
Aku beritikad jika semua permasalahan yang aku ketahui harus aku tutupi dari mas Aditya. Sebelum semuanya aku saksikan dengan mataku sendiri, aku tidak boleh mengakuinya.
Benar kata Lana. Aku harus ada bukti yang kuat. Mas Aditya tidak bisa memperlakukan aku seperti ini.
Suara mobil mas Aditya terdengar jelas. Pria itu sepertinya akan menginap di sini malam ini. Aku berusaha terlihat biasa saja. Pura-pura bodoh dan tidak mengetahui semuanya.
Mas Aditya masuk dengan wajah yang bahagia. Sudah pasti itu semua karena mas Aditya baru pulang dari rumah selingkuhannya. Ada anaknya bukan? Di rumahku ini tidak ada anaknya, mana mungkin dia bisa sebahagia itu.
"Sudah pulang mas?"
Dia melirik ku. Lalu berjalan mendekat.
"Mas kangen banget sama kamu. Gimana bekas luka operasi kamu sayang?"
Aku ingin sekali muntah mendengar perkataan nya yang manis itu. Pandai sekali bersandiwara. Pasti perempuan itu juga luluh karena perkataan pria ini. Menjijikan.
"Lumayan, besok aku akan check ke dokter"
"Oooo begitu, apa perlu mas temani?"
Wahhh wahh apa yang terjadi? Tumben pria ini menawarkan diri, biasanya harus aku paksa dulu baru dia akan bersedia.
"Hmmmmm....... kayaknya gak usah deh mas. Aku bisa sendiri"
"Yaa sudah, tapi tetap hati-hati yaa bawa mobilnya. Aku khawatir sekali dengan kamu"
"Mas...."
"Iyaaa kenapa?"
"Apa kamu mencintaiku"
Mendengar perkataan ku mas Aditya terdiam. Pria itu kemudian menatapku lamat-lamat.
"Ahhh maksudku, apa benar-benar mencintaiku?"
"Dengarkan mas ya sayang, mas sangat mencintai kamu"
Aditya mencium keningku. Kalau saja aku tidak mengetahui kebusukannya, mungkin malam ini akan menjadi malam yang indah.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku mas?"
Mas Aditya menggeser jaraknya. Sekarang raut wajahnya berubah.
"Hmmmm....kok kamu ngomong gitu sih? Ada apa sayang?"
"Tidakk ada, aku hanya ingin bertanya saja"
"Gak ada yang mas sembunyikan, ya sudah mas mau naik ya. Gerah. Mau mandi"
Benarkan. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Aku benar-benar kalah sekarang. Ternyata apa yang aku takuti selama ini akhirnya terjadi. Semua yang klien ku alami, akhirnya aku alami juga. Diselingkuhi. Dikhianati. Lucunya hidup ini.
Aku berjalan menuju kamar kami. Mad Aditya masih sibuk di kamar mandi. Aku pikir ini adalah kesempatan yang tepat untuk mengecek handphone miliknya. Agak takut. Sejak pernikahan kami, aku dan mas Aditya sepakat untuk saling percaya. Pantang bagi kami untuk mengotak-atik privasi pribadi, dan itu termasuk handphone.
Tapi dalam kondisi ini, aku rasa perlakuan ku bisa di tolerir. Ini genting.
Handphone mas Aditya terletak di atas kasur. Aku mencoba mencocokkan password hpnya. Tapi tidak ada yang berhasil. Bahkan aku sudah memasukkan tanggal pernikahan kami, tetapi tetap saja tidak bisa terbuka.
__ADS_1
Saat prustasi memikirkan password yang tepat, notifikasi pesan masuk ke layar handphone mas Aditya. Tulisannya dari "ibunya anakku". Aku lemas.
(Ibunya anakku)
"Mas, besok bisa gak ikut aku periksa kandungan? Ibuk gak bisa anterin aku soalnya, ada acara"
Begitulah bunyi pesan yang terkirim ke nomor mas Aditya. Wanita itu akan periksa kandungan. Ini akan jadi kesempatan yang bagus untukku. Aku bisa mempergoki mereka.
Aku tidak melewatkan kesempatan ini. Langsung aku foto saja bukti pesan itu lewat hpku. Ini bisa jadi barang bukti.
Beberapa saat kemudian mas Aditya keluar dari kamar mandi. Aku langsung pura-pura tidak terjadi apapun. Pria itu berjalan menuju kasur dan meraih handphone miliknya.
Aku yakin jika dia sedang membaca notifikasi itu. Dasar bajingan.
"Mas mau ke ruang kerja dulu ya sayang, ada berkas yang harus mas tinjau. Kamu tidur duluan saja"
Mas Aditya tergesa-gesa berjalan keluar kamar. Aku paham. Pria itu tidak akan memeriksa pekerjaan, tetapi hanya akan menghubungi selingkuhannya.
(Bagian 2 bab 16)
"Mas berangkat dulu ya"
Aku mengangguk dan mengantarkan nya menuju mobil.
"Oohh ya sayang, besok mas harus pergi ke luar kota. Kamu gak papa kan?"
"Berapa lama mas?"
"Hanya 4 hari"
"Ya tidak papa, lagiankan mas memang jarang di rumah"
Hari ini aku tidak memiliki jadwal pekerjaan. Agenda ku adalah untuk mengikuti mas aditya. Setelah keberangkatannya, aku langsung memberhentikan taxi dan mengikuti mas Aditya. Khawatir jika aku membawa mobil, mas Aditya akan curiga kepadaku.
