
Akhirnya Cristal sudah di izinkan pulang, setelah sempat tertunda atas permintaan keluarga Casandro.
Zack membawa kembali istrinya pulang ke rumah agar bisa segera bertemu dengan putranya.
Sepanjang perjalanan, Zack tak banyak bicara, ia masih memikirkan tentang kedatangan Robert tanpa izin.
"Apa sebenarnya tujuannya? Apa dia tidak punya mata, kalau Cristal itu sudah punya suami." Gerutu Zack sambil sesekali memukul setir mobil untuk melampiaskan kekesalannya.
"Kamu kenapa mas?" tanya Cristal yang merasa sikap Zack berbeda.
"A-aku... aku hanya kecapean saja, tanganku agak sakit makannya aku pukul-pukulkan ke setir." Jawab Zack gugup.
" Oh... Mas, selama di rumah sakit, aku merasa ada yang mengawasi aku ya mas." Ucap Cristal membuat Zack mengingat sesuatu hal, ia pun segera menepikan mobilnya.
"Kenapa mas?" tanya Cristal lagi.
"Aku hampir saja lupa, membicarakan hal ini padamu. Sebelum aku lupa lagi aku ingin menunjukkan ini padamu." Zack mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkan kembali kalung milik Cristal.
"Apa mas sudah mendapatkan informasi tentang kalung ini?" tanya Cristal sambil mengambil kembali kalung miliknya, Zack pun mengangguk.
"Aku ingin kamu terus mengenakan kalung itu, Mamamu sengaja membuatkan itu untukmu sebagai jimat perlindungan." Zack pun membantu Cristal mengenakan kembali kalung yang selalu ia kenakan sebelumnya.
"Kamu benar mas, Mama memberikan kalung ini sebagai jimat pelindung. Dengan kalung ini aku selamat dari musibah kecelakaan, dengan kalung ini juga aku bisa mengetahui identitas diriku sebenarnya dan aku juga bisa mengenal dan menikah denganmu." Cristal menyandarkan kepalanya di pundak Zack sambil mengenang masa lalunya.
"Mungkin lebih baik, kamu tidak tahu sebenarnya Cristal, biarkan semuanya berlalu. tidak ada gunanya mengungkit masa lalu kembali. Kini yang terpenting menjaga hubungan rumah tangga kita, jangan sampai batu sandungan menghancurkan semuanya, dan Membesarkan Za jauh lebih penting ketimbang mengurus masa lalu yang hanya akan meninggalkan luka." Gumam Zack sambil mengusap pipi Cristal.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang, dan selama perjalanan Cristal memilih untuk tidur ketimbang menemani Zack yang sedang menyopir mobilnya sendiri.
Sesampainya di rumah, Zack membangunkan Cristal, " Bangun Cristal, Kita sudah sampai!"
Cristal pun menggeliat lalu mengucek matanya sebelum ia benar-benar tersadar dari tidurnya.
"Kita sudah sampai?" tanya Cristal yang masih linglung.
__ADS_1
"Sudah, makanya aku bangunin. Ayu cepat turun." Zack pun membantu Cristal yang masih dalam kondisi agak lemah dan mengantarkannya di kamar.
"Mas, aku mau ketemu Za dulu, aku sangat merindukannya." Ucap Zack.
"Nanti ya, istirahat saja duluan, nanti biar babysitter yang mengantarkan Za kepelukan mu."
"Ya baiklah, aku istirahat dulu." Cristal kembali melanjutkan tidurnya, entah kenapa Cristal begitu mudah lelah, dan selalu ingin tidur lebih lama.
Zack memandangi wajah istrinya sejenak, lalu ia meninggalkan kamar dan membiarkan Cristal istirahat.
*****
"Kenapa kamu tidak bilang kalau masih punya keluarga, kan setidaknya di kabari agar bisa hadir melihatmu menikah?" tanya Zion kepada Cica.
"Sudah aku bilang, aku tidak punya keluarga, aku hanya ingin menemui seseorang yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Lagian kita menikah kan dadakan bagaimana bisa aku mengabarinya, dan aku juga sudah lama tidak pernah bertemu dengannya." Jawab Cica.
"Baiklah kalau begitu, Minggu depan kamu temui orang yang ingin kamu temui, sendiri."
