Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 22 : Iblis Laut Dalam: Leviathan


__ADS_3

"Lalu apa tidak ada cara lain?" tanya Retia.


"Ada, yang pertama mengikhlaskan semua barang-barang yang ditinggalkan, termasuk kereta kencana dan kuda bersayap yang langka, tetapi Khan tidak mungkin melakukan itu." Hans menjawab.


"Apa yang ke dua?"


"Itu... membunuh ikan terbang dengan sekali tebasan tanpa mengenai kantung-kantung racun di dalam tubuh ikan terbang."


"Lalu apa ada masalah lain? Khan itu ahli memotong terbaik yang pernah aku lihat!" Kemampuan memotong Khan sangat sempurna, bahkan Marthin saja hanya berada di tingkat delapan.


"Tangan Tuan Khan cedera!" Chord berteriak dari atas pohon besar. Di sampingnya terdapat juga beberapa anak kecil, Jordan, dan istrinya.


"Belum sembuh juga?" tanya Retia. Sebuah pertanyaan bodoh, jika semudah itu menyembuhkan luka, maka di dunia ini semua orang akan menjadi pejuang tanpa rasa takut yang besar.


"Itu.. harusnya sudah sedikit membaik, tetapi sepertinya ada yang tuan Khan khawatirkan, sesuatu yang bisa membunuhnya jika keadaan fisiknya lebih lemah dari saat ini," jelas Chord sambil melirik ke arah Hans.


"Sesuatu yang bisa membunuh... apa itu maksudnya Hans? Sial, kenapa jadi serumit ini, jangan bilang kalau sekarang kita harus jalan kaki ke Kansa— Eh?"


Retia sangat terkejut ketika melihat monster super besar yang benar-benar tidak ingin dia temui. Sang Naga telah bangkit dari dalam sungai. Sisik gelapnya yang berlendir dan ekornya yang mengakibatkan gelombang besar terlihat begitu mengerikan.


...•••...


Sebelumnya, bayangan gelap yang menutupi cahaya matahari membuat hinaan Khan terhenti. Di langit, puluhan ikan terbang terlihat ganas dan haus darah menyerbu daratan.


"Oh, sial!" Khan menghunuskan pedangnya yang masih tersimpan dalam sarung. Satu persatu ikan terbang dipukul dengan ujung sarung pedang yang tumpul.


"Sihir dan tanganku tidak dalam kondisi yang bagus sekarang ini," batin Khan.


Ikan-Ikan yang Khan hindari mulai melompat kembali ke air dan menerjangnya kembali. Jika terus seperti ini, tidak akan ada akhirnya.


"Kenapa mereka menyerang daratan? Mereka cuman ikan muda, seharusnya masih banyak makanan di dalam sungai besar ini." Khan sangat curiga dan berhati-hati, mudah baginya untuk membunuh ikan-ikan itu dengan pedangnya. Namun, rasa curiganya memantik keingintahuan yang tinggi. Ada sosok lain yang membuat ikan terbang tidak punya cukup makanan untuk dimangsa, dan Khan berniat memancing sosok itu keluar dengan keributan ini.


Gelombang tinggi tiba-tiba muncul bersamaan dengan gelembung udara dari dalam sungai.

__ADS_1


"Ah, akhirnya muncul juga." Tsunami kecil itu menerpa Khan dan sedikit membuatnya terdorong mundur. Sungguh kehadiran yang mengerikan.


Dari dalam sungai, sisik-sisik baja seukuran telapak tangan mulai terlihat, mata kekuningan yang menyala dan empat buah tanduk putih turut menghias wajah seekor kadal raksasa. Taring-taring sebesar kepala menghiasi rongga mulutnya yang terus mengeluarkan uap udara.


"Ah.... Jadi, kamulah penyebab situasi ini? Tuan, Leviathan."


Khan memang menduga ada sesuatu yang besar di balik semua ini. Namun, dia tidak pernah menyangka makhluk yang muncul justru sang Iblis laut dalam: Leviathan. Bahkan jika itu hanya versi bocah kecilnya saja, Leviathan tetaplah salah satu dari tiga Hewan Suci yang dijuluki sebagai kaisar sihir.


"Haha, Kaisar Sihir Samudra: Leviathan. Senang bertemu dengan Anda."


Khan mengendurkan pertahanannya, tidak ada yang bisa ia lakukan di hadapan iblis laut dalam. Jika saja kondisinya prima, Leviathan kecil seperti ini masih bisa ia buru sendirian.


