
Perjalanan ke desa mama tidak sepadat biasanya. Aku sedikit bersyukur untuk itu. Sebelum pulang, aku menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan salah seorang arsitek kenalanku. Renovasi rumah. Seperti janjiku kepada mama beberapa hari yang lalu.
"Kok gak bilang-bilang sih kamu mau datang, mama tadi lagi beres-beres di kebun"
Aku tersenyum. Wanita itu bergitu kelelahan. Baju yang ia kenakan bahkan penuh dengan tanah.
"Mama kenapa harus bersihin sendiri sih, kan bisa bilang Karin, biar Karin suruh orang buat bersihkan"
"Mama masih kuat nak, lagian hanya membersihkan sedikit saja."
"Ayoo masuk, mama sudah bersihkan kamar kamu"
"Ma......Karin mau tinggal di sini bareng mama"
Langkah wanita itu terhenti.
"Benarkah? Mama senang kalau begitu? Suami kamu juga ikut?"
Apakah sekarang waktu yang tepat untuk memberi tahu mama? Apakah mama tidak akan sedih?
"Karin.....Karin akan berpisah dengan mas Aditya ma"
Mama menoleh. Matanya terlihat kaget mendengar perkataanku.
"Kenapa sayang? Ada apa? Ceritakan kepada mama?"
Aku menceritakan semua yang terjadi kepada mama. Semuanya. Mama menghapus setiap bulir-bulir air mata yang jatuh dari sudut mataku.
"Mama akan setuju dengan semua keputusan kamu, asalkan kamu bahagia dengan itu semua"
"Ingat yaa nak, kamu adalah wanita yang kuat. Setiap cobaan yang datang, pasti akan berakhir dengan bahagia"
Malam ini aku dan mama ikut beberapa acara di kampung. Mama memperkenalkan aku kepada semua kerabat. Semua keluarga yang tidak satupun mau nampung ku dulu. Tapi mama selalu saja mengatakan agar aku memaafkan segala kesalahan orang lain. Biarlah jadi masalalu katanya.
"Wahhh karin sudah jadi orang hebat yaa"
Kata salah satu saudara mama. Bibi Rida. Orang yang paling keras menolak kedatangan ku di rumahnya saat mama dinyatakan bersalah. Aku tersenyum ke arahnya.
"Karin, bantulah saudara-saudara kamu di sini, banyak anak-anak yang pengen sukses juga. Kan kita keluarga"
Menjijikan. Dulu saja paling tidak mau membantu, sekarang berlagak paling kekeluargaan. Aku tidak bodoh.
"Sukses itu dari diri sendiri bibi, kalau aslinya sudah pemalas, sampai keamatpun gak akan pernah sukses bibi"
Bibi Rida tersenyum masam. Malu sendiri dengan perkataannya.
"Saya pamit dulu aja yaa, mari"
Lihatlah, sekarang dia berjalan terbirit-birit karena rasa malunya. Aku hanya bisa tertawa puas.
"Ayoo Karin, kita pulang"
"Ma, listrik di sini memang gak bagus ya?"
Jalanan yang kami lewati lebih mirip seperti hutan. Rimbun dan tidak ada penerangan. Kalau-kalau ada rembulan, hanya itu yang akan sedikit membantu, lebihnya gelap gulita.
__ADS_1
"Yaa begitulah lah nak, dananya di korupsi pejabat. Dari pusat sudah ada, tapi gak pernah sampai ke desa ini."
Aku mengangguk. Itu memang sudah menjadi rahasia umum. Selama karikku, hal-hal itu sangat mudah untuk di temukan. Semua demi uang dan jabatan. Orang bisa saja melakukan apapun, terlebih jika hanya memotong dana negara.
"Karin....."
"Iyaa ma?"
"Besok apakah kamu mau mengunjungi papamu?"
Aku terdiam. Sudah lama sekali aku tidak mendengar itu. Aku tidak pernah lagi mengunjungi makamnya. Terakhir hanya saat pemakamannya, besok harinya aku sudah berada di panti.
"Apa mama siap?"
"Mama siap kalau Karin siap, lagian bagaimana pun dia tetap papa kamu"
Mama benar juga. Tidak pernah ada yang namanya mantan anak, papa akan selalu menjadi orang tuaku. Meskipun luka yang ia tinggalkan masih belum bisa hilang dari ingatanku.
"Iyaa ma, Karin besok akan ke sana"
"Yaa sudah, malam ini kamu harus tidur yang nyenyak, jangan terlalu dipikirkan urusan suamimu itu."
Aku mengangguk. Di bawah rembulan ini, aku sudah beritikad tidak akan pernah memusingkan tentang mas aditya. Apapun yang terjadi, keputusan ku untuk berpisah adalah tepat. Lana dan Zayyen harus hidup bahagia setelah ini, begitupun aku. Akan ada cahaya setelah badai. Lambat laun aku juga akan menemukan kebahagiaan ku kembali.
