Aku Bukan Wanita Penghibur

Aku Bukan Wanita Penghibur
harapan yang tidak akan terwujud


__ADS_3

Bara berusaha ingin menangkap tangan ayunda tapi terlambat ayunda sudah menjauh,


" maaf yah kek tadi Ayunda tinggal sebentar, mau ayunda bantu siap-siap kek," kata ayunda menawarkan diri untuk membantu


Ayunda kamu memang anak yang baik, andaikan aku bisa berharap aku ingin agar kau bisa menjadi cucu ku, cucu menantu ku ayunda pikir kakek, tapi dia tau harapan nya itu sungguh tidak akan pernah terwujud, apa lagi sekarang Bara sudah memiliki Elsa istrinya,


kakek mengangguk kan kepala nya, tandanya dia setuju di bantu oleh ayunda,


" nanti setelah kakek sampai di sana kakek jangan lupa jaga kesehatan kakek, minum obat secara teratur, ayunda dan Alisa pasti akan selalu merindukan kakek," kata ayunda sambil mengganti baju kakek Rangga,


kakek tersenyum dengan tangan bergetar dia berusaha mengusap kepala ayunda, ayunda bukan siapa-siapa nya tapi ayunda memperlakukan nya seperti kakek nya sendiri,


Bara memperhatikan semua itu dari pintu masuk ke dalam kamar, ekspresi wajah nya susah untuk di artikan, entah apa yang sedang berada di pikiran nya saat ini,


" makanannya enak yah, tidak kalah sama makanan di restoran-restoran berbintang," kata salah satu


" iya enak banget, tapi jelas enak sih orang, yang masak aja orang cantik pasti masakannya juga enak dong," kata yang satunya lagi,


" tapi serius enak masakannya, jadi pengen tak jadiin bini," kata yang satu lagi,


" iya kalau dia mau ma lu yang berandalan," kata Anton,


tapi dalam hati Anton pun membenarkan kata-kata mereka semua, karna dia sendiri pun juga menaruh hati pada ayunda lelaki mana yang tidak menyukai perempuan cantik baik dan pintar dalam masak memasak, pokonya Ayunda adalah paket lengkap bagi mereka,


mereka yang asyik bercerita tentang ayunda tak sadar bos mereka berada di belakang mereka


hemm heemm, dehem Bara semua langsung berdiri karena kaget,


" bagai mana kondisi mereka semua di markas," tanya Bara yang tiba-tiba muncul di depan Anton dan yang lain,


" tadi sudah ada perawat yang datang untuk merawat luka-luka mereka, tapi Rio harus di larikan ke rumah sakit karena kondisi nya yang paling parah," kata Anton,


" dimana Rio di rawat," tanya bara lagi,


" Medika Husada tuan," kata Anton


Medika Husada, itu kan tempat kerja Brayen, Bara mengambil hp yang senantiasa berada di kantong celananya, dan menghubungi seseorang


" kau di mana sekarang," tanya bara di dalam telfon,


"__"


" ada anak buah ku di rawat di situ, cepat tangani dia," Tampa menunggu jawaban dari lawan bicaranya Bara langsung mematikan sambungan telepon nya,


" kabari Ramon katakan kita akan pulang siang ini bila dia ingin ikut, tapi bila dia masih ingin tinggal tak apa," kata bara lalu berjalan lagi masuk kedalam rumah,

__ADS_1


Bara duduk di sofa untuk memeriksa dan memantau perusahaan, dia senantiasa memeriksa perkembangan perusahaan dari laptop miliknya yang selalu di bawahnya,


" mas bara mau bawa kakek pergi yah," tanya alisa, Bara menoleh pada anak kecil yang selalu tampak pucat itu,


" mas Bara jangan bawa kakek pergi yah alisa tidak punya teman lagi, kalau kakek pergi," kata Alisa dengan mata berkaca-kaca


" Alisa!" bentak ayunda,


Alisa yang hampir tidak pernah di bentak oleh ayunda berlari masuk kedalam kamar mengurung diri dalam kamar sambil menangis,


" maaf Alisa cuma anak kecil gak perlu di hiraukan kata-kata nya,


Bara hanya mengangguk dan kembali sibuk dengan laptopnya,


tok tok tok


" permisi," suara Anton terdengar dari luar,


" masuk," kata bara seolah-olah dia adalah tuan rumah,


" tuan kata Ramon dia mau ikut bersama kita tuan," lapor Anton


" Hem suruh siap-siap," katanya Tampa mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya


* * *


" sayang, ini sungguh nikmat, kau memang selalu bisa memuaskan ku sayang," rancau nya lagi,


