Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 1 : Perundungan Juri


__ADS_3

Jika kamu benar-benar dapat melakukan apapun yang kamu inginkan di sini...


Maukah kamu mencoba menggapai impianmu kembali? Meskipun itu artinya kamu harus terdampar di dunia lain?


Karena kamu tidak bisa mencapai impianmu di dunia nyata, bukankah tidak apa-apa untuk setidaknya menggapainya di dunia lain?


Jadi, apa keputusanmu?


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


GrandChef, tidak ada orang yang tidak pernah mendengar namanya di dunia ini. GrandChef adalah acara Reality Show populer yang mengangkat tema kompetisi memasak antar koki amatir. Penonton akan disajikan dengan ragam masakan yang menggugah selera dan tantangan serta drama yang mengikuti tiap episodenya.


Format acara ini telah diproduksi oleh lebih dari empat puluh Negara. Salah satunya adalah Indonesia. Dimulai pada tahun 20XX dan masih diadakan secara berkala sampai saat ini karena kepopulerannya.


Lalu saat ini, GrandChef Indonesia sudah masuk pada Season ke empat belas dan memasuki babak dua belas besar, setelah sebelumnya mereka menerima lima puluh peserta


"Partisipan Retia Anggraini, maju dan hidangkan masakanmu!" teriak Chef Henry.


"Baik, Chef!" Retia menjawab.


Wajah gadis pendek itu nampak masam. Dengan langkah kaki yang gemetar, Retia mendorong trolinya ke depan meja Juri. Saat sudah sampai ia memindahkan hidangannya dan membuka tudung saji.


Wajah para Juri tak kalah masam. Saat ini adalah tahap tantangan Kotak Misteri dan dengan keberuntungannya yang sangat ampas, Retia mendapatkan otak Sapi sebagai bahan utama untuk hidangannya. Bahan yang belum pernah ia gunakan sebelumnya.


Dengan bermodalkan nekat dan tekad, Retia mencoba meniru apa yang dulu ia lihat di youtube dan artikel masakan Padang.


Tidak ada masalah tentang rasanya. Retia sudah memastikan sendiri hidangannya bukan masakan yang gagal, setidaknya dalam hal rasa. Sayangnya tempat ini adalah GrandChef, kesalahan kecil akan membuatmu ditendang melayang— jatuh, terlebih jika tidak punya banyak nama dan tidak membawa keuntungan. Bagaimanapun, ini adalah acara TV.


"Retia, apa kamu tahu kalau otak akan cepat hancur jika dimasak terlalu lama?" Chef Miranda bertanya. Matanya menyipit, hampir memangsa lensa kamera.


"Ya, Chef." Retia tetap menjawab. Jarinya menggenggam erat kain apron, berusaha keras menahan air mata agar tidak menetes.

__ADS_1


"Kamu diberikan waktu dua jam untuk membuat ini, kamu kebingungan dan banyak membuang waktu, tetapi apa hasilnya? SAMPAH!!" umpat Chef Aldean. Kumisnya bergetar, matanya melotot memberi kesan mengancam.


Retia menunduk takut, bisu tiada suara. Bahunya turun, tanda telah pasrah menerima semua sumpah serapah.


"Aku bahkan tidak perlu menilai ini," sambung Chef Aldean yang telah berdiri dari kursinya.


"Apa?" Retia terkejut, "Bukankah harusnya yang dinilai bukan cuma penampilan, tetapi juga rasa?" Retia memang merasa takut dan gugup sebelumnya. Namun, bukan karena takut akan dieliminasi, tetapi karena takut dimarahi dan dimaki.


Batin Retia saat ini dipenuhi banyak sekali pertanyaan, "Apa maksudnya tidak perlu dinilai? Bukankah ini tidak adil?"


"Aku setuju," kata Chef Miranda. Matanya berputar, seolah jijik dengan hidangan Retia.


"Ya." Chef Henry menambahkan.


Retia memucat. Ekspresinya menjadi tumpul, masih tak bisa percaya apa yang terjadi padanya. Hati kecilnya sangat berharap kalau ini semua hanya lelucon untuk acara televisi. Sangat berharap begitu.


Chef Aldean menghampiri Retia, memegang tanda nama di bahu Retia, kemudian berkata, "Partisipan Retia Anggraini, terimakasih atas usahamu selama ini."


Chef Aldean mencabut tanda nama Retia dengan paksa, menghempaskannya ke lantai kemudian menginjaknya hingga remuk.


Air mata mengalir di kedua pipi Retia, bukan karena ia gagal meraih impiannya, bukan juga karena perlakuan kasar oleh Chef Aldean, tetapi karena ia baru sadar kalau dirinya telah menjadi tumbal untuk acara ini. Mungkin saja isi kotak misterius itu juga sudah dipersiapkan sedemikian rupa untuknya. Penyebabnya bahkan sangat jelas, diantara dua belas peserta yang tersisa, hanya Retia yang hampir tak memiliki Penggemar. Retia juga bukan orang yang menonjol, wajar baginya untuk dijatuhkan.


