati proses mediasi. Dan mengikuti semua rencana mereka.
"Tolong ma, sekali ini saja mama turuti kemauan aku"
Ibu bayi itu terus memohon. Wajahnya terlihat muak dengan apa yang terjadi. Dia hanya ingin hidup tenang.
"Baiklah, kami akan mengikuti semua perkataan penyidik"
Aku dan Samuel akhirnya bisa bernafas lega. Diskusi yang alot ini akhirnya bisa selesai juga. Andai saja dari awal wanita tua ini bisa menurunkan egonya, pasti semua akan mudah terselesaikan.
Setelah mereka berpamitan, aku baru tahu jika keluarga mereka dulu saling kenal. Namun saat ini bukan hanya konflik perebutan hak asuh anak, tapi juga dendam di antara dua keluarga lah yang akhirnya mendominasi permasalahan ini. Mereka sama-sama memiliki ego dan gengsi untuk menikahkan kedua anak mereka.
Kisah yang malang. Terlibat cinta ditengah permusuhan keluarga mereka. Tapi apa boleh buat, saat ini para orang tua seharusnya mengesampingkan ego mereka dan bisa mengerti akan kondisi anak-anak mereka.
"Rumit juga ya"
"Aku jadi sangat lapar, apa kamu ingin memesan sesuatu?"
Samuel menawariku makanan. Pria itu membuka daftar menu. 3 jam hanya minum air saja tentu jelas tidak cukup.
"Apa yang favorit di sini?"
"Aku juga tidak tahu, baru pertama kali ke sini"
"Aku kira kamu tahu, apa kita ganti restoran saja?"
"Memangnya ada rekomendasi?"
"Ada, kemarin aku baru makan di situ"
Samuel segera berdiri. Kami akan makan siang di tempat yang lain. Tidak ingin kecewa dengan menu makanan di restoran ini.
"Jauh tidak?"
"Tidak, palingan hanya 10 menit"
__ADS_1
Mobil melaju menembus kepadatan ibu kota. Jam makan siang sudah masuk. Sudah banyak para pekerja yang memenuhi setiap tempat makan. Kalau punya gaji tinggi, kebanyakan dari mereka akan masuk ke mall untuk mengunjungi restoran cepat saji. Ada juga yang ingin irit dengan makan di warung kaki lima.
Kalau bagiku, itu semua sama saja. Mau mahal ataupun murah, asalkan rasanya enak, aku juga akan tetap menikmatinya.
Mobil kami berhenti di salah satu restoran jepang. Pasti akan makan sushi atau ramen. Aku menoleh ke arah Samuel. Aku kira dia hanya akan membawaku ke restoran Indonesia, ternyata malah ke sini.
"Ada apa? Apa kamu gak suka makanan jepang?"
"Bukan begitu"
"Ya sudah, ayo"
Kami di sambut dengan sangat sopan oleh pelayan restorannya. Tema tempat makan ini cukup unik. Kita akan duduk di depan chef yang akan memasakkan makanan langsung di depan mata pengunjung.
Hiasanya sangat otentik sekali dengan jepang. Mulai dari peralatan makan hingga ke dekorasi. Aku seperti sedang di jepang. Padahal ini hanya di tengah ibu kota.
"Kamu mau pesan apa?"
Samuel menyerahkan daftar menu ke arahku. Bingung sekali dengan semua makanan ynag tertera di sana. Semua terlihat enak, aku pusing memilihnya.
"Bingung"
"Aku kemarin makan ramennya, enak sekali"
"Kalau begitu aku mau itu saja"
"Tidak ingin mencoba ini?"
Samuel menunjuk ke arah nasi kari khas jepang. Memang terlihat sangat enak sih. Apalagi ada telur jepang di atas nasinya.
"Aku jadi bingung, pesan dua saja deh"
Samuel tertawa. Lalu dengan cepat membuat pesanan. Chef langsung memasakkan pesanan kami. Sesekali ada aktraksi api dan telur yang melompat ke udara. Aku benar-benar terhibur dengan semua ini.
"Bagaimana rasanya?"
Kalau boleh jujur, kari ini enak sekali. Aku belum pernah makan kari jepang yang sangat otentik. Mungkin karena yang masak adalah orang jepang asli, jadi rasanya sangat mirip dengan yang ada di jepang.
"Enak banget, aku suka"
"Coba ramennya"
Aku beralih ke mangkuk ramen. Rasanya benar-benar enak. Aromanya membuat aku mabuk. Restoran ini akan menjadi tempat makan favorit ku setelah restoran Padang.
__ADS_1