
(Karin pov)
"Mas aditya ayolah bangun mas....."
Inara terus mengajak bicara mas aditya. Tapi Pria itu sepertinya tidak ingin untuk membuka matanya. Setelah kondisinya sempat turun tadi pagi, kini tekanan darahnya sudah kembali normal. Mama yuni juga sudah datang, wanita itu tampaknya sedang sangat baik. Dia membawakan kami sarapan pagi, nasi goreng kesukaanku.
"makan dulu Rin!"
aku berjalan ke arahnya. Mama yuni menyuruhku untuk sarapan bersama dengannya. Wanita itu sengaja untuk tidak sarapan di rumah. Katanya ingin makan bersama dengan kami di kamar rawat mas aditya.
"zayyen tadi malam terus menanyakan keadaan papanya"
Anak itu menelfon mama yuni tadi malam, katanya tidak bisa tidur jika tidak dengan papanya. Aku terdiam sebentar dan kembali menyuap makananku ke mulut. Jujur saja aku merasa sedikit khawatir dengan zayyen. Apalagi memikirkan dirinya yang melihat aditya berlumuran darah masuk ke rumah sakit. Pasti dia akan memiliki trauma.
"Nanti kalau aditya sudah siuman, baru mama suruh dia ke sini"
aku mengangguk. Benar, anak kecil tidak boleh terlalu lama terpapar suasana rumah sakit. Banyak virus penyakit yang bisa mengancam metabolisme mereka yang masih lemah.
"Wah....kak Rabecca sudah sampai di singapura"
Inara berjalan mendekat ke arah kami. Dia menunjukan foto rabecca yang sedang menunggu transit di bandara singapura.
"Katanya 1 jam lagi terbang ke indonesia"
aku tersenyum. Baguslah jika anak itu bisa selamat sampai ke indonesia. Mas aditya pasti akan senang jika rabecca ada di sisinya.
"lihat nih mas, kak becca sudah sampai di singapura, anak tengil itu sebentar lagi akan menganggu tidur mas"
Inara mengarahkan layar hpnya ke arah mas aditya, Dia berharap mas aditya bisa merasakan kebahagiannya juga.
"udah ah na, makan dulu sarapan kamu"
gadis itu langsung menyimpan hpnya dan menyengir ke arah mama yuni. Takut mamanya itu akan marah jika tidak segera menuruti kemauannya.
"lupa ma, terlalu excited untuk ngasih liat mas"
__ADS_1
"kamu ini"
mama yuni langsung menjitak pelan kening inara. gadis itu hanya tertawa. Begitupun aku yang menikmati obrolan kami.
(tring)
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphone ku. Pesan dari Samuel. Aku kira dia tidak mau berhubungan denganku lagi, tapi ternyata aku salah. Pria itu mengirimi aku foto.
"Ini bukti perkembangan program rumah baca kamu"
Aku tersenyum ketika melihat foto yang samuel kirimkan barusan. Anak-anak sedang belajar berhitung. Para volunteer terlihat antusias untuk mengajar anak-anak. Minggu ini jumlah mereka dua kali lipat dari minggu lalu. Aku senang sekali. Kami berhasil melampaui target minimum yang kami patok saat diskusi tempo hari.
"Terima Kasih telah mengirimkannya, Sam"
Aku membalas pesannya. Tapi pria itu hanya membaca pesanku. Tidak ada balasan sepeti biasanya. Aku membuang nafasku berat. Ada yang berbeda. Sedikit kehilangan.
"Ada apa Rin?"
Mama yuni sepetinya peka dengan kondisiku. Wanita itu menatapku dengan penuh pertanyaan. Mungkin heran dengan tingkahku setelah membaca pesan di ponselku.
Mama yuni yang mendengar penjelasanku langsung mengangguk percaya.
"kalau ada kerjaan, kamu lebih baik pulang saja rin. Lagian ada mama dan juga inara di sini. Kamu sudah dari malam di sini"
"tapi ma..."
