
"Dilla,kamu kan hanya dirumah saja!
ngak ada kerjaan."
ucap Ferry tanpa melihat wajah istrinya.
saat mendengar ucapan, tersa meremehkan bagi Dilla,
karena selama ini Dilla mengerjakan perkerjaan rumah tangga yang tidak pernah ada hentinya.
Dilla berusaha tuk tenang dan mendengarkan setiap kalimat yang yang diucapkan dari bibir suaminya.
"Aku mau mengembangkan usaha kita,
tolong kamu bantu ya!"
lanjut Ferry menatap Dilla dengan menatap Dilla yang duduk didepan nya.
Dilla meanggukan kepala,
"perkejaan apa yang akan Aku lakukan Fer?"
ujar Dilla bertanya menanggapi semua ucapan suaminya.
"Aku akan membuat mainan serba!"
ujar Ferry dengan sangat bangga.
"Selagi Aku masih di toko,
tolong kamu siapkan semuanya."
ucap Ferry menjelaskan pada Dilla.
"sekali seminggu akan aku kampaskan ke warung warung."
lanjut Ferry yang menganggap semuanya gampang.
"Iya Fer,
kapan aku mulainya?"
tanya Dilla yang tidak ingin mematahkan semangat suaminya.
"Nanti aku akan belanja semua kebutuhannya,
kamu bisa mulai besok."
lanjut Ferry yang sangat congkak seolah olah sedang menggenggam uang segepok.
"ya besok,setelah aku membereskan rumah, dan pulang mengantar Quil pergi sekolah.
ujar Dilla menjelaskan semua pekerjaannya selama ini yang tidak diketahui Ferry.
Saat ini anak sulung mereka telah masuk Sekolah Dasar,
karena telah satu tahun menempuh pendidikan di Taman Kanak Kanak,
Tepat Tahun ajaran baru Dilla memasukan anaknya kesekolah yang cukup jauh dari rumah.
Dilla bertujuan menyekolahkan anaknya ditempat yang jauh,
karena Dilla ingin anak nya mempelajari agama dan Tahfiz.
Ferry yang mendengar penuturan Dilla,
mengerutkan kedua alisnya dan melihat Dilla dengan tatapan yang menukik tajam.
"kerjaan mu dirumah saja,,
ngak ngapa ngapain!"
ucap Ferry merencanakan kan istrinya.
"udah tinggal enam saja,masih banyak alasan!"
lanjut Ferry kesal berlalu pergi uang masih bisa didengar oleh Dilla dan sisulung yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan kedua orang tuanya.
setelah rutinitasnya keseharian Dilla selesai,
Dilla lanjut membuat mainan serba yang diperintahkan Ferry,
__ADS_1
terkadang Dilla jarang tidur dan jarang mengurus dirinya sendiri.
Dilla yang baru tertidur beberapa jam setelah selesai membuat mainan serba terbangun Tuka shalat sunat tahajud,
tiba tiba Dilla mersakan pusing.
"Duh, pusing"
gumam Dilla sembari memukul mukul pelan Kepalanya.
Dilla mengarak an kepala nya kekiri dan ke kanan,
kreek..kreek
bunyi leher Dilla.
"lumayan,sedikit ringan"
kembali Dilla berbisik dalam hati sembari mengusap tengkuknya yang tadi sudah berderit.
setelah selesai shalat sunat tahajud,
Dilla yang hendak bangun kembali mersa pusing, mersa seperti gempa hingga tubuhnya oleng.
Dilla yang telah berdiri kembali duduk dan mersa mual.
Dilla yang sedari tadi memuntahkan isi perutnya yang kosong, karena sering lupa makan,
terlalu fokus pada anak dan pekerjaan yang di perintah kan suaminya.
Dilla yang telah memuntahkan cairan kuning, tersa sangat pahit di tenggorokan nya.
Dilla meneguk air putih tuk menghilangkan rasa tenggorokan nya sangat kesat,
namun Dilla yang sangat letih hanya bisa bersandar ditepi dinding antar kamar mandi dan dapur sendirian.
Saat sisulung tebangun,dengan langkah kaki kecilnya dia mencari wanita yang sangat dicintainya itu,
Sisulung melihat Bunda yang terkulai lemah bergegas berlalu,
"Nda,!"
"Abang, udah bangun?"
Ucap Dilla dengan senyum yang dipaksakan.