Mobil mas Aditya memang menuju ke arah kantornya. Tapi aku rasa pagi ini dia hanya ingin untuk mengajukan cuti dan meminta izin untuk pergi mengantarkan selingkuhannya ke dokter. Membayangkannya saja sudah membuat aku merasa jijik.
"Pak, hari ini saya akan bayar bapak berapa saja. Asalkan bapak ikuti perintah saya"
Supir taxi itu hanya mengangguk. Baginya permintaan ku adalah uang. Dari pada sibuk menanti penumpang, lebih baik menerima tawaran dariku.
Cukup lama kami menunggu di depan kantor mas Aditya. Mungkin 40 menitan. Pria itu akhirnya keluar dan segera memacu mobilnya.
"Ikutin mobil itu pak"
Sama halnya dengan mobil mas Aditya, kami juga menambahkan kecepatan mobil agar tidak kehilangan jejak.
Mas Aditya berhenti di depan sebuah rumah. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu. Tapi rasanya tubuhnya sangat familiar di mataku.
Mobil mas aditya kembali berjalan. Kami juga tetap siaga di belakangnya. Kadang-kadang aku meminta supir taxi untuk emnajga jarak, agar mas Aditya tidak curiga.
Mobil berhenti di salah satu rumah sakit besar di ibu kota. Kemarin aku juga operasi di sini. Kebetulan sekali. Aku jadi punya alasan untuk berpura-pura mempergoki mereka.
"Ini pak, terimakasih banyak"
Aku mengikuti mereka diam-diam. Mereka sepertinya sudah mengatur janji dengan dokter kandungan. Mas Aditya pasti mengunakan layanan VVIP, orang sepertinya mana mau menunggu di anterian.
Cukup lama aku menunggu mereka keluar. Mungkin Mereka sibuk mersukan ria melihat calon anak nya. Dasar menjijikan.
__ADS_1
Hampir 30 menit aku menanti mereka di depan pintu pemeriksaan. Beberapa saat kemudian aku mendapati pintu perlahan dibuka. Aku sontak pura-sednag berjalan di depan pintu pemeriksaan itu.
"Ahhh maaf"
Aku menabrak perempuan itu. Mas Aditya dengan secatan langsung memegangi selingkuhannya. Mungkin takut perempuan itu terjatuh dan bayinya terluka.
"Kalau jalan itu tolong hati-hati mbak, anda hampir saja mencelakai istri saya"
Dia sendiri yang mengakuinya di depan mataku sendiri. Bajingan.
Aku berbalik arah. Menatap dua anak manusia di depanku. Bukan hanya mas Aditya yang kaget, aku bahkan tidak bisa berkata-kata ketika melihat wajah wanita itu.
"Mbak Karin"
Lana. Perempuan itulah yang selama ini menjadi maduku. Perempuan yang sudah aku anggap seperti saudara, tenyata dia lah yang menghancurkan rumah tanggaku. Zayyen? Bocah itu adalah anak mas Aditya, pantas saja wajahnya meliki kemiripan dengan ams Aditya.
Aku bisa melihat ekspresi keterkejutan mas Aditya. Bukan hanya karena aku mempergokinya, tapi juga kaget jika aku dan selingkuhannya saling mengenal satu sama lain.
"Karin....."
Lana menoleh ke arah suaminya. Pria itu juga mengenal aku.
"Mas Bagas kenal sama mbak Karin?"
Mas Aditya tidak bergeming. Dia sepertinya tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Muhammad Aditya Bagaskara, lucu ya mas, membohongi namamu"
Lana tampak heran. Apa yang sebenarnya terjadi diantara aku dan mas Aditya.
"Apa yang mbak Karin bicarakan?"
Aku menatap Lana. Kini kebencian dan amarah menguasai diriku.
"Kamu mau tahu Lana? Mas bagasmu ini adalah mas Aditya. Suamimu ku, yang tega menyelingkuhi dan kini akan segera memiliki anak darimu"
Wanita itu kaget. Mungkin syok karena dia bukanlah istri satu-satunya mas Aditya, tapi malah menjadi selingkuhan pria itu. Istri simpanan.
"Mas Bagas, apa yang mbak Karin bilang itu benar?"
Mas Aditya tidak bisa menjawabnya. Pria itu sekarang mati kutu. Tidak ada kata pembelaan yang pantas dia unjarkan.
"Karin...mas bisa jelaskan apa yang terjadi ini"
"Apa mas? Kamu mau bohong apa lagi? Kamu juga membohongi wanita ini kan? Mengaku lajang? Kita sudah menikah 6 tahun, kan kamu menyelingkuhi ku lebih dari 5 tahun mas, apa yang kamu cari sebenarnya? Anak? Iyaa? Karena wanita ini bisa memberimu anak? Brengsek."
Aku memukul ams Aditya. Emosiku benar-benar dipuncaknya sekarang ini.
"Mas bisa jelaskan sayang...."
Aku meninggalkan mereka. Lana masih terdiam dengan apa yang baru terjadi kepadanya. Begitu lah kira-kira posisiku saat pertama kali menemukan bukti perselingkuhan mas Aditya. Kalut.
Samar-samar Masin bisa aku dengar suara mas Aditya yang berbicara dengan Lana.
"Lan, kamu bisa kan pulang dengan taxi, mas mohon pengertian kamu sekarang ini. Nanti akan mas jelaskan yaaa"
Terbuat dari apa hati dan pikiran mas Aditya itu. Dia melukai dua hati sekaligus. Aku tidak paham dengan pikiran nya.
__ADS_1
Mas Aditya mengejar ku dari belakang. Semakin cepat langkah ku, maka semakin cepat juga dia mengejar ku.