
Pagi itu, saat-saat mentari baru melangit dan burung-burung sibuk dengan kicauan merdunya yang tak dapat dimengerti. Retia mulai mengemasi barang-barangnya untuk pulang kampung menenangkan diri. Bahasa gaulnya Self Healing?
Retia berniat untuk pulang siang ini, dia bahkan sudah janjian dengan layanan jasa Gobox. Meski begitu ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Reyhan pacarnya tidak bisa dihubungi.
Perasaan Retia kacau, terisi penuh dengan dugaan dan kecurigaan. Syukurnya beberapa menit kemudian ponselnya berdering spesial. Dering khusus untuk pesan dari Reyhan.
Retia segera mengambil ponsel di sakunya, ada dua pesan di sana, yang pertama berbunyi, "Aku ingin berbicara denganmu." Lalu yang ke dua, "Temui aku di Kafe perempatan jalan."
Melihat itu Retia segera berlari dengan perasaan yang tak karuan. Perempuan mempunyai insting yang luar biasa terhadap hal-hal yang janggal, Retia sadar kalau ini adalah salah satunya.
Jarak ke Kafe perempatan jalan hanya sekitar tiga ratus meter dari kostannya. Namun, terasa sangat jauh, mungkin hanya di pikiran. Retia kesusahan mengatur napasnya, pikirannya kusut, terus menerus mencoba menyangkal prasangka buruk.
Retia sampai di depan Kafe, berhenti sejenak di sana untuk sekedar menghembuskan napas berat. Kemeja putihnya yang kumal dirapikan, ekspresi yang kusut ditegarkan. Melatih senyum palsu kemudian berjalan kembali.
Retia masuk ke dalam Kafe dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Menoleh dan mencari keberadaan sang pacar tersayang. Pandangannya terhenti pada seorang pria berjas hitam yang sibuk dengan ponsel pintar. Retia menghampirinya kemudian berkata, "Sudah lama menunggunya? Maaf, aku terlambat."
Pria dengan poni menutupi dahi itu hanya menatap Retia dengan tajam. Satu sudut mulutnya terangkat, menampakkan seringai penghinaan. Sungguh apa orang ini salah makan?
Retia duduk di bangku, mengetuk-ngetukan jarinya ke meja, menunggu Reyhan berbicara. Waktu terus berputar, tetapi Reyhan tidak membuka mulutnya sama sekali, terlalu sibuk memainkan ponselnya.
Retia yang tak tahan mengalah dan bertanya, "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?"
Reyhan melemparkan pandangannya sebentar, sedikit tertawa kemudian memberikan ponselnya kepada Retia, "Lihat ini," katanya.
Retia mengambil ponsel Reyhan. Layar yang semula mati dinyalakan, foto wallpaper membuat Retia mengalihkan pandangan. Matanya terpejam, masih tak percaya apa yang barusan ia lihat. Namun. Saat matanya kembali menyala, apa yang ia lihat sebelumnya ternyata kenyataan. Kenyataan pahit bahwa Reyhan bukan cuma meninggalkannya, tetapi juga mengkhianatinya dengan wanita lain.
Retia memang sudah menduga ini sebelumnya, mengingat hubungan mereka selama ini berlandaskan pada obsesi Reyhan untuk memiliki pasangan yang pintar memasak. Sungguh hubungan yang absurd, para maniak cinta tidak senang mendengar ini.
"Wanita itu, kekasih baruku," kata Reyhan.
"Apa? Bicara apa, kamu?" Retia marah, tetapi menjaga nada suaranya tetap rendah.
__ADS_1
"Dia mungkin sedikit lebih tua dariku, tetapi dia seorang kepala koki di sebuah Hotel. Namun, bagaimana denganmu? Kudengar kau baru saja tereliminasi dari kompetisi antar amatiran." Reyhan melanjutkan ucapannya, membuat Retia tidak bisa berkata apapun lagi, bagaimanapun apa yang Reyhan katakan itu kebenaran.
"Hah... aku sudah mengatakan semuanya, kamu mengerti apa yang aku maksud bukan?" Reyhan berdiri, hendak segera pergi meninggalkan Retia yang hampir menangis.
"Ya...."
"Bagus. Mari tidak saling bertemu kembali." Reyhan meninggalkan Retia yang telah menangis tertelungkup di meja. Tiada rasa iba, tiada adegan menoleh ke belakang, Reyhan pergi begitu saja bahkan tanpa berpamitan. Mulai hari itu meraka berdua tidak pernah bertemu kembali.
Retia menyeka air matanya. Sadar tempat dan ingin segera berlari keluar dari Kafe tersebut, tetapi ponsel Reyhan yang masih ada di tangannya membuatnya meluangkan waktu lebih.
"Hah... dasar pria idiot."
