
Dilla sangat bingung dengan keberadaan laki laki yang terlihat santai didepan televisi,
perlahan melihat jam dinding yang menunjukan jam 9 pagi.
"kenapa Dia masih dirumah?
biasanya sudah pergi!"
gumam Dilla dalam hati sembari menutup pintu.
Dilla kembali memperhatikan Laki laki itu yang tidak mempedulikan kehadirannya dengan Eno yang baru datang,
"Dia belum mandi!"
kembali Dilla berbisik dalam hatinya dan menghampiri laki laki itu.
"kamu kenapa Fer?
Apa kamu kurang enak bandan?"
tanya Dilla yang membayarkan konsentrasi Ferry yang tengah asik melihat berita di televisi.
"Tidak,"
jawab Ferry santai yang masih mentap layar televisi.
Ferry memilih sebentar
"kamu kenapa tidak menyelesaikan memasangi maina serba itu?"
tanya Ferry sembari menunjuk onggokan mainan 6ang telah seringan disampaikannya.
Ferry melihat Dilla dengan raut wajah yang sangat geram.
"kamu sudah dapat kerja dirumah saja,masih malas!"
lanjut Ferry pada Dilla dengan wajah masam.
Dilla yang mengerti,berinsut mengambil semua mainan dan bergegas memasangi semuanya pada tempat yang telah disediakan Ferry.
"Itu kan masih ada yang telah siap tergantung Fer!"
ucap Dilla disela sela kerjanya menunjukan yang pernah dikerjakannya.
"apa salahnya terus dikerjakan hingga tidak bersisa!"
lanjut Fery dengan nada ketus.
"aku kemarin kurang enak badan Fer!"
Ucap Dilla sembari sibuk memasangi mainan serba.
Ferry yang merasa tidak senang dengan ucapan Dilla,
"kamu itu hitung hitungan ya?"
Ucap Ferry dengan suara yang lantang.
"Aku juga letih dan lelah memenuhi kebutuhan mu dan rumah ini!"
__ADS_1
Balas Ferry menekan kan kalimat kebutuhan.
Dilla melihat Ferry sesat dan kali melanjutkan pekerjaannya.
"Kebutuhan yang mana?"
Gumam Dilla dalam hati sembari menautkan kedua alisnya berpikir,
"kamu tidak pernah memberikan uang belanja dan aku pun tidak meminta!"
Bisik Dilla yang sayup sayup terdengar oleh Ferry.
"kamu ngomong apa barusan?"
tanya Ferry yang telah menatap Dilla sangat tajam.
Dilla yang mengerti tatapan Suaminya,
tidak menggubris dan melanjutkan pekerjaannya.
Ferry yang tidak mengalihkan pandangannya dari Dilla,
Tiba tiba
"kamu hitunglah berapa banyak yang telah siap kamu kerjakan,
nanti dikali 1000 rupiah per papan."
Ucap Ferry dengan senyum yang sulit diartikan.
"Akan aku bayar upah mu!"
Lanjut Ferry pada Dilla dengan Nanda yang meremehkan.
"lebih baik aku bilang saja,
Apa benar akan dibayarnya upah ku?"
Gumam Dilla dalam hati dengan senyum tips yang terukir dari sudut bibirnya.
"Begitu sombong,selama ini malah uangku yang selalu diambilnya."
lanjut Dilla berbisik dalam hati.
"Oke,
kalau begitu Fer.
semuanya sudah ada 1500 papan mainan."
Ucap Dilla yang tengah asik melanjutkan pekerjaannya.
Ferry mendengar penuturan Dilla perlahan meangkat kepala dan menatap Dilla dengan kening yang berkerut.
"kamu jangan mengada ada,hitung yang benar!"
Sanggah Ferry yang merasa di bohongi Dilla.
"Semua yang telah siap aku hitung dan catat,
__ADS_1
cobalah kamu hitung sendiri!"
sela Dilla sembari melihat Ferry.
Tak terasa waktu telah bergerak maju,
karena waktu bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya bergerak cepat,
Dilla melihat jam dinding,
"Fer, sebentar lagi Quil pulang sekolah,Aku sudahi dulu."
ucap Dilla yang berniat akan menjemput putra sulungnya yang pulang sekolah.
"Pergilah, Aku juga mau mengampaskan semua ini!"
ujar Ferry pada Dilla sembari menunjuk mainan yang tersusun rapi.
Setelah Dilla dan Eno pergi.
Ferry bergegas mandi.
setelah Ferry berpakaian rapi, dia menyusun semua mainan yang telah di pasang Dilla perpapan kedalam sebua box yang telah terpasang diatas motor Supra fit nya.
......................
...****************...
...ππππ...
π»πππ.....
π ππππππ‘ ππππ...
ππ
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ.....
ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ
ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π......
ππ€©π
ππππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΌππ΄ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
π‘πππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’π πππ ππππππππ π πππ‘π π ππππ!
πππ
ππππππ ππ’ππ ππππππππ¦π
π€π€π€π€π€
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ.
π₯°π€π₯³π
__ADS_1
πππππππππ ππ ππππ π¦πππ π‘ππππ ππππππππ π ππππππ
ππ