"Kamu juga harus ingat dengan kondisi kesehatan kamu rin, kamu ini baru saja selesai operasi. Mama gak mau sampai kondisi kamu drop juga hanya karena lupa beristirahat."
"Nanti malam atau besok kamu bisa datang kembali. Atau mungkin saat aditya siuman, kami akan segera mengajarimu"
Aku menatap ke arah inara. Gadis itu juga mengisyaratkan agar aku pulang saja pagi ini. Aku mengangguk. Tidur di rumah sakit memang tidak bisa maksimal. Selalu merasa was-was akan kondisi mas aditya.
Aku berpamitan. Hari ini aku akan pulang dan menabung energi agar nanti malam bisa kembali menjaga mas aditya. aku juga harus memberi tahu mama bagaimana kondisi mas aditya.
Sebelum pulang, Aku menyempatkan untuk mampir ke rungan anindia. Bayi itu pasti kesepian. Mas aditya yang rajin menemaninya sekarang juga terbaring tidak berdaya.
__ADS_1
Aku menatapnya dari balik dinding kaca. Bayi itu tengah tidur di dalam box kaca. Selang oksigen saat ini sudah di lepas. Walau beberapa alat masih terpasang di badannya.
"Maafkan aku ya"
Aku merasa bersalah. Rasanya ini semua tidak akan terjadi jika bukan karena aku yang terus saja bersikap egois. Bahkan kecelakaan mas aditya juga membuat aku berfikir jika ini semua ada kaitannya dnegan sikap buruk ku kepadanya belakangan ini.
"Suster, boleh saya bertemu dengan dokter yang menangani anak saya?"
Aku menghampiri salah satu perawat yang sibuk menjaga bayi di ruangan itu. aku ingin bertanya mengenai kondisi Anindia saat ini.
"Baik buk, mari saya antar"
Wanita itu berjalan di depanku. Dia menuntunku untuk bertemu dokter spesialis anak yang beberapa minggu ini mengontrol kondisi Anindia.
"Ini rungan dokternya buk"
"Terimakasih banyak sus"
Perempuan itu mengangguk dan berjalan menuju tempat kami semula. Aku melirik papan nama di atas pintu rungan. "Dokter spesialis anak" Begitulah tulisannya. Aku mengetuk pintu dan langsung disambut oleh dokter di sana. Masih muda. Dokter Aryo.
"ada yang bisa saya bantu bu?"
Aku mengangguk dan berjalan mendekat ke arah meja dokter. Pria itu mempersilahkan untuk duduk.
"Saya ingin tahu bagaimana perkembangan bayi Anindia dok, apakah dalam minggu ini sudah bisa pulang?"
"Baik bu, dalam pantauan kami kondisi bayi ibu sudah mulai membaik. Tapi kami belum bisa memastikan jika dalam minggu ini dia sudah bisa pulang. Ada beberapa tes yang harus di lakukan lagi, agar bisa memastikan bayi ibu bisa pulang atau harus mendapatkan tindakan yang lain. "
"Begitu ya dok"
"Tapi ibu tenang saja, kami akan melakukan semuanya dengan maksimal"
Aku mengangguk. Ternyata kondisi anak itu belum stabil betul. Dokter harus melakukan berbagai tes untuk memastikan kondisinya layak untuk dibawa pulang. Setelah berpamitan dengan dokter aku langsung berjalan keluar dari rumah sakit. Udara di luar sedikit lebih baik. Tidak tercium lagi bau khas rumah sakit yang bagi sebagian orang sangat menyiksa. Bau obat-obatan dan cairan alkohol.
Aku mengecek jam di tanganku. Sekarang sudah pukul 11 pagi. Mama pasti sudah mulai membuka toko. Walaupun baru buka, ternyata pelanggan mama sudah mulai banyak. Apalagi setelah mama menangani ketering di kantor Om Anton, banyak dari rekan kerja pria itu yang mendatangi toko mama secara langsung. Mereka bilang jika kue mama memiliki rasa yang berbeda dari toko lain. harganya juga lebih terjangkau untuk ukuran harga kue di kota besar.
__ADS_1