Aku Bukan Dora (Membuatmu Menyesal)

Aku Bukan Dora (Membuatmu Menyesal)
ABD~ 80


__ADS_3

"Cristal papa tau kamu masih membenci papa, dan papa sendiri sadar dari awal papa sudah bersikap tidak adil padamu bahkan memperlakukan kamu sebagai beban." Aryo menarik nafasnya berat, sebelum melanjutkan ucapannya. " Sebenarnya papa sangat menyayangi kamu, tapi keadaan memaksa papa harus membencimu, mungkin ini untuk terakhir kalinya papa bicara padamu untuk minta maaf, Agar papa nanti bisa pergi dengan tenang." Aryo meraih tangan Cristal namun dengan segera Cristal menepisnya.


"Papa jangan banyak berfikir, aku sudah memaafkan papa, jika aku benci papa, tidak mungkin aku ada di sini." jawab Cristal, namun hatinya bertolak belakang dengan ucapannya.


"Lebih baik papa istirahat saja, aku mau melihat mas Zack. Tenang saja pa, aku akan bermalam di sini untuk menemani papa." imbuh Cristal dan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan kemar Aryo.


"Tunggu Cristal, papa harus mengatakan ini padamu sebelum terlambat! Sayang, papa mohon padamu tolong waspada dengan tuan Robert, dia bukan orang baik seperti yang kamu kira. Dia bisa melakukan berbagai cara hanya untuk mendapatkan apa yang dia mau. " jelas Aryo.


"Papa bicara apa, jangan asal menuduh tuan Robert ya pa, dia itu sangat baik. Aku tidak suka papa bicara begitu." Cristal pun mengabaikan ucapan Aryo dan berlalu.


Cristal menghampiri Zack yang sedang duduk seorang diri di teras rumah, menunggu Cristal yang sedang bicara empat mata dengan Aryo.


"Mas, kenapa kamu di luar? ini sudah malam dan di luar sangat dingin." Tegur Cristal saat menemukan suaminya di luar rumah saat mendapati tak ada Zack di ruang tamu.


"Gak papa, sengaja ingin bersantai saja di sini. Apa sudah selesai? Bagaimana keadaan Papamu, apa dia baik-baik saja?" tanya balik Zack.


"Maaf ya mas, atas sikap papa tadi. Aku sudah selesai bicara dengannya. Eemm... mas, bisakah kita bermalam satu malam saja di sini? aku gak tega meninggalkan papa. Kalau seandainya mas gak mau tidur di rumah ini, mas bisa cari penginapan dekat sini."


"Kamu itu ngomong apa, bagaimana bisa aku menolak tidur di tempat mertuaku sendiri. Orangtuamu itu juga orang tuaku juga sayang. Tapi-" Zack mengganggu ucapannya.


"Tapi apa mas?"


"Tapi aku merasa rumah ini terlihat berbeda, seperti sedang berduka. Auranya sangat mirip seperti saat di kediaman Gavin." Ujar Zack dengan dingin.


"Mas... jangan menakut-nakuti aku. Mas bukan orang indigo. Papa memang sedang sakit, tapi aku yakin papa akan sembuh." Saut Cristal dengan cemberut, membantah ucapan Zack yang dianggapnya hanya lelucon.

__ADS_1


"Gak usah di anggap serius kalau gak percaya. Ayo masuk dan istirahat, di luar udaranya semakin dingin dan sudah hampir tengah malam."


"Oya mas aku hampir lupa, tadi papa minta dibuatkan bubur. Aku ke dapur dulu ya mas, sebentar, nanti kalau sudah selesai dan papa jadi makan baru aku istirahat." Zack hanya mengangguk membiarkan istrinya melakukan kewajibannya sebagai seorang anak.


Cristal segera pergi ke dapur dan membuatkan bubur buat papanya di tengah malam, sedangkan Zack menemani putranya yang sudah tertidur.


Setelah selesai, Cristal segera menyajikannya di dalam mangkuk dan segera membawa bubur buatnya ke kamar papanya agar bisa segera di cicipi.


