AKTA Perceraian

AKTA Perceraian
Terlambat


__ADS_3

"Good morning nenek"


Zayyen berlari ke arah meja makan. Pagi ini setelah di bujuk, Zayyen mau untuk berangkat ke sekolah.


"Good morning juga cucu nenek yang ganteng ini"


"Ayoo sini sama nenek, nenek masak nasi goreng"


Mama langsung menggendong Zayyen dan mendudukkannya ke kursi makan. Mama terlihat sangat senang dengan kehadiran Zayyen di rumah kami.


"Karin, ayoo sarapan"


"Iyaa ma"


"Enak sekali nenek"


"Kamu suka?"


"Sangat sukaaa nenek"


"Kalau begitu nanti akan sering nenek buatkan untuk kamu yaa sayang"


"Maacih nenek"


Pagi ini Zayyen melahap sarapannya dengan nikmat. Dia bahkan meminta untuk membawa bekal nasi goreng buatan mama pagi ini ke sekolahnya.


"Ayooo Salim dulu sama nenek"


Zayyen dan aku berpamitan kepada mama. Kami akan berangkat sekarang juga. Takut akan terjebak macet.


"Onty..."


"Iyaa sayang?"


"Nanti onty tungguin Zayyen kan?"


"Iyaaa sayang, nanti akan onty temani yaa"


Setelah sampai di sekolahnya Zayyen, anak itu tidak mau melepaskan genggaman ku. Katanya aku harus ikut ke kelasnya. Aku tidak boleh pergi kemanapun.


"Halo Zayyen"


"Halo Felicia"


Lihatlah wajah Zayyen. Anak itu malu-malu kucing ketika menyapa teman perempuannya di kelas. Aku berusaha menahan tawaku. Masih kecil sudah jatuh cinta.


"Halo onty"


"Hai.....mana mamanya?"


"Mama lagi angkat telfon"


"Ooo gitu"


Anak ini sangat cantik. Matanya tidak terlalu sipit. Aku sudah bisa menebak jika anak ini sangat pintar. Zayyen sepertinya sangat suka dengan Felicia.


"Feli..."


Tiba-tiba ibunya Felicia menghampiri kami. Aku tidak kenal dengan wajahnya. Baguslah jadi aku tidak perlu harus menjelaskan apa yang terjadi.


"Mamanya Zayyen ya? saya mamanya Felicia"


Wanita itu menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Aku bingung. Apa aku adalah mamanya Zayyen? Apa aku pantas?

__ADS_1


"Eeee...Iyaa, salam kenal"


"Saya baru kali ini nganterin Felicia, biasanya anak itu cuma diantar susternya. Tadi merengek, katanya semua temannya di antarkan oleh mamanya."


Aku tersenyum. Sepertinya mama Felicia adalah seorang wanita karir yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Begitulah anak-anak, kita tidak bisa untuk hanya menjelaskan tentang kesibukan kita"


"Betul sekali mamanya Zayyen"


"Oh iya, katanya besok ada acara di sekolah ya?"


Aku bingung. Aku sama sekali tidak tahu soal ini. Aku harus Jawab apa?


"Katanya acara orang tua gitu, anak-anak di suruh bawa bunga segala. Kedua orang tua wajib datang katanya"


Aku terdiam. Apa katanya tadi? Kedua orang tua wajib datang? Aku menatap ke arah Zayyen, kasihan jika anak itu hanya datang dengan mas Aditya. Pasti dia akan merasa sangat sedih.


"Kalau gitu saya duluan ya mama Zayyen, harus buru-buru ke kantor"


"Iyaa mamanya Felicia"


Jadi begini jika punya anak. Orang-orang tidak akan memanggil kita dengan sebutan nama kita, melainkan dengan iming-iming nama anak di belakangnya. Mama Zayyen. Aku merasa tersentuh mendengar itu.


Setelah Zayyen masuk dan memulai kelasnya, aku bergegas untuk pergi ke kantor. Zayyen akan pulang 4 jam lagi. Aku masih memiliki waktu untuk mengurus urusan pekerjaanku.


Sesampainya di kantor, aku tidak melihat keberadaan Samuel. Biasanya pria itu akan duduk di lobby kantor. Mondar-mandir tidak jelas. Tapi sekarang dia tidak terlihat.


Aku segera bergegas untuk meninjau beberapa berkas klienku. Apalagi mengatur jadwal pertemuan kami. Banyak juga konsultasi yang sempat tertunda belakangan ini.