"Retia Anggraini," panggil Chef Miranda.


Retia menghapus air matanya dengan punggung tangan, kemudian menjawab, "Ya, Chef."


"Kembali ke kamarmu, makan hidangan gagalmu ini lalu berkemaslah!" sambung Chef Miranda menekan suaranya.


"Baik, Chef."


Retia mengambil kembali hidangannya, menaruhnya ke troli dan kembali ke belakang.

__ADS_1


Hati Retia benar-benar hancur. Walaupun Peserta lain memeluknya dengan hangat, Retia merasa kalau pelukan itu seperti hujaman tombak yang menusuk jantung dan mengoyak tulang. Dengan lengsernya Retia, jalan peserta lain untuk menjadi juara menjadi terlihat lebih terang.


Retia kembali ke asramanya, menangis sejadi-jadinya sambil memakan Gulai Otak Sapi khas Padang buatannya. Ponsel di ujung kasurnya bergetar, tanda pesan baru masuk ke nomor Whatsapp-nya.


Pesan itu berasal dari sang Ibu, "Gimana kabar kamu di sana? Baik-baik saja, kan?" tanya ibunya. Walaupun hatinya berkata jangan, Retia merasa harus mengatakan apa yang terjadi padanya kepada sang Ibu, setidaknya agar dia tidak terkejut ketika melihat Retia di televisi, "Retia baik-baik, kok, Bu. Maaf Retia tidak berhasil jadi juara," jawab Retia.


Ibunya terdiam. Mungkin terkejut dan bingung harus mengatakan apa pada sang anak. Sejak kecil, Retia sudah mengikuti acara GrandChef di televisi dan bertekad kuat untuk menjadi juara. Retia yang sudah bekerja sekeras itu jika mengatakan padanya untuk bersabar, itu sama saja dengan menghina usaha, kerja keras, serta kesabarannya selama belajar memasak.


Setelah beberapa waktu menghilang, hanya kalimat ini yang bisa ibunya berikan, "Pulanglah, Nak. Kami sudah kangen berat padamu." Sederhana, tetapi kuat. Kata-kata yang simpel berusaha membuat perasaan Retia jauh dari rasa resah akan kegagalan. Seolah mengatakan bahwa dirinya tidak sendirian dan mengajaknya untuk membiarkan apa yang sudah terjadi berlalu.


Sore itu, Retia pulang kembali ke rumahnya diantar oleh orang suruhan Kru GrandChef. Di dalam mobil, Retia membuka ponselnya, memeriksa Instagram kemudian mengaktifkan Privasi akunnya. Retia sudah terlanjur bicara dengan sombong bahwa dirinya akan menjadi pemenang pada teman-temannya, tetapi sekarang ia jatuh dengan alasan yang bisa dibilang konyol.


"Sekarang... apa yang harus aku lakukan?" gumam Retia, suaranya bergetar, hampir terbata-bata.


Mobil hitam itu terus melaju, menyusuri jalanan Ibu Kota Nusantara. Sepanjang jalan, kenangan Retia selama di GrandChef berputar di pikirannya bagai slide video. Hingga Retia akhirnya sampai ke Kosannya yang telah lama tidak ia tinggali. Setidaknya pihak GrandChef membayar biaya kos untuk bulan ini.


"Aku pulang."


Retia menyambut dirinya sendiri. Tidak ada orang lain di tempat ini, Retia juga hanya punya keluarga kecil di Desa. Ada Ibu, Ayah, Adik, dan Nenek. Selain keluarga, orang yang dekat dengan Retia lainnya adalah Reyhan, pacar Retia yang sudah bersamanya sejak SMA.


Retia yang masih shock dan bingung, memilih untuk berbaring di tempat tidur saja. Lupa mandi, bahkan lupa makan. Hanya berbaring dengan musik keras di telinga. Mencoba mengusir rasa kesal dan sesal.


Besok adalah hari yang benar-benar kacau bagi Retia. Karena di hari itulah, momen tanda namanya dihancurkan akan disiarkan ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan ke Negara tetangga Malaysia. Keluarga dan teman-temannya akan tahu, dan yang paling ia takutkan adalah Reyhan— pacarnya mengetahui berita kegagalannya ini.


"...tetapi apa hasilnya? SAMPAH!!"


Kata itu terus menggema di telinganya. Menyirami hati dengan air keras dan memupuknya dengan bangkai Hewan Buas. "Juri sial*n," maki Retia.


Walaupun musik yang Retia putar bukan musik sedih. Namun, Entah bagaimana caranya, lirik ceria yang terdengar oleh Retia berubah menjadi suram dan kelam. Air matanya sampai membasahi bantal dan hanya berhenti ketika Retia tertidur pulas.


○●○●•●•●○●•●○○•○●■□

__ADS_1


__ADS_2