Leviathan memopa paru-parunya, menyemburkan napas dingin yang membekukan ikan-ikan terbang, tak terkecuali Khan yang berdiri di tengah-tengah mereka.


"Groooowth!"


"Urgh!"


Khan berusaha keras menahan serangan itu dengan menghindarinya, tetapi percikan kecil masih dapat membekukan beberapa bagian dari tubuhnya.


"Ah...."


Sayangnya lemparan Chord terlalu pendek dan terbawa angin dingin hingga belasan meter dari tubuh Khan.


"Dasar bodoh, harusnya kamu lempar lebih kuat!" Khan memaki, tetapi Leviathan kembali menyerangnya menggunakan semburan pembeku miliknya.


"Groooowth!"


Khan terus berusaha menghindar dan berjuang mendekati botol ramuan dari Chord.


"Urgh, berisik sekali." Retia menutup telinganya, raungan itu bahkan lebih kuat dari Tyranwing yang keracunan.


"Hey, jari delapan. Kamu juga kemari, kenapa jadi pengecut begitu setiap kali melihat Dra—

__ADS_1


"Urgh!!"


Khan terlempar, sebagian tubuhnya membeku. Jika saja dia bukan pengguna sihir Samudra, hawa dingin yang menusuk tulang pastinya sudah membuatnya pingsan tak sadarkan diri.


"Dasar brengsek, tidak bisakah kamu memintanya dengan cara yang baik!" Hans maju, bersama dengan perisai bulat besar di kedua tangannya.


Hans menahan napas Leviathan dari mengenai Khan yang merangkak di dataran yang membeku demi meraih botol ramuan.


"Urgh! Gila, kenapa pedih sekali?" Hans merasakan rasa pedih yang luar biasa dari luka-lukanya. Khususnya pada luka di jarinya yang terputus.


"Hahahaha, garam. Bajingan itu memuntahkan garam!" Khan berteriak sambil berusaha membuka botol ramuan dengan menggunakan gigi dan tangan kanannya.


"Cepatlah minum ramuan itu dasar kau xxxxx!" Hans mengumpat, perisai dan kedua tangannya kini telah membeku.


Leviathan menghempaskan ekornya, mengakibatkan tsunami kecil kembali menghempas daratan. Tanah yang membeku membuat Hans kesulitan menjaga tubuhnya, tsunami kecil itu berhasil menggulung Hans hingga terdorong jauh ke arah Khan.


"Uargh!" Hans terkejut ketika melihat Khan yang biru pucat dengan tatapan mata yang kosong dan darah yang mengalir dari telinga dan hidungnya.


"Eh? Mati? Dasar gila, apa yang kalian beri kepadanya?" Retia menggenggam kerah Chord yang memucat. Chord yakin botol yang dilemparnya adalah ramuan pengisi energi sihir instan, tetapi sekarang ketika melihat kondisi Khan, Chord menjadi khawatir bahwa dirinya sudah memberikan ramuan racun yang mematikan.


"Uargh!!" Hans terus berusaha menahan semua serangan Leviathan, tetapi untuk melawan balik dibutuhkan sebuah kesempatan.


"Apa ada yang bisa menghentikan serangannya sebentar!?" tanya Khan berteriak dengan sangat keras. Tidak ada yang punya keberanian sebesar itu untuk mendekati Leviathan, bahkan jika itu seorang veteran perang seperti Marthin, tidak berani dan terdiam gemetar hanya ketika mendengar namanya saja.


Mendengar itu Retia berusaha untuk membantu dan mencari cara, setelah memikirkannya, Retia meminta Jordan untuk melempar gelang pemberian Khan ke arah Leviathan.


"Ini Perjudian, tetapi layak untuk dicoba," batin Retia. Leviathan yang selalu menggerakkan kepalanya membuat Retia terpikir sebuah ide yang cukup gila.


Jordan tanpa ragu melempar gelang yang terlihat mahal itu sekuat yang ia bisa, tombol di gelang itu tertekan ketika menyentuh kepala Leviathan, Kitchen Set muncul, membentur kepalanya dan menghentikan serangan Leviathan kepada Hans.


"Berhasil!!" teriak Retia dan Jordan hampir bersamaan.


Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Hans. Tubuhnya berputar beberapa kali di udara, Setalah putaran ke tujuh, Hans melepaskan teknik serangan yang dilarang oleh masternya.

__ADS_1


"Pillar Kerajaan, Tinju Penghancur!"


__ADS_2