" sayang aahhh sayang tukar posisi sayang ahhhh,," Elsa terus saja bergoyang di atas paha Gilang, baru beberapa jam yang lalu Elsa habis berkelahi tapi mungkin pengaruh obat yang di konsumsi membuatnya tidak merasakan sakit tau pun cape,


Gilang yang cuma memar-memar di bagian muka langsung strong saat Elsa menaiki paha nya dan menciumi seluruh wajah dan lehernya,


si otong jangan di tanya, dia sudah tegak bagai menara Eiffel, langsung saja Elsa memasukan si Otong kedalam sarang belukar nya,


" ahhhh,,," saat si Otong berhasil tertanam sempurna, bagai terbang melayang-layang di udara itulah yang di rasakan dua insan yang Tampa ikatan itu,


Gilang mengangkat badan Elsa dan membaringkan tubuhnya di atas sofa yang tadi di dudukinya,


" sayang,,aahhh ahhh eeemmmm lebih cepat lagi sayang, aku sudah di ujung sayang," rancau Elsa


Gilang mencabut penisnya, lalu mencium dan mengisap-isap punya Elsa,


" Gilang aku bisa gila Tampa mu, berikan pada ku punya mu," kata Elsa menggelenjang saat Gilang mengisap punyanya


Gilang mengangkat tubuh Elsa dan memindah kan nya ke tempat tidur, mereka saling memberi kenikmatan satu sama lain, hingga mencapai puncak *******

__ADS_1


" aaahhhhhhhhhhh,,,,,, teriak dua isnan yang saling memberi satu sama lain kenikmatan dunia, mereka terjatuh di atas tempat tidur,


* * *


Bara dan yang lain sudah siap untuk berangkat berkali-kali bara ingin memberikan uang tersebut pada Ayunda, tapi tetap di tolak oleh ayunda


Alisa sudah sejak tadi menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayunda,


" Bu, yah, aku berangkat dulu ya," Ramon menyalami ke dua orang tua nya,


" hati-hati nak jaga kesehatan," kata Bu RT juga meneteskan air mata, hanya pak RT terlihat tenang


" Yun mas berangkat yah," kata Ramon mengulur kan tangan pada ayunda, ayunda tersenyum menyambut uluran tangan Ramon


" hati-hati mas," katanya, sambil melambaikan tangan pada rombongan Anton dan Ramon,


bara bersama Agus dan kakek,


Bu Rima dan Tika memperhatikan dari dalam rumah dengan sedikit mengintip,


" Bu kayanya mereka semua itu satu kelompok deh," kata Tika


" maksudnya," Bu Rima bingung dengan kata-kata Tika


" tu orang-orang yang dari kota, datang nya bareng pulang pun juga bareng," jelas Tika


" iya yah tik, mungkin mereka itu keluarga nya si kakek tua Bangka itu deh," kata Bu Rima


" wah kalau dia keluarganya si kakek-kakek itu, berarti benar dong Bu kakek itu orang kaya," kata Tika,


" he eh tik kayanya gitu deh," Bu Rima selalu saja mau termakan omongan anaknya sendiri


" Bu kita samperin yuk mana tau si Ayunda dapat komisi yang banyak secara dia udah menemukan dan merawat kakek tua Bangka itu," usul Tika,


" iya tik hayu," Bu Rima hayu-hayu saja bila di ajak apa lagi di ajak menggerebek rumah ayunda,


Bu Rima berjalan ke arah rumah ayunda, di ikuti Tika di belakang nya, Tampa memberi salam kepada tuan rumah, dia langsung saja masuk menyelonong,


mata Bu Rima dan Kartika melotot melihat sofa baru dan cantik yang berada di ruang tamu rumah ayunda,


" wiihh betulkan Bu apa Tika bilang, pasti ayunda dapat komisi yang banyak buktinya aja dia bisa beli sofa semahal ini," kata Tika ayunda keluar melihat bibi dan sepupunya sudah duduk di sofa Tampa di suruh,


" bi Rima Tika, ada apa," tanya ayunda hendak menyalami bibinya, tapi tak di hiraukan, oleh mereka,, mereka asyik dengan sofa baru itu,


" eh Ayunda bagi dong komisi nya," kata Tika, padahal usia ayunda jauh lebih tua dari nya tapi dia tidak ada sopan santun nya pada ayunda,

__ADS_1


Ayunda sedikit bingung dengan ucapannya sepupunya itu, komisi apa yang dia maksud,


🌻🌻🌻🌻


__ADS_2