Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 17 : Deal!


__ADS_3

"Hibis.. apa? Orang aneh mana yang memberikan nama sulit seperti itu kepada bunga." Khan menggerutu.


"Jadi, bagaimana menurut Anda, Tuan? Bisakah kita membicarakan tentang biaya bahan, harga penjualan dan metode pemasaran?" tanya Retia, dia sudah terlalu lama menghabiskan waktu di tempat ini tanpa ada kepastian, sejujurnya juga cukup takut kalau-kalau Khan malah akan menahannya untuk dikeruk pengetahuan dari bumi modern.


"Sebelum itu, bisakah kamu memasak hidangan lain? Gorengan tadi masih kurang untukku."


"Sudah Saya duga Anda akan mengatakan hal ini, seharusnya Kepala Koki sudah menyiapkan hidangan di ruangan makan. Mari Saya antarkan."


"Ho? Apa kamu berniat menggantikan Kepala Pelayan Ron? Kebetulan sekali sebentar lagi pria itu akan pensiun." Mata Khan membulat, alisnya naik. Khan sepertinya berharap Retia mengatakan, "Ya."


Namun, tujuan Retia masih tetap sama, memenangkan kompetisi memasak. Itu cita-citanya dari kecil. "Saya menolak, Saya di sini hanya untuk mengikat bisnis dengan Anda."


"Begitukah? Ya sudahlah mungkin lain kali jika kamu tertarik."


"Kalau begitu, mari."


Retia dan Hans meninggalkan dapur dan kembali menuju ruang makan.


...•••...


Sekitar dua jam setelah mereka berdua berdiskusi. Khan mengambil kesimpulan dan bersiap untuk mengetuk palu perjanjian.


"Oke, sudah diputuskan. Produk sabun dari minyak jelantah— limbah dari bisnis gorengan— akan dijual dengan harga paling murah, yakni tiga perunggu. Produk sabun untuk mencuci tanpa tambahan apapun akan diberi harga lima perunggu. Produk sabun multifungsi untuk mencuci dan mandi diberi harga jual sepuluh perunggu. Produk sabun cair khusus rambut diberi harga lima belas perunggu per-botol. Produk sabun dengan nama 'Jasmine' yang berfokus pada aroma akan diberi harga jual dua puluh perunggu, terakhir produk sabun dengan nama 'Hibiscus' yang berfokus pada kesehatan kulit akan diberi harga satu koin perak per-batangnya, masing-masing produk yang bernama akan dibuat juga produk cairnya dengan beberapa tambahan perunggu. Apa menurut kamu ini sudah pas, Nona Retia?"

__ADS_1


"Ya, Saya setuju."


"Yang termurah sembilan ribu rupiah dan yang termahal seratus lima ribu rupiah, jika kita nanti bisa memproduksi masing-masing seribu buah per-hari, keuntungannya sepertinya akan meledak." Retia membatin.


"Sekarang biaya royalti produk dan dana awal pembangunan pabrik. Untuk promosi produk, seperti yang kamu sarankan sebelumnya, kita akan menampilkan pertunjukan untuk memperkenalkan sabun. Memberi mereka yang hadir gorengan tahu isi dan tempe gratis sebagai promosi dan memberi sepotong sabun multifungsi sebagai sampel untuk membuat mereka menjadi terbiasa dan mulai ketergantungan."


"Biaya royalti diganti menjadi mansion yang nyaman dan fasilitas penyokong persiapan mengikuti kompetisi memasak yang akan datang kurang dari empat bulan lagi."


Retia terpana, ada alasan mengapa Khan disebut sebagai pahlawan di kerajaan ini. Jika mengesampingkan fakta bahwa emosi dan sikapnya tidak stabil, Khan adalah seorang pria yang cerdas condong licik yang sangat fasih dalam bersosialisasi.


Khan mungkin satu-satunya Bangsawan baru yang tidak dimusuhi oleh faksi manapun karena aksinya yang selalu menyimpang dari dunia politik. Selain bakatnya dalam menarik koneksi, Khan juga seorang pembuat artefak terbaik sekaligus seorang ahli pedang sihir yang masuk dalam peringkat lima besar ksatria kerajaan.


Lebih dari itu, rumor tentang Khan yang memiliki token akses masuk ke kerajaan sesuka hati dan juga rumor tentang dirinya adalah menantu dari Kekaisaran Sahara membuat semua gadis ingin memiliki ikatan dengannya bahkan tanpa ragu menjual diri mereka untuk menjadi selir. Retia memang merasa sangat takut dan gelisah ketika berada di dekat Khan, tetapi hanya dengan bersamanyalah cara terbaik dan cepat untuk membangun nama.


