Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 29 : Kisah Dewa Jahat


__ADS_3

..."Jadi dia orangnya?"...


..."Dia orang kekaisaran kita juga rupanya."...


..."Namun, datang dari mana gadis itu?"...


..."Yeah, aku tidak pernah melihat atau mendengar nama keluarga Anggraini sebelum-sebelumnya."...


..."Mungkin dia berasal dari Klaster kumuh?"...


..."Sepertinya begitu, pakaiannya benar-benar tidak berkelas."...


..."Namun, dengan begini akan lebih mudah bagi kita semua, kan?"...


..."Ya, kita tidak perlu membujuk rayu jika seperti ini, haha."...


"Aku bisa mendengar kalian, dasar sialan," batin Retia jengkel.


"Ho? Jadi, kamu orang yang mengejutkan dunia dengan pemikirannya? Aku terkesan. Nah, karena orangnya juga sudah ada di sini, kalian semua bisa memulainya." Kaisar tersenyum tipis, matanya melengkung dan janggut putihnya dimainkan.


"Baik, Yang Mulia!" seru para bangsawan serempak.


Duke Phalsas berdiri dari kursinya, merapikan dasi kupu-kupunya kemudian berucap, "Yang Mulia, Saya yakin bahwa, Pangeran Agung Fedrick ialah sosok yang tepat untuk mengambil alih bisnis ini. Bukan cuma soal wilayah miliknya yang luas, tetapi juga lokasinya yang terpencil sangat cocok untuk membangun puluhan bengkel."


"Tidak, tidak. Mengapa memberikan tanggung jawab sebesar itu kepada Pangeran Agung yang baru saja dewasa? Yang Mulia, Saya rasa Pangerang Agung Anderson lebih cocok untuk mengayominya, bukan cuma soal dirinya yang pandai berbisnis, tetapi juga sumber daya manusia di wilayah yang dikelolanya sangat mumpuni untuk membangun banyak bengkel." Count Pilgub berdiri dan menentang.


Satu-persatu bangsawan lain juga mulai mengutarakan pendapat mereka masing-masing. Tentunya tidak murni dan di-isi oleh keuntungan pribadi. Mereka mulai saling dorong dan saling sikut untuk sesuatu yang sebenarnya bukan hak mereka. Retia sangat marah, benar-benar marah.


"Hentikan!" Khan memecah suasana. Sorot mata setiap orang menusuk tajam ke arahnya. Semuanya menggertak gigi, marah dan merasa kesal.


"Maafkan kelancangan Saya, Yang Mulia, tetapi Retia bukan berasal dari kekaisaran Sahara, melainkan dari kerajaan Regionald. Tuan Terhormat sekalian tidak mempunyai hak untuk mengatur dan mencoba mengendalikan dirinya." Khan merentangkan salah satu tangannya. Sementara satu tangan lainnya menyentuh gagang pedang.

__ADS_1


"Beraninya kamu berbicara tentang hukum perjanjian damai di sini? Jika apa yang engkau katakan benar maka orang yang harus dihukum adalah dirimu yang membawa masuk orang asing tanpa laporan ke wilayah Kekaisaran, bahkan kamu membawanya kehadapan Yang Mulia. Siapa yang harus dihukum, hah!?" Count Pilgub marah, meninggikan suaranya dan secara kasar menggenggam meja istana dengan kedua tangannya.


Khan menatap lelaki itu dengan tajam. Ekspresi wajahnya datar tanpa ekspresi. Hanya dari menatap balik ke arahnya saja, Count Pilgub sudah merasa tertekan. "Apa itu? Sejak kapan dia menjadi sekuat ini?" batinnya.


"Meninggikan suara di depan Yang Mulia adalah kesalahan yang baru saja kamu lakukan. Sedangkan membawa orang asing ke hadapan Kaisar bisa dimaafkan jika orang itu membawa sebuah proposal penting yang berkaitan dengan suara dan kepentingan rakyat atau informasi penting itu sendiri. Jadi, Saya merasa tidak bersalah."


"Kamu... beraninya!" Count Pilgub dengan ragu mencoba untuk menjawab, tetapi tidak ada apapun di pikirannya.


"Cukup!" Kaisar menghentikan.


"Ya-Yang Mulia." Count Pilgub mundur dan duduk kembali ke kursinya dengan kepala tertunduk.


"Khan, katakan pada Kami, alasan engkau berani membawa gadis itu ke tempat suci ini?" Kaisar bertanya.


"Saya membawa Nona Retia kemari untuk membahas bisnis skala besar yang tidak mampu Saya tunggangi secara penuh, hal itu disebut dengan nama Reformasi kebersihan Dunia. Saya sudah mencoba untuk membuatnya di Kansas, tetapi kami masih kekurangan tenaga kerja dan keuangan," jawab Khan.