Perlahan Cristal membuka pintu kamar Aryo dan membawanya satu mangkuk bubur, namun sayang saat masuk Cristal mendapati Aryo sedang tertidur.


"Pa, aku buatkan bubur buat papa." ucap Cristal dengan lembut berharap Aryo bangun tapi tidak mengagetkannya.


Cristal mengulang ucapannya lagi, namun Aryo tak merespon sama sekali.


"Apa papa sudah tidur dengan pulas, sampai panggilanku tidak didengarnya?" gumam Cristal. Lalu ia menatap wajah pucat papa angkatnya itu. Jika teringat masa kecilnya saat belum ada Alira, Cristal masih merasakan kehangatan Aryo saat berusaha mengambil hati Cristal agar mau menerima dirinya sebagai seorang papa.


Cristal mengecup kening Aryo dan mengucapkan selamat malam. Namun saat Cristal menyentuh tangan Aryo, Suhu tubuhnya berbeda, Tubuhnya sangat dingin, membuat Cristal terkejut, ia pun langsung memeriksa keningnya dan ternyata sama. Cristal langsung mendekatkan jemarinya di dekat hidung memastikan jika papanya masih hidup namun nihil, ia pun kembali memeriksa denyut nadinya di pergelangan tangan, namun tidak menemukannya.


"Tidak- tidak mungkin ini?! Pa... bangun pa, jangan tinggalin Cristal... Papa jangan bercanda. Papa belum mati kan." Cristal menggoyang tubuh Aryo agar bangun.


"Mas..., Mama... Alira..." Teriak Cristal histeris.


Zack yang mendengar, bergegas menghampiri Cristal dan saat sampai, ia melihat istrinya menangis di pelukan papanya dan masih berusaha membangunkannya.


Zack menghampiri dan menyentuh pundak Cristal. Segera Cristal menghambur kepelukan suaminya itu.

__ADS_1


"Papa... Mas, Papa, hiks... hiks.."


Disisi lain, Alira pun berteriak histeris.


"Mama... mama... bangun ma..." teriak Alira.


Cristal mendengar tangisan Alira. "Mama... ada apa juga dengan mama..." Cristal dan Zack pun bergegas ke salah satu kamar dan mendapati Alira histeris berusaha membangunkan mamanya.


Cristal langsung syok dan langsung terduduk tak ada tenaga lagi yang tersisa saat mendapati kedua orang tuanya meninggal di hari yang sama.


"Mama..." lirih Cristal.


Tak butuh waktu lama, kediaman Aryo sudah ramai dengan orang-orang yang turut berduka, kepolisian pun datang untuk memastikan penyebab kematian deduannya.


****


Kabar kematian orang tua angkat Cristal terdengar sampai ke Zion dan Malik, mereka pun memutuskan untuk kembali sesegera mungkin,


"Aku yakin saat ini Cristal dalam duka yang mendalam, ia pasti sangat sedih. Andai aku di sana aku pasti bisa membantu mengurangi kesedihannya." Gumam Zion saat mengemudi mobilnya dalam perjalanan pulang.


"Kamu harus kuat Adinda, Akak akan segera datang menemuimu, tunggu Akak Dinda, Akak kembali." Gumam Malik.


Dua pasang pengantin baru pun melajukan kendaraannya agar bisa segera sampai.


Cica memperhatikan wajah Zion yang nampak cemas, " Sebegitu dalamnya cinta Zion untuknya. Sampai Ia begitu mencemaskan nya. Aku masih butuh waktu lebih lama lagi agar bisa membuatnya membuang cintanya dari dalam hati dan menempatkan diriku di hatinya."

__ADS_1


Disisi lain, Zahira terus mengingatkan Malik untuk mengurangi kecepatan berkendaranya, karena sudah membuatnya mual dan ingin muntah. Namun Malik tetap tidak mau mengurangi kecepatan dengan alasan agar cepat sampai.


To be continued ☺️


__ADS_2