
" Kak kita batalkan saja pernikahan ini!" Ucap Zahira, yang baru keluar dari dalam mobil bersama dengan Malik. Mereka hendak mengambil cincin pernikahan yang sudah dipesannya.
"Apa maksudmu?" tanya Malik, dan membalikkan tubuhnya, dan mendekati Zahira yang masih berdiri mematung di sisi mobil.
"Kak Malik terlalu dingin padaku, jika memang kak Malik tidak mau menikah denganku atau kak Malik ada perasaan dengan orang lain. Lebih baik kita batalkan saja. Aku akan bilang sama Mommy, kalau ini keputusan kita berdua." Jawab Zahira, mencoba menepis perasaannya sebelum terlambat.
Malik mencengkeram kedua lengan Zahira. "Zahira, jangan mengambil keputusan dengan gegabah, apa kamu tak memikirkan perasaan orang tua kita, yang sudah menyiapkan semuanya. Jika aku tidak mau menikah denganmu, aku sudah menolaknya dari awal. Apa kamu paham." Malik mencoba memberi pengertian kepada Zahira, gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Benarkah? Apa kak Malik mencintaiku? Apa kakak tahu, sebenarnya aku menyukai kakak, sejak aku duduk di bangku SMP. Perhatian kakak kepadaku membuahkan sebuah perasaan cinta. Tapi aku malu untuk mengungkapkannya dari
dulu. Mungkin kakak akan menertawai aku jika kakak tahu dari dulu." Wajah Zahira merona, menahan malu kerena berkata jujur.
Malik hanya mengukir senyum, ia pun meraih tangan Zahira dan menyatukan dalam genggaman tangannya. "Ayo kita masuk, untuk mengambilnya." Malik pun menarik tangan Zahira untuk masuk ke toko perhiasan.
Sebagai pembeli VIP, Malik dan Zahira di persilahkan duduk di tempat yang sudah di
sediakan, dan manager toko pun langsung turun tangan untuk menjelaskan detail cincin yang mereka pesan.
"Bagaimana hasilnya pak Malik dan nona Zahira, Apa anda menyukainya?" tanya manager tersebut saat keduanya mencoba cincinnya.
"Ini sangat indah sekali, aku menyukainya." jawab Zahira yang terus memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Sesuai pesanan. Aku puas dengan hasilnya. Baiklah, saya akan membayar sisanya." Malik menyerahkannya kartu debit kepada manager untuk pelunasan harga cincin tersebut.
Manager itupun menerima dan melaksanakan proses pembelajaran. Sedangkan yang lain, mengemas cincin pernikahan tersebut dengan apik.
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan tolo. perhiasan. Zahira nampak bahagia. Setelah sekian lama memendam rasa, akhirnya ada kesempatan untuk bisa bersanding dengan laki-laki yang ia sukai sejak pandangan pertama.
"Zahira..."
"Hm"
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang, jika tidak keberatan bisakah kamu pulang sendiri. Aku ada jadwal operasi pasien. Em, aku pesankan taksi ya."
"Bolehkah aku ikut? kan sebentar lagi aku jadi istrimu, biar aku tahu waktu bagaimana pekerjaan calon suamiku." Zahira pun bergelayut manja, merayu Malik.
"Maaf, Zahira. Tapi tidak sekarang, lain kali saja ya."
"Baiklah kalau begitu. Tapi ada syaratnya." jawab Zahira dengan cemberut sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Zahira..."
"Panggil Sayang, maka aku akan pulang sendiri."
"Baiklah, sayang. Bisakah kamu pulang sendiri. Jika aku harus mengantarkan kamu pulang, maka aku harus putar balik untuk kembali ke rumah sakit. Apa kamu tak kasihan padaku." jelas Malik dengan lidah agak kaku saat memanggil kata sayang untuk Zahira.
Malik pun terpaksa harus meninggalkan Zahira, karena tuntutan pekerjaan yang sudah menunggunya.
Zahira pulang dengan perasaan sangat bahagia. Sesampainya di rumah orang pertama yang ia cari adalah Cristal, kakak iparnya yang selalu mengerti perasaannya.
"Huusssttt..."
