
Saat ini Adis sudah mulai pandai berjalan.
Adis anak yang lucu dan menggemaskan.
Adis anaknya sangat bijak dan termasuk cerewet.
Sekalipun Ferry tidak pernah menunjukan perhatian pada Adis.
Adis pun akan menangis jika ditinggal dengan Ferry hingga Dilla datang.
Suatu hari Dilla menitipkan ketiga anaknya pada Ferry..
Adis yang sangat rewel karena tidak bisa menemukan dan mendengar suara Dilla.
"Pergilah kamu sana,dan tunggu sampai Bunda mu kembali."
Bentak Ferry pada Adis yang masih berumur satu tahun lebih,
Dengan tangis yang terisak Adis terus menangis dalam pelukan Quil.
Karena mendengar Adik nya yang dibentak,perlahan Quil menghampiri dan memeluk adiknya sampai Dilla kembali dari pasar.
Dilla yang baru kembali,bergegas menggendong Adis yang telah sesenggukan menangis,
"Anak bunda kenapa nangis,
Bunda tadi beli makanan."
pujuk Dilla pada Adis dengan suara lembut sembari mengusap air mata yang membasahi pipi gembul putinya.
"kenapa kamu biarkan Adis menangis seperti itu Fer?"
Tanya Dilla berbisik saat adis telah tertidur,
dan Dilla bersiap tuk memasak di dapur.
"Dia tidak mau diam,dan merepotkan saja."
tutur Ferry 6ang tengah asik mengerjakan mainan serba yang akan dikampaskanyan.
Dilla sangat kesal kesal mendengar ucapan Ferry dan tersulut emosi.
"kamu tidak becus, Aku pergi belanja tanpa 7ang dari kamu tuk kebutuhan kita,kamu menjaga anak saja tidak sanggup."
ucap Dilla dengan suara yang tinggi.
Ferry yang tidak terima dengan ucapan Dilla,
melempar Dilla dengan sapu,untung tidak kena,
Quil yang menyaksikan perbuat Ferry,
berlari memeluk Dilla dan membawa Dilla menjauh hingga kedapur.
Setelah Ferry pergi entah kemana,
karena tidak berpamitan.
Dilla yang tengah asik memasak di dapur dikagetkan dengan suara ketokan dari luar.
Saat membuka pintu Dilla berhadapan dengan dua orang laki laki asing.
Orang itu datang tuk menagih hutang yang telah menunggak.
__ADS_1
"Hutang apa?"
tanya Dilla yang memang tidak mengetahui apa apa
"Dulu Pak Ferry pernah meminjam yang untu biaya melahirkan istrinya!"
Ucap tukang tagih.
Dilla sangat kaget dan menyanggah semuanya,karena yang membayar persalinan dulu adalah saudaranya.
Saat Ferry pulang,
Dilla yang ingin bicara tidak jadi karena Ferry telah marah marah dengan emosi yang meledak.
"kamu tidak berguna,
tidak bisa membantu suami,
malah kamu menjelekan nama ku."
ucap Ferry sembari menunjuk nunjuk pada Dilla.
Dilla pun menjawab Dangan suara yang tinggi.
karena tidak terima atas umpatan,cacian yang merendahkan Dilla dari mulut Ferry.
Ferry yang geram dengan keberanian Dilla melawannya,
Akhirnya Ferry melayangkan tangannya menampar kepala Dilla sebelah kiri.
Saat itu ketiga anak Dilla menyaksikan Bunda mereka Kana pukul,
Ketiganya berteriak dan menangis melihat Dilla yang oleng merosot jatuh dan terduduk di lantai.
tidak berguna.
Betul apa yang dikatakan Ibu ku selama ini!"
umpat Ferry dengan suara yang menggelegar memenuhi setiap sudut rumah semi permanen itu.
Ferry yang teramat kesal dan penuh emosi
"Kamu tidak istriku lagi!"
ucap Ferry pada Dilla.
"Pergi kamu dari sini!"
lanjut Ferry mengisi Dilla
Dilla yang tidak terima,
"kamu yang pergi,semua ini aku yang beli!"
balas Dilla sembari mengingatkan siap yan telah membeli dan membangun rumah semi permanen.
"kurang ajar."
Umpat Ferry yang kembali tersudut.
Tapi Ferry tidak mau kala,
"Ini kampung ku,
__ADS_1
semua warga disini membenci mu."
lanjut Ferry dengan emosi yang semakin tinggi.
"yang jelas semua ini Aku beli,tanpa ada uang mu sepersen pun."
sanggah Dilla
"Dan tolong kamu kembalikan uang saudara ku yang dulu pernah kamu pinjam,tuk modal usaha tapi kamu jadikan Tuka modal menikah adik mu!"
Lanjut Dilla mengingatkan kecurangan Ferry.
Ferry semakin emosi hingga memukul Diding triplek hingga bolong .
"Dasar kurang ajar,wanita tidak berguna.
masih banyak wanita diluar sana yang bisa membuat aku bahagia."
lanjut Ferry dengan mata yang menyala tajam melihat Dilla,seolah olah ingin menerkam Dilla hidup hidup.
"Ya sudah pergi sana!"
usir Dilla yang telah muak mendengar ucapan Ferry yang tidak bermutu.
...****************...
......................
...πππ...
π»πππ.....
π ππππππ‘ ππππ...
ππ
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ.....
ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ
ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π......
ππ€©π
ππππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΌππ΄ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
π‘πππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’π πππ ππππππππ π πππ‘π π ππππ!
πππ
ππππππ ππ’ππ ππππππππ¦π
π€π€π€π€π€
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ.
π₯°π€π₯³π
πππππππππ ππ ππππ π¦πππ π‘ππππ ππππππππ π ππππππ
ππ
__ADS_1