AKU-KAU DAN IBUMU

AKU-KAU DAN IBUMU
ep:17


__ADS_3

Ferry yang baru berangkat dari rumah Ibu nya,


Ferry majukan mobil pickup kijang komando berwarna hijau yang telah dibelikan Dilla tuk menghantar barang dagangan menuju toko eletronik yang sudah hampir bangkrut.


Ferry yang menyadari kalo kedai eletronik yang dimodali istrinya hampir bangkrut,


karena tidak bisa mengelola keuangan atas tuntutan dari ibunya.


Ferry tidak bisa tuk jujur pada istrinya,karena Ferry mengetahui bagaimana perjuangan Dilla saat hendak membalik namakan kepemilikan dulu.


Ferry yang frustasi mengatasi situasi yang ditutupinya dari istrinya,


Ferry kembali mencari pinjaman tanpa agunan.


Ferry berharap bisa mengatasi kesulitannya dengan mencari pinjaman tanpa agunan.


setelah bercerita dengan tanya,


Ferry berhasil mendapatkan pinjaman tanpa agunan dari Bank Danamon.


"hai Mok,


Aku lagi pusing mencari pinjaman."


ujar Ferry pada salah seorang temanya.


"Kenapa cari pinjaman lagi?"


Cimok mengajukan pertanyaan,


karena merasa heran dengan tingkah Ferry yang gemar berhutang.


"Toko elektronik mu,kan ada!"


lanjut Cimok bertanya .


"Itu masalahnya,


Aku mau nambah beli barang."


balas Ferry berbohong karena malu ketauan bangkrut.


"Aku ada kenalan petugas Bank,


ini kontaknya"


ujar Cimok menyerahkan secarik kertas setelah mencatat dua belas digit angka.


"Cobalah kamu hubungi,


prosesnya sangat cepat."


lanjut Cimok menyemangati sahabatnya.


"makasih Ya Mok!"


Ucap ferry saat menerima uluran secarik kertas dari Cimok.


"Fer,


Aku tinggal,lanjut kerja."


ucap Cimok yang telah berdiri ,sembari memukul pundak Ferry dan melangkah pergi.


Ferry yang masih menatap secarik keras yang berisikan dua belas digit angka,


Ferry merogoh saku celana jeans,


untuk mengambil benda pipih yang setia memudahkan urusannya.


Ferry menyalin dua belas digit nomor tersebut kedalam kontak benda pipih yang saat ini dalam genggamannya.


Setelah menyimpan kontak,ferry


menghubungi nomor tersebut,tidak butuh berapa lama sabungan tersambung.


"Hallo,"


terdengar suara bergema dari dalam benda pipih miliknya dari nomor yang baru dapat.


"Hallo,


apa ni betul Zil?"


ucap Ferry sembari bertanya nama pemilik nomor dua belas digit yang baru dihubunginya.


"ya,

__ADS_1


saya bicara dengan bapak siapa?"


kembali pemilik dua belas digit nomor itu bertanya dengan siapakah dia berbicara.


"Oiya Zil,


Saya Ferry,


bisa kita bertemu?"


Ferry menjawab semua pertanyaan orang diseberang sana.


"Baik lah Pak Ferry.


Dimana kita bisa bertemu?


kebetulan saya sedang senggang."


lanjutnya yang bersedia bertemu secepatnya.


"saya tunggu di toko elektronik Js


di jln Γ—Γ—Γ—,


setelah makan siang."


lanjut Ferry memberikan alamat tempat pertemuannya.


"Baik lah,setelah makan siang saya tepat waktu menuju tampat yang telah bapak sebutkan."


balasnya menyakinkan Ferry.


sambungan terputus saat percakapan mereka mencapai sepakat.


Ferry telah berada di toko elektroniknya menata barang seadanya agar terlihat rapi dan menyusun bekas dus dus barang yang telah terjual,


agar toko elektronik itu terlihat masih memiliki stok barang yang banyak dan terlihat rame.


Setelah berhasil mengakumulasi situasi,


Ferry duduk dimeja kasir sembari menyesap rokoknya.


Ferry yang sedang asik menyesap rokok serta menghembuskan asapnya ke langit-langit toko teringat akan sosok istrinya yang selama ini telah berjuang membatunya berdiri dikakinya sendiri.


Ingatan Ferry kembali muncul tentang perjuangan dan ketulusan Dilla pada nya,


[Ferry teringat saat Dilla melunasi hutang nya semasa bujang sebesar 30 juta.]


[Ferry teringat saat Dilla menyerahkan salah satu cincinnya tuk biaya bersalin anak sulung mereka.]


[Ferry teringat saat Dilla menyuruhnya membeli sebuah angkot,


tatkala dia dipecat oleh Ibunya me jadi sopir angkot Noril.


Hingga memiliki dua buah angkot tambangan kota sendiri,


Namun telah digadaikannya ke Bank Panampuang.]


[Ferry teringat saat Dilla membantu Noril yang terlilit hutang,


hingga dirinya bisa duduk di korsi nya saay ini]


[Kembali Ferry teringat saat Dilla menyerahkan uang 10 juta untuk membeli mobil pickup kijang komando hijau yang sering dibawa yang hingga tubuhnya yang gempal terlindung dari hujan dan panas.]


