
"Bolehkah aku ikut denganmu?" tanya Retia sedikit memohon. Pipi Retia terasa panas, sikap seperti ini bukan hal yang biasa ia lakukan. Sebagai seorang gadis yang terbiasa mandiri, hal ini sungguh sangat memalukan.
"Ikut dengan Saya?" tanya Hans.
"Cu-cuman sementara, kok!" teriak Retia dengan nada yang terputus di awal.
"Seperti yang kamu bilang sebelumnya, aku tidak tahu apapun tentang Dunia ini. Jadi, bisakah aku mengikutimu untuk sementara, sampai aku bisa mandiri?" Retia kembali melanjutkan permintaannya.
"Baiklah."
Hans menyetujuinya dengan sangat mudah, seolah itu memang tugasnya. Hal itu malah membuat Retia meragu dan menaruh rasa curiga. Bertanya-tanya, apa gerangan maksud Hans menanyakan hal seperti itu jika dirinya sudah tahu bahwa Retia akan ikut dengannya. Namun, tidak ada juga yang Retia bisa lalukan selain mengucap, "Terimakasih!"
Hans dan Retia mulai menyusuri jalan tanah setapak untuk keluar dari Area Reona. Sama seperti sebelumnya, sepanjang jalan Retia dibuat takjub dengan hewan-hewan yang berbeda dari di Bumi.
Beberapa diantaranya sangat lucu, tetapi lebih banyak yang mengerikan.
Sungai-sungainya sangat jernih, mengalir bersama dengan lantunan rima burung-burung yang saling bersahutan. Jika saja tidak ada monster, Retia kemungkinan besar akan mendeklarasikan tempat ini sebagai bagian dari Surga.
Perjalanan itu cukup panjang, dari pagi hingga ke siang. Namun, semua rasa letih yang Retia rasakan langsung terbayar, ketika dari kejauhan telah terlihat sebuah benteng besar dengan belasan Prajurit berzirah besi yang menjaga di atasnya.
Hans dan Retia diberhentikan di depan gerbang oleh para Penjaga. Hans meminta Retia menunggu sebentar, kemudian pergi meninggalkannya untuk berbicara dengan penjaga gerbang itu.
Retia tak bisa berhenti menganga, matanya terus berputar sama persis seperti orang Desa yang baru pertama kali pergi ke Kota Besar. Gaya bangunan di sana kurang lebih sama seperti di cerita-cerita fantasi berlatar Barat, yang kurang hanyalah istana megah yang berdiri di atas bukit.
Jalanan di sini juga persis seperti yang ada di Desa Glagash. Mereka memotong batu menjadi persegi kemudian menanamnya di tanah, sungguh simpel.
Hans kembali dan memberikan sebuah plakat kayu yang diukir dengan lambang wajah seekor Singa dan dibelakangnya terdapat nama Retia. Hans mengatakan kalau itu adalah tanda pengenal sementara agar mendapatkan izin masuk untuk pergi ke kediaman Land Lord dan mendaftarkan Retia sebagai salah satu warga kota Sorrow.
__ADS_1
Retia dan Hans masuk ke dalam Kota. Langkah Retia langsung disambut oleh pemandangan khas dunia fantasi, ada ras Peri, Elf. ras Kurcaci, Dwarf. Bahkan ada gadis imut dengan telinga Rubah.
Retia benar-benar ingin bisa dekat dengan mereka, mengobrol dan bertanya tentang keseharian dan budaya mereka, khususnya kepada gadis imut bertelinga Rubah itu. Retia sangat ingin menyentuh ekor tebalnya yang bergerak-gerak ke sana kemari. Sangat-sangat ingin itu.
"Wah... ada banyak sekali orang di sini, apa hari ini ada suatu perayaan?" tanya Retia kepada Hans yang berjalan di sampingnya.
"Tidak, biasanya memang seperti ini, kok," jawab Hans.
Di kiri dan kanan, Retia banyak mendapati anak kecil hingga orang tua yang membawa sayuran dan buah-buahan di sebuah ransel berbentuk keranjang. Penjual kayu bakar yang menggendong kayunya, dan pedagang makanan yang meneriakan dagangannya. Benar-benar kota yang sibuk padahal kata Hans tempat ini bukan ibu kota.