Retia juga tidak perlu mengurusi apapun karena Khan yang akan mengurus semua perdagangan juga mereka yang akan mencoba untuk meniru atau mencaplok usaha sabunnya. Retia yakin kalau saja ada orang yang melakukan itu, pasti Khan akan memenggal dan menggilingnya menjadi tahu.


"Untuk modal awal dan pabriknya, aku akan menyediakan tiga ratus koin emas sebagai biaya pembangunan pabrik dan seratus koin emas untuk pembelian bahan baku setiap bulannya."


"Eh? Tu-tunggu, apa tidak terlalu cepat? seratus emas per-bulan itu setara tiga ratus enam puluh tujuh juta rupiah, loh? Bukankah ini terlalu besar untuk bisnis yang bahkan belum lahir?"


"Rupiah itu apa? Aku rasa seratus emas itu bahkan sangat kurang. Ah, sepertinya kamu salah paham atas sesuatu."


"Salah paham?" Retia bingung, sejujurnya dia tidak terlalu mengerti tentang urusan bisnis, apalagi ini dunia lain.

__ADS_1


"Ya, pertama sabun ini merupakan sebuah revolusi kebersihan. Yang ke dua, bisnis ini akan meledak dengan cepat setelah promosi pertunjukan yang kamu sarankan. Aku secara khusus akan berinvestasi pada promosi ini seratus koin emas per-bulan. Yang ke tiga, aku berniat memasarkan sabun ke seluruh dunia melalui Kekaisaran Sahara yang memiliki akses ke total lima kerajaan besar dan sembilan kerajaan kecil. Jadi, sabun dan nama Retia akan meledak seperti yang kamu impikan, Keke." Seringai tajam terukir di wajah Khan. Ekspresi serius yang membuat kagum Retia menghilang bagai ditelan udara.


"Bukankah terlalu cepat dan terlalu besar? Bukankah jika jatuh Anda akan kehilangan segalanya?" Retia bertanya.


"Lalu harus bagaimana? Memulai dari kecil kemudian hancur setelah orang-orang tahu cara membuat sabun ternyata tidak sulit? Kamu tidak berpikir hanya kamu yang punya pemikiran revolusioner, kan?"


"Itu..., Saya salah. Mohon maaf atas kekasaran dan kebodohan Saya." Sekarang terlintas di pikiran Retia, bahkan tanpa campur tangannya, sabun pada akhirnya akan ditemukan secara sengaja atau tidak disengaja. Karena di dunia asal sabun dimulai dari lemak hewan yang dicampur dengan abu soda.


"Tidak-tidak, jika kamu benar-benar ingin minta maaf, maka pakailah pikiranmu untuk merevolusi hal lainnya juga. Namun, istirahatlah malam ini dengan benar, besok kita akan berangkat menuju Kota ujung timur, Kota Kansas," kata Khan. Kini dia benar-benar kembali ke sikap tidak bisa ditebaknya itu.


"Ah, sebelum pergi ke sana, bisakah Saya pergi ke suatu tempat dulu untuk mengambil beberapa barang Saya?" tanya Retia. Bagaimanapun caranya Retia harus mengambil frying pan ghaib dan buku-buku resep peninggalan neneknya di kediaman Khan.


"Di penginapan mana itu? Akan kuperintahkan Ron untuk mengambilnya."


"Ah, sebenarnya sebelum bertemu dengan Anda, Saya diberikan tempat tinggal sementara oleh seorang Guardian bernama Hanshell Destramagi, Saya juga ingin berpamitan dengan para pelayan di sana, mereka pasti khawatir sejak Saya menghilang dari seminggu yang lalu," jelas Retia.


"Kalau begitu, temuinya besok pagi saja sebelum berangkat. Bagaimanapun sepertinya kamu butuh istirahat, kelihatannya ada banyak sekali hal yang kamu pikirkan, istirahatlah, besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali agar tidak berkemah dua kali."


"Kalau begitu, Saya pamit undur diri."


"Ya."


Khan masih terdiam di sana. Berdiri, kemudian menyibak tirai jendela, pikirannya jauh menerawang ke angkasa lepas.

__ADS_1


"Mid Guardian, ya? Jadi orang yang besok akan aku temui adalah orang yang disebut sebagai orang terkuat di kerajaan ini? Si peringkat satu, Hanshell Destramagi? Sepertinya akan menarik, hahaha."


...•••...


__ADS_2