[Terakhir ingatan Ferry tentang dia membohongi dan mencuri tanda tangan Dilla,


tuk mengadaikan sertifikat rumah semi permanen yang ditinggalinya bersama,


Ferry yang saat itu mendaptkan pinjaman sebesar 150 juta tanpa sepengetahuan istrinya]


Ferry menarik narik rambutnya,tuk menghilangkan rasa sakit yang berdenyut kepalanya.


Wajah Ferry memerah menahan segala sesal dalam hatinya,yang selama ini tidak mempedulikan Dilla dan mengacuhkan anaknya.


"Ternyata begitu banyak pengorbanan mu!"


lirih Ferry saat teringat semua kebaikan Dilla padanya,


Namun ego kembali menguasai dirinya yang tidak ingin terlibat rendah dimata mata Dilla.


"Dilla tidak boleh me getah semua nya,aku harus terlihat mampu dan tidak membutuhkannya,


karena aku sanggup sendiri!"


gumam Ferry dengan sombong dan angkuh sembari berkacak pinggang dengan segala pikiran yang berkelana dalam otaknya.


Selang berapa jam Ferry dikagetkan dengan kedatangan seseorang.

__ADS_1


"Assalamualaikum,


dengan Pak Ferry,"


ucap orang baru datang sembari menjulurkan tangannya tuk berkenalan.


"iya,saya sendiri jawab Ferry."


menjabat tangan orang itu.


"perkenalkan saya Zil,yang tadi berbicara ditelpon dengan Bapak."


ujarnya memperkenal diri.


"oh ya,


silakan duduk."


lanjut Ferry pada tamunya sembari menunjuk sebuah korsi didepan meja kasir.


Setelah mencapai kesepakatan,


Ferry mendapatkan pinjaman sebesar 10 juta.


"Baik lah Pak Ferry,


saya tunggu di Bank untuk kelanjutan proses pencairannya"


Ucap Zil yang telah berdiri.


Ferry dan Zil kembali bersalaman sebum meninggalkan toko elektronik setelah mencapai persetujuan dan meminta syarat yang harus dibawa Ferry ke Bank saat memproses pencairan.


Dengan mengangkat kedua tangan dan melipatnya dibelakang kepala,


Ferry menyadarkan tubuhnya di korsi sembari menatap langit langit toko elektronik,


"Tu kan, Aku kembali bisa mencari pinjaman tanpa bantuan Dilla."


ucap Ferry dengan menaikan sudut bibirnya dengan rasa bangga telah berhasil mendapatkan pinjaman.


seharian Ferry berada di toko elektronik,


setiap pelanggan yang datang mencari barang elektronik, tak satu pun yang bisa dijualnya,


karena hanya memperlihatkan contoh dan katalog dari barang barang yang sedang dicari pelanggan.


Ferry kembali frustasi,


"Nanti uang belanja Dilla dan anak anak lagi yang harus ku keluarkan!"


sesal Ferry yang begitu berat baginya tuk mencukupi kebutuhan Dilla.


"Aku harus bisa membuat Dilla berkerja jangan hanya tidur tidur saja dirumah!"


ucap Ferry yang tidak menyadari kesibukan Dilla saat berada dirumah mengurus kedua anaknya yang masih kecil.


Saat tengah malam,


Ferry kembali pulang kerumah semi permanen,


setelah selesai Menganti pakaian,


saat berbaring,


"Dilla,aku mau mengembangkan usaha,membuat mainan serba,


tolong kamu siapkan saat aku di toko."


......................


π·π‘ˆπΎπ‘ˆπ‘πΊ 𝑁𝑂𝑉𝐸𝐿 𝐼𝑁𝐼 π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› 𝑉𝑂𝑇𝐸, 𝑃𝑂𝐼𝑁, 𝐷𝐴𝑁 𝐿𝐼𝐾𝐸 π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘ π‘π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘’π‘šπ‘’π‘Ž


πŸ˜‰πŸŒΉπŸ˜πŸ€©


π‘—π‘Žπ‘›π‘”π‘Ž π‘™π‘’π‘π‘Ž 𝐿𝐼𝑆𝑇 𝐹𝐴𝑉𝑂𝑅𝐼𝑇 π‘‘π‘Žπ‘› 𝐡𝐸𝑅𝐼 𝑅𝐴𝑁𝑇𝐼𝑁𝐺 π‘¦π‘Žπ’‰ π‘ π‘Žπ’‰π‘Žπ‘π‘Žπ‘‘π‘˜π‘’


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


π‘‡π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™π‘˜π‘Žπ‘› 𝐾𝑂𝑀𝐸𝑁 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘šπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”π‘’π‘› π‘‘π‘Žπ‘› π‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘–π‘‘π‘–π‘˜ π‘ π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘Ž π‘ π‘œπ‘π‘Žπ‘›


😘😘😘


π‘Žπ‘”π‘Žπ‘Ÿ π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘¦π‘Ž 𝑖𝑛𝑖 π‘ π‘’π‘šπ‘Žπ‘˜π‘–π‘› π‘π‘’π‘Ÿπ‘˜π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘›π‘”


🀭πŸ₯°πŸ€—πŸ₯³πŸŒž


π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘Žπ‘˜π‘Žπ‘ π‘–π’‰ πŸ’–πŸ’‹

__ADS_1


__ADS_2