Zahira pun masuk pelan-pelan sambil membungkam mulutnya. Ia pun langsung memeluk Cristal dengan perasaan sangat bahagia.
"Kak hari ini aku sangat bahagia sekali. Apa yang kakak katakan benar, Mas Malik itu ternyata juga mencintai aku. Apa kakak tau, dia tadi memanggil aku sayang." Jelas Zahira dengan ekspresi kegirangan.
"Benarkah? Akhirnya kak Malik membuka hatinya buat kamu. Aku titipkan kak Malik padamu, tolong cintai kak Malik dengan tulus, dia sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri. Jangan kecewakan aku ya."
"Aku janji kak. Akan menjadikan kak Malik satu-satunya suamiku." Zahira pun memeluk Cristal sekali lagi, lalu pergi meninggalkannya.
Cristal hanya bisa mengulum senyum, ikut bahagia dan selalu berdoa agar keduanya benar-benar tulus saling menyayangi.
* * * *
__ADS_1
Senja hari, Cristal bersama baby Za duduk di teras sambil menunggu Zack pulang dari bekerja.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya sebuah mobil masuk halaman, namun ternyata itu adalah mobil Zion, sedangkan Zack belum juga kembali.
Dari dalam mobil, Zion memandang Cristal yang sedang menggendong putranya. 'Andai yang ia tunggu itu aku, hatiku pasti akan sangat bahagia, dan tak mungkin aku membiarkan mereka menunggu terlalu lama.' gumam Zion yang kini hanya bisa berandai-andai saja, karena wanita yang ia sukai sudah menjadi milik saudaranya.
Suatu alasan membuat Zion enggan untuk menikah. Alasan itu tak pernah ia ceritakan kepada siapapun termasuk Cristal. Zion hanya berharap suatu hari nanti, satu dari kesekian harap ada yang terwujud.
Zion pun keluar dari dalam mobil dan menghampiri Cristal. "Sore paman Zion." Sapa Cristal untuk putranya.
"Sore juga baby Za." Zion pun menci*um kening baby Za. "Em ternyata sudah wangi." puji Zion lalu tiba-tiba ia menci*um kening Cristal, dan mengusap pucuk rambutnya.
Seketika bola mata Cristal hampir keluar, terkejut dengan sikap Zion secara tiba-tiba, dengan menci*um kening istri saudaranya.
"Zion, apa yang kamu lakukan? itu tidak boleh!" Protes Cristal.
"Maaf aku khilaf, sambil berlalu masuk. Tak memperdulikan lagi ekspresi Cristal saat itu juga.
"Apa... dia bilang khilaf? mudah sekali dia bilang khilaf, jelas-jelas tadi dia sengaja menci*umku. Memangnya seperti itu bisa di bilang khilaf." ucap Cristal seorang diri.
"Sayang, apa kamu lihat tadi, kelakuan pamanmu yang aneh itu. Mama mohon jangan mengadu ke papa ya, apa yang kamu lihat tadi, nanti bisa jadi perang." Cristal pun mewanti-wanti putranya yang melihat, padahal itu percuma saja, bagaimana mau mengadu baby Za saja belum bisa bicara.
Tak lama, yang di tunggu Cristal pun akhirnya pulang juga. Suami tercintanya pulang dengan membawa buket bunga.
"Sore sayang, apa sudah lama menunggu." Zack pun menci*um kening Cristal lalu memeluknya.
"Hampir satu jam aku menunggu, kenapa mas pulangnya lama, padahal kan aku dan baby Za sudah dandan dan wangi buat menyambut mas pulang kerja." Jawab Cristal sambil cemberut.
"Maaf, tadi aku harus menyelesaikan sedikit pekerjaan. Kamu tahu sendiri kan, aku harus mengurus dua perusahaan sekaligus. Perusahaan ku dan perusahaan mu yang kamu percayakan padaku. Em, sebagai permintaan maaf ini mas bawa buket bunga ke sukaan mu. Jangan cemberut lagi ya." Zack pun memberikan buket bunga tersebut dan mengambil Baby Za agar ia bisa menggendongnya sambil masuk ke rumah.
To Be Continued ☺️☺️☺️
__ADS_1