Hal yang sebenarnya paling membuat Retia tertarik adalah buah-buahan dan sayuran yang dijual di tempat ini benar-benar berbeda dari yang ada di Bumi. Memang beberapa punya kemiripan, tetapi tidak dengan bentuknya.
Pisang yang berbentuk seperti jeruk, semangka yang berduri layaknya durian, apel yang tumbuh memanjang. Benar-benar dunia yang aneh.
Awalnya Retia menduga kalau makanan pokok di dunia ini adalah gandum, tetapi ternyata lebih condong ke arah daging dan kentang, walaupun memang banyak yang menjual roti.
"Maaf, lama. ini, mulai sekarang Anda sudah terdaftar menjadi warga Kota Sorrow," kata Hans sambil memberikan sebuah plakat besi bersegel khusus yang masih terlihat sama seperti sebelumnya dengan ukiran kepala Singa dan nama Retia di bagian belakang.
Selain plakat itu, Hans juga memberikan sebuah ransel dan peta kota Sorrow.
Awalnya Retia sangat bersemangat dengan ransel pemberian Hans, karena berpikir bahwa ransel tersebut sama seperti yang Hans gunakan untuk memasukan Kadal bersayap dan Beruang malang. Namun, ternyata itu cuma ransel biasa yang bahkan jauh dari standar Retia, tetapi sama seperti tadi, Retia hanya bisa mengeluh di dalam hati sambil berucap terimakasih kepada Hans.
Retia dan Hans berjalan lagi. Namun, kali ini langsung pergi ke kediaman Hans tanpa berhenti atau menikmati pemandangan dunia fantasi ini. Retia sudah sangat lelah, bukan cuma kaki, tapi juga tangan yang harus selalu membawa tumpukan buku dan wajan panci tak kasat mata.
"Selamat datang, Tuan Hans!"
Hormat penjaga jatuh pada Hans, kemudian segera membukakan gerbang. Retia tidak tahu kalau Guardian sangat dihargai di Kerajaan ini. Mereka adalah pedang sekaligus perisai yang menjaga tanah ini dari serangan monster. Mudah bagi Hans untuk masuk ke sana kemari bahkan tindakannya tidak dipertanyakan, saking percayanya.
__ADS_1
Kediaman Hans memang sedikit lebih kecil dari kediaman Tuan Tanah, tetapi tetap saja menakjubkan dengan taman-taman bunga dan beberapa Maid yang bekerja di dalamnya.
"Rold!" panggil Hans kepada kepala pelayan, Rolden Agrasia.
"Ya, Tuan."
Rold berlari-lari kecil menghampiri Hans dari arah samping rumah. Kumis melintang Pak Tua itu bergoyang-goyang, terlihat seperti ikan lele yang sedang kesurupan.
Hans memberikan ranselnya kepada Rold.
"Bawa ini ke Tukang Jagal dan wakilkan aku untuk melaporkan misi," suruh Hans kepada Rold.
"Apa ada lagi yang bisa Saya bantu, Tuan?" tanya Rold.
"Oh, benar. Tolong bersihkan Nona Retia dan berikan dia makanan."
"Baik, Saya akan meminta beberapa Maid untuk menjaganya."
"Bagus, aku serahkan pada kalian, aku akan pergi ke bukit Tazzana, jangan cari aku," Hans kembali pergi meninggalkan Retia begitu saja. Sekarang Hans di sini benar-benar berbeda dari yang benjol dan yang memenggal kepala Beruang, seolah punya kepribadian ganda.
"Tunggu? kau mau ke man—
Retia ditarik oleh dua orang Maid dan menutup mulutnya. Terlihat seperti penculikan, tetapi alasan sebenarnya hanyalah agar Retia tidak mengganggu pekerjaan mereka.
"Sudahlah, Nona. Ayo, ikut kami," kata mereka sambil menyeret Retia masuk ke dalam rumah.
•••
__ADS_1