
Setelah sah menjadi suami istri, Zion membawa Cica ke kamar setelah semua acaranya selesai, agar bisa istirahat untuk melepas lelah, sekaligus menikmati sebagai pengantin baru.
"Aaauuhhh..."
Cica mengaduh Manahan sakit, akibat ulah Zion yang melemparkan tubuhnya di atas ranjang dengan kasarnya.
"Kau pikir aku ini bantal, bisa-bisanya kamu lempar di atas kasur sesukamu." Herdik Cica kesal, dengan sikap Zion yang tak manusiawi itu.
"Ini kan yang kamu mau, berharap Aku membopongmu masuk ke dalam kamar, meletakkan tubuhmu di atas ranjang pengantin, merayumu dengan kata-kata pujian, dan membelai tubuhmu yang mulus, dan melewati malam pertama dengan luar biasa." Zion mendekati wajah Cica, dan membuat mulutnya terkatup, memikirkan apa yang akan di lakukan Zion padanya.
Zion meniup wajah Cica yang sedang memejamkan mata, "Jangan harap kamu mendapatkannya." Tiba-tiba Zion berucap dan itu membuat Cica benar-benar terkejut, jantungnya yang awalnya berdebar-debar, seketika terhenti. Matanya langsung terbelalak tak percaya.
Seketika Cica mendorong tubuh Zion sekuat tenaga, hingga Zion jatuh terjengkang.
"Kau melupakan sesuatu suamiku!" ucap Cica menghampiri Zion yang memperbaiki posisi berdirinya.
Dengan ganjennya, Cica terus memepet Zion hingga tubuh Zion menempel ke dinding. Cica menarik kerah baju Zion dengan kuat.
"Kalau lupa kalau kita ini sudah sah menjadi suami istri, jika kamu tidak bisa memulainya duluan, biar aku yang memulainya lebih dulu."
Zion tak bisa berkutik, ia hanya bisa meneguk Saliva-nya sendiri saat Cica menaikkan gaun ke atas dan memperlihatkan pahanya yang mulus.
"Apa begini kurang menggoda?" tanya Cica dengan genit, sambil meraba kemeja depan Zion.
Sebagai laki-laki normal, Zion hampir tak mampu menahan godaan Cica yang membuatnya panas dingin.
Zion mencekam tangan Cica untuk menghentikan pergerakan tangannya, salah satu tangan Zion meraih pinggang Cica dan menariknya dalam pelukannya.
__ADS_1
Nafas Zion benar-benar memburu, aroma tubuh Cica semakin memancing Zion untuk lebih intim.
Mendapati Zion sudah mulai panas, Cica jadi kebingungan sendiri,
"Lepaskan aku Zion, aku sudah gak tahan Pengan ke toilet, aku ingin buang air kecil," bisik Cica yang tiba-tiba panas dingin.
Bukannya melepaskan, Zion malah membawa Cica ke atas ranjang, dan kini Cica berada di bawah tubuh Zion yang sudah dalam mode **
"Lepaskan aku Zion, kau bilang tidak akan menyentuhku." Cica terus meronta sekuat tenaga.
"Kenapa kamu berani menggodaku, dan sekarang kamu harus bertanggung jawab menidurkan yang sudah bangun."
Otak Cica langsung treveling dan melirik sesuatu yang tersembunyi milik Zion.
"Astaga, tenyata aku sudah membangunkan ular cobra, bagaimana ini, bagaimana aku bisa lepas darinya." gumam Cica dalam kebingungan.
"Lepaskan aku Zion jangan per*sa aku. A-aku tadi hanya bercanda, karena kamu duluan sudah meredakan aku. Please Zion lepaskan aku." rengek Cica terus menerus, berharap Zion tidak sungguh-sungguh akan memper*sanya.
Ritual malam pertama yang awalnya tidak di inginkan, pada akhirnya terlaksana juga.
Cica tak bisa berkutik melawan Zion dalam permainan ranjang untuk yang pertama kalinya.
****
Keesokan harinya, Cica terbangun dengan hanya mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya, Cica meraba kesamping dan tidak mendapati Zion ada di sampingnya.
"Sudah bangun rupanya." ucap Zion yang baru keluar dari kamar mandi yang mampu mengejutkan Cica.
__ADS_1
"Apa yang sudah kamu lakukan? kenapa kamu lakukan ini padaku, kau sudah pemper*saku Zion, kau jahat."
Kata-kata Cica terasa menggelitik di telinga Zion, "Apa kamu bilang? coba ulangi lagi! apa gak salah kau bilang aku memper*samu. Sepertinya kamu lupa, kalau malam tadi kamu sangat menikmatinya. Lagian kau itu istriku, itu artinya aku bisa melakukan apapun terhadap dirimu, dan itu semua salahmu, kalau saja kamu tidak menggoda duluan, tak mungkin aku melakukannya." Saut balik Zion membuat Cica bungkam, dan merasa malu, mengingat kejadian malam itu.
Setelah Zion keluar kamar, Cica bergegas membersihkan diri setelah itu segera menyusul keluarga besar Casandro kumpul untuk sarapan.
Wajah Cica menjadi merona, saat merasa Malu, karena seluruh keluarga sedang menatapnya.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Cica lalu segera duduk di samping Zion.
Cica melirik Zahira yang wajahnya tengah berseri-seri. "Kak Cica, setelah sarapan kita ngobrol sebentar yuk!" ajak Zahira, dan Cica hanya membalas dengan senyuman saja.
"Cica, Sekarang kamu adalah bagian dari keluarga Casandro, Mommy dan Daddy, berharap kamu bisa beradaptasi dengan keluarga ini, tak papa tidak keseluruhan asalkan mau belajar itu lebih penting.
"I-iya Mom, saya akan berusaha menjadi menantu yang baik." Jawab Cica dengan sopan.
"Dan kamu Malik, Karena kamu adalah menantu keluarga ini dan kamu adalah dokter, kamu akan menjadi dokter kepercayaan keluarga ini."
"Ia Mom, saya akan menjadi menanti yang baik dan berusaha menjadi dokter yang profesional di keluarga ini." jawab Malik.
"Baiklah, Oya Mommy hampir lupa pesan dari Mama kamu, Sebelum kamu kembali ke rutinitas kerja, dia berharap kamu datang menemuinya bersama Zahira." ucap Klara menyampaikan pesan dari Mama angkat Malik.
"Tenang saja Mom, kami sudah merencanakan jadwal buat kerumah mertua." Saut Zahira sambil cengengesan.
Zion melirik Cica yang hanya mengaduk-aduk makanannya, setelah mendengar ucapan Zahira yang ingin menemui mertuanya.
"Apa ada yang ingin kamu temui sebelum aku kambali beraktivitas?" Bisik Zion yang merasa simpati. Cica menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantarmu menemuinya, Sekarang makan sarapanmu, jangan perlihatkan pada Mommy masalah kita." imbuh Zion dan kembali melanjutkan sarapannya.
To Be Continued ... ☺️