Dilla berusaha berdiri dan meraih. panci tuk merebus air mandi anaknya dan Ferry yang masih terlelap tidur.
setelah semuanya selesai,
anak sulungnya udah rapi.
"Fer, kali ini tolong kamu antar Quil, kesekolah.
biar pulang aku yang jemput.!"
ucap Dilla seperti memohon dengan kondisi nya yang lemah serta pucat.
Ferry tidak memperhatikan Dilla yang sedang sakit.
"Aku singgah dulu ketempat Ibu!"
ucap Ferry yang terlihat enggan.
"Ya sudah Ferry,
biar nanti aku yang antar."
sela Dilla mengalah,tidak ingin berdebat karena tubuhnya yang teramat letih,tulang nya tersa ingin remuk.
"aku pergi dulu!"
ucap Ferry yang telah berada di.pintu rumah,tanpa menunggu jawaban dari istri dan anaknya.
Dengan sisa tenaga yang tersisa Dilla mengantar sisulung kesekolah dan menggendong anak yang satu lagi.
sampai disekolah Dilla kembali muntah.
setelah si sulung masuk pekarangan sekolah,
Dilla yang mersa panas dingin di sekujur tubuhnya, berusaha tuk bisa pulang kerumah dengan masih menggendong anaknya yang kedua.
__ADS_1
Dilla yang sangat letih, hanya bisa duduk dengan tubuh yang gemetar memegangi tangan anak agar mau duduk patuh diatas angkot,
Saat melewati rumah mertuanya,
sungguh terenyuh hati Dilla melihat Ferry yang sedang asik bermain dengan keponakanya dengan ceria.
tanpa sadar Dilla telah meneteskan buliran bening dari pelupuk matanya yang jatuh bergulir membasahi pipinya yang terlihat pucat.
"sungguh tega kamu Fer!"
bisik Dilla sembari merangkul anak nya saat ini sedang asik dengan mainannya diatas angkot.
sesampai dirumah, Dilla memilih tuk istirahat,
Dilla yang telah terlentang diatas kasur dengan anak nya,sembari memukul mukul bocah laki laki itu akar tertidur.
tak butuh waktu lama ibu dan anak itu tertidur,
karena cuaca yang sangat mendukung.
ya saat itu udara masih terasa sangat dingin,paling enak tiduran dengan dibalut selimut tebal.
tak berapa lama Dilla tertidur,
Dilla kembali mual dan muntah mengeluarkan semua isi perutnya.
Dengan langkah gontai Dilla kembali mensejajarkan tubuhnya di sisi bocah laki-laki yang masih terlelap tidur.
"kenapa aku?"
gumam Dilla bingung.
"kalau aku sakit,
kasihan anak anakku"
lirih Dilla sembari mencium bocah laki laki yang terlelap disampingnya.
karena mersa terganggu,bocah laki laki itu menggeliat dan menceracau tidak jelas.
"tssss..."
bisik Dilla kembali mengusap punggung bocah laki laki itu agar bisa tidur kembali.
Dilla melihat jam dinding,
meraih jam weker, mengatur alaram tepat jam 12, karena sisulung pulang jam satu siang.
"mending aku tidur kembali,nanti biar lebih segar saat menjemput Abang!"
Gumam Dilla yang telah berbaring disamping bocah laki laki yang sedari tadi tidur dan sesekali menceracau tidak jelas.
Dilla yang memang sangat lelah hati,pikiran dan jiwanya,
tidak berapa lama Dilla telah tertidur dengan napas yang teratur.
β’
β’
......................
...ππ...
π·ππΎπππΊ ππππΈπΏ πΌππΌ ππππππ ππππΈ, πππΌπ, π·π΄π πΏπΌπΎπΈ ππππ π ππππππ‘ ππππ π πππ’π
ππΉππ€©
πππππ ππ’ππ πΏπΌππ πΉπ΄πππ πΌπ πππ π΅πΈπ πΌ π π΄πππΌππΊ π¦ππ π ππππππ‘ππ’
ππππ
ππππππ π‘πππππππππ πΎπππΈπ π¦πππ ππππππππ’π πππ ππππππππ π πππ‘π π ππππ
πππ
ππππ ππππ¦π πππ π ππππππ ππππππππππ
π€π₯°π€π₯³π
π‘ππππππππ ππ ππ
__ADS_1