Retia menghabiskan waktu sebentar mengotak atik ponsel Reyhan yang pola kuncinya masih sama, kemudian pergi keluar setelah mengembalikan ponselnya ke setelan pabrik.
•••••••••••••••○○○
Malam sebelumnya, Tante Retia yang bernama Zoana, mendapatkan telepon dari kakak perempuannya yaitu Ibu Retia. Isi dari percapakan mereka adalah mencari rumah disekitaran sini untuk Retia dapat tinggali.
"Ini, Bu. Katanya Retia dieliminasi dari kompetisi memasak dan pengen pulang kampung, tapi belum dapet rumah disekitaran sini," jawab Tante Zoana.
Nenek itu terdiam sejenak, sorot matanya mulai layu dan terlihat linglung. Sadar akan itu Tante Zoana langsung menghampiri dan bertanya, "Nenek, kenapa?"
Sang Nenek tersadar dari lamunannya, tangannya gemetar dan mengatur napas pendeknya beberapa kali. "Zoana, kamu masih ingat kotak yang ibu suruh jaga dulu?" tanya Nenek.
"Oh, kotak yang ibu bilang jangan dibuka itu? Kotak itu masih ada di loteng, kok. Apa mau Zoana ambilin?"
"Ya."
Tante Zoana pergi ke loteng, mengambil sebuah kotak yang dibungkus kain kuning kemudian membawanya turun.
"Ini, Buk. Kotaknya."
__ADS_1
Nenek mengambil kotak itu, membuka penutup kainnya dan mengusap lembut kotak hitam yang mempunyai banyak ukiran aneh. Tante Zoana merasakan adanya ikatan yang mendalam antara Nenek dan kotak hitam itu. Rasanya seperti kotak itu membawa kenangan indah dari masa lalu sang Nenek.
Nenek membuka kotak hitam itu, mengeluarkan sebuah buku dan juga tiga kunci yang terikat satu. Kemudian kunci itu diberikan pada Tante Zoana.
"Kamu ingat Rumah Tua yang dekat kebun tebu? Ini kunci rumah itu, dulu Ibu tinggal di sana," jelas sang Nenek.
"Rumah tua di Desa Saliara itu?" Tante Zoana bertanya.
"Iya, yang itu." jawab sang Nenek.
"Tanya sama Retia, apa mau dia tinggal di sana? kalau dia mau, kamu tolong berikan buku ini pada dia." Nenek memberikan buku tua itu kepada Tante Zoana.
"Buku apa ini?"
"Itu buku resep masakan kuno," jawab Nenek.
Tante Zoana membuka buku itu, tetapi tinta yang tertulis di dalamnya sudah luntur dan hampir tak dapat di baca.
"Nanti Zoana tanyakan dulu."
"Iya...."
•••••••••••••••
Ponsel Retia bergetar, sebuah pesan dari tantenya membuat Retia sedikit senang. Tantenya mengirim foto rumah tua dan sebuah alamat. Selain itu tantenya juga mengirim pesan singkat yang cukup panjang, seperti biasa seolah sudah menjadi ciri khas pesan dari sang tante,
"Retia, ini alamat rumah Nenekmu dahulu, kamu bisa tinggal di sana kalau mau. Tante dan adikmu tadi pagi sudah cek isi di dalamnya juga sedikit bersih-bersih, jadi bisa langsung ditinggali. Selain itu jarak sama rumah Tante cuma satu desa aja, kok. Jadi, nanti bisa sering-sering mampir. Oh, iya. Kuncinya ada di bawah pot bunga, terus Nenek juga ngasih hadiah buku resep kuno, bukunya ada di atas lemari kayu."
Sebelumnya, Retia mendapatkan telepon dari sang Tante yang bilang kalau Neneknya memberikan rumah tua itu pada Retia setelah mendengar Retia gagal di kompetisi memasak. Retia cukup senang, terlebih lokasi Rumah itu berada di Desa Saliara yang terkenal dengan keasriannya.
Retia tak henti mengucap syukur, memiliki keluarga yang percaya dan selalu mensupportnya adalah sebuah keajaiban terbaik dalam kehidupan. Melihat rumah yang diberikan neneknya itu memiliki halaman yang cukup luas, Retia tertarik untuk membuka warung makan di sana. Walaupun penyesalan bahwa dirinya tak bisa mewujudkan impiannya dari kecil masih terasa perih.
__ADS_1
Retia yang mulai hanyut kembali dalam kesedihan, mendadak tersadarkan perihal ponselnya yang kembali bergetar. Kali ini bukan keluarga, bukan juga mantan pacarnya yang meminta pertanggung jawaban atas ponselnya, tetapi seorang kurir dari Gobox yang ingin memastikan alamat Retia.