
"Tuan Khan sudah datang!" teriak penjaga gerbang untuk memberi peringatan pada semua pelayan di dalam rumah. Semua pelayan langsung berbaris di posisi mereka masing-masing menyambut kedatangan Khan.
"Selamat datang kembali, Tuan!" ucap mereka serempak.
"Ya, kerja bagus," kata Khan. Para Pelayan mulai meninggalkan tempatnya kembali kepada pekerjaan masing-masing, kecuali Rena.
"Nona Retia telah menunggu Anda di ruang makan, Tuan. Apa Anda ingin menemuinya?" tanya Rena.
"Apa pekerjaannya sudah selesai? Bagaimana? Apakah sesuai dengan apa yang dia katakan?"
"Saya tidak berani memberi penilaian, Tuan bisa memastikannya sendiri di sana."
"Yah, itu benar. Aku tidak akan tahu sebelum mencobanya sendiri. Tolong pandu aku ke sana."
"Baik. Lewat sini, Tuan."
Khan menuju ke ruang makan bersama dengan Rena yang mana di ruang sana sudah terdapat Retia yang masih sibuk menatap rak bumbu. Sesekali ia memejamkan mata dan berkedip. Lama-lama menjadi terbiasa menggunakan sistem sebagaimana smartphone.
Pintu berderit, Rena mempersilahkan Khan masuk. Retia yang mendengar itu langsung menyudahi aksinya.
"Jadi, apa kamu sudah menyelesaikan pengganti air arang?" tanya Khan bersemangat, senyum hangat di wajahnya terasa lebih mengerikan daripada seringai di mata Retia. Hal itu dikarenakan noda merah yang menghiasi pakaian dan pedangnya.
"Ya, Saya berhasil mewujudkan 'Sabun', Yang Mulia." Retia tanpa sadar membungkuk sembilan puluh derajat.
"Apa maksudmu memanggilku 'Yang Mulia'? Aku masih belum menjadi Raja, hahaha." Khan tertawa mengagetkan Rena juga Retia. Mereka berdua tidak pernah tahu bahwa Khan yang aneh dan ajaib bisa tertawa lepas seperti itu.
"Apa maksudnya belum menjadi Raja? Apa dia berniat melakukan pemberontakan? Sial, sudah kuduga keputusanku mempercayakan masa depanku pada orang ini merupakan kesalahan," sesal Retia, menangis dan terisak di dalam hati.
"Jadi, mana benda 'Sabun' itu?" tanya Khan yang kini sudah duduk di bangku meja makan.
"Sebelum itu, Saya punya hadiah untuk Anda."
"Hadiah? Apa itu? Lalu di mana?"
"Saya meminta Rena untuk mengambilkannya dari dapur, tolong tunggu sebentar."
"Baiklah."
Tak berselang lama, Rena datang dengan membawa satu piring penuh gorengan tahu. Meletakkannya di meja, kemudian kembali lagi ke dapur.
"Oh? Apa hadiahnya makanan? Kebetulan sekali aku belum makan sejak kepiting garnis buatanmu itu."
__ADS_1
"Ap-apa? Apa dia serius belum makan selama seminggu?" batin Retia.
"Ya, ini adalah hidangan yang Saya buat bersama dengan yang lainnya saat Anda pergi. Namanya tahu isi crispy.
"Tahu isi?"
"Biar saya jelaskan."
Retia membelah tahu menjadi dua. Memperlihatkan isi di dalamnya.
"Oh? Jadi itu sebabnya dinamakan tahu isi, karena ada sayur di dalamnya. Lalu apa itu tahu?"
"Anda benar, Saya menumis sayur dan daging kepiting kesukaan Anda kemudian memasukkannya ke dalam tahu."
"Yang diluar ini tepung?"
"Kalau begitu, Tahu yang ini?"
"Seperti yang dikatakan Nona Mariena, Tuan Khan akan menunjukan sisi polosnya ketika dihadapkan pada hal yang menarik perhatiannya."
"Iya, yang itu. Sebenarnya ada beberapa jenis tahu, tetapi yang Saya gunakan adalah Tahu Pong. Tahu sendiri berasal dari endapan perasan biji kacang kedelai, selain Tahu, Saya juga membuat produk makanan lain dari bahan yang sama," Rena datang dan meletakkan dua hidangan lain di meja, "yang ini Tempe, lalu cairan hitam ini namanya kecap," sambung Retia.
"Iya,"
"Biar aku coba." Khan melirik ke sana kemari, mencari-cari sendok dan garpu yang biasanya dia gunakan, tetapi baik Rena dan Retia secara sengaja tidak menyediakannya.
"Akan lebih baik bila Anda langsung memakannya dengan tangan kosong," pinta Retia yang sadar dengan hal itu.