"Buat apa? Pernikahan ini hanya sementara, sampai aku berhasil membujuk Mommy agar aku bisa menceraikan kamu. Sudah aku katakan berkali-kali kalau aku tidak pernah mencintai kamu."
"Apa itu karena Cristal?" tanya Cica, membuat Zion murka.
"Tutup mulutmu, Asal kamu tau. Wanita yang kamu rendahkan sa-"
"Kak Cica di panggil Mommy" Teriak Zahira di luar pintu kamar.
"Aku menemui Mommy dulu, kita bahas ini nanti lagi." ucap Cica yang nampak sedih, setelah mendapat bentakan dari Zion.
Setelah Cica keluar, Zion pun merasa bersalah dengan ucapannya barusan.
"Aarrghh... Apa yang sudah aku lakukan, seharusnya aku bisa mengontrol emosiku, bagaimana kalau sampai Cica mengadu ke Mommy mengenai sikapku barusan. Aarrghh... bodohnya aku." dengan kesal Zion mengacak rambutnya, ia pun bergegas pergi untuk mencari udara dan menenangkan pikiran agar tidak salah lagi dalam bertindak.
Ternyata saat Zion sedang jalan-jalan di sekitaran Villa, ia bertemu dengan Malik yang sepertinya sedang mengalami masalah yang sama.
__ADS_1
"Kau... Kenapa ada disini? dan kenapa wajahmu nampak suram sekali?" tanya Zion.
"Kau sendiri kenapa? pengantin baru kok wajahnya kusut kaya cucian belum di setrika." Ejek balik Malik dan Zion langsung memegang wajahnya memastikan.
"Kau tau kan, kalau aku menikah dengan Cica bukan di dasarkan suka, jadi wajar kalau terjadi masalah. Kamu sendiri kenapa? Awas saja kalau kamu menyakiti Zahira, aku pastikan kamu tidak akan bisa hidup dengan tenang." ancam Zion.
"Aarrghh... Kakak sama adik sama saja, bisanya cuma mengancam saja."
"Maksudmu?"
"Iya adikmu itu mengancam ku, jika dia tidak hamil dalam satu sampai dua bulan depan dia bakal menghukumku. Aku memang dokter kandungan, tapi bukan berarti aku bisa memastikan kalau dia akan hamil dalam satu sampai dua bulan, karena jika harus program itu pun perlu waktu dan adikmu tidak bisa memahami itu." Jelas Malik dengan kesal.
Kedua pria itu saling curhat mengenai pernikahannya bang masih sangat baru dan sudah mengeluh dengan sikap para istrinya.
"Apakah setelah menikah, laki-laki akan di tidas para istri? atau kitanya yang terlalu lemah saat berhadapan dan kalau sudah melawan seorang istri."
Tak beda jauh dengan Zion dan Malik. Zahira dan Cica pun curhat mengenai suami barunya yang tidak sesuai dengan harapannya.
"Aku kesel dengan kak Malik, kakak ipar. Masa aku cuma minta biar cepat hamil malah dia menceramahi aku." ucap Zahira.
"Hamil? apa kamu ingin cepat -cepat punya anak? bukankah usiamu masih muda, kenapa buru-buru pengen hamil?" tanya Cica tak percaya.
"Iya kakak ipar, aku ingin cepat hamil, biar nanti bisa punya banyak anak kan biar ramai rumah." Saut Zahira dengan kegirangan.
"Hamil! bagaimana denganku? aku belum siap jika harus hamil ada dari Zion, tapi... Bagaimana kalau yang tadi malam itu jadi, dan aku hamil. Oh... tidak... aku tidak bisa bayangkan kalau aku hamil anak dia." gumam Cica memikirkannya.
"Kakak ipar... kamu kenapa?" tegur Zahira yang melihat ekspresi Cica seperti orang sakit perut.
"Heeemmm... maaf aku malah melamun."
"Bagaimana dengan malam pertamamu? Apa kakakku bisa buat kakak ipar klepek-klepek? Ayo dong cerita? Biar kita bisa berbagi kisah, bahkan kalau perlu kita hamilnya barengan." ajak Zahira yang membuat Cica hanya bisa menepuk jidat.
To Be Continued ☺️
__ADS_1