"Reformasi kebersihan Dunia? Jelaskan."


"Ba-baik." Retia gugup, terlebih setelah adu mulut yang memanas di antara Khan dan para bangsawan Kekaisaran. Kemudian sekarang ia harus ikut terlibat ke dalamnya.


..."Tenang Saja, jika ada dari mereka yang mencoba menyakitimu, aku akan menebas tubuh mereka menjadi dua. Aku bersumpah."...


Suara Khan terdengar di telinga Retia, tetapi alih-alih merasa tenang, Retia malah merasa lebih gugup dan takut. "Dasar sinting," batinnya.


..."Meski kamu berkata begitu, aku sama sekali tidak tahu harus memulainya dari mana." Retia bergumam dengan nada yang begitu rendah, berharap Khan dapat mendengar dan membalas ucapannya....


..."Apa kamu bingung? Kalau begitu katakan saja apa yang engkau katakan sewaktu mempromosikan sabun, lalu tambahkan bagaimana pentingnya toilet dan sistem pembuangan limbah."...


Syukurnya Khan membalas kekhawatirannya dengan cukup cepat, sekaligus memberikan saran kepada Retia.


..."Oh? Benar!" Retia menjadi mendapatkan kepercayaan dirinya kembali, terlebih ketika Khan berkata, "Aku percaya padamu." Hati Retia semakin kuat untuk menjelaskan....

__ADS_1


"Yang Mulia, apa Anda tahu bagaimana cara Dewa memberikan berkahnya pada manusia?" Retia memulai dengan sebuah pertanyaan.


"Dewa? Tidak, aku bahkan tidak pernah melihat mereka," jawab Kaisar seperti yang sudah Retia perkirakan.


"Itu karena ketika Dewa memberikan rahmatnya pada manusia, Dewa tidak secara langsung turun tangan, tetapi mengirim pasukannya. Pasukan inilah yang disebut dengan nama 'Kuman'."


"Kuman?"


"Iya, Kuman sangat kecil hingga tak bisa dilihat oleh mata manusia. Sayangnya bukan cuma ada Dewa baik di dunia ini."


"Dewa Jahat?"


"Ya, Yang Mulia. Sayangnya, Dewa Jahat juga bisa mengirimkan pasukannya untuk melukai manusia, itu apa yang manusia sebut sebagai kutukan dan penyakit. Buruknya lagi, Kuman Jahat ada di mana saja karena mereka bisa muncul dari tempat-tempat yang kotor, Sedangkan Kuman Baik hanya muncul di tempat-tempat suci atau di dalam herbal."


"Lanjutkan."


"Seperti yang Saya katakan sebelumnya, Kuman Jahat berada di tempat-tempat yang manusia anggap kotor. Itu berada di kotoran, tanah, dan apapun yang dianggap kotor dan Anda tidak ingin makanan yang Anda makan diletakkan di atasnya. Cara Kuman Jahat ini meneror manusia juga sangat mudah, ketika manusia memegang tempat yang kotor, Kuman Jahat akan menempel di telapak tangan orang itu dan menunggu. Kemudian saat orang itu menggunakan tangannya untuk menyentuh makanan, Kuman Jahat akan menempel pada makanan tersebut dan masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut."


"Jika begitu, berarti ada Kuman Jahat di telapak tangan semua orang? Tempat yang tidak ingin Kami letakkan makanan di atasnya, hampir tidak mungkin untuk tidak menyentuhnya setiap waktu." Yang Mulia Permaisuri angkat bicara, suaranya yang begitu anggun dan terasa layu membuat Retia insecure dengan suaranya yang lantang layaknya laki-laki.


"Anda benar, ada beberapa cara untuk melunturkan kuman-kuman jahat ini, diantaranya dengan cara merebus di dalam air mendidih atau membakarnya. Namun, tangan manusia tidak bisa jika dibakar, karena itulah metode terbaik untuk mengebiri kekuatan Dewa Jahat pada kuman-kuman ini adalah dengan cara membersihkan diri."


"Membersihkan diri? Ho, jadi itu alasan orang zaman dahulu selalu memerintahkan untuk mandi setiap hari dan membasuh tangan sebelum makan. Sungguh kisah yang sangat masuk akal!"


"Ya, tetapi... karena itu juga, Dewa Jahat mulai mengirimkan pasukannya yang memakai zirah pertahanan, lengkap dengan senjatanya. Kuman Jahat semakin kuat dan beberapa diantaranya tidak lagi bisa dibasmi dengan air semata."


"Ap-apa!?"


..."Hahaha, ini dia waktunya promosi, dasar gadis aneh, bisa-bisanya dia memikirkan kisah semacam itu untuk digunakan sebagai sarana penyampaian. Sungguh gadis yang misterius." Khan terkekeh....


...•••...

__ADS_1


__ADS_2