
"untuk apa itu?"
Samuel menatapku yang sibuk menenteng kantong makanan. Aku teringat Zayyen, anak itu belum makan siang. Dia pasti merasakan lapar.
"Untuk Zayyen"
Samuel hanya mengangguk. Pria itu kembali fokus dengan ponselnya. Seperti bisa, ada dokumen yang harus ditinjau.
Saat sampai di ruangan pemeriksaan, dokter sedang berbicara dengan mas Aditya di sana. Wajah pria itu seperti panik, aku lekas menemui dokter.
"Kita harus segera melakukan tindakan, jika tetap di undur, saya takut kita akan kehilangan nyawa ibu dan bayi"
Itulah sepenggal perkataan dokter yang masih sempat aku dengar. Aku menatap mas aditya, pria itu mungkin saja syok mengetahui kondisi Lana. Wanita itu memang tidak pernah bercerita masalah kandungannya kepada mas aditya.
"Permisi"
Dokter itu pergi meninggalkan kami. Aku melihat ke arah ruangan Lana. Wanita itu masih terbaring lemah dengan berbagai alat medis di tubuhnya.
"Ini"
Aku menyerahkan bungkusan makanan ke mas aditya. Pria itu menoleh.
"Aku tidak lapar"
"Ini bukan untukmu, ini untuk anakmu, dia pasti lapar"
Mas aditya melirik Zayyen, bocah itu hanya terdiam duduk di kursi rumah sakit. Akhirnya mas aditya meraih makanan itu.
"Aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat, jahat salah pilih"
Setelah mengatakan itu, aku kembali duduk di kursi. Bersebrangan dengan Zayyen dan mas aditya.
"Aku tidak mau makan kalau tidak di suapi momy"
Zayyen menolak suapan dari mas aditya. Anak itu menginginkan ibunya. Aku tidak akan bisa membayangkan bagaimana jika kemungkinan terburuk menimpa Lana. Anak ini sangat dekat dan bergantung ke pada ibunya.
"Sayang, ayoo makan."
"Huhuhuhu, Zayyen tidak mau Dady"
Tangis Zayyen becah. Mas aditya tidak begitu bisa mengendalikan Zayyen. Aku bahkan bisa melihat bagaimana mas aditya membujuk Zayyen, dia tidak berhasil.
Tangis Zayyen semakin keras. Mas aditya mulai kewalahan. Aku sesekali dia menatap ke arahku. Tapi aku masih mencoba untuk tidak peduli.
"Hai ganteng, ayo sini dengan om. Om ada permainan"
Samuel datang mendekat ke arah Zayyen. Bocah itu menghentikan tangisannya, ia mencoba mengenali Samuel. Seseorang yang baru ia kenali.
"Jangan dekat-dekat anak saya"
Mas aditya terlihat tidak suka dengan samuel. Samuel tertawa menatap ke arah mas aditya.
"Sam, sini"
__ADS_1
Aku yang tidak ingin mereka membuat keributan langsung menyuruh Sam untuk menjauhi mas aditya. Aku tahu betul jika mas aditya tidak bisa mengontrol emosinya jika dalam kondisi seperti ini.
"Ontyyy alin.........."
Zayyen menuruni kursi dan berlari ke arahku. Dia berusaha untuk memelukku.
"Zayyen maunya sama ontyy saja...."
Aku menatap ke arah Zayyen. Wajahnya sudah memerah karena menangis. Aku tidak tega. Anak ini tidak perlu harus menjadi korban permasalahan kami, dia masih kecil.
Aku menghapus air mata yang masih tersisa di wajah Zayyen. Dia masih memelukku dengan sangat erat.
"Kamu lapar?"
Zayyen mengangguk. Aku langsung menatap ke arah mas aditya. Pria itu sejak tadi memperhatikan interaksi kami bedua. Bisa jadi ia kaget karena Zayyen mengenaliku.
"Sam, bisa belikan Zayyen makanan di kantin?"
"Bos ganteng ini ingin makan apa?"
Samuel jongkok di sampingku.
"Zayyen ingin makan mie oyeng uncle"
"Oke bos, tunggu sebentar yaa"
Aku tersenyum menatap ke arah Samuel, dia bergegas berlari ke arah kantin rumah sakit.
"Kamu juga harus makan mas, kalau sama-sama jatuh sakit, siapa yang akan menjaga Zayyen?"