"Duh, sibuk banget nih"


Ini dia biang kerok. Samuel akhirnya datang dengan menjinjing makanan di tangannya.


"Makan dulu gak sih?"


"Aku tadi datang ke toko mama mu, dia menawariku kue, jadinya aku tidak tega untuk menolaknya"


"Jadi kamu telat datang ke kantor karena mampir ke tempat mama?"


"Bukan telat, tapi malas. Itu lebih tepat."


Samuel menggigit kue itu. Lalu duduk di atas meja kerjaku.


"Aku hanya ingin pensiun dini. Malas sekali bekerja. Warisan papa sudah banyak, aku tinggal menikmatinya saja"


"Apa maksudmu? Kamu mendoakan papa segera meninggal?"


Itu adalah suara om Anton yang memergoki pembicaraan kami. Aku hanya bisa menahan tawaku. Perang dunia akan segera dimulai.


"Bukann.....papa salah dengar"


"Kamu..in...."


Samuel sudah lebih dulu memasukan kue ke mulut om Anton. Pria itu tidak bisa melanjutkan perkataannya.


"Enak kan?"


Om Anton mulai menggigit kue itu. Dia sepertinya menikmatinya.


"Dari mana kamu beli ini?"


"Mamanya Karin buka toko kue"

__ADS_1


"Benar Karin?"


Om Anton menatap ke arahku. Ingin membuktikan jika putranya tidak berbohong.


"Iyaa om, ini kue buatan mama"


"Wahh...hebat sekali yaaa, ini enak sekali"


"Kebetulan banget ini, besok ada acara di kantor kita. Om sejak tadi sudah pusing menjadi ketering yang enak, kira-kira mama mu bisa tidak membuat 150 box snacks?"


Aku kaget. Ini adalah rezeki mama. Mama pasti akan senang jika mendengar berita ini. 150 kotak kue.


"Bisa om, nanti akan saya sampaikan ke mama"


"Untuk DP nya nanti kamu minta ke Samuel aja yaa"


"Kok ke aku? Kan acara papa?"


"Stttt....bayar ya!"


Om Anton berjalan meninggalkan kami. Samuel masih kesal dengan kelakuan papanya.


"Kalian lucu sekali"


"Tua bangka itu memang sangat menyebalkan, untung saja aku menyayanginya, kalau tidak sudah lama aku mencari papa baru"


"Ada-ada saja kamu ini."


Aku menatap ke arah jam tanganku. Tidak, aku telat menjemput Zayyen. Anak itu pasti sudah menunggu-. Aku bergegas membereskan barang-barang ku.


"Mau kemana?"


"Mau jemput Zayyen, udah telat"


"Mau aku antar?"


"Gak usah"


Aku berlari keluar. Aku tidak ingin Zayyen menangis karena menunggu ku datang. Untung saja jalanan tidak macet, jadi aku tidak akan berlama-lama di jalan.


Tapi ternyata aku memang sangat telat. Anak-anak sudah banyak yang pulang. Mobil-mobil di halaman sekolah juga sudah habis. Aku menepuk jidatku. Sangat bodoh.


Aku segera menyusul Zayyen ke ruang kelasnya. Semoga saja dia masih di sana bersama gurunya. Tapi saat sampai, aku tidak menemukan Zayyen. Takut sekali jika anak itu kenapa-kenapa. Apalagi banyak sekali modus penculikan anak saat ini.


Aku berlari menuju ruang guru. Aku ingin memastikan jika Zayyen baik-baik saja.


"Ontyyy...."


Namun tiba-tiba aku mendengar suara Zayyen dari arah belakang. Dengan cepat aku memeluknya. Takut sekali dia hilang.


"Maafkan onty yaa sayang, onty telat jemput kamu"


"Lain kali kamu bilang saja jika sedang sibuk"


Aku menoleh. Mas Aditya.


"Aku tadi ditelfon oleh wali kelasnya, untung saja lagi dekat daerah sini"


Aku membuang nafasku kasar.


"Onty....ayo kita lihat adek bayi, Dady bilang adek bayi nya sangat cantik"


Aku menatap ke arah mas Aditya. Lalu kemudian menyetarakan tubuhku dengan Zayyen.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak sibuk, mungkin kamu mau ikut dengan kami. Zayyen sejak tadi terus saja memaksa untuk mengajak mu"


Aku menatap mas Aditya kembali. Apa benar jika ini adalah kemauan Zayyen? Tapi aku juga ingin melihat wajah cantik bayi itu. Tidak ada salahnya jika aku ikut ke rumah sakit kali ini.


__ADS_2