"Bisa begitu?" Khan cukup bingung, tetapi mencoba untuk menuruti kemauan Retia.
"Cobalah."
Khan mengambil tahu isi crispy dengan tangan kosong, kemudian menggigitnya. Rasa renyah dan gurih dari tepung yang dibalur tipis bertabrakan dengan rasa dari tahu yang lembut. Sayur kol, wortel, dan lainnya terasa segar, tidak masam ataupun hambar. Rasa dari daging kepiting terasa seperti keju yang meleleh di lidah, Khan dapat merasakan rasanya bahkan sebelum sempat dikunyah. Rasa berminyak di bibir dan mulut menjadi penyempurna rasa dari tahu isi yang masih panas ini.
"Bagaimana?" tanya Retia dengan penuh senyuman karena kali ini Khan memakan hidangan buatannya dengan sangat lahap.
"Kerja bagus, tetapi tanganku sekarang menjadi berminyak," puji Khan sambil menjilati ujung-ujung jari tangan yang berminyak.
"Jangan khawatir, bukankah Saya bilang kalau Saya berhasil menciptakan sabun?"
"Jadi, di mana itu?"
__ADS_1
"Saya sudah meletakkannya di setiap wastafel dan keran di Mansion ini, Anda bisa menggunakannya di sana."
Khan berdiri dan beralih ke wastafel terdekat. Selama berjalan Khan dapat melihat beberapa kacang kedelai yang direndam di banyak wadah.
"Benda ini?" tanya Khan ketika Retia memberikannya benda persegi kekuningan.
"Benar! Pertama-tama Anda harus mengoleskan air ke sabun dan menggosoknya."
Khan mengikuti instruksi Retia, mengoleskan sedikit air ke sabun dan menggosoknya dengan tangan.
"Oh? Ada gelembung yang keluar dan baunya harum? Apa Anda menggunakan batu sihir di dalamnya? Jenis apa itu?" tanya Khan penuh semangat dan rasa ingin tahu.
"Tidak, tidak. Saya tidak mengolahnya menggunakan sihir apapun itu jenisnya. Sekarang yang perlu Anda lakukan adalah menyebarkan gelembung tersebut ke seluruh bagian tangan Anda sampai semuanya menjadi licin."
Khan kembali melakukan apa yang diminta oleh Retia, sembari terus berusaha agar tidak menjatuhkannya atau menggenggamnya terlalu erat.
"Lalu?" tanya Khan lagi setelah seluruh tangannya telah terlapisi dan menjadi licin.
"Cuci dengan air mengalir.~"
Khan menghidupkan wastafel, sebelumnya Retia telah mengetahui kalau semua benda elektronik di sini menggunakan batu sihir sebagai kuasa penggerak dan orang yang mengusulkan ide itu adalah Khan sekitar tujuh tahun yang lalu.
"Oh? Minyak dari tahu isinya habis... bercak darahnya juga hilang, hebat!" puji Khan.
"Eh? Ad-ada bercak darah di tangannya?" Retia sedikit gelisah, tetapi mencoba untuk tetap tenang. Jika pemilik darah itu adalah manusia, bisa jadi sekarang dia sudah membuat Khan menjadi seorang kanibal.
"Selain untuk membasuh tangan Anda setelah makan dan melakukan sesuatu yang 'kotor', Anda juga bisa menggunakan ini untuk mencuci pakaian, muka, rambut, bahkan seluruh badan Anda dengan menggunakan ini."
"Ah, kebetulan sekali aku suka melakukan hal-hal yang 'kotor'."
"Eh?" Retia berpikir sesuatu yang kotor sebagai lambang dari buang air kecil dan besar, tetapi sepertinya Khan memiliki pemahaman tersendiri.
"Kamu bilang tidak ada sihir yang terlibat bukan? Lalu bau harumnya?"
"Saya menambahkan sejenis bunga Hibiscus Rosa-Sinensis di dalamnya. Saya jamin atas nama nenek Saya bahwa itu aman untuk kulit Anda," jelas Retia.
Sebelumnya Retia mendapatkan hadiah yang tiba-tiba saja muncul setelah menyelesaikan pembuatan fermentasi kedelai.
Hadiahnya adalah kemampuan lanjutan dari kemampuan Mata Dewi Makan, kemampuan itu kini dapat melihat manfaat dari objek yang Retia pindai tentunya dengan batas-batas tertentu, lalu saat Retia pergi mengelilingi taman Mansion, Retia tanpa sengaja menemukan bunga sepatu yang cukup aneh dengan warna merahnya yang menyala terang di kegelapan.
Bunga itulah yang ia tanam di dalam produk sabun buatannya yang bermanfaat untuk menunda penuaan, menyehatkan rambut, serta menghaluskan, mencerahkan, dan melembabkan kulit.
__ADS_1