Mas aditya menoleh ke arahku saat mendengar perkataanku barusan. Dia tersenyum getir. Lalu mulai membuka kembali kotak makanan di tangannya. Aku bisa melihat matanya yang mulai basah.
Beberapa saat setelah itu Samuel datang membawa satu kotak mie instan. Zayyen tertawa melihat Samuel datang mengenakan topeng power rangers. Aku ikutan tertawa. Bagaimana bisa Samuel menemukan benda seperti itu di rumah sakit.
"Ini bos, ayooo makan"
"Dari mana kamu mendapatkannya?"
Samuel membuka topengnya. Pria itu basah dengan keringat.
"Tadi ada yang jual di dekat kantin. Ahhhh, ternyata panas juga yaa"
"Kamu ada-ada aja Sam."
"Zayyen, buka mulutnya."
Aku menyuapi Zayyen. Dia benar-benar sangat lapar. Bocah itu memakannya dengan lahap. Sesekali aku masih bisa melihat mas aditya mencuri-curi pandang ke arah kami.
"Wahhhh, pintar sekali bos kecil ini yaa....habis onty"
Samuel memuji Zayyen. Bocah itu tersenyum gembira. Mereka asik pura-pura menjadi pahlawan super. Goyang sana sini.
Beberapa menit setelah makanan Zayyen habis, dokter mengabarkan jika Lana sudah sadar. Kami bergegas untuk menemuinya.
__ADS_1
"Lana...."
Mas aditya memegang dengan erat jemari wanita itu. Ada perasaan sakit di hatiku saat menyaksikan semuanya. Tapi aku harus tahu diri sekarang ini.
"Mas....."
"Kamu harus kuat, kita akan usahakan semuanya yaa"
"Mas..... selamat kan anak kita"
"Iyaaa, kamu juga harus selamat"
Aku tidak tahan, aku buru-buru berjalan meninggalkan ruangan Lana. Hati istri mana yang tidak akan sakit jika harus melihat suaminya dekat dengan perempuan lain. Apalagi ini adalah selingkuhannya.
Samuel yang melihatku langsung menghampiri.
"Mau pulang saja?"
Aku menoleh ke arahnya. Memang sebaiknya aku harus pergi. Lana sudah siuman. Mas aditya juga bisa menjadi Zayyen. Aku tidak harus terlibat dalam menjaga Lana. Syukur-syukur aku sudah mau membawanya ke rumah sakit.
"Iyaa, aku akan pulang"
"Mau aku antar saja?"
"Tidak usah, aku harus mampir dulu"
Aku berjalan meninggalkan Samuel. Aku butuh ketenangan. Semua yang terjadi beberapa hari ini sangat menguras emosiku. Mengurus tenaga dan waktu. Masih banyak hal yang belum bisa aku terima. Masih banyak hal berjalan tidak semestinya.
Aku hentikan mobil tepat di sebuah pinggir danau. Dulu saat masih menjadi mahasiswa, hampir setiap sore ku habiskan dengan ngajar di sini. Mengajar anak-anak jalanan cara membaca dan berhitung.
Di bawah pohon rindang itu, kami saling tertawa. Tidak ada beban. Semuanya kami tinggalkan. Aku sangat merindukan diriku. Diriku sebelum semuanya hancur. Sebelum mas aditya menyelingkuhi ku. Aku berteriak. Sekuat-kuatnya.
Akan aku salurkan emosi yang aku punya. Agar beban di hatiku segera menguap ke angkasa. Aku memang lemah. Aku tidak kuat. Aku memang egois dengan diriku.
"Aaaaaaaaaaaa"
Aku lepaskan semuanya. Tangisku menjadi. Aku tidak perduli dengan banyak mata yang memperhatikan Ku. Aku hanya ingin meluapkan semuanya. Hingga hilang tidak tersisa.
"Kenapa tuhan? Aku harus apa?"
"Aku benci kamu mas aditya, aku benci"
Tubuhku runtuh ke rerumputan. Kaki ku benar-benar lemas. Detak jantungku mulai membara.
Tiba-tiba handphone ku berdering. Ada telfon masuk dari Samuel. Aku berusaha mengacuhkan nya. Aku hanya ingin sendiri.
Pria itu tetap mencoba untuk menghubungiku. 2 kali. 3 kali. Dan akhirnya aku bosan.
"Ada apa?"
"Kamu jangan di situ, ada buaya"
Aku menoleh ke belakang. Samuel sedang melihat ke arahku. Pria itu menatap ke arahku dengan tangan yang masih menempel di telinganya.
__ADS_1