
Dilla yang mersa pusing saat ini,
memilih tuk istirahat.
Ketiganya ikut tidur di samping Dilla.
Sedari tadi Dilla hanya menatap langit langit kamar yang beratapkan seng.
Ingatan Dilla berkelana kemasan lalu saat Ferry mulai berubah dan tidak lagi memberikan cinta yang tulus pada dirinya dan anak anaknya.
flashback on
saat Ferry melakukan pinjaman dengan sebuah koperasi mandiri,
"Dilla boleh pinjam KTP nya?"
Ujar Ferry lembut dengan mata teduh
"Untuk apa Fer?"
tanya Dilla singkat
tanpa curiga menyerahkan KTP nya
selan satu bulan datang petugas koperasi menjemput tagihan..
Saat itu Dilla yang tidak tau bertanya detilnya.
sungguh Dilla kaget karena tanda tangannya sudah tertera dalam surat perjanjian utang piutang.
Dilla yang tidak faham malah bertanya kepada Ferry.
"Fer,tadi ada orang datang dari koperasi.
aku kaget dan bingung karena tanda tanda tangan ku ada dalam surat perjanjian,
persaan aku tidak pernah melakukannya!"
ujar Dilla menjelaskan dan menceritakan semuanya pada Ferry,dengan raut wajah yang bingung.
"tenang sajalah,itu sudah beres.
yang penting kamu percaya!"
ujar Ferry saat itu menjelaskan dan menenangkan Dilla yang sedikit panik.
Dilla yang penasaran untuk apa Ferry mencari pinjaman.
"kamu minjam uang untuk apa Fer?
dengan bunga yang tinggi?"
tanya Dilla hati hati,karena ingin mengakiri kecurigaan dan keraguannya.
"Itu untuk membantu Ibu!"
Jawan Ferry santai sembari merangkul Dilla dalam pelukanya.
selang berapa bulan berlalu ibu Ferry kembali datang bertamu kerumah semi permanen milik Dilla dengan alasan melihat cucu.
Tanpa malu dan canggung,
Ibu Ferry melihat isi lemari Dilla,
"Banyak baju kamu yang bagus,
Ibu juga kepengen."
Ucap mertuanya,
tapi Dilla tidak menggubris berusaha mengalihkan nya.
Ibu Ferry yang tidak terima dengan sikap Dilla yang terlihat tidak merespon,
"Kamu jangan terlalu banyak menuntut pada Ferry,kasihan dia susah mencari uang diluar."
ucap Ibu Ferry dengan suara yang ditekan dan muka yang menyala merah karena malu dan marah bercampur dalam waktu yang bersamaan.
Dilla yang paham arah bicara mertuanya,
"Itu semua kiriman dari saudara saya BU,
__ADS_1
Tidak ada Ferry yang membeli."
terang Dilla jujur karean tidak ingin mertuanya salah sangka.
Ibu Ferry yang mersa gusar dan tersinggung.
"jadi tidak pernah Ferry membelikan mu?"
tanya Ibu Ferry yang telah tersulut emosi dan memilih tuk pamit.
"tunggulah Ferry pulang dulu Bu,Niat nantik Ferry yang antar pulang."
ujar Dilla menahan mertuanya karean masih emosi,Dilla yang tulus namun semakin membuat mertuanya tersinggung.
"tanpa mengantar ku pun, Ferry akan tetap datang menemui ku."
balas mertuanya dengan muka yang sudah menegang.
"semenjak menikah dengan mu Ferry tidak lagi memberiku uang."
ucap mertua nya yang tidak terkendali.
Dilla hanya diam tanpa ada niat semakin menambah keruh suasana.
"ingat ya, Ferry itu anak saya.
Dia akan lebih percaya dan nurut sama saya!"
ancam Ibu Ferry sembari menunjuk nunjuk kearah Dilla dan melangkah pergi.
flashback off
Dilla tersadar saat putrinya menangis.
Ternya Adis telah basah karena buang air kecil.
waktu berlalu Dilla masih tinggal serumah dengan Ferry namun pisah ranjang.
Dilla yang faham sedikit Ilmu agama,
menurutnya ucapan Ferry yang waktu itu sudah merupakan talak.
Ferry hanya memberi anak anak sekedarnya.
Ferry yang mersa mendapatkan kebebasan,sekarang berkerja ojek online.
Ferry mersa lebih nyaman bersama teman teman nya diluar hingga pulang tidak menentu ditambah lagi dapat dukungan dari orang tuanya.
suatu hari Ferry pulang dengan raut wajah gembira dan menegur Dilla.
Dilla pun membalas dengan baik.
"kamu tau tidak, ternyata banyak wanita cantik di luar,yang suka sama saya."
ucap Ferry dengan bangga dan senyum yang terukir sempurna dibibirnya.
Dilla hanya bisa tertawa.
"Baguslah itu,"
ucap Dilla santai.
"Seandainya aku dulu menikah dengan PNS pasti sekarang aku sudah hidup enak."
lanjut Ferry berbicara dengan suara penyesalan..
Dilla hanya melihat Ferry dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sekarang apa sudah ada PNS?
Kalo sudah ada lebih baik disegerakan."
Timpal Dilla santai dan datar.
"Bukan urusan kamu!"
balas Ferry yang tersulut emosi
"Asal kamu tau aku bisa senang hidup diluar,
jika aku kembali kerumah ini,
__ADS_1
Hidupku menjadi susah."
ucap Ferry pantang dan penuh emosi.
setelah Ferry pergi,Dilla berinisiatif menemui orang tua Ferry dan menceritakan semua perbuatan dan ucapan Ferry.
Diluar dugaan,
"Saya telah melihat kalau Ferry susah karena kamu,
karena Ferry selalu mengadukan sikapmu yang membebani dan tidak menghargai Ferry."
ucap Ayah Ferry yang hanya tahu cerita rumah tangga anaknya dari sepihak.
"Saya sudah menyuruh Ferry tuk menceraikan kamu!"
ucap Ayah Ferry melanjutkan bicaranya dan membela Ferry.
"Iya,sebenarnya banyak 6ang ingin menjadi istri Ferry."
Timpal Ibu Ferry yang baru datang tidak terima anak nya dijelekkan.
Dilla kecewa dengan sikap mertuanya dan memilih tuk pergi dari rumah itu sembari membawa anaknya.
Ferry yang memang mendapatkan kesenangan diluar memilih berkumpul dan pergi traveling dengan teman temanya.
sampai umur Adis 2,5 tahun Ferry tidak sedikitpun memberikan kasih sayang kepada putri kecil itu,
Ferry malah sibuk memberi kasih sayang pada anak temanya diluar an yang diketahui oleh Dilla dan putra sulungnya yang bernama Quil.
Ferry yang selalu membanding bandingkan Dilla dengan wanita wanita di luaran, membuat Quil menaruh rasa benci yang teramat dalam pada Ayahnya.
Quil tidak terima jika Bundanya terus disalahkan,
Hingga Quil sering berdebat dengan Ferry dan dan keluarga Ferry sampai samai semua orang ikut membenci Quil.
β’
...****************...
......................
...ππππ...
β’
β’
π»πππ.....
π ππππππ‘ ππππ...
ππ
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ.....
ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ
ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π......
ππ€©π
ππππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΌππ΄ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
π‘πππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’π πππ ππππππππ π πππ‘π π ππππ!
πππ
ππππππ ππ’ππ ππππππππ¦π
π€π€π€π€π€
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ.
π₯°π€π₯³π
πππππππππ ππ ππππ π¦πππ π‘ππππ ππππππππ π ππππππ
ππ
__ADS_1