(Bagian 2 bab 18)
(Inara)
"Mbak Karin ada dimana? Mbak pulang yaaa, Inara tidak ingin mbak berpisah dengan mas aditya."
"Mbak, kalau mbak Karin baca pesan Inara, Inara mohon jika mbak sudah tenang, mari kita bertemu mbak. Kita bicarakan dengan baik-baik. Mas Aditya sejak kemarin uring-uringan, tidak mau makan."
"Kami menunggu mbak Karin"
Aku menghembuskan nafasku kasar. Pesan singkat dari Inara pagi tadi membuat aku terus saja kepikiran. Apa terlalu egois keputusan ku ini? Tapi akan lebih egois jika aku tetap bertahan.
"Ayo nak, kita berangkat sekarang"
Mama sudah siap dengan beberapa bunga di tangannya. Kami akan mengunjungi papa hari ini. Kata mama jarak makam dan rumah hanya beberapa kilo saja. Palingan hanya 10 menit menaiki mobil.
"Ma...nanti orang yang mau renovasi rumah sudah mulai bekerja. Kita pindah saja dulu ke kota ya. Kita sewa rumah saja di sana. Hanya sementara."
"Kalau begitu, mama setuju saja. Asalkan gak lama. Mama cepet bosan kalau gak ada kerjaan."
"Mama mau Karin modalin kerja gak? Kayak buka toko kue. Kue-kue buatan mama kan enak-enak"
"Apa gak terlalu berlebihan nak?"
"Karin kan juga kerja buat mama, kalau gak buat mama, uang karin ini buat siapa?"
"Lagian selama Karin kerja, mama bisa ada aktifitas. Jadinya gak bosan"
"Habis dari makam papa, kita siap-siap yaa. Langsung aja berangkat ke kota siang ini. Besok Karin ada kerjaan juga"
Mama hanya mengangguk. Aku paham jika mama pasti merasa berat meninggalkan desa. Bagiku kenyamanan mama dan kebahagiaan dia adalah tanggung jawabku.
__ADS_1
(Me)
"Sam, bisa bantuin aku cari ruko kosong gak? Kalau bisa yang bekas toko kue?"
(Samuel)
"Buat siapa?"
(Me)
"Nanti kamu pasti tau kok, tolongin yaa. Makasih"
(Samuel)
"Makasih saja mah gak cukup.....hahaha"
"Ayo nak, itu makam papa. Mama sudah selesai beli airnya"
Aku menutup handphone ku. Mama sudah selesai membeli wangi-wangian. Makam di sini lumayan bersih dan rapi. Makam papa cukup agak ke tengah. Maklum sudah 25 tahun yang lalu.
"Pa....Karin selalu doain papa agar semua dosa papa di ampuni oleh Allah"
"Karin dan mama sekarang hidup jauh lebih bahagia."
Aku tahu jika mama pasti akan butuh waktu yang lama untuk memaafkan papa. Pria yang dulu ia cintai dan pada akhirnya juga membawa nya ke penjara. Tapi lihat lah mama sekarang, dia mencoba untuk melawan rasa benci itu. Dia tetap mengajarkan aku cara untuk tetap menghormati papa. Aku memeluknya erat-erat. Harta paling berharga yang aku miliki sekarang ini.
"Ayoo kita pulang ma, harus segera berangkat"
Setelah meninggal makam, aku dan mama segera pulang dan membereskan beberapa pakaian mama. Pihak yang akan merenovasi rumah sudah beberapa kali menghubungiku. Katanya mereka hampir sampai. Besok semua akan di mulai, untuk itu rumah harus di kosongkan paling lama malam ini.
"Saya mohon bantuannya ya pak"
"Mbak tenang saja, satu bulan paling cepat rumah ini akan siap"
Kata kepala kontraktor yang bertugas hari ini. Aku dan mama buru-buru untuk pergi. Takut akan terjadi macet lagi. Langit sudah mulai mendung, rawan longsor.
(Samuel calling)
"Halo, udah sampai dimana Rin?"
"Aku masih di jalan"
"Ini rumahnya udah ketemu, tapi untuk rukonya masih nunggu info yaa..."
"Iyaa, makasih yaa Sam, kamu udah mau bantuin"
"Yaa udah, kalian hati-hati di jalan. Aku tunggu di sini. Alamatnya akan aku kirim yaa"
"Oke"
Sambungan telfon terputus. Samuel sudah berhasil menemukan rumah yang nantinya akan aku tempati bersama mama.
"Ada apa rin?"
"Itu ma, rumahnya udah dapat, jadi kita langsung saja ke sana"
__ADS_1
"Alhamdulillah"